Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 74: Jika kau tak percaya, lihat ini!



Sudah 2 hari ini Ara berada di rumah sakit. Selama berada di sini, Kevan tak pernah meninggalkannya sedetikpun. Xander dan istrinya pun sering datang, dalam satu hari bisa lebih dari 3 kali, jika Xander tak datang maka istrinya, Meira yang akan datang membawakan bubur atau sekedar bertanya keadaan Ara. Ara merasa sedikit aneh dengan perlakuan Xander dan Meira. Perlakuannya pada Ara tidak biasa, tidak seperti seorang kolega tapi justru seperti keluarga.


Ara membuka matanya perlahan, ia melihat sosok Kevan sedang tertidur dalam kondisi duduk dan tangannya melipat di dada. Jika di lihat dari wajahnya, ia seperti sedang lelah sekali. Saat ini pukul 11 malam. Ara meraih ponselnya di atas nakas. Tidak ada panggilan atau pesan balasan dari Daniel. Entah sudah berapa banyak pesan dan panggilan yang ia tujukan untuk Daniel, tapi ia benar-benar tak membalasnya.


Mungkin kali ini kesalahannya sudah tak termaafkan, Ara tahu kesabaran seseorang tentu ada batasnya.


"Tapi sekarang ia sudah mengandung anaknya, bagaimana ia masih tetap marah padaku? bukankah ini yang ia inginkan? bukankah ia marah karena aku tak ingin mengandung anaknya? setelah aku ternyata mengandung anaknya, lalu kenapa ia masih tetap diam dan pergi?" Batin Ara bingung. Berpuluh-puluh pesan juga sudah Ara kirimkan untuk memberitahu Daniel tentang hal ini.


Perlahan ia turun dari tempat tidur dan mendekati tubuh Kevan yang meringkuk. Ia membawakan sebuah selimut dan memakaikannya pada Kevan. Kemudian ia membuka pintu dan berjalan menuju Roof Top Garden di rumah sakit itu. Ia berjalan dan kemudian berdiri di sisi pagar pembatas gedung. Ia mencoba menikmati udara malam kota G dengan hati yang kalut tapi mencoba memasrahkan segalanya. Ia mulai kehilangan harapan hari demi hari. Semua kenangan seberapa manisnya Daniel memperlakukannya selama ini membuat hatinya seperti di lempar jatuh ke jurang. Rasanya bahkan lebih sakit dari saat Kevan meninggalkannya waktu itu.


Angin malam yang dingin berhembus menyapu rambut Ara yang menjuntai indah di bahunya. Matanya masih memandangi layar ponselnya. Ia masih terus berharap, entah sejak kapan, saat ini ia baru menyadari dimana sebenarnya posisi Daniel di hatinya. Tak pernah berpikir Daniel bisa memenuhi hampir semua ruang dalam hatinya. Ara mulai menyesali kebodohannya, ingatan mata Daniel yang marah terakhir kali mereka berhubungan membuatnya mengutuk diri sendiri!


Lamunannya terhenyak saat sebuah mantel berwarna Navy masuk memeluk tubuhnya. Ara seketika menoleh ke belakang. Kevan tersenyum sambil memakaikan mantel itu pada tubuh Ara. Pria ini seperti kehilangan keangkuhan di dirinya. Ia bahkan tak lagi berkata keras dan memaksanya, ia lebih lembut dari biasanya. Setelah selesai kemudian ia berjalan ke samping Ara dan menghirup udara malam dalam-dalam.


"Udara sedingin ini, kenapa keluar malam-malam?" Senyum Kevan menoleh pada Ara.


"Tidak ada, hanya bosan"


Mata Kevan kemudian melirik ke ponsel yang di genggam Ara.


"Masih menunggunya menghubungimu?"


Ara membalikkan tubuhnya kembali menatap sibuknya kota G dari atas. Ara sejenak terdiam dan menghela nafas dalam.


"hemm, masih menunggu"


"Ara, jika ia berniat menghubungimu, mungkin sudah ia lakukan sejak kemarin, tapi ia tak menghubungimu, apa mungkin ia sudah menyerah dan berhenti?"


"Ya, mungkin ia sudah menyerah dan berhenti. Ini salahku Van, kalau saja aku tak menolak permintaannya dan membuatnya marah waktu itu. Semua ini mungkin tak akan pernah terjadi"


"Permintaan apa yang membuatmu sulit memberikannya?"


"Ia mau aku melahirkan anaknya dan aku menolaknya" Mendengar ucapan Ara, Kevan menyatukan alisnya bingung.


"Kenapa kau menolaknya? kau tak mencintainya"


"Ya, aku dengan naif berpikir aku tak mencintainya, aku mengatakan padanya bahwa aku masih muda, aku masih ingin bekerja, aku pikir ini bukan waktu yang tepat untuk memiliki anak" seru Ara kemudian ia menatap Kevan lekat. "Tapi alasan yang sebenarnya adalah aku takut Van, ibuku pernah hampir mati karena melahirkan, hingga kini ingatan itu terus menghantuiku tapi saat ini ketika ia memutuskan pergi dan berhenti, aku baru menyadarinya ternyata aku sangat mencintainya dan aku lebih berharap melahirkan anaknya dan bergelut dengan ketakutan ku sendiri daripada berpisah dengannya seperti ini"


"Saat dulu aku meninggalkanmu apakah kau sehancur ini juga Ra?," Mendengar pertanyaan Kevan, mata Ara membulat terkejut. Di mata Kevan saat ini, Ara bisa melihat sebuah kehancuran di dadanya.


"Sekarang pandangan apa itu Van?apa setelah aku mengatakan aku mencintainya kau sekarang menyesal? Tapi itu adalah pilihanmu untuk meninggalkanku dulu, Van" Batin Ara


"Bagaimana Aku mencintaimu dan aku mencintainya itu sangatlah berbeda Van. Pohon yang di rawat dengan pupuk dan sepenuh hati akan berbeda dengan pohon yang tumbuh tanpa pupuk dan tanpa perawatan. Akar yang tumbuh pun akan berbeda kuatnya, tanaman yang terawat dengan baik, akarnya akan menjadi kuat dan dalam, jika pohon yang di rawat terpaksa dicabut, maka akan menghasilkan bekas lubang yang dalam"


Kevan mengerti apa yang di maksud Ara. Sekali lagi mendengar jawaban Ara, ia merasa dirinya sudah kalah telak dari Daniel.


"Daniel mendapatkan cinta Ara sedalam itu, apalagi saat ini ia mengandung anaknya. Keberuntungan apa lagi yang ia tak dapatkan? Semua mimpi itu pernah hampir aku dapatkan, jika bukan karena Sisil dan perusahaan, mungkin aku sudah hidup bahagia bersama Ara dan tak harus melihatnya menderita seperti ini. Kau benar-benar akan menyesalinya Daniel"


"KEVAN!!!",


Sebuah suara melengking terdengar keras dari belakang tubuh Ara dan Kevan. Kevan dan Sisil seketika menoleh membalikkan tubuh, betapa terkejutnya Kevan dan Ara ketika melihat Sisil tengah berdiri beberapa meter di belakang mereka. Sisil melangkahkan kakinya dengan mata yang hitam dan dengan cepat mengayunkan tangannya menampar pipi Ara. Tamparan itu begitu keras hingga rasa pedihnya membuat air mata Ara jatuh tanpa sadar.


"SISIL!!! APA YANG KAU LAKUKAN, HUH?! tanya Kevan menarik lengan Sisil dengan kasar. Ara dengan cepat melepaskan genggaman tangan Kevan pada Sisil.


" Kevan, Lepas!! " seru Ara pada Kevan, Kevan dengan tatapan heran menatap Ara dan melepaskan Sisil. Ara kemudian menatap Sisil dengan wajah serius,


"Sisil, kau salah paham, aku tak mencoba merebut Kevan darimu, Kevan kebetulan datang menolongku, ini tak seperti yang kau pikirkan!!Satu-satunya orang yang aku cintai itu suamiku,Daniel bukan Kevan, jadi berhentilah mencurigai ku!!" seru Ara mencoba menenangkan Sisil yang sangat emosi.


"Menurutmu aku akan percaya pada ucapanmu? Daniel bukan suamimu kan, kalian tak pernah menikah, jika kalian memang pernah menikah lalu kenapa ia mengumumkan pertunangannya dengan wanita lain??!"


"A.. APA?!" Mendengar yang di katakan Sisil, Ara mundur beberapa langkah, tubuhnya bergetar hebat. "Kau pasti salah dengar Sisil, ia tak mungkin begitu dan kami benar-benar menikah!!"


"Jika kau tak percaya, lihat ini" Sisil kemudian memutar sebuah video konferensi pers Daniel dan Windy, ia kemudian memberikannya pada Ara. Kevan hendak mencegahnya dan merebut ponsel Sisil. Sebenarnya Kevan sudah mengetahui berita itu tak sengaja ia lihat di TV lobby rumah sakit. Ia sebisa mungkin menyembunyikan nya dari Ara. Ia khawatir Ara akan terkejut dan semakin sedih mendengar berita ini.


"Berikan ponselnya Van" seru Ara dengan wajah dingin pada Kevan.


"Berhentilah Ara, kau tak perlu melihatnya! setidaknya tunggu sampai kau sembuh"


"BERIKAN AKU BILANG!!!" Untuk yang pertama kalinya Ara membentak Kevan begitu emosinya di depan Sisil. Bukan hanya Kevan yang terkejut, jika ia tak melihat langsung Ara saat ini, ia tak percaya Ara sedang membentak Kevan dengan wajah semarah ini sekarang. Kevan pun mengalah, ia akhirnya memberikan ponsel itu pada Ara.


Ara menguatkan hati melihat video yang ada di ponsel Sisil. Di dalam video itu Daniel memang tak mengucapkan sepatah kata pun, wajahnya masih sedingin bongkahan es, sepanjang konferensi pers itu hanya Windy yang berbicara.


Melihat wajah Ara semakin pucat, Kevan merebut ponsel Sisil dan membuangnya ke lantai! Ara berdiri terpaku, berusaha tak mempercayai yang ia lihat saat ini.