Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 28: aku ingin kita tidur bersama



Selesai mandi, Daniel memakai baju longgar dan membuka pintu kamar, ia melihat Ara sedang menyusun makanan di atas meja.


Daniel sekali lagi tersenyum.


Ara tampak sangat pantas memakai apron dan sibuk menyusun makanan di atas meja. Ia terlihat lebih keibuan, aura cantiknya lebih terlihat.


Daniel perlahan mendorong salah satu bangku dan duduk di depan meja makan. Makanan yang ia buat makanan Asia, dari harumnya sepertinya enak. Melihat Daniel duduk, Ara sekilas menatap Daniel, ketika Daniel membalas tatapannya, ia buru-buru mengalihkan pandangannya. Situasi canggung ini terus berlanjut.


Ara memasak begitu banyak Seafood di atas meja. Salah satu makanan favoritnya sepanjang masa.


“Mungkin sedikit berbeda dengan seleramu, tapi mungkin juga tidak terlalu mengecewakan"


Seru Ara sambil membuka Apronnya dan duduk di depan Daniel. Daniel tak menanggapi ucapan Ara. Ia hanya mengangguk dan tersenyum.


“Cobalah udang ini, tidak terlalu besar, tapi rasanya sangat enak"


Tangan Ara dengan cepat meletakan beberapa udang di atas piring Daniel. Senyum Daniel mengembang dengan cepat.


“Nyonya Daniel, aku merasa kau hari ini agak aneh, apa terjadi sesuatu atau ada sesuatu yang ingin kau katakan?'


Ucapan Daniel begitu sangat biasa, tapi mendengar kata-katanya, jantung Ara seperti akan copot keluar dari tubuhnya. Ara menatap Daniel dengan ragu, ia ingin menceritakan padanya bahwa ia memutuskan untuk bekerja besok, tapi entah kenapa ia khawatir akan membuat Daniel marah. Daniel menangkap wajah Ara yang aneh.


“Aku, merasa bosan berada di rumah, jadi aku putuskan untuk kembali bekerja mulai besok"


Dengan susah payah Ara akhirnya memberitahu Daniel. Ara terus menatap wajah Daniel. Ada beberapa saat Ara tak bisa menebak apa yang di pikirkan Daniel. Seperti saat ini. Wajahnya terlihat sangat tenang. Seperti tidak ada perubahan emosi di wajahnya.


“Apa dia marah? kenapa diam saja? apa aku salah?”Batin Ara gusar.


“Hemm, baiklah"


tanpa di duga Daniel memberikan senyuman setelah menjawab Ara kemudian kembali menyuap dengan santai seakan tak terjadi apa-apa. Ara sempat beberapa detik tercengang.


“Jawabannya hanya begitu? aku akan bekerja dengan mantanku, apa dia benar-benar tak peduli? tunggu, apa yang aku harapkan? dia marah? melarangku? kenapa aku jadi kecewa? hufh”Batin Ara.


Ara menatap pria tenang di hadapannya itu, beberapa menit menatapnya tak ada yang aneh, hingga ia menyadari ada yang tak beres dengan Daniel. Wajahnya semakin lama semakin pucat, keringat mulai membasahi keningnya.


“Daniel, apa kau sakit?"


Pria itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Awalnya Ara percaya, tapi lama kelamaan wajahnya semakin pucat. Ara menghentikan suapannya dan memegang kening Daniel. Ia tak demam, lalu kenapa sepucat ini? ia tampak baik-baik saja sebelumnya. Mata Ara tertuju pada piring Daniel, ia baru menyadari, di atas piringnya hanya ada sayur yang ia masak, selain udang yang ia berikan, ia tak melihat lagi ada seafood di atas piringnya.


Seketika dengan panik Ara berdiri dan berlari menuju kotak obat di dalam lemari dapur tak jauh dari meja makan dan kembali pada Daniel. Ia terlalu terburu-buru hingga tubuhnga tak sengaja membentur sudut meja dan ia kehilangan keseimbangan. Daniel melihat Ara akan terjatuh, seketika ia bangkit dari duduknya dan menangkap tubuh Ara. Setelah itu, Daniel perlahan melepaskan tubuh Ara dan ia terjatuh di lantai, ia kehilangan tenaganya, nafasnya mulai sesak.


Dengan panik Ara mengangkat kepala Daniel ke atas pangkuannya dan kemudian memberikan obat anti Alergi pada Daniel. Wajah gadis itu terlihat begitu ketakutan. Ia bahkan sampai menangis melihat tubuh Daniel yang kokoh tiba-tiba terjatuh di lantai dengan wajah sepucat mayat. Melihat Air mata Ara yang terus berjatuhan. Dengan susah payah Daniel menyeka air mata gadis itu.


“Tenanglah, aku baik-baik saja"


“Apanya yang baik-baik saja? aku hampir membunuhmu, kenapa kau tak bilang kau alergi makanan laut?!!kau bodoh benar-benar bodoh!!"


Mendengar ucapan Ara, Daniel tersenyum dengan lemah.


“Kau sudah susah payah memasak untukku, bagaimana aku bisa menolak memakannya?"


“Dasar bodoh! Daniel kau idiot!"


Hanya kata-kata itu yang sanggup keluar dari mulut Ara. Daniel tersenyum lemah, melihat Ara tak juga berhenti menangis, perlahan ia bangun dan memeluk Ara dengan erat.


Setelah Daniel cukup kuat untuk berdiri, Ara mengantar Daniel masuk ke dalam kamar dan naik ke atas tempat tidur. Saat ia hendak pergi, tangan Daniel menarik lengan Ara hingga tubuhnya jatuh di atas dada bidangnya. Jantung Ara berdegup kencang seketika. Ara mengangkat wajahnya menatap Daniel.


“A..pa yang kau lakukan?"


“Mau sampai kapan kita tidur terpisah?"


Sejak hari pertama mereka menikah, tak sekalipun mereka tidur bersama. Ara bukan tak bisa hanya belum terbiasa, dengan Kevan pun begitu, hanya saja, dengan kArakter Kevan yang pemaksa, Ara tak punya banyak pilihan selain mengikuti kemauannya.


“Jangan sekarang, beri aku waktu sedikit lagi, bisakah?"


“Tidak"


Untuk pertama kalinya Daniel memaksa Ara menurutinya. Ia membawa tubuh ramping Ara naik ke atas tempat tidur dan membawanya masuk ke dalam pelukannya. Jantung Ara benar-benar seperti akan loncat keluar dari tubuhnya. Ini bukan pertama kalinya ia tidur di atas ranjang yang sama dengan pria, tapi, dengan Daniel terasa sangat berbeda. Pelukan pria ini selalu nyaman dan tenang, tidak mendominasi dan tidak terasa memaksa. Betul-betul nyaman.


Jari-jari Daniel mengangkat wajah Ara dengan lembut.


“Mulai sekarang, aku ingin kita tidur bersama"


Perlahan bibirnya jatuh dengan lembut di bibir Ara, jantung mereka saling memacu, ciuman Daniel begitu lembut dan manis. Beberapa saat mereka tenggelam dalam ciuman lembut itu.


Daniel tetap saja pria normal, semakin lama, ia semakin di penuhi hasrat untuk memakan gadis di pelukannya itu. Tangannya mulai bergerilya di atas pinggang dan pinggul Ara.


“Daniel.. Hentikan.. Hump"


Daniel tak menghiraukan ucapan Ara, ia masih menikmati bibir manis Ara namun


Saat ciuman itu semakin panas dan dalam, Ara tiba-tiba mengehentikan ciuman mereka dan bangkit menjauhi Daniel. Daniel terkejut tapi tak menghentikan Ara.


“Daniel,aku tak pantas untukmu, kita bercerai saja"


Kata-kata Ara berhasil membuat Daniel tertegun. Dengan langkah cepat ia keluar dari kamar dan masuk ke kamar lainnya.


Ara membanting tubuhnya ke atas kasur, perasaannya bercampur aduk, ia merasakan perasaan Daniel dengan jelas, ia tahu itu perasaan yang berbeda seperti saat ia besama Kevan, tapi ia merasa Daniel pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya, Daniel terlalu baik dan bersamanya hanya akan menghancurkan hidupnya.


Keesokan harinya, setelah kejadian semalam, pagi itu Ara tak melihat sosok Daniel di manapun. Saat itu masih sangat pagi, ia melirik jam dinding masih menunjukan pukul 7 pagi.


Biasanya, saat ia keluar dari kamarnya setiap pagi, tubuh tinggi Daniel sedang berdiri di dapur membuatkan sarapan untuknya dan menyapanya dengan senyuman hangatnya. Ia akan bertanya bagaimana tidurnya semalam atau bercanda apakah ia memimpikannya atau tidak semalam.


Sudah lewat dari 2 minggu kebiasaan itu seperti mengakar di ingatannya. Ia duduk di bangku meja makan, memandang sekeliling apartemennya. Tiba-tiba perasaannya kosong, rasa dingin menjalar masuk ke dalam hatinya.


“Setelah apa yang ia lakukan padaku, perkataanku pasti membuatnya marah, ia mungkin menyadari aku tak sepenting itu dan kemudian dia memutuskan untuk pergi, huh, ada apa denganku? kenapa sekarang aku menyesali perkataanku padanya semalam?"


Dengan jengkel Ara menopangkan kepalanya di atas meja makan.


“Sudah memiliki orang yang mau menerimamu apa adanya, selain materi, ia punya semua yang kau mau, tapi justru kau mengabaikannya, kaulah yang idiot Ra! agghh!!"