Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
bab 39: Ara? kita berjumpa lagi



Pesta ulang tahun kakek di adakan pada pukul 5 sore, banyak sekali pegawai dan pelayan yang sedang sibuk di dapur utama dan sekeliling kastil untuk mendekorasi acara nanti sore. Ara dan Daniel dengan cuek menuruni tangga, tangan Ara menopang di atas lengan kokoh Daniel. Mereka berjalan memasuki ruang makan.


Saat mereka memasuki pintu ruang makan, disana terlihat beberapa pria muda asing, Ara menduga mereka adalah tunangan dan pacar kakak-kakaknya. Meskipun pandangan mata mereka tak bersahabat, Ara tak peduli, matanya hanya tertuju pada pria tua di ujung meja. Ia melihat Cliff dengan tatapan aneh.


“Bukankah itu adalah kakek yang aku tolong saat menyebrang jalan tempo hari? a.. Apa mungkin dia kakek? “Batin Ara menghentikan langkahnya seketika membuat Daniel ikut berhenti dan menoleh pada Ara.


“Ada apa?"


“Tidak ada”Jawab Ara kembali mengayunkan langkahnya duduk di kursi yang kosong.


Cliff memandang Ara dengan lembut, satu-satunya dari keluarga Romanov yang memandangnya dengan perasaan.


Daniel menarik salah satu dari bangku yang kosong untuk Ara, setelah itu ia baru duduk.


“Ara? kita berjumpa lagi” sapa Cliff dengan senyuman


mendengar sapaan kakeknya semua orang yang berada disana memasang wajah heran. Mereka seakan bertanya-tanya, dimana mereka pernah bertemu, termasuk Daniel pun segera menoleh pada Ara.


“Iya, ternyata kita sangat berjodoh kek, tak terpikirkan bahwa kau sebenarnya adalah kakekku”Jawab Ara dengan senyumannya yang manis.


“Kau tak terpikirkan tapi aku sudah tahu kau cucuku"


“Lalu kenapa kau diam saja tak memberi tahuku saat itu?"


"..... “Cliff tak menjawab pertanyaan Ara. Ia menyisakan rasa heran di wajah gadis cantik itu.


“Sudah-sudah, kita mulai saja sarapannya”Titah Cliff.


Titah Cliff membuat para pelayan segera meletakan perlengkapan makan di atas meja. Semuanya tertata begitu rapi dan elegan seperti biasanya.


Beberapa menit suana hening, mereka sibuk dengan piringnya masing-masing, namun di menit kemudian, Cliff membuka obrolan pada tunangan cucu-cucunya, termasuk Daniel. Di saat inilah jantung Ara berdebar kencang. Apalagi setelah mengetahui latar belakang dan pekerjaan tunangan-tunangan kakaknya. Bahkan kakak-kakaknya beberapa kali menyindir Daniel. Ara beberapa kali melirik Daniel. Namun di wajah Daniel tak ada raut wajah canggung atau rendah diri. Ia menjawab semua pertanyaan dengan sangat elegan dan tenang. Pembawaannya memang sangat kharismatik. Bahkan Cliff beberapa kali memuji Daniel.


“Jadi Ara, tempo hari kau belum sempat bercerita padaku dimana kalian bertemu?”Tanya Cliff


“Mereka bertemu saat Ara mabuk di bar, kemudian tidak tahu apa yang sudah mereka lakukan, mereka akhirnya memutuskan untuk menikah kek”Jawab Clara menyela jawaban Ara. Mata gadis itu bahkan sangat jahat hingga Ara rasanya ingin sekali menampar pipi kurus kakaknya itu.


“Kak Clara, sepertinya kau senggang sekali hingga ada waktu mencari tahu masalah pribadiku"


“Siapa yang tak tahu, seluruh kota juga tahu kau ini siapa dan bagaimana perilaku mu di luar"


“Kau!!!.... “Ara hendak berdiri namun tangannya di cegah oleh Daniel, Ara menoleh pada Daniel, ia menyiratkan untuk tetap duduk. Dengan menahan emosi yang sudah di ubun-ubun wajah Ara sampai memerah.


“Seperti apa Ara di luar aku yang paling tahu”Bela Daniel


“Iyalah kau yang paling tahu, kau dan dia memang sangat cocok, tak bermartabat sama sekali, bahkan latar belakang keluargamu tak jelas, kau harusnya malu berada di sini, kau sudah dengar kan martabat keluarga kami dengan mu itu jelas beda kelas. Kau masih ada muka duduk di antara kami, sungguh luar biasa tak tahu malu”Jelas Wulan dengan wajah sinis.


“Setidaknya kami tak pernah merendahkan orang lain untuk jadi tinggi”Ucap Daniel dengan sangat santai.


“KAU!!!BERANI SEKALI...”Ucap Wulan dengan nada tinggi.


“Brak!!! “Tiba-tiba terdengar bantingan sumpit yang di letakan kasar di atas meja. Seluruh maya menoleh pada Higa kecuali Cliff yang masih memandang Ara dan Daniel dengan sedikit senyuman di ujung bibir tuanya.


“SUDAH HENTIKAN!!!!! berani sekali kalian berdebat di meja makan dan terutama di hadapan kakek!”Seru Higa marah, semua orang tak ada yang berani membuka mulutnya.


“Ara, Daniel apa kalian sudah selesai makan? mau temani kakek berjalan-jalan di kebun Anggur?”Tanya Cliff sambil berdiri menghampiri Ara dan Daniel.


“Ya baiklah, berada di sekeliling sampah rasanya tidak nyaman”Jawab Ara sambil melirik Wulan dan Clara.


Mendengar ucapan Ara barusan, semua mata yang tersisa terlebih lagi Wulan dan Clara menghitam. Dari bawah meja terlihat tangan mereka mengepal menahan emosi.


****


Beberapa hari lalu....


Hari itu hari Sabtu, Ara dan Daniel pergi berbelanja di supermarket. Di tengah-tengah perjalanan menuju supermarket Daniel menerima telepon dari Yogi bahwa ada klien yang memaksa memajukan pertemuan kerja sama mereka karena mereka tiba-tiba harus kembali ke negAra mereka karena sesuatu yang genting terjadi. Akhirnya, mau tidak mau Daniel menyetujui dan harus meninggalkan Ara berbelanja sendiri dengan janji akan menjemputnya ketika selesai, Ara tak protes ia hanya mengangguk.


1 jam berlalu, Ara masih belum menerima panggilan dari Daniel, mungkin ia masih sibuk dengan pekerjaannya, akhirnya ia memutuskan untuk menaiki bis karena halte pun tak jauh dari supermarket itu.


Ara dengan sabar menunggu lampu lalu lintas untuk menyeberang, saat indikator lampu merah, beberapa orang pun berjalan cepat menyeberangi jalan, termasuk kakek tua bertongkat yang dengan senyum sepanjang jalan dan langkah lambatnya menyeberangi jalan.


Pria tua itu mungkin berusia lebih dari 80tahunan, memakai setelan mantel berwarna cokelat muda senada dengan topinya, langkahnya bergetar lambat hingga lampu indikator berubah berwana hijau, si kakek belum juga sampai. Ara sengaja memperhatikan Kakek itu dari belakang. Beberapa orang yang berusaha menggandeng kakek tapi kakek menolaknya, akhirnya Ara yang berjalan di belakang kakek itu dengan santai berjalan hingga berada di samping kakek itu dan pura-pura sibuk dengan ponselnya.


2 orang berjalan lambat lebih baik daripada hanya 1 orang. Hingga di ujung jalan, si kakek menoleh pada Ara dan tersenyum.


“Nona, kau begitu baik, terimakasih"


“Aku tak melakukan apapun kek, kenapa kau berterimakasih? "


“Aku memang tak menyadari lampu lalu lintas berganti warna karena sibuk dengan game ku, merekalah yang harusnya lebih bersabar, kita semua kan menua”Senyum Ara. “Kau akan pergi kemana? apa perlu aku antar?”Tanya Ara.


“Aku ingin pergi ke kedai Mie ramen tak jauh dari sini, jika kau tak keberatan kau bisa menemani kakek tua ini makan ramen"


“Baiklah, aku juga sedikit senggang kek"


“Baiklah ayo jalan” seru kakek, Ara mengangguk.


Ara dan Cliff berjalan sekitar 5 menit akhirnya sampai di sebuah kedai mie sederhana. Ara menatap gedung kedai itu sepertinya sudah sangat tua tapi sangat ramai pengunjung.


Cliff memilih duduk tak jauh dari pintu masuk. Melihat wajah Ara yang sedikit menyelidiki, cliff pun tertawa.


“Kenapa wajahmu seperti itu? apa karena aku mengajakmu ke kedai mie kecil ini? "


“Ah tidak Kek, aku hanya sedang berpikir, kedai ini pasti sudah lama berdiri hingga memiliki banyak pelanggan seperti ini” seru Ara sambil menatap ke sekeliling.


“Benar, aku datang ke toko ini pertama kali bersama mendiang istriku saat kami masih SMA dulu. Ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami dan juga ulang tahun pacaran kami, setiap hari ini kami akan merayakannya di sini., karena pada saat itu aku miskin, aku hanya mampu mentraktirnya makan mie, tapi dia tak pernah mengeluh, ia akan selalu mengatakan mie di sini sangat enak dan murah, lebih enak dari makanan restoran, aku bahkan masih ingat senyumnya”Seru Cliff, mimik wajahnya tak berubah, tadinya Ara berpikir kakek akan sedih karena mengenang istrinya yang sudah meninggal, tapi ternyata tak ada mimik itu, justru ia lebih menyunggingkan senyumannya.


“Wah, mendiang istri kakek pasti bahagia ya"


mendengar ucapan Ara, kakek mengerutkan keningnya heran.


“Bahagia? apa menurutmu begitu? aku merasa sampai ia mati aku belum membahagiakannya, saat usahaku sukses, ia justru meninggalkanku karena sakit kanker usus yang di deritanya"


“Aku merasa mendiang nenek tetap bahagia, seperti pepatah kebahagiaan sejati tak di ukur hanya dari materi, masih begitu di cintai dari hidup hingga setelah mati itulah kebahagiaan sejati, ini bahkan membuatku sangat iri"


“Nona Ara, kau masih muda dan sangat cantik, kenapa masih sendiri?”Pertanyaan Cliff bukan tak berdasar, ia beberapa kali melihat jemari ramping Ara yang tak terpasang cincin, artinya Ara pasti masih sendiri pikirnya.


“Aku sudah menikah, Kek”Jawab Ara.


“Menikah? tapi tak ada cincin di jarimu"


Ara melirik jemari putihnya, memang sangat kosong. Daniel tak pernah membelikan cincin pernikahan untuknya dan lagi, Ara tak pernah berpikir cincin begitu penting mengingat hubungan pernikahannya dan Daniel sepeti hanya sebuah aksi balas dendamnya pada Kevan dan membayar hutang ganti rugi kerusakan mobil saat itu.


Ara menghela nafas dan tersenyum pada Cliff


“Menurutku, ikatan pernikahan tak peduli ada cincin atau tidak, yang terpenting ada yang mencintai atau tidak"


“Tak banyak gadis cantik yang berpikiran sepertimu, kebanyakan mereka hanya mengejar pria kaya dan uang"


“Untukku, uang bukan segalanya, sesuatu menyadarkan ku, uang tak bisa membeli kebahagiaan, jadi aku lebih memilih merasa di cintai daripada merasa di beli"


Di sela-sela obrolan mereka, pelayan akhirnya menghidangkan 2 porsi ramen di atas meja. Wangi kaldu ayam seketika masuk ke dalam hidung Ara.


“Wah, sepertinya enak, Kek"


“Hemm cobalah, ” Cliff tersenyum menatap Ara.


Cliff saat itu sudah tau siapa Ara, karena beberapa tahun belakangan ketika Ara berumur 20 tahun, Cliff dengan diam-diam suruh orang menyelidiki Ara dan Deisy di kota C. Tak di sangka justru ia bertemu tak sengaja di sini.


Ara begitu persis dengan Deisy yang sederhana dan lembut. Melihat Ara, Cliff seperti melihat Deisy.


Tak butuh waktu lama hingga Mie di mangkuk Ara hampir habis, mie itu memang sangat enak.


“Mie ini apakah sejak dulu rasanya tak berubah kek, selalu enak seperti ini?


“Benar, tak pernah berubah, aku bahkan sampai hafal anak cucu pemilik kedai ini"


“Wah.. Luar biasa"


“Ara, lalu kenapa kau berjalan sendirian? dimana suamimu?"


“Oh, aku awalnya pergi bersamanya, tapi Assistennya tiba-tiba memintanya harus lembur untuk bertemu klien, jadi aku tak ingin mengganggunya dan aku belanja sendiri”Seru Ara sambil menepuk kantung belanjaan di sampingnya.


“Oh begitu, suamimu pasti pekerja keras"


“Benar kek”Senyum Ara


Di sela obrolan mereka tiba-tiba suara ponsel Ara berbunyi, ia menatap layar ponselnya dan melihat nama Daniel di layar ia pun tanpa sungkan mengangkat panggilan itu beberapa menit setelah itu terlihat mobil Audy milik Ara berhenti di depan kedai.


“Kakek, suamiku sudah menjemputku"


“Baik pergilah, terimakasih kau mau menemaniku, jika berjodoh kita akan bertemu lagi"


“Baiklah, terimakasih makanannya kek, aku pergi dulu sampai jumpa”Seru Ara sambil melambaikan tangan pada Cliff dan berjalan masuk ke dalam mobil. Cliff tak menjawab, ia hanya mengangguk dan tersenyum membalas lambaian tangan Ara.