Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 109: Daniel,sepertinya aku rela kalah sekarang



Sebelum lepas landas, di dalam pesawat instruktur menjelaskan singkat perihal tata cara dan teknik terjun dan juga cara menyelamatkan diri di saat darurat. Setelah itu masing-masing peserta diberikan satu parasut. Yang mengikuti terjun payung ini hanya 2 tim, yaitu tim Daniel dan Liam tanpa membawa anak-anak mereka karena resikonya terlalu tinggi.


"Saat terjun nanti, 2 instruktur juga akan terjun untuk mendampingi kalian untuk memastikan keselamatan" seru salah satu instruktur. Setelah itu, pesawat terbang landas menuju ketinggian 13.000kaki di atas permukaan laut.


Saking takutnya, tangan Ara sampai sedingin es dan wajahnya pun jadi pucat. Daniel kemudian memegang tangan Ara,


"Jangan lepaskan genggamanku sebelum aku memberimu aba-aba, tarik tali ini untuk membuka parasut dan tarik tali ini untuk membuka parasut cadangan jika parasut utama tidak berfungsi, mengerti?!" ujar Daniel sambil kembali mengulangi penjelasan instruktur beberapa menit lalu, Ara mengangguk setuju"


Setelah di ketinggian yang sesuai, pesawat berhenti dan mengambang, itu artinya sudah waktunya mereka untuk terjun. Cintya dan Liam terjun lebih dulu, Ara dan Daniel berdiri di ambang pintu, jantung Ara terpacu sangat cepat melihat betapa tingginya mereka berada saat ini. Ara menoleh pada Daniel.


"Daniel... "


"Iya"


"Kau bilang kau tak peduli pada lomba ini kan?"


"Hemm"


"Kau bilang kau juga mencintaiku kan?"


"Sangat, kenapa?"


" Daniel,sepertinya aku rela kalah sekarang" bibir Ara bergetar saat mengucapkan kalimat barusan, membuat Daniel tertawa kecil. Wajah Ara seperti mayat sekarang, ia terlalu gugup.


"Kalau aku bilang aku takut, apa kau akan membatalkan kita untuk terjun?"


Daniel terdiam sejenak, tatapannya menajam melihat Ara. Tatapan Ara seperti sedang memohon. Daniel tersenyum dan berkata,


"Tidak akan, kau terlambat Ara!!"


Kalimat itu keluar dari bibir Daniel dan kalimat itu adalah kalimat akhir dari pembicaraan mereka di atas pesawat itu, setelah mengatakannya, Daniel segera menarik tangan Ara dan terjun dari pesawat.


"Aaaaaaaaaaaa.... " Ara berteriak sekencang mungkin, bahkan ia seperti merasa jantungnya tertinggal di atas pesawat rasanya, beberapa detik mereka melayang tak tentu Arah, Daniel dengan sigap menangkap kedua tangan Ara hingga tubuh mereka seperti garis horizontal.


"Araaaa.... tarik nafas dalam dan relax! " seru Daniel mencoba menenangkan Ara.


"Danieeeel aku takuuuutt" Jawabnya.


Daniel melihat tubuh Ara gemetar hebat, ia menarik tubuh Ara lebih mendekat dan mencium bibir Ara. Sensasi melayang di udara dan rasa manis dari bibir Daniel membuat Ara seperti kehilangan akal, sentuhan Daniel bahkan seperti Morphine dan hampir membuatnya lupa mereka sedang jatuh dari ketinggian 13.000 kaki.


Salah satu instruktur yang sedang membawa kamera bahkan sempat mengabadikan adegan itu, ia tersenyum.


Setelah merasa Ara lebih tenang, ia segera melepaskan ciumannya,


"Tenanglah, ada aku, sekarang lepaskan parasut mu!"


Ara segera mengangguk dan mencoba melepaskan parasutnya, ketenangan yang baru ia dapatkan itu buyar seketika ketika ia mengetahui parasut utamanya tak bisa terbuka.


"Daniieeeell tidak bisaaa!" Seru Ara yang terus mencoba menarik tali parasutnya.


"Jangan paniiiik, tarik tali parasut cadangannya, Ara!" Pekik Daniel, Ara mengangguk. Tubuh Ara semakin gemetar dan panik ketika parasut cadangannya juga gagal terbuka.


Saat ini kecepatan jatuh mereka semakin meningkat seiring ketinggian mereka semakin merendah, 8.000 kaki. Ketinggian yang sudah mengharuskan Ara dan Daniel membuka parasutnya, 2 instruktur segera mencoba menyelamatkan Daniel dan Ara namun tentu saja dalam kondisi jatuh dengan kecepatan tinggi tidak mudah menggapai dua tubuh. Daniel hampir ikut panik melihat indikator kecepatan dan ketinggian di tangannya.


6.000 kaki..


5.000 kaki..


Daniel masih mencoba mengaitkan 6 kait darurat di tubuhnya untuk menyelamatkan Ara.


Bib..bib..bib.. bunyi indikator ketinggian dan kecepatan semakin lama semakin cepat , jantung Ara dan Daniel semakin terpacu, Daniel sekilas melihat kebawah, kecepatan mereka luar biasa cepat, jika jatuh mungkin tubuh mereka akan remuk berkeping-keping.


Titik-titik air mata Ara jatuh dan melayang di udara, pikiran Ara sudah tak tentu. Tetesan air mata Ara bahkan mengenai pipi Daniel, membuat Daniel hampir ikut panik, namun di kondisi Crusial seperti ini ketenangan adalah kunci utama, jadi ia berusaha setenang mungkin, karena jika panik mereka akan benar-benar terbunuh di sini.


4.000 kaki..


Para penonton yang menonton dari bawah melihat mereka yang belum membuka parasutnya pun ikut khawatir dan takut. Bahkan beberapa panitia sampai menghubungi pemadam kebakaran dan bulance untuk menyiapkan sebuah balon besar sebagai bantalan kalau-kalau parasut mereka tidak bisa terbuka.


3.000 kaki.


Tangan Daniel mulai semakin dingin, ia berusaha semakin keras dan


Klakkk... akhirnya kait terakhir berhasil dikaitkan, dengan segera Daniel membuka parasut utamanya.. Blaaaarrrr... parasut utama berwarna hijau itu terbuka lebar, Ara tak bisa menahan air mata kekhawatiran beberapa detik lalu, kecepatan mereka semakin lama semakin stabil, Daniel terus memainkan tali kendali untuk bisa mendarat tepat di titik utama pendaratan. Sudah puluhan orang termasuk mobil ambulance, pemadam kebakaran dan juga polisi menunggu mereka di bawah dengan perasaan cemas. Jadi saat mereka berhasil mendarat dengan sempurna, mereka segera bertepuk tangan.


"Ara, kita benar-benar hampir mati"


"Daniel, kau jahat! aku tak mau lagi terjun payung seperti ini" ujar Ara menangis tersedu-sedu, Daniel kemudian memeluk wanitanya itu dengan erat.


"Baiklah, baiklah, maafkan aku Ara, membuatmu takut. Tidak akan lagi ku ulang" seru Daniel memeluk Ara di tengah sorak sorai dan tepuk tangan banyak orang.


Setelah lomba yang menegangkan itu selesai, Daniel bermain di pinggir pantai bersama Ara dan brandon sambil menunggu hasil perolehan skor lomba di umumkan. Mereka terlihat bahagia, namun raut bahagia mereka memudar ketika seorang wanita tiba-tiba datang mendekat.


"Tuan Muda Daniel, apa kabar?!"


Daniel menoleh ketus dan menatap Medina tangan kanan Shamus menyapanya. Daniel mengabaikan dan tatapan mata Medina beralih pada Ara dan Brandon di samping Daniel.


"Nona Ara, lama tidak bertemu" tanya Medina tersenyum pada Ara ,Ara tak mengatakan apapun, ia hanya membalas senyuman medina. Ia sama sekali tidak ingat siapa wanita di depannya ini.


"Untuk apa kau kesini? Kakek yang menyuruhmu??"


"Benar Tuan Muda, Tuan Marques meminta anda kembali ke kediaman segera"


Daniel tersenyum ketus, "Suruh dia bermimpi, aku tak akan kembali", Daniel menarik tangan Ara dan Brandon berjalan menjauhi Medina. Baru 4 langkah berjalan, Liam dan Cintya sudah berdiri di depannya.


" Daniel, untuk seorang amatir sepertimu, reflek penyelamatanmu tadi sungguh luar biasa" ujar Liam ketus berusaha merendahkan Daniel. Daniel menatap Liam tajam sekilas kemudian melanjutkan langkahnya pergi menjauh. Liam yang merasa di abaikan ia masih berusaha mengejar langkah Daniel namun langkahnya di hentikan oleh Medina.


"Kau mau apa? lepaskan tanganmu!"


"Tuan Gu, sebaiknya anda tak cari masalah dengan Tuan Muda kami jika tak mau menyesal"


"Apa pedulimu? kau tak kenal siapa aku?aku adalah....." belum sempat Liam membuka mulutnya, Medina dengan cepat memperlihatkan layar tabletnya pada Liam. Seketika keringat dingin membasahi wajahnya dan Cintya.


"Jika kalian masih ingin butik kalian selamat, pertimbangkan kata-kataku barusan"


Di layar tabletnya itu terlihat penurunan aset dan saham di Falso butik secara drastis hanya dengan hitungan detik yang membuat Liam dan Cintya tak berkutik. Medina merebut tabletnya dari tangan Liam kemudian berjalan pergi, Baru 3 langkah Medina menoleh kembali pada Liam.


"Oh ya Tuan Gu, asal anda tahu, Orang yang kau bilang amatir itu adalah orang yang pernah sekolah terjun payung di sekolah terjun payung elit di Rusia, bahkan ia lulus dengan gelar kehormatan di sana. Jadi, sebenarnya yang amatir adalah lomba ini dan kau tentunya" Ujar Medina memukul mati harga diri Liam.


"Kau mencari gara-gara dengan orang yang salah Liam, sepetinya ayah Brandon itu memang bukan orang sembarangan.. tamatlah butik dan habislah uang kita, dasar pria tak berguna!" seru Cintya dengan kesal memukul dada Liam dan beranjak pergi.