
“Ara, datanglah ke Villa berikan ini pada Sisil"
Mata Ara mengerucut memandang ke sebuah kotak merah hati di tangan Kevan. Kotak itu tak terlalu besar, tapi kemasannya terlihat sangat cantik dan elegan.
Dengan cepat Ara mengangguk dan meraih kotak itu dari tangan Kevan. Kevan tak banyak bicara. Matanya kembali menunduk pada serakan kertas-kertas dokumen di atas mejanya.
Ia berangkat menuruni Lift. Sebuah mobil telah menunggu Ara di lobby, ia terus mengayunkan langkahnya memasuki mobil. Tak sampai 30 menit, mobil itu telah sampai di pelatAran Villa Kevan. Ia memandang sejenak situasi villa itu. Ingatannya masuk ke dalam bayangan denah yang di berikan Ayahnya tempo hari.
Ara tiba-tiba menghela nafas panjang.
Tangan cantik Ara mengayun menekan tombol bell di sisi pintu. Bell berdering. Pintu terbuka. Mata Ara membulat, ia begitu kaget ketika bukan Sisil atau Bibi Jia yang menyapanya dari balik pintu. Sebuah senyuman manis dari seorang pria muncul dari balik pintu.
“Ara??"
“Jade?"
Ara tertegun beberapa saat. Bagaimana Jade bisa berada di Villa Kevan?
Melihat wajah Ara yang tertegun, Jade semakin tersenyum, tangan besarnya menyeret tangan mungil Ara untuk masuk ke dalam.
“Ayo masuk!"
Saat Ara memasuki Villa mewah itu, ia melihat ada beberapa orang yang sedang sibuk membuat sebuah dekorasi pesta. Mata Ara terus berputar mengelilingi setiap sudut ruangan.
Sangat indah. Bunga mawar merah muda menghiasi setiap sudut ruangan. Sangat indah.
Jade membawa Ara masuk menemui Sisil. Sisil melihat sosok Ara mendekat, kaki jenjangnya mengayun mendekati tubuh Ara,senyuman manisnya melengkung di antara kedua pipinya.
“Tuan Kevan memintaku memberikan kotak ini padamu"
Ara menyodorkan kotak merah hati itu pada Sisil. Terlihat aura bahagia di wajahnya.
“Apakah hari ini kalian mengadakan pesta? ruangan ini di dekor sangat indah"
Mata Ara masih terpesona melihat keindahan dekorasi villa mewah itu. Sisil mendekat sambil meraih kotak di tangan Ara. Senyumannya tak kalah lembut dan cantik dari mawar-mawar di ruangan itu.
“Hari ini adalah hari Anniversary kami ke-3"
Anniversary ke-3? jadi mereka bertunangan sudah 3 tahun? kenapa belum juga mengadakan pesta pernikahan? Gumam di batin Ara.
“Wah,selamat hari Anniversary Sil, semoga hubungan kalian langgeng"
Ucapan Ara terdengar sangat manis di telinga Sisil, ia tak hanya berterimakasih, bahkan ia mengundang Ara untuk menghadiri pesta Anniversary mereka malam ini. Ada beberapa tamu penting yang akan datang.
“Tentu saja dia akan datang, mana mungkin calon istriku tak datang"
Ucapan Jade membuat mata Ara dan Sisil mengembang.
“Apa? kalian? sejak kapan?” tanya Sisil heran
“Bu..bukan.. Aku bukan pacarnya.. Kau salah paham!”Buru-buru Ara menepis dugaan Sisil, “Kau!! berhenti bicara seperti itu pada semua orang, sebelum banyak yang salah paham, aku bukan pacarmu!!”Ara mencubit lengan Jade dengan kesal. Jade tertawa geli melihat reaksi lucu Ara. Semakin marah semakin terlihat cantik.
Di luar dugaan, Jade justru merangkul lengan Ara menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukannya. Pupil Ara membesar, jarak wajah mereka begitu dekat, sampai ia dengan jelas melihat pori-pori di wajah Jade yang tampan.
“Iya bukan, tapi sebentar lagi akan"
Bisik ucapan Jade membuat pipi Ara bersemu merah. Seakan bunga mawar bersemi di wajahnya.
“Hei.. Jade hentikan! ini pesta anniversary ku dengan Kevan, jangan coba-coba merebut panggung ku!!"
“Haha baiklah baiklah adikku yang cantik, maafkan aku"
“Adik???!! kau dan Sisil kakak beradik?"
Seketika Ara mendorong tubuh Jade untuk melepaskan pelukannya. Gerakan tiba-tiba Ara, membuat Jade hampir kehilangan keseimbangan.
“Ara, kenapa kau terkejut sekali? apa kau tak merasa kami mirip?”Jawab Jade tiba-tiba merangkul Sisil.
Hah.. Benar juga, di lihat sekilas mereka memang mirip, hanya saja warna kulit mereka yang berbeda, Jade berkulit sedikit gelap sedangkan Sisil berkulit putih seperti salju.
Ara tak mengatakan apapun, ia hanya mengangguk-angguk dengan lengkungan senyum canggung di wajahnya.
“Ini benar-benar bagus, jika Jade adalah kakak Sisil, ia tak perlu berpura-pura mendekati Kevan dan merebutnya dari Sisil, seharusnya Jade juga bisa membantunya. Bagus, ini benar-benar bagus”Batin Ara.
“Ke..kemana?"
Pertanyaan Ara tak mendapatkan Jawaban, tangannya sudah di tarik oleh langkah jenjang Jade tanpa Ampun. Jade membawa Ara masuk ke dalam mobilnya dan menuju sebuah pusat perbelanjaan.
“Jade, aku harus kembali, Kevan mencariku"
“Tenanglah Ra, masalah Kevan biar aku yang urus"
Beberapa saat kemudian mereka memasuki toko baju Branded di mall itu. Jade membawa Ara masuk ke ruangan VIP, beberapa pramuniaga berjalan di belakang mereka.
Tubuh Jade jatuh ke sebuah sofa nyaman di tengah ruangan itu, ia duduk dengan kaki menyilang. Jari jemarinya tak henti memberikan perintah pada para pelayan untuk membawakan semua koleksi gaun terbaru di toko itu berikut dengan sepatu dan aksesorisnya. Semua pelayan itu mengangguk dan pergi.
Tak menunggu lama, gaun-gaun indah berikut aksesoris dan sepatu-sepatu indah berdatangan dari pintu masuk. Mata Ara benar-benar sulit berkedip saat ia melihat tag harga yang tergantung di setiap gaun. Nominal itu bahkan cukup untuk memenuhi keperluan hidupnya selama 2 bulan.
Orang kaya benar-benar senang menghamburkan uang!
Melihat wajah Ara yang ragu melihat bandrol harga di gaun-gaun itu, Jade tersenyum. Ia bangkit dari tempat duduknya dan mendekati tubuh mungil Ara.
Tak banyak berkata-kata, tangannya sibuk memilih gaun untuk Ara.
“Cepat ganti dengan gaun ini"
Jade menyodorkan sebuah gaun berwarna Pastel yang indah dengan panjang selutut. Tanpa pikir panjang Ara meraih gaun itu dan masuk ke ruang ganti di ikuti beberapa pelayan membawakan aksesoris dan sepatu yang cocok untuk gaun itu.
Tak lama sejak Ara masuk, ponsel Ara yang tak jauh dari tempat Jade duduk berdering, Jade meraih ponsel itu dan melihat nama Kevan di layar ponsel Ara. Dengan cepat ia menekan tombol jawab di layar.
“Ara! dimana kau sekarang?!"
Jade mengerutkan keningnya sesaat setelah mendengar suara Kevan yang terdengar sangat angkuh dan marah. Ia bahkan dapat dengan mudah membayangkan raut wajahnya saat ini.
“Hei hei santai sedikit lah adik ipar, tak perlu semarah itu, Ara sedang bersamaku"
Suara Jade yang tiba-tiba terdengar sukses membuat Kevan linglung sesaat. Ia bahkan berkali-kali memastikan nomor yang saat ini ia hubungi adalah nomor Ara.
Benar! itu nomor Ara. Mereka pasti bertemu di Villa.
“Sisil mengundangnya untuk acara nanti malam, biarkan dia bersiap-siap”Sambungnya.
Kevan tak banyak bicara, ia segera menutup panggilannya dengan kepalan di tangannya. Matanya menghitam, ia tahu Jade kali ini serius. Ia mungkin menyukai Ara, bahkan mungkin dirinya juga.
Kevan berada di tempat yang sulit, bagaimanapun posisi Jade yang lebih menguntungkan. Jikapun Kevan menyukai Ara. Apa yang bisa ia lakukan? memutuskan pertunangan dengan Sisil? itu mustahil.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar ganti terbuka. Jade sibuk membaca sebuah majalah, pikirannya melayang hingga tak menyadari Ara yang berjalan mendekat sampai seorang pelayan menyentuh bahunya.
“Tuan, nona telah selesai"
Jade segera meletakan majalah itu dan matanya beralih menatap Ara di depannya. Seakan sedang menatap lukisan mahakarya. Mata Jade hingga tak bisa berkedip sekali pun. Ara terlihat sangat anggun, gaun dengan potongan pas tubuhnya memberikan kesan glamor. Gaun itu sukses membuat leher dan bahu Ara terekspose sangat indah. Riasan di wajahnya meskipun tipis tak membuatnya tak terlihat cantik. Ara luar biasa. Belum pernah Jade melihat gadis secantik Ara.
“Ba..bagaimana? apa ada yang aneh? jangan menatapku seperti itu"
Jade bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan mengelilingi tubuh mungil Ara. Sorot matanya berjalan menatap Ara dari ujung kaki hingga mata mereka bertemu. Wajah Ara kali ini benar-benar merah. Dengan lembut Jade meraih pinggang Ara.
“Ya, ini aneh” seru Jade menatap wajah Ara dengan senyum kecil di ujung mulutnya
“Aneh? ya aku juga merasa begitu, baiknya aku memakai bajuku yang sebelumnya"
Tangan Ara berusaha melepas tangan Jade yang melingkar di pinggangnya. Namun Jade justru menahanya lebih kuat.
“Yang aneh itu bukan bajunya, yang aneh itu kalau aku tidak jatuh cinta padamu"
Mendengar ucapan Jade, pipi Ara semakin bersemu merah, jangankan Ara, bahkan semua pelayan wanita yang berada disana pun tersenyum malu mendengar perkataan Jade tadi. Pria ini benar-benar tahu caranya merayu wanita!
“Tuan, anda sungguh beruntung, anda memiliki kekasih yang cantik"
“Tentu saja, jika tidak cantik aku tak akan menyukainya”Seru Jade tersenyum lembut pada pelayan itu.
Lagi-lagi semua orang salah menyangka Ara adalah kekasihnya. Ia hanya menghela nafas panjang dan membiarkan Jade berbicara sesukanya, lagipula di sini tak ada yang mengenalinya kecuali karena ia bersama dengan tuan muda kaya raya di depannya ini.
Jade kemudian meraih tangan mungil Ara dan meletakkannya di pergelangan tangannya. Dengan tersenyum ia menatap Ara.
“Ayo tuan putri, kita kembali ke istana"