Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 119: Sepatuku lebih mahal dari nyawamu



Kemarin saat ia mendengar kabar bahwa Daniel kembali ke kediaman keluarga Qin dari Meilyn, hati Windy menjadi sangat rumit. Untuk bisa bersama Daniel setelah apa yang ia perbuat sepertinya sudah sangat tidak mungkin. Ia tahu betul bagaimana Daniel, mereka tumbuh bersama. Semua kenakalan sudah ia lakukan di depan Daniel Daniel masih bisa memaafkan, tapi untuk kesalahan yang satu itu di lihat dari wajahnya dulu pasti tidak akan mudah untuknya memaafkan. Apalagi karenanya Ara sempat menghilang selama hampir 3 tahun.


Windy duduk di kediaman keluarga Calder, hari ini tidak ada jadwal apapun. Ia hanya duduk di sebuah Gazebo belakang rumahnya di temani segelas wine dan beberapa kue kering.


Kediaman keluarga Calder memiliki pemandangan yang indah, mata Windy hanya sibuk ia lemparkan pandangannya keatas langit malam yang penuh bintang. Lamunannya terhenyak, ketika sebuah tangan membuka gelas kemudian menuangkan wine dari dalam botol. Windy menoleh ke samping dengan malas.


"Paman" sapa Windy melihat Shane duduk di sampingnya.


"Windy, apa kau tau Daniel kembali?"


"Daniel kembali? kapan?"


"Malam ini, apa kau tak melihat berita?" tanya Shane kemudian di jawab gelengan kepala Windy. "Daniel sudah kembali dan sekarang ada di kediaman keluarga Qin. Besok, Meilyn mengundangmu datang bersamaku tapi sebaiknya kau saja dulu, aku akan datang di acara makan malam bersama di sana. Sementara ini aku harus mengurus beberapa hal di kantor"


Windy terdiam tak menjawab hanya meneguk sedikit demi sedikit wine di dalam gelas.


"Kenapa diam? tak ingin pergi Win?"


"Hemm, benar, tak ingin pergi"


"Tak ingin pun tetap harus pergi" ujar Shane ketus,


"Aku ingin berhenti paman,"


"Tidak bisa, kau tetap harus menikah dengannya! kau tahu kan kondisi perusahaan kita yang meskipun terlihat sempurna di luar tapi hampir bangkrut di dalam? di dunia ini siapa yang bisa menolong kita selain keluarga Qin? jika kau punya kandidat lain yang lebih kuat darinya silahkan ajukan baru kau boleh menolak! mengerti?" seru Shane ketus dan meletakkan gelas wine di atas meja. Windy hanya bereaksi dengan senyuman kecil. Sekali lagi karena uang, ia tak pernah berpikir hatinya yang tulus untuk Daniel harus kemudian terkontaminasi dengan urusan bisnis keluarganya dan Qin, sungguh tidak adil.


***


Keesokan harinya, saat ia datang ke kediaman keluarga Qin, di sambut hangat oleh Meilyn seperti biasa. Si cantik yang memesona di mata Meilyn itu datang


membawa sebuah kantung bertulisan Precision Jewelry, mata Meilyn berbinar-binar membayangkan kali ini perhiasan seperti apa yang akan di berikan oleh Windy.


"Halo bibi, selamat pagi" ujar Windy berjalan cepat masuk ke dalam pelukan Meilyn yang sedari jauh sudah membuka tangannya untuk memeluk Windy dengan senyuman hangat.


"Pagi sayang, lama tidak bertemu artis internasional kau menjadi semakin cantik"


"Terimakasih bibi Meilyn, kau juga terlihat awet muda..oya paman Shane menitipkan ini untuk bibi" ujar Windy sambil menyodorkan kantung perhiasan itu pada Meilyn, Meilyn tersenyum senang hingga wajahnya terlihat sangat aneh. p


"Wah, terimakasih sayang" ujar Meilyn sambil membuka kantung perhiasan itu. Saat sebuah kotak perhiasan berwarna navy itu terbuka, terlihat sebuah kalung indah bermatakan berlian di dalamnya begitu berkilau begitu indah. Sekali lagi Meilyn tersenyum girang kemudian membawa Windy masuk ke ruang keluarga kemudian berbincang santai sambil minum teh.


"Bibi, dimana Daniel?"


"Oh, bolehkah aku kesana?"


"Tentu saja sayang, jangan lupa ambil hatinya juga ya"


Mendengar ucapan Meilyn, Windy tersenyum malu. Ia pun bangun dari duduknya dengan bersemangat berjalan menemui Daniel. Sesampainya di ambang pintu keluar, ia melihat Daniel yang mempesona bermain bersama seorang anak kecil begitu bahagia, sudut bibirnya tertarik. Meskipun ia tak tahu siapa anak kecil itu, tapi melihat Daniel bermain bersama anak kecil dengan wajah lembut dan hangat seperti itu mampu menggerakkan hatinya. Ia semakin terlihat sempurna, dari ujung kaki sampai kepala begitu sempurna. Ia teringat lagi dengan kata-kata Shane semalam, jika ada kandidat lain yang lebih baik maka ia bisa menolak, tapi bagaimana bisa ada kandidat lain yang lebih memenuhi kualifikasinya selain Daniel di dunia ini? Ia pintar, kaya dan tampan luar biasa, siapa yang berani menolaknya? pasti hanya Ara yang terlalu bodoh hingga menghilang sampai sekarang, batinnya dalam hati.


Tidak ada di antara Shane atau Meilyn yang menyebutkan bahwa Daniel kembali ke kediaman Qin membawa anak dan istrinya. Ia juga tidak mempedulikan semua berita yang beredar, saat ia mengetahui bahwa anak yang ada di gendongan Daniel sekarang adalah anaknya, hatinya tiba-tiba patah. Ada anak berarti ada Ara di rumah ini, mata Windy mengedar tapi tak juga melihat Ara di sekeliling. Windy beralih menoleh pada 2 orang pelayan di belakangnya.


"Dimana Ara?" ujar Windy pada Vela.


"Nona muda masih di dalam kamarnya, Nona"


"Jadi benar anak itu anaknya?"


"Benar, Nona"


Dengan kesal Windy kemudian menoleh lagi ke arah Daniel dan Brandon yang sudah masuk ke dalam kolam berenang dengan ceria.


"Kalian siapkan baju berenang untukku, aku juga akan berenang bersama mereka!" ujar windy membuat Eva dan Vela tertegun kaget. Bagaimana Windy bisa berpikir untuk berenang bersama tuan muda mereka? bagaimana jika Ara sampai lihat dan melihat mereka berenang bersama? Vela dan Eva saling memandang bingung. Merasa tidak mendengar jawaban, Windy kedua kalinya menoleh pada 2 pelayan itu dengan wajah marah.


"Kenapa diam?!! tidak mau siapkan?? mau di pecat?!" bentak Windy dengan wajah kesal.


"Ma.. maaf nona Windy, tapi kami rasa itu kurang pantas. Bagaimana jika Nona muda melihat? itu akan jadi masalah" ujar Vela ragu-ragu sambil menunduk. Mendengar ucapan Vela, Windy tersenyum sinis dan menarik rambut Vela dengan kasar.


"Apa pedulimu? jika ku katakan siapkan maka lakukan! kau hanya seorang pelayan rendahan, bisa-bisanya mendapat keberanian sebesar ini untuk menolakku!"


Melihat Vela kesakitan, Eva seketika menepis tangan Windy dan menarik tangan Vela ke belakang.


"Nona Windy, kami memang hanya pelayan, tapi kau juga tak berhak untuk memperlakukan kami seenaknya. Lagipula kak Vela hanya mengingatkan, kau tak perlu bereaksi berlebihan" pekik Eva pada Windy. Vela buru-buru menarik tubuh Eva ke belakang, meskipun yang di katakan Eva benar, namun ini bukan tempat yang benar untuk Eva berkata seperti itu pada Windy. Vela yang bekerja lebih lama dari Eva, ia sudah hafal dengan sifat Windy yang baik seorang dewi ini. Jangan sampai menyinggung perasaannya, atau nasib buruk akan datang kepadanya. Windy kemudian tertawa keras sambil menepuk tangannya.


"Bagus, jadi kau sudah bosan hidup! kau pikir kau itu siapa bisa membentak ku seperti itu? bahkan sepatu yang ku pakai saja harganya lebih mahal daripada nyawamu"


"No.. Nona Windy, kami mohon maaf, kami salah... kami akan segera siapkan baju berenang untuk nona, nona jangan marah lagi"


"Terlambat", Windy tersenyum sambil memanggil seorang pengawal datang mendekat. Wajah Vela memucat namun Eva masih dengan wajah angkuhnya, ia hanya tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. " Pengawal, kurung dia (Eva) dan berikan hukuman cambuk 100 kali dan biarkan mulutnya terus mengucap maaf padaku! hitung dengan benar, jika kurang satu kalipun kalian yang akan membayarnya, Mengerti?!" ujarnya tanpa belas kasihan,


"Baik, nona


setelah itu berlalu dan masuk ke dalam rumah tanpa peduli Vela yang berusaha memohon pada Windy.