
Klakkk! Ara membuka pintu ruang ganti pengantin pria. Semua mata seketika tertuju pada Ara. Ara menghela nafas panjang saat Pria yang ia lihat di tengah ruangan itu benar-benar Kevan yang ia kenal.
Kevan menatap Ara dengan wajah gugup. Ara yang memakai gaun berwarna hitam panjang berleher rendah, kulit putihnya semakin terlihat bak salju musim dingin, rambut bergelombangnya ia biarkan jatuh, di tangannya ia memegang setangkai bunga mawar hitam. Melangkah maju mendekati tubuh tinggi Kevan.
Ia sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak terjatuh. Melihat sorot mata Kevan yang pernah begitu lembut untuknya, nafasnya seketika sesak. Suara pada pena itu terdengar berulang-ulang di kepalanya.
Langkahnya berhenti tepat di depan Kevan. Ara memberikan senyuman termanisnya. Ia menyentuh kerah jas Kevan dengan lembut, mencabut kelopak mawar putih dari saku jas hitamnya. Ia membuangnya ke tanah dan menginjaknya tanpa ampun. Setelah itu ia menggantinya dengan kelopak mawar hitam di tangannya.
“Apa yang sedang kau lakukan?"
Ara tersenyum pahit.
“Aku sedang memberkati pernikahan kalian, apa lagi yang bisa aku lakukan?"
Kemudian Ara meraih pena perekam di dalam tasnya, mendekatkannya pada telinga Kevan dan memutar rekaman itu. Ara bisa melihat perubahan wajah Kevan saat itu, seperti sebuah bongkahan es jatuh di atas kepalanya, wajahnya sepucat es, Kevan tertangkap basah. Ara tersenyum pahit.
“Yang kau katakan benar tuan Kevan Wingsley yang terhormat. Seperti yang kalian tahu akulah putri buangan keluarga Romanof, ibuku pun di buang krn tuduhan perselingkuhan dan aku dengan menyedihkan mau mejadi simpanan mu, kebodohan ku terlalu naif mempercayai mulut manis mu. Tapi akan ada hari kau akan menyesal dan mencari ku. Sementara menunggu, menikahlah dengan bahagia, aku akan merestui mu"
Ara memegang tangan Kevan beberapa saat, kemudian ia memasukan pena itu ke dalam genggaman Kevan. Kevan menunduk menatap pena itu. Ara melihat tatapan bersalah di balik matanya. Tapi Ara tak peduli, ia sudah muak.
“Bantu aku membuangnya"
Ara menatap Kevan beberapa detik setelah itu ia meninggalkan ruangan itu dengan mantap. Tak peduli berapa banyak mata memandanginya dengan pandangan jijik.
Setelah keluar dari ruangan itu, setengah berlari ia kembali ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat itu segera. Yang ingin dia katakan sudah di katakan. Separuh rasa sakitnya terlepas begitu saja. Kali ini air matanya mengalir deras.
Beberapa hari berlalu setelah pernikahan Kevan. Ara mengurung dirinya di kamar, seperti anak gadis yang patah hati, ia habiskan berkotak-kotak tissue, bermangkuk-mangkuk ice cream, yang ia lakukan hanya menonton Tv. Melihat siAran ulang pernikahan Kevan. Kevan dan Sisil bukan orang sembArangan, acara pernikahannya bahkan sampai di siarkan secara langsung. Setelah beberapa hari bahkan salah satu stasiun Tv menyiarkan bagaimana mereka berbulan madu. Ini sungguh menyedihkan. Ia di sini menangis tanpa henti, sedangkan dia benar-benar tertawa bahagia. Dunia memang kejam.
“Tak ada lagi yang bisa ku lakukan di sini, apakah tidak lebih baik aku kembali ke kota C dan bekerja lagi di perusahaan lamaku? yah sepertinya itu ide yang bagus, barangkali aku bisa mencari ibu di sana"
Seketika semangatnya kembali. Ia bergegas berkemas, setelah itu ia masuk ke dalam mobilnya dan beranjak pergi. Sepanjang jalan ia memandangi setiap sudut kota ini. Kota yang banyak mengingatkannya pada Kevan.
“Ah sudahlah, dia sudah bahagia, aku juga harus bahagia"
Ara kesal dengan dirinya, ia membenturkan kepalanya pada setir mobilnya, itu hanya sepersekian detik, tapi ketika Ara mengangkat kepalanya ia panik melihat mobil di depannya tiba-tiba berhenti dan Brakkkk!!! tabrakan itu tak terhindarkan lagi. Jantung Ara benar-benar copot sekarang. Ia melihat mobil yang ia tabrak bukan mobil sembArangan. Sebuah mobil mewah rusak di tangannya, keringat dingin seketika mengalir di sekujur tubuhnya. Sebentar lagi ia akan kehilangan banyak uang.
Ia buru-buru keluar dari mobilnya dan melihat kerusakan pada mobil mewah itu.
Si pemilik mobil membuka pintu mobilnya. Seorang pria memakai kemeja hitam dengan kerah lengan tergulung sampai siku, semua yang menempel di tubuhnya tak satupun yang terlihat murah. Ia datang mendekati Ara yang sedang menahan nafasnya. Ketika pria itu tepat berdiri di depannya, Ara segera membungkuk berkali-kali untuk meminta maaf. Saat ia mengangkat kepalanya, betapa terkejutnya ia melihat pria di depannya itu. Jika tak salah ingat pria itu adalah pria yang sama saat ia mabuk di TopHill beberapa waktu lalu.
“Ka..kau..pria yang waktu itu kan?"
Pria itu tersenyum tak menyangkal ucapan Ara. Matanya kemudian beralih melihat kerusakan pada mobilnya. Seketika ia menggelengkan kepalanya.
“Mobil ini adalah mobil Maybach Exelero edisi terbatas dengan harga sampai 100 Miliar lebih"
Ucapan pria itu benar-benar membuat otot di seluruh tubuh Ara kehilangan kekuatannya. Wajahnya memucat, seperti kehilangan aliran darah. Ia menghela nafas panjang.
“Ya aku tahu, maafkan aku, aku sangat menyesal, sekarang katakan padaku dengan cara bagaimana aku bisa membayar kerusakan mobilmu?"
Wajahnya sangat tenang, ketika melihatnya, entah bagaimana kau akan merasa nyaman. Ara menatap pria itu. Pria itu terdiam sejenak, ia terlihat sedang berpikir.
“Hemm, bagaimana jika kau menikah saja denganku?"
“Baiklah"
Ara menjawabnya dengan ringan, ia masih tak sadar dengan yang di ucapkan pria itu, sampai beberapa detik kemudian ia mengangkat wajahnya dan matanya membulat keheranan.
“Apa?????? apa kau sudah gila!!"
Pria itu tertawa tanpa pikir panjang ia membuka pintu mobil Ara, ia masuk dan duduk di belakang kemudi mobil Audi itu, Ara masih tertegun dan mendekati pria itu yang sudah nyaman duduk di atas mobilnya.
“Kau.. Apa yang kau lakukan?"
“Masuklah"
Akhirnya mau tidak mau Ara masuk ke salam mobilnya. Ia menatap pria itu dengan wajah heran. Pria itu kemudia menarim tuas perseneling dan meninggalkan mobil mewahnya di belakang.
“Kenapa kau meninggalkan mobilmu begitu saja?"
“Tenanglah, itu mobil temanku, sebentar lagi pihak asuransi akan mengurusnya"
“Hah? lalu kau mau bawa aku kemana sekarang?"
“Kau gila????!! aku tak serius dengan perkataanku!"
“Pikirkan baik-baik, selain aku, siapa yang akan menikahimu kelak?"
Ara tiba-tiba terdiam, pria di sampingnya sudah mendengar rekaman itu, setidaknya dia tahu keburukannya dan masih mau menikah dengannya. Hidup Ara sudah sampai seperti ini. Apa lagi yang bisa membuatnya lebih berantakan. Ragu-ragu Ara menatap wajah pria di sampingnya ini dengan seksama. Dari penampilannya ia tak terlihat seperti orang jahat, wajahnya tampan sempurna, umurnya kemungkinan tak jauh beda denga Kevan. Tingginya mungkin 185cm, kulitnya begitu bersih dan putih. Di balik kemejanya Ara yakin ia memiliki tubuh yang bagus, sepertinya dia sangat menjaga pola makannya, rambutnya hitam lebat, tertata dengan rapi. Harusnya dengan penampilan seperti itu dia bukan pengangguran.
“Terserah kau saja lah, hidupku sudah seperti ini, kaupun juga sudah tahu, gila sekali lagi juga tak masalah"
Pria itu menggelengkan kepalanya menatap Ara dengan lucu, ia tak bisa tak tertawa geli mendengar ucapan Ara.
Akhirnya mereka datang ke kantor biro catatan sipil, untuk pertama kalinya akhirnya ia tahu pria itu bernama Daniel,Setelah selesai mereka mendapatkan sertifikat pernikahan mereka. Mulai hari ini mereka resmi menjadi sepasang suami istri.
“Ayo pergi"
“Kemana?"
“Tempat tinggalmu"
“Hah? kau kan suamiku, harusnya kau membawaku ke rumahmu, bukan sebaliknya"
“Aku tak punya rumah di kota A"
Ara tiba-tiba tertegun. Tak punya rumah, tak punya mobil dan tak punya uang? pernikahannya bukan hanya dengan orang asing tapi juga dengan pengangguran?
tapi di lihat dari bahan pakaian yang ia kenakan dan jam tangan yang ia kenakan, ia tak terlihat seperti orang tak mampu dan juga ia tak terlihat seperti sedang berbohong.
Oke baiklah, Ara memiliki firasat buruk.
Selain wajahnya yang tampan dan nama pria ini, ia tak tahu apapun tentang suaminya ini. Ia hanya berharap ia tak sedang dalam masalah besar.
“Baiklah tinggal di rumahku juga boleh tapi setidaknya apa kau tak akan kembali ke tempat tinggalmu sebelumnya untuk mengambil beberapa baju dan bArang-bArangmu?"
“Tidak perlu, aku akan membeli yang baru, kau temani aku berbelanja saja, oke?"
Mobil mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan elit di kota A. Sepanjang jalan Daniel tak melepaskan genggaman tangannya pada Ara. Ara sedikit canggung. Daniel membawa Ara masuk ke sebuah toko baju merek ternama. Sudah di pastikan, baju-baju itu pasti sangat mahal.
Jantung Ara berdebar kencang. Ia tak henti mengingat-ingat nominal saldo di kartunya. Bagaimana jika ia belanja terlalu mahal dan Ara tak kuat membayarnya? ah matilah.
Setiap kali Daniel meminta pendapatnya tentang baju-baju yang ia pilih, Ara menahan nafasnya, nominal harga di setiap bandrol baju yang ia pilih seketika bisa membuatnya tercengang.
Hampir semua baju yang ia pilih memiliki warna yang sama, sepertinya ia penyuka warna hitam. Meskipun sangat cocok di tubuhnya, tapi dengan kulit putihnya, warna putih lebih bisa membuatnya lebih tampan. Mata Ara jatuh pada kemeja berwarna putih dengan aksen biru tua sederhana di kerah kemeja itu. Kemeja itu sederhana tapi terlihat sangat elegan. Ia bahkan membayangkan Daniel memakainya pasti akan sangat cocok.
Daniel menangkap tatapan mata Ara. Ia merebut kemeja itu dari tangan Ara.
“Kau menyukainya? apa ini kelihatan cocok untukku?"
Ara tanpa ragu mengangguk dan tersenyum. Daniel tersenyum dan dengan lembut mengusap kepala Ara.
Akhirnya Daniel dan Ara pergi ke konter pembayAran. Secara bersamaan Daniel dan Ara menyodorkan kartu masing-masing pada penjaga kasir. Penjaga kasir itu menatap Daniel dengan malu-malu, bahkan tak memperdulikan Ara sama sekali. Akhirnya ia mengambil kartu yang ada di tangan Daniel.
Ara menatap wajah Daniel. Bukankah dia tak punya uang? ah sudahlah, pria selalu punya gengsinya sendiri.
Di pikir-pikir, Daniel sudah menjadi suaminya, tapi Ara sama sekali tak tahu apa pekerjaan Daniel, tapi untuk datang ke toko ini, siapapun dia pasti seseorang yang memiliki kemampuan lebih.
Ara pikir setelah ini Daniel selesai berbelanja, tapi ternyata ia masih mencari bArang kebutuhannya yang lain.
“Daniel, bisakah aku tunggu di sini saja? aku sedikit lelah"
Daniel menghentikan langkahnya dan menatap Ara.
“Apa kau baik-baik saja? atau lebih baik kita pulang?"
“Tidak perlu, kau pergilah, aku akan menunggumu di sini"
“Baiklah"
Setelah itu, Daniel beranjak meninggalkan Ara duduk di salah satu bangku panjang di dalam mall itu.
Di saat yang bersamaan, Kevan tak sengaja melihat Ara dan Daniel berada di toko itu. Mereka terlihat sangat dekat, mata Kevan menghitam seketika. Ketika Daniel meninggalkan Ara sendiri, Kevan segera mendekati Ara dan menggenggam lengan Ara dengan kuat.
Ara terperanjat kaget melihat Kevan dengan wajah marah menggenggam lengannya. Ia bisa merasakan tatapan tajam Kevan seakan-akan ingin membunuhnya.