
Suara cicitan burung-burung kenari samar-samar terdengar dan masuk ke dalam pendengaran Daniel, Daniel yang baru tertidur 3 jam akhirnya terbangun. Ia membuka mata dan di lihatnya Ara yang masih terlelap tidur di dalam pelukannya.
Di lihatnya dalam-dalam wajah cantik istrinya itu, jarinya membelai lembut rambut panjang bergelombang milik Ara, bergerak lurus menyentuh pipi dan bibir manis istrinya. Pandangan mata Daniel menghangat, masih tidak percaya Tuhan memberinya kesempatan kedua memiliki wanita yang ia cintainya itu. Di dalam hatinya ada sebuah tekat, ia tak akan lagi membiarkan wajah cantik ini lepas dari pelukannya untuk yang kedua kalinya.
Tuk.. tuk.. tuk.. Suara ketukan pintu memecahkan lamunan Daniel, mendengar suara ketukan pintu, Ara bergerak lembut namun tak terbangun. Dengan hati-hati Daniel mengangkat kepala Ara dan mengangkat lengannya untuk bisa bangun dan membuka pintu.
Klak, pintu terbuka. Seorang pria kecil di temani dua pelayan wanita berdiri di depan pintunya. Mata pelayan yang berdiri di belakang Brandon seketika teralihkan ketika melihat Daniel membuka pintu hanya menggunakan celana panjang longgar berwarna hitam berbahan satin memamerkan tubuhnya yang indah. Mereka segera memalingkan pandangan mereka tak berani lagi menatap lebih jauh. Daniel berjalan selangkah ke depan brandon dan menggendong anak semata wayangnya itu,
"Ayah, ibu mana?" tanya Brandon sambil tangan kecilnya mengucek salah satu matanya dan menguap. Daniel tersenyum.
"Ibu masih tidur, sayang"
"Bangunkan ibu, Brandon ingin main" rengeknya manja.
"Tuan kecil, ayo main dengan kami saja, kita main lempar bola di luar bagaimana?" ujar salah satu pelayan berusaha membujuk Brandon, beruntung Brandon bukan anak yang sulit di dekati. Hanya di bujuk ringan seperti itu, Brandon pun akhirnya mengangguk setuju
"Oke, anak ayah main dulu sama Eva dan Vela ya, ayah akan menyusul setelah ayah ganti baju, oke bos?" seru Daniel sambil mengelus kepala anaknya kemudian menurunkannya Brandon.
" Eva, Vela, jaga dia baik-baik.. aku akan ganti baju dulu"
"Baik Tuan Muda" jawab mereka kompak kemudian membawa Brandon ke halaman belakang.
Setelah beberapa lama berselang setelah mandi dan ganti baju, Daniel ikut bermain dengan Brandon di taman belakang. Anak ayah itu terlihat sangat gembira,
Melihat kebahagiaan itu, membuat rumah yang tadinya sangat dingin dan sunyi tiba-tiba menjadi hangat dan ramai, semua berkat tuan muda kecil mereka yang tampan dan juga menggemaskan.
"Kak, mereka lucu sekali ya, aku jadi gemas" ujar Eva berbisik sambil tersenyum. Mereka berdiri tak jauh dari Brandon dan Daniel, ia berbisik dengan nada rendah jadi tak mungkin siapapun akan mendengarnya kecuali Vela yang ada di sampingnya.
"Iya, Tuan kecil memang menggemaskan Va"
"Ish, maksudku Tuan muda, bukan tuan kecil kak," ujar Eva dengan mata berbinar-binar dengan senyum terlebar nya, Vela yang berada di sampingnya seketika melirik Eva dengan wajah sinis kemudian mencubit kecil lengan juniornya itu, maklum Eva adalah pelayan termuda di kediaman keluarga Qin. Tak heran jika khayalannya masih sangat tinggi, Vela yang selalu berada di dekatnya pun kadang sampai tak habis pikir dengan banyak kekonyolan yang gadis itu buat.
"Auchh kau menyakitiku kak" pekik Eva sambil menggosok-gosok lengannya yang merah karena cubitan Vela. Daniel yang sedang bermain sampai mendengar pekikan nya kemudian menoleh pada Eva.
"Ada apa?" tanya Daniel
"Ti.. tidak tuan muda, saya hanya kaget. Sepertinya ada kodok yang akan menggigit saya. Maaf mengganggu tuan, silahkan dilanjutkan lagi" seru Eva dengan kata-kata anehnya, terlalu aneh sampai membuat Daniel mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya heran.
Vela yang mendengar alasan Eva rasanya ingin menepuk kepala gadis itu, bagaimana seseorang bisa membuat alasan tak masuk akal seperti itu. Bahkan anaknya yang masih kecil pun tidak akan membuat alasan seperti itu.
"Eva, aku yakin ijazah mu itu palsu" seru Vela mengerlingkan matanya dengan heran.
"Hah? kok bisa"
"Sejak kapan kodok menggigit? jika asli pun betapa menyesalnya mereka memiliki alumnus seperti mu, hadeuh" Vela seketika menepuk keningnya tak habis pikir.
"Huh, kak Vela, jangan sembarangan bicara! sudah kakak diam, kau benar-benar mengganggu doaku"
"Doa? doa apa?"
"Aku sedang berdoa, semoga Tuhan memberikanku suami setampan dan sekaya Tuan Muda, jika begitu biarpun harus menghadapi mertua galak seperti Nyonya Meilyn setiap haripun aku rela" ujar Eva tersenyum dengan wajahnya aneh membuat Vela tak kuasa menahan tawanya dan menepuk kening gadis itu sambil berbisik "Jangan gila, sayang" setelah mengucapkan kata itu, Vela tak kuasa terkekeh. Mereka berdua memang sudah biasa seperti itu. Tapi biar bagaimanapun mereka bertengkar, Vela menganggap Eva sudah seperti adiknya. saling menyayangi satu sama lain.
Tawa Vela dan Eva seketika berhenti ketika melihat sesosok wanita cantik muncul dari dalam rumah berjalan mendekati Daniel dan Brandon. Daniel dan Brandon tak menyadari siapa yang datang di belakangnya. Senyuman di bibirnya memudar berganti dengan wajah sinis ketika melihat 2 pelayan yang berdiri tak jauh dari Brandon dan Daniel menatapnya seperti melihat nenek sihir.
"Kak, nenek sihir datang" bisik Eva pada Vela. Vela lagi-lagi menyenggol lengan Eva dan menyuruhnya diam.
"Selamat pagi Nona Windy" sapa Vela di ikuti Eva, membuat Daniel menghentikan aktifitas bermainnya dengan Brandon. Daniel menoleh ke belakang tubuhnya.
"Halo Daniel, apa kabar? lama tidak bertemu" sapanya dengan wajah dibuat semanis mungkin di hadapan Daniel. "Halo, adik kecil, kau siapa?" tanya Windy beralih pada Brandon setelah Daniel tak menggubris sapaan Windy barusan. Melihat Windy wajah Daniel menjadi sangat tidak senang, teringat semua apa yang gadis itu perbuat membuat kemarahan yang sudah lama hilang kini muncul kembali. Daniel segera menarik tangan Brandon dan menggendongnya, gerakannya seolah mengisyaratkan sebuah tanda seru untuk Windy menjauhi anak semata wayangnya itu.
"Untuk apa kau kemari? bukankah sudah ku katakan aku tak ingin melihatmu lagi?" ujar Daniel sedingin bongkahan es pada Windy. Windy tertegun beberapa saat namun dengan cepat ia mengembalikan lagi senyuman yang sempat hilang di wajahnya itu.
"Daniel, kau jangan begitu. Kita sudah lama tak bertemu, kenapa masih belum bisa memaafkanku? saling memaafkan dan melupakan bukankah itu sangat baik?"
Ucapan Windy terdengar seperti sebuah lelucon konyol untuk Daniel. Bagaimana bisa di lupakan dan di maafkan semudah itu, dampak dari perbuatannya bahkan sampai sekarang masih belum pulih, ingatan Ara sama sekali belum kembali dan gara-gara wanita rubah di depannya ini, ia hampir kehilangan anak tampan yang ia gendong saat ini. Bagaimana bisa di lupakan?
"Windy pergilah, masih terlalu pagi untukku mendengar lelucon konyol mu itu"ujar Daniel ketus, wajahnya kemudian ia palingan menatap Brandon di gendongannya" Brandon anak ayah, apakah kau suka berenang?" tanya Daniel melebarkan senyumnya.
"Suka.. ayo yah, kita berenang" jawab Brandon dengan sangat gembira,
"A.. anak? Daniel.. dia anakmu?" tanya Windy dengan wajah sangat terkejut.
"Benar, dia anakku dengan Ara,"