Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 121:Jika kau mati, air mataku tidak akan menetes untukmu.



Tubuh Windy tiba-tiba bergetar, ia memundurkan langkahnya, wajahnya tiba-tiba putih seakan aliran darahnya berhenti di sekitar wajahnya. Seumur hidup, jangankan di cambuk, untuk orang lain mencubit dirinya sendiri saja sudah pasti tidak berani.


Pengawal yang tadi berdiri di dekat Eva sekarang berjalan menuju ke arahnya, wajahnya ada keraguan tapi melihat tatapan tajam Daniel membuatnya mau tidak mau percaya bahwa tuan mudanya ini tidak main-main dengan ucapannya. Dengan cepat tubuhnhya di sergap pengawal. Ia menarik dan mengikat tubuh Windy tanpa ampun.


"Daniel, aku mohon jangan seperti ini!! aku salah, aku salah maafkan aku" ujar Windy dengan penuh ketakutan di wajahnya.


Plakkkk... satu cambukan mengenai tubuh Windy, teriakan Windy seketika terdengar. Daniel melihat wanita itu tanpa belas kasihan sama sekali. Windy terus memohon, Plaaaakkk.. dua cambukan, 3 cambukan, 4 cambukan, kulit Windy yang putih segera terluka. Ara mencoba mencegahnya.


"Daniel! kenapa kau kejam sekali??! hentikan!"


Daniel menatap wajah Ara dengan sangat dingin dan tajam.


"Dengar Ara, wanita itu tidak perlu dikasihani. Karena dia menyakiti orang ku, karena dia kau hilang, karena dia hatimu sakit, karena dia kita hampir kehilangan anak kita dan karena dia juga kau baru saja salah paham padaku untuk yang kedua kalinya. Kau tau tidak betapa aku takut kau pergi meninggalkanku lagi?!" pekik Daniel sambil mencengkram lengan Ara dengan kuat. Terlalu kuat hingga Ara merasa kesakitan.


"Daniel, sakit.." Ujar Ara merintih sakit di bagian lengannya karena cengkraman Daniel. Daniel seketika melepas genggamannya pada lengan Ara dan memeluknya. Semua itu mereka lakukan di depan Windy. Windy rasanya seperti ingin membunuh dua orang yang sedang bermesraan di atas rasa sakitnya ini sekarang. Rencana untuk memisahkan mereka bukan hanya gagal tapi kali ini ia juga langsung menanggung akibatnya.


"Ada apa ini???!!!" suara bentakan dan hentakan kaki beberapa orang masuk ke dalam ruangan itu. Ara, Daniel dan semua orang yang berada di sana segera menoleh. Windy melihat Shamus dan Meilyn datang seketika air matanya berderaian.


"Kakek, bibi.. tolong aku!" ujar Windy memohon belas kasihan dari Meilyn dan Shamus.


Mata Shamus dan Meilyn menghitam. Meilyn berlari ke arah Windy dan segera menolong calon menantu kesayangannya itu, sedangkan Shamus datang kemudian menampar keras pipi Daniel.


Plaaaaakkk... suara itu sangat keras, seperti memberitahu seberapa keras pria tua itu menampar pipi Daniel. Kepala Daniel menoleh ke satu sisi, gambar telapak tangan utuh terlihat di pipinya yang putih. Daniel tersenyum ketus tapi tak mengeluarkan sepatah katapun. Tangannya membawa tubuh Ara ke belakang tubuhnya mencoba memberi jarak antara dia dan Shamus.


"Meilyn, bawa Windy ke kamar dan hubungi dokter terbaik untuk merawat lukanya dan


kau! ikut aku ke ruang kerja ku sekarang!" ujar Shamus marah manatap Daniel,


"Ara, kau kembalilah ke kamar. Mereka biar aku yang hadapi" ujar Daniel, namun hal itu langsung di tolak oleh Ara.


"Tidak, aku ikut denganmu"


"Ara, kau tak bisa menghadapi mereka"


"Setidaknya aku bisa berada di sisimu" ujar Ara dengan tatapan tegas dan tanpa keraguan sama sekali.


"Ara... " Daniel memohon pada Ara di balik tatapannya, namun gadis itu tetap menggeleng, "Ayo!" tangan Ara kemudian meraih genggaman tangan Daniel dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Tangan tuanya mencengkram ujung tongkat mahoni nya dengan sangat kuat, hanya tongkat itu yang tahu pasti seberapa besar pria tua ini menahan emosinya yang sudah diubun-ubun itu.


"Daniel, jelaskan kenapa kau berani mencambuk Windy?" tanya Shamus.


"Kenapa tanya aku, kenapa kau tak tanya cucu kesayanganmu itu saja" ujar Daniel dengan senyum ketus menyeringai di bibirnya.


Meilyn menatap Daniel dengan wajah masam, bisa-bisanya anaknya itu berkata seperti itu pada kakeknya. Reaksi Shamus mendengar ucapan Daniel dengan nada mengejek sperti itu semakin merah padam. Meilyn seketika merasa sesak. Sejak dulu, anaknya dan mertuanya itu memang jarang sekali akur. Mereka seperti di lahirka di bawah bulan dan karakter yang sama. Mereka sama-sama keras kepala dan tak mau kalah.


Alih-alih bertanya pada Windy, Shamus justru berjalan mendekati Daniel dan Ara. Ia berjalan pelan mengitari sepasang suami-istri itu dengan wajah dingin.


"Di rumah ku ini, hanya aku yang boleh memutuskan siapa yang berhak dan tidak berhak di hukum. Tidak mau menikah dengan Windy juga tak berhak melukai tubuhnya dengan cara seperti ini. Hanya demi wanita kotor seperti dirinya..." Shamus berhenti di depan Ara, telunjuknya menunjuk Ara seperti sebuah belati yang dengan mudah menusuk wajahnya, Ara menelan ludahnya melihat kemarahan yang jelas-jelas ada di mata pria tua itu. "Karena dia, kau tega menyakiti Windy, mengabaikan perintah ku juga memandang rendah diriku. Jika aku tak memandang mu sebagai cucuku, mungkin aku akan memberikanmu hukuman cambuk. Bahkan jika kau mati karenanya aku juga tak akan sudi meneteskan setetes pun air mataku untukmu Daniel"


Mendengar ucapan Shamus yang terdengar kejam itu membuat Meilyn maju dan mencoba menenangkan Shamus, namun baru beberapa langkah kakinya melangkah, Shamus menghentikannya tanda ia tak boleh ikut campur.


"Kakek, ini bukan sepenuhnya kesalahan Daniel, sebagian besar ini adalah kesalahanku. Aku baik-baik saja jadi ku mohon kakek memaafkannya dan jangan memarahinya lagi, Kek" ujar Windy yang ikut berusaha menenangkan Shamus. Shamus tersenyum ketus.


"Lihat Daniel, lihat wanita yang sudah kau beri hukuman cambuk itu! bajunya sampai merah karena darah dan ia masih mengatakan dia baik-baik saja. Jika kau jatuh cinta aku tak masalah tapi jatuhlah di hati yang benar bukan justru jatuh di hati penuh lumpur yang menjijikkan" Sambung Shamus. Daniel menggerakkan giginya dan semakin mencengkram tinjunya kuat-kuat. Windy yang merasa di bela, membuat wajahnya seakan-akan lebih mengiba, berusaha menampilkan ekspresi yang menyedihkan agar Shamus dan Meilyn semakin kasihan padanya.


Daniel melihat wajah palsu Windy membuatnya mual dan rasanya ingin menampar wajah palsunya itu. Jika bukan karena dia perempuan dan juga gadis tersayang kakeknya dan ibunya mungkin ia benar-benar akan melakukannya. Namun Daniel berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya, mencoba menyadarkan dirinya dan tetap berusaha tenang.


Setelah Shamus selesai berbicara, Daniel maju selangkah kecil mendekati kakeknya, matanya menusuk dalam manik mata kakeknya seperti seekor binatang buas hendak menerkam mangsanya. Seperti monster yang baru terbangun dari tidurnya, ia begitu terlihat sangat asing. Sejak acara perjodohan itu dan sejak ia mengatakan ia mencintai gadis lain yang tak lain adalah Ara, Daniel terus saja menatapnya dengan tatapan seperti ini membuatnya seperti akan kalah telak seketika. Shamus bisa melihat kengerian yang tak pernah ia lihat di mata Daniel selama ini. Tubuh Shamus sedikit bergetar namun harga dirinya sebagai orang yang paling di segani di keluarga Qin ia tak terima jika harus kalah dengan tatapan menusuk itu.


"Jika aku mati apa kalian baru akan senang?" Ujar Daniel dengan wajah datar dan dingin membuat Shamus tiba-tiba mengernyitkan dahinya.


"Daniel!! hentikan, kau jangan keterlaluan dengan kakekmu! kami seperti ini juga karena mengkhawatirkan kebahagiaan mu!"Pekik Meilyn dengan suara tinggi.


" Khawatir dengan kebahagiaanku?? hah! Tak bisakah kalian lihat seberapa bahagianya aku sekarang memiliki Ara dan Brandon di sisiku! setidaknya cinta merekalah yang terlihat tulus di mataku! "


"Jadi, kau pikir kami tak tulus di matamu?"


"Tidak! jangan kalian pikir aku tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran kalian?! kakek, kau memintaku menikah dengan Windy karena aset keluarganya yang banyak, tapi apa kau pernah bertanya bagaimana keadaan perusahaan mereka sekarang? aku beritahu, mereka hampir bangkrut, jikapun aku menikah dengannya kau tidak akan mendapatkan apa-apa, tambang mereka hampir habis dan mereka. membutuhkan sokongan, di negara ini siapa lagi yang bisa menyokong keluarga mereka selain kita? mereka membutuhkan kita untuk membantu mereka bukan sebaliknya dan kau ibu, sebagai seorang ibu tak bisakah kau ikut senang melihat anakmu senang? Kau lebih terlihat seperti ibu tiriku di banding ibu kandungku" ujar Daniel tanpa rasa takut di hatinya. Meilyn mendengar ucapan Daniel ia pun ikut naik pitam dan merasa anaknya ini jadi berubah kurang ajar. Ia mengangkat tangannya hendak menampar Daniel, namun gerakannya tiba-tiba berhenti,Ara menangkap tangan itu.


"Wajah suamiku, tidak boleh di pukul begitu saja"