
Setelah pembicaraannya dengan Daniel di The Breeze, Tritan segera menghubungi paman Zang untuk mencari tahu tentang CCTV di sekitar tempat kejadian, setelah itu ia menghubungi Elly menanyakan keberadaannya. Butuh beberapa lama untuk panggilannya terhubung.
"Tritan ada apa?"
"Elly kau dimakan?"
"Di hotel"
"Oke aku kesana" Seketika ia menutup panggilannya dan menuju ke hotel Elly.
***
Dua hari berlalu Elly di bantu Rudy tunangan Clara, berusaha untuk mencari tahu keberadaan Ara dan Daniel namun nihil, ia juga sudah mengecek nama penumpang di semua transportasi baik udara laut maupun darat tidak ada nama Ara dan Daniel yang tercantum, namun Elly juga yakin mereka tidak ada di kota G, bahkan teman kerjanya pun tidak tahu keberadaannya.
Melacak keberadaan Ara tentu saja Daniel bukan orang bodoh, dengan kemampuannya ia akan dengan mudah menyembunyikan keberadaan dan menyamarkan identitas mereka. Itulah kenapa Daniel bersikeras mengganti reservasi pesawat dan kamar resort mereka dan menggantinya dengan kelas yang baru. Bukan hanya demi kenyamanan tapi juga keamanan, Daniel tahu mereka akan mencari tahu hal ini sejak awal
Dua hari ini Tritan hampir 24 jam bersama Elly, bahkan Tuan Muda Hong itu menemani Elly berbelanja, makan sampai tidur pun mereka bersama. Demi mendapatkan informasi dimana Ara dan Daniel berada, Elly berusaha membuat Tritan berada di sisinya, tapi siapa sangka tanpa melakukan banyak hal pria itu sudah ada di dalam dekapannya. Tritan begitu lembut dan baik, Elly hampir lupa bahwa ia sedang berusaha mencuri informasi darinya.
Malam itu, Tritan memesan kursi di sebuah restoran termahal di kota G dan membawa Elly makan malam bersamanya.
"Elly, kita sudah sama-sama tahu kalau kita saling menyukai, bagaimana kalau kau jadi pacarku saja?"
Di sela acara makan malam mereka, Tritan mengungkapkan perasaannya, hal ini membuat Elly sedikit tertegun. Ia melihat mata Tritan dalam-dalam, ia melihat sebuah keseriusan di sana.
"Kenapa kau mau menjadi pacarku?" Seru Elly yang kemudian menunduk fokus pada makanan di atas meja setelah menatap Pria di depannya.
"Entahlah, aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu Elly"
"Tritan, jika aku pernah melakukan kesalahan yang sangat besar, apa kau masih mau bersama ku?
Mendengar ucapan Elly, Tritan mengerutkan keningnya. Ia agak heran dengan pertanyaan Elly barusan membuat Tritan terus berpikir ia mungkin berada di belakang ini semua.
" Kenapa? Apa ada yang kau sembunyikan Elly?"
Elly hanya tersenyum sambil meneguk segelas wine di atas meja.
"Kau, carilah wanita lain. Aku harus kembali ke kota A, pekerjaanku banyak menanti di sana" Seru Elly kemudian bangun dari duduknya. Baru hendak pergi Tritan segera mencegah Elly dengan memegang tangannya. Elly yang sudah berdiri menatap Pria yang masih duduk di kursinya itu dengan wajah bingung.
"Elly, apa ini ada hubungannya dengan Ara?"
Jantung Elly seakan berhenti mendengar tebakan Tritan barusan. Ia melihat Tritan yang menatapnya tajam, membuatnya sedikit gugup dan ketakutan.
"Apa hubungannya dengan dia? kenapa kalian selalu pikir akulah yang mencoba membunuhnya?"
"Jika benar, maka hentikan Elly, tinggalkan Clara dan aku bisa memberikanmu apa yang kau mau, Aku mencintaimu" ujar Tritan dengan wajah memohon, seumur hidup Tritan baru kali ini ia membicarakan cinta pada seseorang dan itu hanya pada Elly.
Elly tak mengatakan apapun beberapa saat, dadanya penuh sesak dan tak tahu harus melakukan apa. Kalaupun ia juga menyukai Tritan, untuk saat ini bukan waktu yang tepat. Bahkan beberapa hari ini alasannya berada di samping Tritan adalah ia hanya ingin mencari informasi keberadaan Daniel darinya tapi justru pria ini salah paham dan malah sekarang mengatakan hal ini, membuat hati Elly sedikit goyah.
"Jangan pergi, jika kau pergi maka aku akan pergi bersamamu" sahut Tritan seketika.
***
Elly kembali ke kota A di temani oleh Tritan. Pria ini bagaimanapun Elly bersikeras menolaknya, ia juga tetap pada pendiriannya.
"Yang memiliki pekerjaan di kota A memangnya hanya kau saja Elly, kau lupa aku memiliki MD yang harus aku urusi?" begitulah alasan Tritan kembali ke kota A bersama Elly. Elly tentu tahu itu bukan alasan sebenarnya, bertahun-tahun mengenal Tritan. Tak sedetikpun pria ini peduli pada perusahaannya, bagaimana bisa tiba-tiba ia peduli?
Elly hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar alasan itu, ia membiarkan Tuan Muda Hong itu melakukan apa yang dia mau.
Sesampainya di kota A dan setelah meletakkan semua barangnya di apartemennya, Elly segera bergegas pergi ke FireGate.
Elly memasuki ruangan Clara dengan gugup. Pintu terbuka, ia sudah melihat Clara duduk di kursinya dan Rudy berdiri di depannya. Dari tatapan mata Clara sudah terlihat jelas bagaimana kondisi emosinya. Belum sempat mengatakan apapun, Clara segera berdiri dan mendekati Elly.
"Plaaaaakkkk" suara tamparan keras mendarat di pipi Elly.
"Kenapa kau seceroboh itu sampai bisa terlihat oleh mereka di TKP, Elly?"
"Tidak, mereka tidak melihatku dengan jelas! sesaat setelah aku melihat Ara melihatku, aku segera pergi" jawab Elly gugup.
"Kenapa kau jadi bodoh begini? apakah otakmu itu sudah di penuhin dengan sahabat Daniel yang tampan itu, Huh??" Clara dengan marah memegang kedua pipi Elly dengan satu tangannya dan melepaskannya kasar. Clara mengedarkan matanya pada Elly dan Rudy bergantian.
"Apa menghabisi 2 nyawa kecil sesulit itu untuk kalian, Huh?Tak bisakah kalian membayar orang yang lebih pintar dengan cara yang lebih pintar?!" Bentak Clara bukan hanya pada Elly tapi juga pada Rudy tunangannya. Ia begitu merasa mereka tak berguna, "Dimana mereka sekarang?!"
Kembalinya Elly dan Rudy ke kota A tentu saja untuk meminta bantuan Clara dan mencari solusi rencana mereka. Namun siapa sangka, kedatangannya justru membuat Clara semakin marah. Rudy pun yang membantu Elly merencanakan rencana menghabisi Ara ikut terkena imbasnya.
"Sayang, menghabisi mereka tak akan semudah itu! ada Daniel di samping mereka. Kau tau sendiri siapa Daniel kan!" Rudy mencoba menenangkan tunangannya itu, namun mendengar nama Daniel, Clara tertawa sinis.
"Daniel?! oh, jadi dia telah menemukan Ara lebih dulu? kalian sudah tahu dari awal?!"
Diantara Elly dan Rudy tak ada yang berani menjawab.
"Bagus, kalian tiba-tiba bisu! aku mau kalian habisi juga Daniel, tidak... tidak.. bawa semua mayat mereka!!!Semuanya" pekik Clara dengan mata penuh kegelisahan dan kemarahan. Di dalam hati Clara sebenarnya meskipun ia memiliki semuanya, bayang-bayang Ara dan semua orang di sampingnya begitu membuatnya cemas dan takut. Apalagi semua aset yang ia miliki ia dapatkan dari cara yang tidak benar.
Elly dan Rudy saling menatap, belakangan ini Clara tampak aneh, apalagi saat mengetahui Daniel juga ada di sisi Ara, dengan kekuatan yang di miliki Daniel, menghancurkan Clara bukan hal yang sulit.
"Clara, tenanglah dulu, kita pikirkan lagi cara menghabisi mereka," seru Elly
"Jika kalian sebodoh ini lalu bagaimana caranya lagi?Mereka bahkan melihat Elly! bagaimana jika mereka menemukan bukti?"
"Kau tenang saja sayang, meskipun mereka melihat Elly, mereka tidak akan bisa mencari tahu tentang kejadian waktu itu. Aku sudah mematikan semua CCTV dan membayar semua saksi mata di sekitar sana, mereka tidak akan bisa menemukan bukti" timpal Rudy dengan yakin.
Clara sedikit bisa melonggarkan uratnya, nafasnya mulai melega, "Bagus Rudy, ternyata kau sedikit lebih pintar dari Elly. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, aku mau semua ini tetap jadi milikku, mereka tak boleh kembali, mengerti?!"