
Hari ini adalah hari Sabtu, itu artinya hari ini adalah Brandon's day. Hari sabtu adalah hari libur untuk Ara dan hari sabtu adalah hari ia akan pergi dan melakukan apa pun yang Brandon mau.
"Brandon, hari ini mau kemana?" Tanya Ara sambil bermain air dengan Brandon, ia sedang memandikan Brandon saat ini.
"Aku mau makan es krim, main di taman dan beli mainan yang banyak" jawab Brandon dengan bersemangat. Ara pun tersenyum melihat wajah cerah anaknya itu.
"Baiklah, ayo cepat kita siap-siap dan berangkat"
"Ayo!!"
Setelah mereka siap, mereka segera turun dari kamarnya. Dari pintu depan sudah terlihat Danny yang berdiri di samping mobil berwarna hitam.
Brandon yang tak melihat Denis di sana, kabut gelap menyelimuti wajah Brandon. Ia menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangan Ara. Ara yang merasa genggamannya tiba-tiba kosong, ia pun menoleh ke belakang.
"Brandon, ada apa?"
"Om Denis mana?"
Mendengar pertanyaan putra semata wayangnya itu, ia tersenyum dan berjongkok di depan Brandon yang sudah menekuk wajahnya.
"Om Denis sedang ada pekerjaan di rumah sakit, tidak bisa menemani Brandon dulu. Sabtu ini kita main berdua saja ya, minggu besok baru main sama om Denis"
Mendengar perkataan ibunya, Brandon tak bisa menyembunyikan wajah sedihnya.
Ara kemudian membelai pipi Brandon dengan lembut dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Biasanya memang setiap hari Sabtu, Denis memang akan selalu ikut Ara dan Brandon bermain seharian. Mereka memang sedekat itu hingga ketika Denis tidak ada, Brandon akan merasa kehilangan. Di dalam dunia Brandon, ia tidak pernah tahu merasa memiliki seorang ayah itu bagaimana, meskipun baru berusia 2,5 tahun, ia sudah bisa merasa iri dengan teman-temannya di Day Care jika mereka di jemput oleh ayah mereka, sedangkan Brandon tak pernah merasakannya. Di dalam hidup Brandon hanya ada 3 orang laki-laki yang selalu menemaninya bermain. Xander, Denis dan Danny, selebihnya tidak ada.
Sepanjang perjalanan, Brandon tak bicara sedikitpun. Ia terlihat murung, beberapa kali. Ara membujuk Brandon agar tak murung seperti itu, tapi gagal. Anak semata wayangnya itu sepertinya memang kehilangan, tapi mau bagaimana lagi. Ara tak mungkin meminta Denis datang, itu akan menggangu pekerjaannya. Lagipula Denis hanya teman dekatnya, ia tak memiliki hak apapun. Di saat seperti ini, Ara teringat lagi dengan ucapan Brandon dan permintaan Denis kemarin. Apalagi melihat anaknya seperti tergantung pada Denis, ia jadi merasa bersalah pada Brandon. Untuk anak seusianya, memang seharusnya ia mendapatkan cinta dari kedua orang tuanya. Cinta yang di berikan nya dan semua orang di sekelilingnya tidak akan bisa menggantikan cinta seorang ayah. Brandon membutuhkan figur itu sekarang.
"Nona Ara, kita sudah sampai" karena terlalu melamun, ia bahkan tak sadar mereka sudah sampai di cafe. Ara segera mengangguk dan turun dari mobil berama Brandon kemudian masuk ke dalam kafe. Setelah memesan es krim kesukaan Brandon. Mata Ara terpaut pada seseorang yang ia kenal sedang duduk di meja di samping kaca jendela besar kafe itu.
"Daniel?!"
"Ara??!" Pekik Daniel tiba-tiba. Membuat Jantung Ara berdegup kencang. Ingatan tentang pria di mimpinya akan selalu mengalir di kepalanya saat melihat pria di depannya itu. Daniel bangun dari duduknya dan mendekati Ara dan Brandon.
"Ha.. Hallo Tuan Daniel, kebetulan sekali kita bertemu di sini" Sapa Ara dengan gugup. Daniel tersenyum kemudian matanya tertuju pada Brandon yang sekarang menatapnya dengan aneh, ia merasa pria di depannya ini mirip dengan dirinya dan ia pernah melihat sketsa mirip dengan Daniel di kamar ibunya, dengan bingung Brandon menoleh pada Ara.
"Bu, om itu siapa?" tanya Brandon.
"Itu.. Dia... "
"Hallo jagoan kecil, aku Daniel... Teman ibumu" Daniel buru-buru menyela ucapan Ara. Ia tersenyum pada Brandon dan Ara.
Sebenarnya Siang itu Daniel tak berencana untuk datang ke kafe itu. Namun Tritan terlalu gaduh bersama para wanita-wanita yang ia bawa entah dari mana. Suara mereka bahkan terdengar hingga kamarnya. Karena kesal, ia meninggalkan rumah dan mencari tempat yang nyaman untuk membaca semua laporan perusahaan dan laporan penyelidikan tentang Ara selama ini melalui email di dalam ponselnya. Ia juga membawa beberapa lembar kertas dari paman Zang, ia berusaha mencocokan semua fakta yang ia miliki. Ia baru saja merasa kaget ketika ia mengetahui janin di perut Ara berhasil di selamatkan dan Ara berhasil melahirkan seorang anak laki-laki 2,5 tahun lalu dan ketika mendengar suara rengekan anak kecil ia tergelitik untuk mendongakkan kepalanya, siapa sangka ia melihat Ara dan anak laki-laki itu sudah ada di depannya.
"Ara?!" Emosi di dalam hari Daniel tidak menentu saat ini, antara senang bercampur haru menjadi satu. Rasanya ia ingin sekali memeluk Ara dan anak laki-laki di depannya yang ia yakini adalah anaknya bersama Ara ,tapi tentu saja dengan kondisi saat ini itu tidak memungkinkan.
Brandon masih menatap Daniel dengan wajah herannya, ia bahkan sampai terlihat melamun.
"Brandon, kenapa melamun? bukankah harusnya kau menyapa om Daniel?" ujar Aran menoleh pada brandon sambil menggoyangkan tangannya untuk menyadarkan lamunan pria kecil di sampingnya itu.
"Halo om, namaku Brandon"
"Wah nama yang bagus" Daniel menyentuh kepala Brandon dengan lembut, matanya melirik ke satu gelas besar es krim di tangan Ara, "kau ingin makan es krim ya? om boleh ikut duduk bersamamu dan ibumu?" Brandon tak langsung menjawab, ia berpikir sebentar dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Membuat Daniel tersenyum senang dan ia menoleh pada Ara.
"Jadi apakah kau tak keberatan aku duduk bersama kalian, Ara?"
"Ya, tak apa, lagi pula Brandon sudah mengizinkan" senyum Ara.
Sebuah senyuman yang selalu Daniel rindukan jauh di lubuk hatinya saat ini.
S**eharusnya , jika tidak ada kejadian itu, aku tak perlu bertanya hanya untuk duduk bersama kalian. Aku tak akan menyerah mendapatkan kalian kembali. Denis, jangan harap kau bisa menggantikan posisi ku! aku tak akan membiarkannya, meskipun hanya di dalam mimpi!