
Daniel mendengar Ara berada di kota G untuk bisnis, ia pun tanpa pikir panjang segera mengatur penerbangan menyusul Ara. Dengan banyak kata-kata yang ia ingin katakan baik kemarahan, kerinduan atau hanya sekedar kata maaf ingin sekali ia ucapkan. Mungkin benar yang di katakan Tritan, ia masih terlalu muda.
Sesampainya di kota G, Daniel segera mendatangi hotel dimana Ara menginap, sesampainya di sana, ia tak menemukan Ara. Ia mencoba menyusuri jalan di kota G, mencoba menemukan sosok Ara antara kerumunan dan pejalan kaki. Tak berapa lama ia melihat Ara sedang duduk sendiri menatap anak-anak kecil bermain air mancur di tengah kota. Ia lama berdiri memperhatikan gadis itu.
Hatinya hampir jatuh berserakan melihat wajah istri yang di cintainya begitu sendu, kadang tertawa kecil tapi lebih banyak menitikan air mata. Entah apa yang ia pikirkan sekarang. Daniel tak tahan lagi ingin memeluk Ara saat ini, ia tak pernah berpikir bahwa gadis itu bisa sesedih ini saat berada di tengah keramaian dan keceriaan orang-orang ditengah kota G. Baru hendak menyusul Ara, langkah Daniel terhenti ketika ia melihat Kevan juga berada di tak jauh dari Ara berjalan mendekatinya dan duduk di samping Ara.
"Lagi-lagi Kevan, belum cukupkah aku membuat perusahaannya mendapatkan kesulitan setelah apa yang ia lakukan pada Ara sebelumnya? tak ku sangka ia masih berani mendekati istriku"
Hati yang sebelumnya penuh dengan rasa bersalah, tiba-tiba berubah terisi dengan rasa marah. Beberapa saat memperhatikan kedua orang itu berbincang, Daniel melihat Kevan memberikan sesuatu pada Ara. Terlihat jelas wajah Ara yang terkejut, tapi tak lama kemudian ia menangis tersedu-sedu. Mata Daniel bahkan lebih hitam ketika Kevan menarik Ara masuk ke dalam pelukannya tanpa sebuah penolakan dari gadis itu.
Sesuatu di dalam dada Daniel patah. Emosinya meredup, ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan Ara dan Kevan.
"Kau datang kesini untuk bekerja atau untuk bertemu dengan Kevan,Ra? kenapa bisa terlalu banyak kebetulan antara kau dan Kevan? bahkan datang kesini tanpa memberitahuku, apa itu karena Kevan? Seharusnya mungkin aku tak datang"
***
Perasaan Kevan saat ini ikut hancur bersama Ara yang saat ini sedang menangis terisak di depannya. Ia seperti sedang merasakan apa yang Ara rasakan, dengan cepat Kevan menarik tubuh Ara masuk ke dalam pelukannya. Awalnya Ara tak menolak, itulah yang ia butuhkan sekarang dan juga pelukan Kevan terasa hangat, membuatnya semakin ingin menumpahkan semua sedihnya di dada Kevan saat ini. Namun seketika ia sadar, ia tak ingin ada orang yang salah paham karena pelukan Kevan ini, terlalu banyak yang sudah Ara lalui, bahkan hal kecil seperti ini bisa membuat orang lain salah paham, terutama Sisil. Ara segera melepaskan pelukan Kevan.
"Kevan, maaf aku harus kembali ke hotel, " ucap Ara sambil melepaskan pelukan Kevan.
"Aku akan mengantarmu, Ara!"
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri" Ara kemudian berusaha bangun. Namun baru berjalan beberapa langkah, pandangannya kabur dan ia kehilangan kesadarannya.
Melihat tubuh Ara yang tiba-tiba tak seimbang, Kevan segera menangkap tubuh Ara, ia tak membiarkan Ara jatuh.
"Ra!! Ara!! kau kenapa??!" Seru Kevan panik, semua orang segera berkerumun melihat Kevan yang panik itu. Dengan cepat ia membawa Ara masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
1 jam berlalu setelah Ara masuk ke dalam ruang gawat darurat. Kevan berusaha berkali-kali menghubungi Daniel dari ponsel Ara, namun keterangannya selalu sama, "Nomor yang Anda tuju sedang sibuk", ia berusaha mengirimkan pesan pada Daniel, namun saat ia membuka dan membaca pesan dari Daniel sebelumnya tentang perceraian itu dari ponsel Ara, Kevan segera tahu, tak ada gunanya menghubungi Daniel. Pria itu tak akan memperdulikan Ara lagi.
Beberapa saat kemudian, seorang dokter datang menghampiri Kevan.
"Apa kau suami Nyonya Ara?" tanya Dokter itu, tak pikir panjang Kevan mengangguk.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"
"Istri tuan kondisinya begitu lemah, bagaimana anda menjaga istri anda? dalam keadaan hamil seperti ini anda seharusnya lebih menjaganya, jangan biarkan ia terlalu stress dan juga sepertinya belakangan ia tak makan dengan baik, itu sangat berbahaya tuan!" Sebuah petir menyambar di atas kepala Kevan saat ini. Ia terkejut bukan main.
"A.. Ara hamil dok??"
"Benar, anda tidak tahu? ia sedang hamil 2 bulan, untung saja kandungannya begitu kuat, jika tidak anda pasti sudah kehilangan bayi anda, aku akan memberikan obat untuk menguatkan rahim dan janinnya, tugasmu menjaganya dengan baik" Kevan hanya mengangguk tak menjawab ucapan dokter itu.
"Daniel... ternyata kau lebih brengsek di bandingkan aku!!! kau bahkan meninggalkan Ara setelah ia hamil anakmu!! benar-benar brengsek!!!" batin Kevan mengamuk. Ia bahkan dengan marah menendang bangku panjang di lorong rumah sakit, membuat semua orang yang berada di dekatnya ketakutan. "Daniel, kau benar-benar cari mati!!!"
Ia merasa hatinya sakit luar biasa. Ia pernah ingin sekali Ara berada di sisinya dan bisa mengandung anaknya, tapi kenyataan Sisil hamil, secara perlahan ia melepaskan hatinya dan mencoba mengerti bahwa Ara sudah bahagia bersama Daniel. Tapi apa yang ia temukan saat ini berbeda dengan apa yang ia bayangkan sebelumnya. Ara sekarang hamil, tapi ia tak sedang berbahagia bersama Daniel, itu membuat Kevan marah sampai ke dasar sum-sum tulang belakangnya.
Kevan saat ini seperti ingin sekali datang menemui Daniel dan menghabisinya sampai mati.
***
Berita Ara pingsan dan terbaring di rumah sakit, segera terdengar di telinga Xander. Dengan langkah terburu-buru ia segera menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, ia segera masuk ke dalam bangsal, ia menemukan Kevan sedang tertidur di atas sofa dengan posisi duduk dan melipat tangannya, sedangkan Ara masih terbaring belum sadarkan diri.
Kevan menyadari seseorang masuk ke dalam bangsal, ia segera membuka mata dan melihat seorang pria paruh baya berjalan mendekati Ara.
"Tuan Xander?!" seru Kevan kemudian bangun dari duduknya mendekati Xander.
"Tuan muda Kevan Wingsley, kenapa anda bisa berada di sini?" tanya Xander yang heran melihat Kevan.
"Bukankah seharusnya saya yang bertanya? ada apa tuan Xander datang kesini?"
"Tentu saja aku akan datang, aku pamannya"
Mendengar ucapan Xander, Kevan menyatukan alisnya, Ia bertambah bingung saat Xander mengatakan ia keluarga Ara, " Setahuku semua keluarga Romanof tak ada yang memperdulikannya apalagi menganggapnya sebagai nona di keluarga itu" pikir Kevan namun ia tiba-tiba teringat dengan nama asli ibu Ara, Deasy Li dan Xander Li. Lagi-lagi Ia tersentak kaget.
"Tuan Xander Li, kau adik dari ibu Ara, Deasy Li? benarkah?" Mendengar analisis Kevan, Xander tertawa.
"Analisis mu menang luar biasa, tak heran perusahaan mu bisa berkembang sampai seperti ini" ujar Xander menepuk pundak Kevan. "Bagaimana kondisi Ara saat ini?" sambungnya sambil meninggalkan pandangannya dari Kevan dan menoleh menatap Ara yang masih tak sadarkan diri.
"Ia terlalu stress dan tidak cukup makan belakangan dan juga ia sedang hamil"
"Apa? hamil? "
"Hemm, benar, usia kehamilannya 2 bulan"
Mendengar berita kehamilan Ara, Xander menatap Kevan dengan wajah dingin. Kevan menangkap wajah menyelidik Xander, seketika tahu apa yang pria paruh baya itu pikirkan tentangnya dan Ara.
"Tuan Xander tak perlu menatap curiga padaku, meskipun aku ingin sekali berharap anak yang di kandung Ara adalah anakku tapi kenyataannya bukan aku ayah biologis anak itu" seru Kevan dengan wajah dinginnya.
"Lalu siapa ayah dari anak yang di kandung kemenakan ku ini? bukankah kau dan Ara memiliki hubungan? apakah kau sekarang sedang berusaha lepas tangan darinya?" Ada gurat emosi pada wajah Xander saat ini, ia benar-benar salah paham pada Kevan.
"Memang sebelumnya kami memiliki hubungan, tapi apakah tuan Xander tak tahu bahwa Ara sudah menikah dengan seorang pria?"
"Menikah?bagaimana aku tak tahu ia sudah menikah? Siapa pria itu?" Tatap Xander bingung pada Kevan.
"Daniel Qin"