
"Brandon, apa kau senang berenang?" tanya Daniel pada anaknya yang sedang berenang menggunakan pelampung di pinggangnya.
"Iya senang ayah" jawabnya sambil terus memercikkan air pada Daniel. Mereka bermain dengan riangnya, namun tawa Daniel berhenti ketika melihat Windy datang mendekat menggunakan jubah handuk berwarna putihnya mendekati mereka. Dengan santai ia menarik ikatan baju handuknya dan melepasnya. Ia yang memakai setelan bikini menggoda membuat Daniel mengerutkan alisnya. Wajah cantik berkulit putih, tubuhnya yang indah, kaki jenjang dan rampingnya hampir bisa menyihir siapapun yang melihatnya. Daniel seketika memalingkan wajahnya dan Brandon. Saat Windy hendak turun ke air, Daniel membawa Brandon naik ke atas tak membiarkan mereka berenang bersama dengan wanita ini. Windy tercekat dan meraih tangan Daniel yang acuh padanya.
"Daniel, kenapa berhenti berenangnya? ayo kita berenang bersama?"
"Kami sudah selesai, jika kau ingin berenang maka berenanglah sendiri" ujar Daniel sambil melangkah pergi tanpa menatap Windy sama sekali.
"Tapi kau tahu aku tak bisa berenang kan???!"
"Kalau begitu jangan berenang,"
Byuuuuuuuurrrr.. langkah Daniel tiba-tiba berhenti ketika mendengar suara air. Ia segera menoleh ke belakang, Windy sudah berada didalam.
Kolam berenang di kediaman keluarga Qin adalah kolam dengan standar hampir menyerupai kolam untuk Olimpiade, dengan kedalaman 1 meter di awal dan kedalaman di tengah kolam hampir mencapai 1,8 m dan Windy melompat ke pertengahan kolam itu artinya ia berada di kedalaman 1,8m. Wajar untuknya jika ia yang tak bisa berenang hampir tenggelam.
Awalnya ia ingin memanggil pengawal atau pelayannya untuk membantu Windy tapi saat ia mengedarkan matanya tidak ada seorangpun disana.
"Kemana perginya semua orang?" tanya Daniel dalam hati. Ia pun menoleh pada Windy, melihat wajahnya pucat dengan kepala yang timbul dan tenggelam, seketika ingatan Daniel kembali ke masa lalu. Windy pernah hampir mati tenggelam saat dirinya tak sengaja tercebur ke dalam kolam dan ia lah yang menolong Windy. Wajah windy sekarang sama persis seperti saat itu, begitu terlihat ketakutan dan pucat. Daniel yang awalnya merasa tak peduli bahkan jika ia mati juga bukan urusan nya seketika melihat wajah gadis itu seperti itu hatinya pun tergerak. Bagaimanapun mereka pernah punya hubungan yang lumayan baik sebelum acara perjodohan itu dan sebelum semua ini terjadi.
Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam kolam dan berenang berusaha menyelamatkan Windy, Windy yang melihat Daniel mendekat segera berusaha meraih leher pria itu. Tubuh Windy bergetar,
"Windy, tenanglah.." ucapan Daniel terdengar lembut dan tulus sambil membawa tubuh Windy ke sisi kolam. Mata Windy melihat lurus ke arah pintu kaca belakang rumah, di sana ia melihat sosok Ara sedang menatap mereka dengan wajah pahit. Pikiran licik Windy seketika hadir, ia mengencangkan pelukannya pada Daniel memberikan kesan intim, setelah sampai di pinggir kolam dengan cepat Windy mencium bibir Daniel. Kerja otak Daniel beku beberapa detik, ia terlalu kaget dengan apa yang di lakukan Windy. Hanya beberapa detik, ia kemudian melepaskan ciuman Windy dan mendorong tubuh gadis itu menjauh darinya.
"Kau sudah gila, Win" ujarnya sambil menyeka bekas ciuman Windy dengan wajah marah.
"Haha, itu adalah ciuman selamat pagi untukmu".
Daniel tak ingin berlama-lama di sana, ia segera naik dan mengambil handuk putih di atas meja, saat ia hendak membawa Brandon masuk, langkahnya kembali terhenti. Mata coklatnya bertemu dengan mata Ara dari balik pintu. Ia kemudian menoleh ke arah Windy dengan wajah seakan ingin membunuh gadis itu, seakan baru menyadari dirinya sudah masuk ke dalam jebakan Windy untuk ke dua kalinya.
***
"Aku minta maaf, Bu" ujar Ara pada Meilyn. Kata maaf Ara pada Meilyn tak melembutkan wajahnya, wanita itu semakin merasa Ara sangat lemah.
"Bagaimana wanita lemah seperti ini bisa berada di samping anakku yang hebat?" batinnya, namun Meilyn yang berdiri tepat di depan pintu menghadap ke arah kolam, melihat Windy dan Daniel berpelukan dan berciuman di dalam kolam, matanya menjadi sangat cerah dan senyumnya melebar. Perubahan wajah Meilyn membuat Ara mencari tahu arah tujuan mata Ibu mertuanya itu. Saat ia menoleh degub jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Sepertinya posisimu akan segera berakhir, sudah ku duga anakku sangat pintar, bisa melihat mana wanita berlatar belakang baik dan tidak" ujarnya sombong. Matanya masih menatap Daniel yang sekarang juga menatapnya, ia kemudian berpaling dan menoleh pada Meilyn di belakangnya.
Ia jengah dengan ucapan seperti ini, ia memang lupa dengan kejadian 3 tahun lalu, tapi buka berarti semua orang berhak mengolok-oloknya. Cukup semua orang mengatakan hal buruk tentangnya, baik Liam atau ibu mertuanya ini sekarang ia tidak akan terima.
"Entah apa yang kau bicarakan bu, latar belakang buruk yang seperti apa yang kau maksud?Aku memang tidak ingat seperti apa 3 tahun yang lalu, tapi bagaimanapun aku masih bagian dari keluarga Li dan juga Romanof. Meskipun mungkin tak sebesar keluargamu, tapi setidaknya keluargaku mengajariku bagaimana harus menghargai perasaan orang lain, permisi" ujar Ara dengan angkuh dan meninggalkan Meilyn.
Meilyn mendengar ucapan angkuh Ara barusan seperti tidak percaya ia adalah Ara yang beberapa menit lalu menatapnya dengan wajah penuh ketakutan, hanya karena ucapannya yang tak seberapa itu sanggup merubah kelinci menjadi ular. Sulit di percaya.
"Tuan Daniel!!" langkah Daniel seketika berhenti ketika mendengar suara Vela dari belakang. Saat melihat Daniel berhenti, Vela segera maju dan berdiri di hadapan Daniel.
"Vela kau dan Eva sebenarnya kemana? aku kan meminta kalian menjaga Brandon kenapa kalian justru pergi?!" serunya dengan wajah marah.
"Tua muda maafkan kami, tapi ku mohon bantulah Eva," ujar Vela mengabaikan pertanyaan Daniel, matanya berkaca-kaca.
"Ada apa dengan Eva?"
"Eva... " Vela mencoba menceritakan apa yang terjadi pada mereka hingga harus meninggalkan Daniel dan Brandon. Wajah Daniel seketika berubah semakin hitam,
"Baiklah, aku akan kesana dan kau bawa Brandon dan suruh beberapa orang menjaganya, kemudian panggil dan bawa Windy dan Ara kesana juga" Seru Daniel sambil memberikan Brandon pada Vela.
"Brandon,ikut Vela dulu ya..ayah akan segera kembali" Ujar Daniel lembut pada anaknya, sambil memberikan anaknya pada Vela. Brandon yang tidak mengerti apa yang terjadi ia hanya menurut dan mengangguk setuju.
Meskipun tak tahu apa yang sedang di rencanakan tuan mudanya itu, Vela segera mengangguk dan pergi, begitu juga dengan Daniel yang berjalan cepat menuju ruang bawah tanah rumahnya. Ruangan itu, adalah ruangan yang sering di jadikan tempat untuk menghukum, termasuk Daniel. Beberapa kali ia saat ia masih kecil, ia harus masuk ke ruangan itu hanya karena ia tak menuruti orang tuanya atau kakeknya. Ia memiliki pengalaman yang buruk di sana.
Klak, pintu terbuka. Ia melihat Eva dan seorang pengawal sedang menghukumnya. Darah segar keluar dari balik punggungnya sampai menodai kemeja kerjanya. Pengawal yang sedang mengukum Eva segera berhenti seketika melihat Daniel masuk ke ruangan itu.
"Siapa yang berani menyentuh orang ku?" Suara Daniel seperti gemuruh guntur yang menyambar keberanian pengawal itu. Wajahnya seketika pucat pasi menahan takut.
"Sa..saya, tidak berani Tuan" ujar pria itu takut-takut.
"Apa Windy yang membayar gaji mu selama ini?"
"Maaf tuan, saya salah"
"Buka ikatannya!"
"Baik"
Tak lama kemudian, Ara dan Windy datang. Windy masih mengenakan baju handuknya wajahnya masih seangkuh sebelumnya apalagi di sampingnya adalah Ara, membuatnya semakin tidak suka. Ara memasuki ruangan itu dengan wajah kaget melihat Eva meringkuk dengan tubuh penuh luka dan darah menembus putih bajunya di mana-mana. Ia segera berlari dan membantu Eva berdiri.
"Kau, kau bisa begini?!" tanya Ara cemas pada Eva. Eva hanya diam keringat dingin di wajahnya seperti menggambarkan rasa sakit yang di deritanya. Ara menoleh pada Daniel. "Ada apa ini Daniel? kenapa bisa begini?" Daniel tak menjawab,
"Pengawal sisa berapa lagi cambukan untuknya?" tanya Daniel mengabaikan pertanyaan Ara
"Masih sisa 43 cambukan lagi tuan"
"Kalau begitu, ikat Windy dan biarkan dia yang menanggung sisanya" ujar Daniel dengan mata tegas dan dingin menatap pengawal itu.
"Ba.. baik Tuan Muda"