Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 123: Aku peduli, ini memalukan



Ara berjalan tanpa ragu sedikitpun masuk ke dalam dapur keluarga Qin. Ara sedikit tertegun saat memasuki dapur keluarga kaya itu, dapur ini lebih mirip seperti dapur restoran di bandingan dengan dapur sebuah rumah. Di dalam dapur itu terlihat ada beberapa koki dan juga pelayan sedang mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Melihat pintu terbuka dan Ara masuk, awalnya mereka hanya menoleh dengan wajah bingung mereka sama sekali tidak mengenali Ara,


"Ada apa nona? anda siapa? kenapa masuk kemari?anda butuh sesuatu?" begitulah pertanyaan rata-rata mereka, Ara masih mematung di ambang pintu. Kebekuannya berakhir ketika salah seorang pelayan dapur membawa sekeranjang penuh apel segar, seakan tak bisa menampung banyaknya apel, salah satu apel jatuh menggelinding dan berhenti di kaki Ara.


"Nona, tolong ambilkan apel itu dan berikan padaku" ujar pelayan dapur itu tanpa menoleh pada Ara, ia sibuk meletakkan apel-apel itu pada sebuah keranjang besar di atas wastafel untuk di cuci. Baru akan membungkuk untuk mengambil apel itu, Daniel datang mencegahnya dan melingkarkan salah satu tangannya hingga ke lengan Ara. Daniel memeluk Ara dan matanya hitam mendengar ucapan pelayan itu.


"Kau berani memerintah istriku?" Suara Daniel yang tiba-tiba terdengar di ruangan itu, semua orang yang ada di sana menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada asal suara yang terdengar seperti guntur begitu pula dengan Ara yang dengan cepat menoleh ke belakang kepalanya dan melihat Daniel berjalan mendekatinya. Seluruh jantung yang ada di sana berdebar lebih cepat. Semua orang tertunduk dan takut, seakan saling mengetahui kesalahan masing-masing, terlebih pelayan tadi yang berani memerintah Ara. "Kau, kesini" ujar Daniel sambil tangannya melambaikan ke arah pelayan itu untuk mendekat. Dengan ragu-ragu ia berjalan mendekati Daniel dan Ara.


"Ma.. maafkan saya Tuan"


"Apakah istriku terlihat seperti pembantu di mata mu?"


Pelayan itu sedikit menatap Ara hingga kaki namun hanya sepersekian detik. Sebenarnya tidak terlalu salah jika pelayan itu melihat Ara seperti itu. Di bandingkan dengan semua orang di sana, pakaian Ara meskipun mahal namun memiliki model yang sederhana, berbeda dengan gaya berpakaian yang sering digunakan oleh windy atau Meilyn.


"Maafkan saya Tuan Muda, saya tidak tahu Nona adalah istri anda,"ujar pelayan itu dengan keringat dingin mulai membasahi keningnya.


Ara melirik wajah Daniel yang menakutkan itu, melepaskan tangan Daniel kemudian mengambil apel di bawah kakinya dan memberikannya pada pelayan itu. Melihat apa yang di lakukan Ara, Daniel sedikit kesal. Ia datang mengejarnya sampai di dapur. Tapi setelah sampai justru melihat istrinya terus di pandang sebelah mata bahkan oleh para pelayan membuatnya merasa ingin memecat semua orang dan mengusirnya pergi.


"Sudahlah Daniel, tak perlu seperti itu. Wajar mereka tak mengenalku, aku baru ada di rumah ini satu hari dan mereka bekerja di dapur mana ada yang tahu aku adalah istrimu" ujarnya sambil memberikan apel itu pada pelayan,


"Te.. Terima kasih Nona, maafkan saya"


"Tidak masalah, sana kembalilah bekerja" ujarnya lagi tersenyum, Ara kemudian menoleh pada Daniel di sampingnya. Wajah Daniel benar-benar jelek saat ini, membuat Ara ingin tertawa.


"Kenapa tertawa? aku membawamu kesini bukan untuk di perlakukan seperti ini Ara"ujar Daniel dingin pada Ara.


"Aku datang ke sini untuk masak bukan untuk bertengkar, jadi berhentilah seperti itu. Itu hanya apel sudah jangan terlalu serius" sahutnya sambil berjalan menuju Walk in cooler dan mengambil beberapa bahan untuk membuat Pancake. Beberapa saat ia terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Daniel sebenarnya hendak membantunya, tangannya bahkan sudah meraih sebuah whisk namun punggung tangannya justru ditepuk oleh Ara isyarat ia harus meletakkannya lagi.


"Jangan ganggu aku, ini pekerjaan perempuan. Lagipula kau tidak bisa memasak tak perlu memaksakan diri membantuku" ujar Ara pada Daniel. Daniel jadi ingat selama mereka menikah, Ara bahkan hampir sama sekali tidak pernah menyentuh perkakas dapur untuk memasak. Ia selalu menggantikannya untuk memasak bahkan wanita ini pernah sangat mengagumi rasa masakan-masakan Daniel yang seperti makanan restoran itu. Daniel pun terkekeh geli mendengar ucapan Ara. Ara mengerutkan alisnya. "Kenapa tertawa? aku salah bicara?"


Daniel segera menggeleng kemudian berjalan meraih sebuah Apron yang menggantung tak jauh dari mereka berdiri dan memakaikannya pada Ara.


"Kau melupakan Apron mu Nyonya Qin" Bisik Daniel sambil melingkarkan tangannya di pinggang Ara dan meletakkan kepalanya di bahu istrinya itu setelah ia memakaikan Apron pada tubuh Ara. "Mau masak apa sayang?" tanya Daniel terdengar sangat mesra pada Ara, ia seperti mengabaikan berpasang-pasang mata mencuri-curi pandang ke arah pasangan itu sambil tersenyum-senyum kecil.


Mereka seperti tidak percaya dia adalah Tuan mudanya yang baru beberapa menit lalu marah-marah dengan nada suara seperti guntur membentak seseorang ternyata bisa sangat lembut dan manja pada istrinya. Mereka seketika mengacungi jempol dan bertepuk tangan di dalam hati mereka. Ternyata seorang wanita cantik yang sederhana seperti Ara bisa merubah Tuan Muda mereka yang terkenal dingin menjadi sangat hangat, bahkan seorang Windy Calder pun tidak bisa melakukannya . Itu benar-benar suatu pencapaian.


Melihat reaksi orang-orang di dalam ruangan yang melihat kemesraan mereka, Ara menjadi sangat tidak nyaman. Pipinya sangat merah dan mulai berbisik pada Daniel.


"Daniel, apa kau sedang lupa di sini banyak orang? kita tidak bisa begini"


"Aku peduli, ini memalukan. Sekarang lepaskan tanganmu dan menjauhlah diriku. Lagipula jika seperti ini bagaimana aku bisa memasak?"


Daniel kemudian menatap pipi Ara dari samping yang sudah merah seperti tomat itu, ia tersenyum dan kemudian menoleh dan mengedarkan matanya pada sekeliling. Seperti yang ia katakan, beberapa orang di sana sedang mencuri-curi pandang pada mereka.


"Kalian semua, boleh keluar dan jangan kembali sebelum istriku selesai memasak" ujar Daniel membuat semua orang tiba-tiba berhenti dari kegiatannya, seakan ragu mereka melangkah keluar dari dapur dan meninggalkan mereka berdua di dalam sana. Ara seketika menoleh pada Daniel yang masih di belakangnya memeluknya.


"Kau gila Daniel?"


"Tidak, Aku waras kok. Aku ingin memelukmu seperti ini melihatmu memasak lalu kenapa harus berhenti? jadi aku menyuruh mereka saja yang pergi"


"Iya tapi meskipun mereka tidak ada, kau yang seperti ini pada ku juga sangat menggangguku, jika kau ingin melihatku masak maka diamlah di sana.. " seru Ara sambil menunjuk seberang mejanya, "Jika tidak mau, lebih baik ikut pergi saja" sambungnya sambil melepaskan ikatan tangan Daniel yang melilit pinggangnya. Sebenarnya Daniel sangat kecewa tapi juga tak kuasa menerima kekalahannya dan mengikuti permintaan Ara. Ia berjalan ke seberang sisi meja Ara dengan tangan bersandar di atas meja. Ia berdiri memperhatikan Ara dengan seksama.


Sesekali Ara mencuri-curi pandang melihat Daniel yang hanya diam memperhatikannya memasak, sesekali juga tersenyum.


"Daniel" panggil Ara.


"Hemm"


"Kenapa diam saja?"


"Tidak apa-apa" jawabnya dengan wajah ketus, Ara tahu pria ini sedang kesal padanya.


"Kamu marah?"


"Tidak"


"Benarkah?"


"Iya"


"Bagus" serunya sambil terkekeh merasa lucu melihat ekspresi aneh Daniel saat ini. Wajahnya tak jauh berbeda dengan wajah Brandon ketika merajuk padanya. Dengan cepat ia memasukkan telunjuknya ke dalam adonan pancake dan mengarahkan jarinya menyentuh hidung Daniel hingga adonan itu menempel di hidungnya. Daniel yang terkejut tak sempat menghindar, Ara tertawa seketika.


"Ara.. kau.." Ujar Daniel kaget melihat adonan pancake itu ada di hidungnya,


"Rasakan! siapa suruh ngambek seperti Brandon! weee" ujar Ara berlari sambil menjulurkan lidahnya mengejek Daniel.


"Oh, jadi kau sedang menggodaku ya? sini kau kemari jangan lari!" ujar Daniel dengan langkah cepat berlari mengejar Ara yang menghindar dari kejarannya mengelilingi meja dapur berbahan stainless itu. Tawa mereka pecah hingga terdengar ke luar dapur. Mereka tidak sadar koki dan pelayan sedang ikut tertawa melihat tingkah mereka.