
3 hari sudah Ara di rawat di rumah sakit itu, ia masih belum sadarkan diri.
Sesekali, Danny akan datang ke bangsal Ara ketika tengah malam. Hanya itu saat dimana tak ada yang datang menjenguk Ara.
Ia melihat wajah Ara lekat-lekat. Ia masih sama dengan Ara kecil berumur 5 tahun waktu itu. Yang berbeda adalah, wajah Ara saat ini penuh dengan luka memar, namun ia masih terlihat cantik, persis seperti Deisy. Ia bersyukur Ara masih bertahan bahkan kandungannya selamat. Itu adalah sebuah keajaiban, mengingat bagaimana ia menemukan Ara dengan banyak luka dan darah yang terus mengalir, begitu menyedihkan.
Keesokan harinya, Ara membuka matanya untuk yang pertama kali setelah kejadian itu. Pandangannya buram beberapa detik, di detik selanjutnya ia baru bisa melihat dengan jelas. Ia melihat ke sekeliling, itu jelas bukan kamarnya, "Ini kamar rumah sakit," gumamnya dalam hati. Tak berapa lama berselang, Denis datang bersama beberapa suster di belakang. Melihat Ara membuka mata, Denis buru-buru mendekati Ara. Beberapa saat Denis tak melakukan apapun, membiarkan Ara menatapnya.
"Kak... kak Denis??!" Mendengar ucapan Ara, ia tersenyum lebar, ternyata ia tak melupakannya. Kemudian Denis baru mulai mengecek kondisi Ara.
"Kau sudah bangun Ara? kau masih ingat padaku?!"
"Hemm, tentu saja, bagaimana bisa lupa" jawab Ara tersenyum dengan lemah. Denis membalas senyum Ara sambil sesekali mengecek pipa infus di tangan Ara dan beberapa luka di tubuh dan wajah Ara.
"Bagaimana kondisimu? apakah kepalamu masih sakit? bagian mana yang terasa sakit?"
"Kepalaku sakit kak, apa yang telah terjadi? kenapa aku bisa di sini?"
"Kau tak ingat apa yang sudah terjadi?benarkah?"
Ara mengangguk pelan, ia memang merasa tidak mengingat apa alasan ia bisa di sini dan kenapa tubuhnya begitu banyak memar dan terasa sakit. Sedetik kemudian terdengar suara pintu terbuka, Meira dan Xander masuk dan segera mendekati Ara. Mereka tampak tekejut ketika melihat Ara telah membuka matanya. Dari mata Ara bahkan terlihat bingung saat melihat Xander dan Meira.
" Ara kau sudah bangun, bagaimana keadaanmu?" Tanya Meira sambil mengusap lembut kepala Ara dan tangannya satunya menggenggam jemari Ara.
"Maaf, apa aku mengenalmu Nyonya?" Ara tak bisa menyembunyikan rasa bingung, ia melirik Denis seperti berharap Denis menjelaskan siapa mereka. Begitu juga Xander dan Meira. Belum genap 1 minggu setelah pertemuan mereka di kota G waktu itu, bagaimana ia bisa melupakannya dan Xander, batin Meira juga ikut bingung. Meira dan Xander langsung menoleh pada Denis.
"Ara, apa kau tak mengenali paman dan bibi Li?mereka keluarga dari ibumu, apa kau tak ingatl?"
"Apa aku memiliki keluarga selain keluarga Romanof?"
"Tentu saja kami keluargamu, keluarga ibumu. aku Xander dan ini istriku Meira"
"Lalu, dimana ibu?"
Pertanyaan Ara membuat Xander, Meira dan Denis saling bertatapan. Jika Ara kehilangan ingatannya, itu artinya dia harus merasa hancur untuk ke dua kalinya jika mendengar ibunya kemungkinan sudah meninggal. Mereka bingung harus menjawab apa.
"Ara, kita bicarakan masalah Deisy ketika kau sudah sembuh, Oke?" jawab Xander.
"Denis, kami perlu bicara denganmu di luar" Seru Xander, Denis mengangguk. Akhirnya Denis mengantar mereka ke ruangan pribadinya.
"Denis, ada apa dengan Ara sebenarnya?"
"Di dalam kepala Ara, selain benturan juga ada pendarahan di otaknya, pendarahan itu berada dekat dengan saraf yang mengatur memorinya, aku khawatir karena luka itu ia kehilangan sebagian dari ingatannya" ujar Denis sambil memperlihatkan foto film hasil MRI Ara.
"Sejauh mana ia kehilangan memorinya?"
"Aku tidak dapat memastikannya paman, harus di teliti lebih jauh"
"Aku sudah menyelidiki kehidupan Ara dengan suaminya, mungkin aku pikir baiknya Ara tak perlu berhubungan dengan Daniel." Seru Xander.
"Sayang, tapi anak di kandungan Ara adalah anak Daniel, meski bagaimanapun ia berhak tahu" Meira menimpali.
"Tapi Daniel menyakiti Ara, bagaimana kita bisa membiarkannya sakit untuk kedua kalinya?" nada bicara Xander meninggi.
"Maaf bi jika aku ikut campur, hanya saja lebih baik Ara tidak diingatkan tentang hal-hal yang membuatnya menderita dulu. Aku merasa dengan begini, ia tidak akan terbebani dengan masalah perebutan warisan Romanofnya dan juga tidak tersakiti dengan pertunangan dan perceraian suaminya"
"Benar, yang kau katakan benar. Ara tidak perlu tahu tentang hubungannya dengan keluarga Qin dan juga Romanof. Yang perlu dia tahu bahwa suaminya meninggalkannya dan dia tak perlu tahu siapa suaminya."
Akhirnya mulai dari hari itu, Ara tak pernah lagi mengingat tentang masa lalunya. Ia juga tidak pernah membahas apapun tentang masa lalunya.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Ara sedikit demi sedikit mulai pulih dan bangkit. Keluarga Li begitu hangat merawat Ara bahkan secara pribadi Denis selalu memantau perkembangan dan kondisi Ara mulai dari tubuhnya dan juga kandungannya.
Meskipun tanpa kehadiran suami, Ara melewati masa kehamilannya dengan bahagia. Meira yang tak memiliki anak perempuan, menganggap Ara sebagai anaknya sendiri. Apalagi saat Ara melahirkan Brandon, mereka bahkan membuat pesta perayaan yang meriah untuk Ara dan Brandon. Untuk pertama kali di hidup Ara meskipun ia tak mengingat 3 tahun belakangan hidupnya, ia bisa merasakan rasa bahagia memiliki keluarga.
Bertahun-tahun bersama, sebenarnya Xander dan Meira tahu bahwa Denis memiliki perasaan pada keponakannya itu, mereka berharap Denis bisa menjadi pendamping Ara. Namun entah bagaimana Ara selalu menolak untuk membuka hatinya untuk Denis, meskipun Denis berulang kali mengatakan isi hatinya.
Ada sesuatu di dalam hati Ara yang sulit dijelaskan dengan akal sehatnya, ingatannya memang telah hilang namun ia sering kali memimpikan seorang pria tampan yang tak pernah ia kenal dan tak pernah ia temui selama dua tahun ini. Ia begitu asing tapi setiap kali memimpikannya, ada dua perasaan yang selalu ia rasakan. Seperti rasa sakit dan bahagia dalam satu waktu.
Ara pernah bertanya tentang masa lalu dan tentang suaminya. Ia sedikit penasaran tentang seperti apa wajahnya, karakternya, dimana ia tinggal, apa pekerjaannya, tapi tidak ada di antara mereka yang menjawab, mereka hanya mengatakan Ara kehilangan ingatan karena kecelakaan dan berpisah dengan suaminya karena pria itu mencampakkan saat ia hamil. Dengan fakta itu, Ara tak pernah lagi bertanya tentang Daniel. Mengetahui kenyataan bahwa suaminya itu mencampakkan nya saat hamil Ara sudah dapat menebak rasa sakit yang dulu dia alami, jadi ia berhenti bertanya tentang masa lalunya.
#Flash back end#