Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 115: Seseorang yang lebih baik kau lupakan



Karena ucapan Liam tadi, suasana di sana menjadi sangat kacau, suasananya semakin tidak kondusif. Para wartawan sampai mengerumuni mereka bertiga. Banyak pertanyaan yang mereka tanyakan bertubi-tubi.


"Jadi benar anda Tuan Qin bos besar TopHill?"


"Jadi benar anda sudah menikah dan wanita ini adalah benar istri anda?"


"Apa benar yang di katakan Tuan Gu tentang hubungan Nyonya Qin dengan Tuan Muda Wingsley?"


"Jika sudah menikah, kenapa anda memutuskan bertunangan dengan Nona Windy 2 tahun lalu"


"Bagaimana keadaan nona Windy?! "


Pertanyaan-pertanyaan mereka di iringi lampu Flash kamera yang terus menyala, hal ini membuat Brandon mengencangkan pelukannya pada Daniel,


"Ayah, aku takut", bisik Brandon dengan suara rendahnya.


" Jangan takut, ada Ayah" ujar Daniel menenangkan anaknya itu sambil berjalan menembus kerumunan.


Daniel mengencangkan rangkulan di lengan Ara, membuat wanita itu menoleh dan menatap dirinya. Ara menatap Daniel beberapa saat, dari wajahnya tak ada rasa takut atau ragu sama sekali, ia terlihat seperti seekor singa jantan yang sedang melindungi betina dan anaknya. Hal ini membuat Ara merasa sedikit lebih tenang.


Daniel dan Ara menerobos kerumunan di bantu oleh Medina serta 2 orang pengawal, yang terus membuat jalan untuk Daniel dan Ara. Akhirnya Daniel merasa Medina dan pengawalnya cukup berguna, setidaknya untuk saat-saat seperti ini.


"Tuan Daniel, saya sudah menyiapkan mobil untuk anda menuju bandara, berada di sini saat ini tidaklah baik. Jadi mohon pertimbangkan untuk kembali ke kediaman, Tuan" ujar Medina sambil menghalau banyaknya kerumunan dan awak Media.


"Baiklah," Jawab Daniel singkat, Daniel sulit berpikir jernih saat ini, begitu juga dengan Ara. Ada jutaan tanda tanya di benaknya, apalagi yang di katakan oleh Liam tadi adalah sesuatu yang memalukan.


"Wanita simpanan? Kevan Wingsley? siapa?" kepala Ara semakin sakit. Daniel menoleh pada Ara, wajah wanita di sampingnya terlihat pucat. Daniel mengencangkan pelukannya pada Ara dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Ara, kau tak apa-apa kan?" tanya Daniel cemas, Ada menggeleng, "Aku baik-baik saja".


" Wajahmu sangat pucat, apa perlu kita ke dokter?"


"Tidak perlu, jika pergi ke dokter mereka akan mengejar kita lagi"


Daniel mengangguk tanda mengerti, mobil terus berjalan menjauh menuju bandara. Sesampainya di sana, terlihat sebuah helikopter pribadi keluarga Qin telah menunggu mereka. Dengan cepat Daniel, Ara dan Brandon menaiki helikopter itu dan mereka segera terbang ke kediaman keluarga Qin.


Di tengah perjalanan, Ara tak mengatakan satu patah katapun. Ia sibuk dengan pikirannya. Ia hanya melemparkan pandangannya jauh ke luar jendela yang terlihat hanya titik-titik cahaya lampu dari rumah-rumah memecahkan kegelapan malam. Ada rasa khawatir di benaknya, kekhawatiran di benaknya bukan tanpa alasan. Ia menyesalkan kenapa ia harus bertemu dengan keluarga suaminya di saat seperti ini. Begitu banyak wartawan yang meliput mereka barusan, pasti berita mereka dengan cepat terdengar dan sampai di telinga mertua dan keluarga Daniel. Tangan Ara semakin dingin. Bagaimana harus menghadapinya? bagaimana jika mereka tidak menyukainya dan Brandon?


Setelah 3 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai. Kediaman keluarga Qin tak jauh berbeda dengan kastil keluarga Romanof, hanya mungkin desainnya yang terlihat lebih modern dan sederhana namun sangat elegan.


Memasuki pintu utama, mereka bertiga di sambut oleh beberapa pelayan, Arion asisten Aldric dan juga paman Bara sebagai kepala pelayan rumah.


"Selamat datang kembali Tuan Daniel," sapa mereka pada Daniel.


"Apa kalian pikir istri dan anakku hanya pajangan?kenapa kalian tak menyapa mereka?" ujar Daniel dengan suara tinggi. Ara yang berjalan di samping Daniel bahkan harus mencengkram lengan prianya lebih kuat agar Daniel tak marah seperti itu. Ia berhasil di buat tertegun berkali-kali. Daniel yang selalu lembut padanya dan Brandon ini, hari ini bisa berubah begitu menyeramkan.


Aura bahaya di wajah Daniel juga di tangkap pelayan dan semua orang keluarganya. Daniel yang baru beberapa langkah memasuki pintu utama sudah berhasil membuat jantung semua orang di sana berdegup kencang bak suara petir yang menggelegar. Tanpa pikir panjang mereka meminta maaf dan kemudian menyapa Ara dan Brandon yang sudah terlelap di gendongan Daniel.


"Tuan Daniel, Tuan Marques, Nyonya Meilyn dan Tuan Aldric sudah menunggu di ruang keluarga" ujar Arion, kemarahan di wajah Daniel masih terlihat jelas, tangan Arion sampai bergetar melihat kabut hitam yang mengelilingi tubuhnya itu.


"Tidak, kami akan istirahat"


"Tapi Tuan, Mereka telah lama menunggu anda" ucap Arion lagi mencoba meyakinkan Daniel. Daniel tak menghiraukan Arion, tanganya tetap memegang erat tangan Ara dan terus naik ke lantai atas. Daniel memerintahkan 2 pelayan wanita untuk menjaga Brandon setelah ia membaringkan Brandon di sebuah kamar, sedangkan ia dan Ara akan tidur di kamarnya.


Memasuki kamar Daniel, mata Ara membulat. Mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.Kamar itu sangat luas dan terlihat mewah dengan desain interior modern minimalis di dominasi warna hitam,abu dan putih. Terlihat sederhana namun nyaman, langkah kakinya berhenti ketika melihat sebuah album foto di atas meja yang bertuliskan namanya. Dengan hati-hati ia membuka dan melihat isi dari album itu. Semua foto yang ada di album itu adalah foto candid dirinya semasa SMA. Ada sebuah rasa haru di dalam hatinya. Ternyata dulu ada seorang pria yang memperhatikannya diam-diam tanpa ia sadari. Tapi keharuan itu memudar ketika ia lihat beberapa foto dirinya berjalan bersama seorang pria tapi ia bukan Daniel.


Brakk.. Tubuh Ara tersentak ketika sebuah tangan tiba-tiba menutup album foto itu. Tangan itu segera memutar pinggang Ara kemudian membalikkan badannya, mata Ara segera bertemu dengan mata tajam Daniel.


"Jangan lihat lagi" seru Daniel


"Pria itu siapa?"


"Seseorang yang lebih baik kau lupakan"


Foto itu adalah foto Ara bersama Kevan. Daniel juga tak menyangka foto itu bisa berada di dalam albumnya, yang ia ingat


terakhir kali ia memasukan foto di album itu adalah saat Ara lulus SMA. Setelah itu ia sangat sibuk mengatur dan membangun Down Grup yang hampir mati dan juga sedikit-sedikit membangun TopHill sampai tak ada waktu dan mulai melupakan album foto itu. Semua foto hasil penyelidikannya setelah Ara lulus dan pindah ke kota A, semuanya seharusnya ada di kantornya di TopHill, lalu kenapa bisa berada di sini? batin Daniel mulai mencurigai beberapa orang.


"Apa dia itu..... " belum sempat melanjutkan kata-katanya, telunjuk Daniel sudah menempel di atas bibirnya.


"Bukan siapa-siapa. Aku bilang lebih baik kau lupakan jangan berusaha mengingatnya dan jangan lagi bertanya tentangnya. Mengerti?" seru Daniel menyela ucapan Ara. Ara mengangguk, "Kau pergilah mandi, aku akan segera kembali" sambung Daniel mengecup kening Ara kemudian pergi menghilang di balik pintu kamar membawa Album yang Ara lihat tadi.


***


Daniel keluar kamarnya dengan perasaan yang rumit. Tangannya meremas kuat album foto yang ada di tangan kanannya. Ia berjalan cepat menuruni tangga dan berjalan menuju ruang keluarga. Klak... pintu terbuka, Daniel bisa melihat Shamus, Aldric dan Meilyn berbincang dan lebih terdengar sedang berdebat di ruangan itu.


Brakkk... Daniel membanting album itu sembarang di atas meja. Hari ini mood Daniel sedang sangat tidak baik, banyak sekali masalah yang membuatnya naik pitam. Ia tahu datang ke rumah ini tidak menyelesaikan masalah justru akan menambah masalah, tapi ia tidak berpikir masalah terus mendatanginya bahkan sampai masuk ke dalam kamarnya. Mata Daniel mengedarkan pandangannya ke 3 orang di depannya itu.


"Apa maksudnya ini?"


Meilyn melihat kemarahan anaknya ia mencoba mendekati Daniel untuk menenangkannya.


"Daniel, apa maksudmu? kau baru pulang setelah sekian lama, kenapa membawa kemarahan sebesar ini?" ujar Meilyn tangannya memegangi lembut kedua pipi Daniel yang sedang berkacak pinggang itu.


"Apakah album ini adalah perbuatan ibu?"