Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 55:kenapa aku harus berbohong kak?



Elly berada di ruangan VVIP itu selama kurang lebih 1 jam lamanya, selama itu Tritan selalu berada di samping Elly dan tak lupa menggandeng tangannya sepanjang waktu. Elly awalnya begitu canggung tapi karena Alan selalu menatapnya menyelidik akhirnya ia juga ikut bersandiwAra.


Tritan dan Elly sama sekali tak memberi ruang untuk Alan mendekat, padahal sebenarnya Alan datang ke Tophill untuk mendekati Tritan selaku CEO MD, tapi sayang karena kehadiran Elly rencana itu berantakan. Setiap kali Alan mendekat dan membicarakan bisnis dengan Tritan, elly akan langsung mencari alasan agar Tritan menjauh dari Alan.


“Ada harga yang harus di bayar untuk setiap kejahatan yang di lakukan, Alan “Serunya dalam hati.


Jam berlalu, acara itupun selesai, Tritan akhirnya membawa Elly keluar dari ruangan tanpa peduli dengan Alan yang masih berharap Tritan memberinya kesempatan untuk bekerjasama, tapi apalah daya, hanya seorang Tritan saja bisa dengan mudah mengabaikan orang, di tambah lagi dengan adanya Elly di sampingnya, membuatnya semakin malas bekerja sama dengan pecundang seperti Alan.


Tritan dan Elly masuk ke dalam Lift. Disana hanya ada mereka berdua, sesaat pintu Lift tertutup situasi antara mereka berdua menjadi sangat canggung. Elly dengan segera melepaskan genggaman tangan Tritan dan Tritan juga langsung melepaskan tangannya dari pinggang ramping Elly.


“Terimakasih kau sudah membantuku tuan Hong”Seru Elly sambil membungkukkan badannya sesaat.


“Tuan Hong? bukankah aku sudah katakan panggil aku Tritan saja?”Jawab Tritan santai


“Hemm, baiklah"


DING... Pintu Lift akhirnya terbuka, mereka bersama keluarga dari Lift dan berjalan menuju lobby.


Di kota A ini Elly tak memiliki tempat tujuan, tujuannya hanya Alan tapi sayang di brengsek itu justru berselingkuh, selain Alan dan Tritan ia tak memiliki kenalan lain, tapi sesaat ia teringat Ara yang pernah berkata ia juga tinggal di kota A, akhirnya sambil berjalan menuju lobby, elly merogoh dalam tasnya dan mengambil ponsel untuk menghubungi Ara.


Butuh waktu beberapa saat hingga Ara menjawab.


“Hallo”Jawab Ara


“Hai, ini aku"


“Elly!! hai.. Ada apa? "


“Aku di kota A, apa aku bisa datang ke tempatmu? tanya Elly sedikit berbisik karena Tritan sejak ia melakukan panggilan tak berhenti menatapnya.


“Aku sedang di luar, jika kau tak keberatan kau bisa datang ke sini dulu, kita makan bersama"


“Baiklah, berikan aku alamatnya aku akan kesana"


“Hemm”Jawab Ara singkat kemudian menutup panggilannya. Setelah panggilannya tertutup, elly langsung menoleh ke Arah Tritan dengan wajah kesal.


“Kau ini sedang apa? mencuri dengar panggilan ku? “Tanya Elly


“Tadi siapa? tak mungkin selingkuhan mu kan?”Tanya Tritan mengabaikan pertanyaan Elly


“Selingkuhan katanya? sayang sekali aku ini hanya punya satu pacar dan sekarang secara resmi menjadi mantanku, sia-sia sekali hidupku ini huh”Gerutu Elly dalam hati.


“Iya dia selingkuhan ku dan sekarang ia menungguku, aku sangat berterimakasih padamu, aku pergi dulu ya”Ucap Elly kemudian ia melangkah lebih cepat hendak pergi ke tempat Ara. Namun belum sempat melangkah lebih jauh, tangannya sudah di tarik Tritan hingga kepalanya membentur dada bidang pria itu. Elly pun mendongak.


“Ka.. Kau.. Ada apa lagi? “Tanya Elly


“Setelah memanfaatkan ku seperti tadi, kau pikir kau bisa pergi semudah itu? setidaknya biarkan aku melihat tampang selingkuhan mu dulu”Serunya sambil kemudian menarik tangan Elly menuju mobilnya.


“Heiii!!! siapa yang mau mengajakmu!! heii berhenti... Tritan!! “Teriakan Elly sungguh percuma, tritan mengabaikannya dan terus memaksanya masuk ke dalam mobilnya. Dengan tangan yang di genggam kuat, elly tak bisa berontak apalagi tak mengikuti pria itu.


“Sungguh sial!!”Gerutunya dalam hati.


***


beberapa saat sebelumnya..


***


“Kak, temanku datang dari jauh, apa boleh ia ikut bergabung dengan kita? “Tanya Ara masih tersambung dengan Elly di telepon.


“Hemm, tidak masalah”Seru Denis tersenyum tapi sedikit kecewa. Sudah beberapa tahun lamanya ia tak bertemu gadis ini tapi sekalinya bertemu ia menemukan Ara sudah menikah dan sekarang temannya akan datang. Denis selalu merasa Ia benar-benar tak memiliki kesempatan untuk bisa dekat dengan gadis ini.


“Baiklah, terimakasih Kak”Seru Ara sambil tersenyum kemudian ia kembali fokus berbicara pada Elly. Setelah panggilannya ditutup, makanan yang di pesan pun tak lama datang.


“Wah kelihatannya enak Kak”Ujar Ara girang. Hal itu membuat Denis tersenyum lebar


“Hemm aku tahu kau suka sekali daging, jadi aku pesankan banyak daging untukmu, lihat kau begitu kurus sekarang"


“Kau masih ingat makanan kesukaanku? kau luar biasa kak”Jawab Ara tanpa basa basi langsung memasukan banyak daging ke dalam kuah hot pot. Harumnya daging bercampur kaldu membuat perut siapapun akan langsung kosong seketika. Saat berada di TopHill tadi, ia sama sekali tak menyentuh makanan yang di berikan oleh kakek Daniel jadi wajar saja kalau sekarang ia seperti orang kelaparan. Dengan lahap Ara menyuap.


“Hei, maka pelan-pelan”Seru Denis sambil menyeka sisa makanan di ujung bibir Ara dengan selembar tisu, Ara yang kaget sontak memundurkan tubuhnya dan memandang Denis canggung. Denis mengerutkan keningnya.


“Aku hanya menyeka sisa makanan di bibirmu, maaf kalau kau merasa itu tak sopan”Seru Denis


“Ah.. Ehh.. Tidak kak.. Tidak apa-apa, aku hanya kaget"


“Oia Ara, apa kau menikah sudah lama? kenapa kau tak mengundang kami keluarga kami -keluarga Han- ? “Mendengar pertanyaan Denis, Ara sedikit gelagapan


Bagaimana cara menceritakannya? tak mungkin kan dia bilang menikah dengan Daniel karena insiden kecelakaan, huh. Gerutu Ara dalam hati.


“Aku menikah sudah cukup lama kak, hanya saja acaranya memang tak besar dan tertutup hanya keluarga saja yang menghadirinya, jadi maaf kalau aku tak mengundangmu”Ucap Ara tersenyum menyembunyikan kebohongannya. Tapi tentu saja Denis tak mudah di bohongi, matanya dengan mudah tertuju pada jari manis Ara, kenyataannya bahwa sekarang Ara tak memakai cincin kawin sekarang.


“Kenapa aku merasa Ara menyembunyikan sesuatu? bagaimana pernikahan tanpa cincin kawin? terakhir kali aku melihat suaminya terlihat sangat mapan, aneh sekali”Hatinya


“Ara, apa kau benar-benar sudah menikah? "


“Benar, kenapa aku harus berbohong kak? "


“Laku kemana cincin kawin mu? “Mendengar pertanyaan Denis, Ara segera menyembunyikan jarinya, tapi tentu saja itu terlambat.


“Lagi-lagi cincin kawin. Aku janji habis ini akan membeli sebuah cincin kawin hanya untuk di pakai oleh ku saja, agar banyak orang tak mempersoalkan masalah cincin kawin padaku”Batin Ara. Ia sebenarnya bingung harus menjawab apa, baru akan mengeluarkan alasan maut untuk yang kesekian kalinya, bibirnya tertahan saat melihat sosok Elly datang memasuki restoran. Elly tak datang sendiri, ada seseorang yang datang bersamanya tapi itu bukan Alan, melainkan..


“Tritan!!! hah? kenapa dia bisa bersama Elly?! “Ujar Ara terkejut setengah mati, begitu juga saat Tritan masuk dan melihat Ara duduk bersama pria, lebih mengagetkan lagi Elly yang datang bersamanya justru mendekati meja Ara dengan senyum lebar.


“Ara hai”Sapa Elly pada Ara, Ara berdiri da gadis itu menyambut Elly dengan pelukan hangat.


“Bagaimana kau bisa disini? “Tanya Ara mengacuhkan Tritan yang masih berdiri.


“Nyonya Qin, apa kau benar-benar akan mengabaikan ku? “Tanya Tritan pada Ara, Ara kemudian menoleh pada Tritan dengan wajah yang lucu.


“Hemm.. Duduklah”Tritan pun dengan kesal duduk di samping Elly.


“Jadi ini selingkuhanmu Elly? “Seru Tritan sembArang melirik Denis. Denis yang merasa tidak tahu apa-apa pun langsung mengerutkan alisnya, elly menatap wajah Denis yang aneh itu segera mencubit lengan Tritan dan berbisik.


“Hentikan omong kosongmu, dia bukan selingkuhan ku!! “Bisik Elly.


Denis tahu ia sedang di bicarakan akhirnya ia mengulurkan tangannya pada Tritan untuk memperkenalkan dirinya. Tritan menyambut tangan Denis.


“Agar tak jadi kesalahpahaman anda dengan kekasih anda, lebih baik saya memperkenalkan diri, saya Denis Han, teman lama Ara, senang bertemu dengan anda"


“Hemm aku Tritan Hong, senang bertemu dengan mu tuan Han"