Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 21: matilah tanpa penyesalan, oke?



Akhir-Akhir ini Ara dan Kevan sibuk mengurusi pertemuan-pertemuan dengan banyak klien, baik dalam maupun luar kota. Ara sudah tidak peduli berapa banyak mulut yang mencibirnya di kantor. Ara dan Kevan datang ke kantor tidak pernah bersama. Ia selalu menggunakan mobil yang Higa berikaberikan tempo hari. Tapi karena itu juga gosip yang beredar semakin berkembang.


Ara tidak peduli sama sekali.


Kalaupun peduli ia tak tahu harus berbuat apa, ia tak mungkin melepaskan Kevan. Sedangkan Kevan juga tak mungkin melepaskannya dengan mudah.


Siang itu, Franklin datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Memasuki ruangan Kevan dengan wajah yang sangat marah. Kevan yang sedang duduk di belakang mejanya melihat Franklin datang seketika bangkit dari duduknya.


Mata membunuh di lemparkan pada Ara. Ara seketika tahu itu pasti ayah Kevan, tuan besar Franklin Wingsley.


"Apa-apaan ini?"


Prakk! suara lemparan kertas jatuh di atas meja Kevan. Itu adalah foto-foto Kevan bersama Ara di berbagai kesempatan. Terlihat begitu Intim.


Berbeda dengan wajah Ara yang terkejut. Wajah Kevan yang di dingin masih begitu tenang.


"Kau anak tak tahu terimakasih!!"


Plakkk! tamparan keras jatuh di pipi Kevan meninggalkan gambar tangan di pipi putih itu. Tubuhnya terdorong satu langkah ke samping. Mata Franklin berkobar marah. Ia tak sanggup berpikir jernih melihat apa yang di lakukan oleh anaknya.


"Kau tahu? siapa gadis ini? kau pikir dia gadis sembarangan yang datang hanya untuk mencari uang?"


Mendengar apa yang di katak Franklin. Pupil mata Ara membesar. Tubuhnya bergetar hebat. Kevan masih berdiri tenang, tak bereaksi berlebihan.


"Siapa aku? apa maksudnya? apa dia tahu sapa aku?" batin Ara.


Mata Franklin berpaling menatap Ara yang berdiri tak jauh dari Kevan. Ia mengayunkan langkahnya maju mendekati Ara. Ia menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga Ara.


"Ayahmu, apa dia tak bercerita tentang nasib mata-mata keluarga kalian sebelumnya? kau pikir Higa akan melindungimu jika terjadi sesuatu padamu? bahkan ibumu telah dia buang jauh-jauh darinya, bagaimana denganmu?"


Kali ini ucapan Franklin tepat sasaran. Kali ini Ara benar-benar tertangkap basah. Wajahnya kali ini seperti mayat, tak ada aliran darah yang mengaliri wajahnya. Jika terjadi sesuatu di sini. Ia bahkan tak bisa melakukan apapun. Tiba-tiba Kevan menarik lengan Ara dan membawanya ke belakang tubuhnya. Hal ini membuat Franklin hampir tertawa terbahak-bahak.


"Kau tak perlu ikut campur tentang masalah pribadiku, bagaimana cara ku berterimakasih serahkan saja padaku"


"Apakah kau tahu siapa yang sedang kau lindungi ini?"


"Siapa dia dan apa tujuannya itu tak penting bagiku, yang terpenting aku menyukainya itu sudah cukup"


" Banyak gadis yang lebih cantik yang bisa kau jadikan simpanan, kenapa harus mempersulit diri sendiri dengan menyukai mata-mata lawan?aku percaya kau tak sebodoh ini Van"


Mendengar itu, Mata Ara melirik sekilas wajah Kevan. Begitu sangat tenang, padahal jelas-Jelas Franklin sedang membongkar identitasnya, tapi kenapa dia masih begitu tenang? apa dia sudah tahu sejak lama? Batin Ara.


"Urusan gadis ini biar aku yang menyelesaikannya, kau tak perlu khawatir"


Bang!!!! sesuatu seperti jatuh dengan keras dari hati Ara. Ara pikir Kevan benar-benar akan melindunginya tapi ternyata ia sedang mengasah pisau dan memikirkan cara yang tepat untuk menghabisinya. Ara bahkan tak bisa membaca pikiran Kevan sebelumnya. Ada suatu rasa kecewa dan sedih yang tak bisa di jelaskan di hati Ara. Matanya kali ini membalas tatapan Franklin yang sedang tersenyum licik.


"Baiklah, dia hanya kelinci kecil, aku percayakan padamu, jangan kecewakan aku"


"Baiklah"


Kemudian Franklin tersenyum puas. Ia mengayunkan langkahnya menghilang di balik pintu. Kali ini tersisa dirinya dan Kevan. Ara berjalan perlahan menjauhi Kevan. Kevan menatap Ara dengan tatapan sangat Dingin dan terus berjalan mendekati Ara.


"Berhenti!! jangan mendekat!"


Kevan tersenyum sinis. Tangannya yang panjang dengan mudah meraih leher Ara.


"Ada apa denganmu? kenapa kau tak sekeras biasanya? takut?"


"Kevan, berhenti!!"


Kevan tersenyum dan melepaskan cengkramannya pada Ara. Ara terjatuh ke lantai dan terbatuk-batuk menatap Kevan dengan mata tajam. Kevan kemudian berjongkok di hadapan Ara. Tangannya dengan gemas mencubit pipi Ara dan tersenyum.


"Bagaimana bisa saat kau ketakutan kau justru bertambah cantik? bangunlah,aku takan melakukan apapun padamu, aku hanya sedang menakuti mu"


Kevan tertawa sambil berjalan kembali duduk di belakang mejanya. Mengambil beberapa berkas di atas meja dan membuka setiap lembarannya. Ia tak peduli ada sepasang mata yang memelototinya dengan pandangan marah dan tak percaya.


"Sejak kapan kau tahu?"


"Sejak kau masuk ke ruang bawah tanah"


"Bagaimana kau bisa tahu?"


"Itu mudah, kau terlalu amatir, kenapa Higa begitu bodoh mengirimkan seorang amatiran sepertimu?"


Ara kemudian bangkit dari lantai, merapikan pakaiannya.


"Lalu kenapa tetap membiarkanku?"


"Bekerja? pekerjaanku selesai ketika kalian tahu identitas ku, aku tak butuh pekerjaan ini lagi, terimakasih untuk waktumu direktur Kevan"


Ara tersenyum menundukkan badannya beberapa detik pada Kevan, kemudian membalikan badannya menuju pintu keluar.


"Mau kemana? mau cari mati?"


"...."


"Satu langkah kau keluar dari pintu itu, kau tak akan bisa keluar dari gedung ini hidup-hidup"


Ara tersenyum ketus. Tanpa ragu-ragu ia membuka tuas pintu, ketika pintu terbuka dan tubuh Ara muncul dari balik pintu. Puluhan karyawan telah berdiri di kubikelnya masing-masing, baik pria atau wanita di tangan mereka memegang pistol masing-masing. Tak terkecuali Gerry. Mata Ara membulat tak percaya. Tubuhnya membeku seketika. Ia seketika menertawai dirinya sendiri dengan bodoh.


"Gerry, kau juga tahu?"


Gerry tak menjawab apapun, hanya mengangkat bahunya dan tersenyum kecil di sudut bibirnya


"Benar-benar sial!!!"


Terdengar suara langkah Kevan di belakang tubuh Ara. Tangannya masuk melingkar di pinggang ramping Ara, wajahnya menopang di bahu Ara dengan senyuman liciknya ia berbisik.


"Kau hanya punya 2 pilihan, mengantarkan nyawa dengan terus melangkah pergi atau kembali masuk ke ruangan ku dengan tenang dan kembali berkerja?"


Akhirnya dengan jengkel Ara melangkah mundur dan masuk ke dalam ruangan Kevan. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan kesal duduk di sofa empuk Kevan.


"Gadis pintar" Kevan kemudian berjalan kehadapan Ara. Ia menatap wajah Ara dengan tatapan Lucu.


"Bagaimana Higa bisa mengirimkan sebuah kelinci lucu masuk ke kandang buaya? dia benar-benar di buang rupanya" batin Kevan.


"Cepat selesaikan pekerjaanmu, aku tak punya banyak waktu lagi, kau membuang 35 menit waktuku sia-sia"


"Sudah ku katakan, pekerjaanku selesai ketika identitasku terbongkar, apa itu belum jelas di telingamu?"


Kevan menahan tawa gelinya mendengar ucapan Ara. Melihat Kevan seakan mempermainkannya ia kemudian bangkit dari duduknya dan melotot mendekati Kevan. Kevan seketika ngangkat satu alisnya.


"Kenapa kau seperti ini? jika berniat menghabisiku, maka lakukanlah tanpa ragu! lagipula jika ayahku tahu aku gagal dia juga tak akan membiarkanku hidup, daripada mati di tangannya, aku lebih senang mati di tanganmu, ayo lakukan!!!"


Ara meraih tangan Kevan dan meletakannya di atas lehernya. Ia mendorong tubuhnya semakin mendekati Kevan tanpa Ragu-ragu. Mata Ara terpejam. Sebenarnya ia merasa sangat ketakutan hingga telapak tanganya membeku sedingin es.


Kevan menatap Ara semakin tersenyum lebar. Bagaimana dia bisa menghabisi gadis secantik Ara.


"Baiklah, kalau kau mati, matilah tanpa penyesalan, oke?"


"Tidak akan!!"


Tangan Kevan kemudian mulai mencengkram leher Ara dengan kuat, Ara mengerutkan keningnya, rasa sakit di lehernya membuat nafas Ara mulai tersengal-sengal. Tiba-tiba sesuatu yang lembut menempel di bibirnya. Cengkraman tangan Kevan melonggar, kedua tangan lembutnya berganti memegangi pipi Ara. Ara membuka matanya seketika. Ia hampir tak percaya, Kevan sedang menciumnya dengan penuh perasaan. Rasanya manis dan hangat masuk ke dalam hatinya. Tangan Kevan turun menjelajahi punggung Ara.


Setiap kali mencium gadis ini, ia selalu bisa membuat Kevan kehilangan akalnya. Perasaan yang tak ia dapatkan dari wanita lain. Setelah merasa akan hilang kendali, Kevan melepaskan ciumannya, terlihat jelas di wajahnya betapa ia menahan dirinya agar tidak kehilangan kendali. Ia menghela nafasnya dalam-dalam dan menatap wajah Ara, tangannya mengusap pipi gadis itu dengan lembut.


"Urusan kita belum selesai, ayo kita lanjutkan di rumah"


Ucapan Kevan tiba-tiba membuat wajah Ara merona merah. Tangannya di seret keluar oleh Kevan. Ara masih melihat pegawai-pegawai itu mengangkat pistolnya, ketika melihat Kevan keluar menggenggam tangan Ara, seketika secara bersamaan mereka menurunkan tangannya. Ara tersenyum sinis dan melihat mereka dengan tatapan mengejek. Pandangan mereka yang semula tajam tiba-tiba berubah menjadi hina.


"Dasar ******* hina!"


Kata-kata itu terucap dengan suara rendah tapi sukses membuat langkah Kevan berhenti. Ia menoleh ke arah meja pegawai, matanya menjelajahi satu persatu wajah-wajah pucat di depannya.


"Siapa yang berbicara barusan?JAWAB!!"


Suara bentakan Kevan berhasil membuat tubuh-tubuh itu tersentak kaget, tak terkecuali Ara. Ara bisa melihat wajah mereka membeku. Kevan mendekati meja seorang gadis. Tubuhnya gemetar hebat. Ia hanya menunduk tak berani membalas tatapan Kevan.


"Katakan sekali lagi kata-kata tadi dengan keras, aku mau mendengarnya!"


"...."


"KATAKAN!!!!"


"Maafkan saya tuan, saya tidak berani lagi" jawab gadis itu dengan suara bergetar. Ara bahkan bisa melihat matanya berkaca-kaca dan hampir menangis ketakutan.


"Semua yang ada di sini dengar baik-baik!! dia miliku, siapapun yang berani menghinanya artinya kalian berani menantangku, berani menantangku artinya kalian sudah bosan hidup.. mengerti????!!!"


"Mengerti tuan!!" jawab seluruh pegawai di ruangan itu.


Pewaris keluarga Wingsley memang tidak bisa di anggap remeh. Ia bisa lembut dan mengerikan dalam satu waktu. Entah harus bahagia atau sedih melihat Kevan sedang membelanya. Pembelaannya terdengar seperti pengumuman bahwa Ara adalah simpanannya. Di kantor dan seluruh kota ini mana ada yang tidak tahu kalau pria tampan di depannya ini adalah tunangan nona muda keluarga Lee. Seketika Ara mengela nafas panjangnya. Wanita simpanan. Ia tiba-tiba merasa jijik pada dirinya sendiri.