
Daniel akhirnya hari itu juga pergi dari kota G dan kembali ke kota A dengan hati yang hancur. Ia menahan benci yang teramat sangat pada Kevan, selalu saja ia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Daniel berpikir pasti Kevan tahu apa yang terjadi, apalagi dengan banyaknya pemberitaan di media tentangnya dan Windy. Di tengah kemarahan Daniel yang sudah di ubun-ubun. Ia menghubungi Yogi untuk menghancurkan perusahaan Wingsley secara bertahap sampai habis. Daniel sudah tak bisa bersabar lagi.
***
"Daniel Qin?!" Xander terbelalak kaget ketika mendengar nama Daniel di sebut beserta marga yang ia tahu jelas yaitu marga Qin. Xander mengerutkan alisnya hingga tak percaya. Bagaimana bisa keluarga Qin berhubungan lagi dengan keluarga Li?
"Tuan Xander, kenapa Anda terlihat bingung seperti itu? Apakah Anda kenal dengan Daniel??" Tanya Kevan bingung melihat reaksi yang tak biasa pada wajah pria paruh baya ini di depannya. Xander sekilas menoleh pada Kevan. Ia tak mengucapkan sepatah katapun. Xander pikir, ia tak mungkin menceritakan masa lalu yang terjadi antara Qin dan Li pada orang Asing.
"Tidak, aku tak mengenalnya.. apakah ia baik pada Ara?"
"Aku tak nyakin, tapi saat ini ia berusaha menceraikan Ara" Mendengar apa yang di katakan Kevan, Xander menoleh pada Kevan dengan wajah yang terkejut.
"APA???!!! Bagaimana kau tahu?"
"Kau lihatlah sendiri" Kevan menyodorkan ponsel Ara pada Xander. Ia melihat pesan yang di kirimkan Daniel pada Ara beberapa hari lalu. Sebagai paman, Satu-satunya keluarga yang di miliki Ara dari keluarga Li, ia merasakan sakit yang teramat. Ara dan Deasy pernah di buang begitu saja oleh keluarga Romanof dan sekarang Ara merasakan lagi di buang oleh keluarga Qin. Xander pernah menemui Deasy di kota C, berusaha sekuat tenaga untuk membawa Ara dan Deasy kembali ke keluarga Li. Namun permintaan Xander dan ayah ibunya dulu di tolak dengan berbagai alasan. Deasy memang sangat mencintai Higa. Bagaimanapun perlakuan pria itu, ia bersikeras menahannya. Dan sekarang, ia kembali di buang dan sampai saat ini masih belum jelas keberadaannya. Bagaimana hidup bisa sekeras itu pada Ara dan Deasy.
Dengan menghela nafas Xander meletakkan ponsel Ara di atas nakas. Ia menatap Kevan beberapa detik. Baik Daniel atau Kevan, mereka telah menyakiti Ara dengan cara yang sama. Tiba-tiba rasa marah itu muncul dari hati Xander. Ia kemudian memalingkan wajahnya pada Ara yang masih terbaring lemah. Wajahnya begitu sendu dan muram.
Keluarga Li memang tak sekaya Wingsley atau Romanof bahkan mungkin tak ada beberapa persen pun dari Qin dan kerajaannya. Tapi, bukan berarti mereka akan diam saja ketika para keluarga besar itu terus menyakiti bagian dari keluarga Li. Masalah Deasy yang tak menerima bantuan dari Li memang kesalahannya sendiri. Tapi tidak dengan Ara. Ara berhak tahu, di dunia ini ia masih memiliki keluarga.
"Betapa nasib begitu kejam pada Ara hingga membiarkan ia dua kali di sakiti dengan cara yang sama, namun cara kali ini lebih kejam di bandingkan dengan apa yang pernah kau buat dulu Van"
Deg.
Jantung Kevan seakan akan berhenti berdetak. Pria di depannya ini tahu tentang permasalahannya dulu dengan Ara.
"Permasalahan aku dengan Ara dulu hanya salah paham, meskipun pada akhirnya aku terpaksa menikah dengan wanita lain, tapi perasaanku pada Ara benar-benar tulus. Aku tak pernah berniat menyakitinya"
"Perasaanmu tulus padanya itu yang seperti apa? menjadikannya simpanan mu dan merusak masa depannya?lihat setelah kebodohan kalian, ia kehilangan semua martabatnya sebagai wanita dan pada akhirnya ia di permainkan sampai seperti ini. Jangan bicarakan ketulusan di depanku, kau tak benar-benar tulus sampai kau rela melepaskan apapun hanya demi bersamanya. Setelah ia sadar nanti, Aku akan membawa Ara kembali ke keluarga Li, kami akan menerimanya beserta anak yang di kandungnya. Ia berhak bahagia"
Mendengar ucapan Xander, Kevan tak bisa berkata-kata. Yang di katakan Xander ada benarnya. Demi kekuasaan dan kuatnya perusahaan, ia mengabaikan perasaan Ara begitu saja dan menikah dengan Sisil. Tapi kondisi saat itu juga sangat sulit. Sisil pun tak mungkin ia tinggalkan. Saat itu, solusi terbaik menurutnya adalah meninggalkan Ara dan menikah dengan Sisil. Ia tak tahu, ternyata keputusannya membawa penyesalan yang ia rasakan hingga sekarang. Kevan terdiam, ia berpikir mungkin itu yang terbaik untuk sekarang. Setidaknya saat Ara sadar, ia tak akan bersama Daniel lagi. Itu sudah cukup.
Perlahan bulu lentik Ara terangkat lembut. Samar-samar, ia mendengar suara percakapan orang di sampingnya. Saat matanya membulat sempurna ia melihat sekeliling, ini bukan di kamar hotelnya. Bau desinfektan rumah sakit memenuhi hidungnya. Lambat tapi pasti ia teringat kejadian beberapa waktu lalu sebelum ia pingsan. Kevan pasti membawanya kesini. Ara menoleh ke samping tempat tidurnya.
" Ara, kau tak perlu bangun. Tubuhmu masih lemah, tetaplah berbaring" Seru Kevan mencegah Ara bangun.
"Tu.. Tuan Xander, bagaimana Anda bisa berada di sini?" Kevan menoleh pada Xander, Xander menggelengkan kepalanya seperti mengatakan "Jangan katakan apapun dulu padanya", Kevan mengangguk.
" Aku tak sengaja melihatmu di sini Ara, ketika aku sedang berkunjung menjenguk salah satu pegawai ku yang juga sakit di rumah sakit ini"
"Oh begitu, terimakasih Tuan Xander. Seharusnya kau tak perlu repot-repot"
"Tidak merepotkan, kita masih terikat kerja sama jadi jangan terlalu sungkan, Ara. Baiklah, karena kau sudah siuman, aku harus kembali ke kantor karena ada beberapa pekerjaan. Jika terjadi sesuatu kau bisa menghubungiku karena pasti di kota G ini kau tak memiliki kerabat"
Ara sebenarnya tak mengerti apa maksud dari perkataan Xander. Ia merasa untuk seorang Kolega, perkataannya terdengar seperti keluarga bukan seperti kolega bisnis. Tapi Ara segera menghentikan pikiran anehnya itu, ia berusaha positif thinking, mungkin itu memang karakter Xander yang ramah pada siapapun.
"Baiklah, terimakasih Tuan Xander. Hati-hati di jalan" Kemudian Xander berlalu dari hadapan Ara dan Kevan. Yang tersisa hanya Kevan dan Ara. Beberapa saat, situasi menjadi sangat canggung. Ia menoleh ke arah nakas di samping tempat tidurnya. Tangannya dengan cepat meraih ponsel, ia mencoba mengecek barangkali Daniel menghubunginya atau sekedar mengirimkan pesan padanya. Namun, itu hanya angannya saja. Daniel mungkin serius dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya. Mata Ara kembali memerah.
Melihat, wajah sendu Ara. Kevan mendekatkan sebuah kursi pada sisi ranjang tempat tidur Ara.
"Dia tak menghubungimu, aku berkali-kali mencoba menghubunginya tapi nomornya selalu sibuk dan maafkan aku, aku tak sengaja membaca pesannya padamu tentang perceraian itu saat aku hendak mengirimkan pesan dari ponselmu. Aku pikir awalnya ia perlu tahu kondisimu, tapi setelah membaca pesan itu, aku urungkan niat mengirimkan pesan padanya. Aku rasa itu percuma"
Mendengar kata perceraian dari mulut Kevan, Ara tak bisa menahan air matanya. Ia kembali menangis meratapi nasibnya.
"Ini mungkin bukan kesalahannya sampai memutuskan jalan seperti ini, ini mungkin adalah kesalahannya"
"Apa yang terjadi?!" Tanya Kevan, Ara menoleh lembut, ia juga tak berpikir untuk menceritakan masalah ini apa Kevan. Ia terlalu malu. Kevan yang melihat Ara seperti enggan untuk bercerita, ia mengusap kepala Ara lembut dan tersenyum.
"Jika terlalu berat untuk menceritakannya, tak perlu kau ceritakan. Kau jangan bersedih lagi, kembalilah ceria, itu lebih baik untukmu dan bayimu"
"Ba.. bayi??! apa yang sedang kau katakan Kevan?" Ara seketika terperanjat kaget ketika mendengar yang di ucapkan Kevan barusan.
"Kau tak tahu kau sedang hamil????! " seru Kevan yang tak kalah kagetnya melihat ekspresi Ara saat ini. Ara dengan cepat menggeleng. "Kandunganmu berusia 2 bulan, bagaimana kau bisa tak tahu kau sedang hamil?"