Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
kotaBab 13: Jalan buntu



Hari-hari berlalu begitu cepat, tugas yang terlalu banyak, terkadang membuat Ara lupa tugas utamanya berada di tengah-tengah Wingsley.


Menyelidiki keberadaan cincin itu sungguh tidak mudah. Terlebih lagi Higa tak memberikan satu clue pun untuknya. Seperti sedang mencari jarum di dalam jerami. Hampir tidak ada kemajuan sedikitpun.


Belakangan ini, Kevan memberikan banyak sekali file untuk ia terjemahkan, ia bahkan hampir tak bisa memastikan sebenarnya ia bekerja sebagai sekretaris atau penerjemah di dalam perusahaan itu. Kevan tidak peduli. Bahkan Kevan seperti selalu mencari-cari cara membuat hidup Ara lebih berat.


Sore itu, Kevan berjanji pada Sisil untuk mengajaknya makan di luar. Sisil terlalu bosan berada di dalam rumah sepanjang waktu. Ini kabar gembira untuk Ara. Sore ini ia di bebas tugaskan dari urusan masak memasak di rumah Kevan.


Waktu menunjukan pukul 5 sore, itu artinya jam pulang. Untuk pertama kalinya Ara tersenyum saat pulang kantor setelah beberapa minggu berada di perusahaan itu. Terlihat jelas wajah cerianya. Bahkan Kevan dengan jelas bisa melihat raut bahagia Ara. Kevan berjalan meninggalkan ruangannya di susul Ara. Sepanjang perjalanan mereka menuju loby, Kevan hanya bertanya sekilas tentang jadwalnya besok dan beberapa pertemuan penting. Sesampainya di Lobby, wajah cerah Sisil telah menunggu Kevan disamping Mobil Bentley silvernya.


Senyuman bak bulan berkembang memenuhi bibirnya. Sisil tersenyum sekilas melihat Ara yang berjalan di belakang Kevan. Tak banyak basa basi disana, Kevan segera menghampiri Sisil dan membawanya masuk ke dalam Mobil.


Setelah mobil silver itu menghilang dari pandangan, Ara mulai melangkahkan kakinya menuju halte terdekat.


Angin musim gugur di kota C memang terasa sangat dingin. Tak henti Ara mengusap-usap lengannya menahan dingin. Ia berjalan dan menaiki bus untuk pulang, langkahnya terus terayun sampai ia melihat sebuah mobil mewah yang tak asing terparkir di sisi jalan, jika tak salah ingat itu mobil Higa.


Kenapa bisa ada di sini?


Dengan sedikit perasaan tidak yakin, Ara terus berjalan hingga sisi mobil. Ia menoleh ke Arah kaca pintu mobil perlahan turun, menampilkan seseorang yang ia kenal. Betul itu Anton dan di sisi lainya tentu saja tubuh dingin Higa.


Anton turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ara, gerakan tangannya yang lembut mengisyaratkan Ara untuk masuk ke dalam mobil. Tak banyak berpikir, Ara mengikuti Arahan Anton, ia masuk ke dalam mobil itu dengan tenang.


Ara duduk terdiam hingga Tangan kiri Higa memberikan sebuah Amplop besar berwarna cokelat, wajahnya acuh tak acuh, tangan kanannya terus menyodorkan rokok masuk ke dalam mulutnya.


“Ini, apa lagi?”


“Buka lah!”


Tak menunggu lama, Ara membuka amplop itu. Ada beberapa lembar dokumen dan sebuah peta. Matanya tertuju serius pada 2 lembar kertas di tangannya dan 1 lembar foto cincin.


- Peta rumah keluarga besar Wingsley dan Rumah Kevan


“Cincin itu kemungkinan bisa di sembunyikan di 2 tempat, mungkin berada di rumah pribadi Kevan atau di dalam kastil Wingsley. Kau harus mencari wine Chateau Margaux 1787 di ruang penyimpanan wine pribadi mereka. Sebuah tombol rahasia ada di bawahnya. Kau juga harus mencari tahu kode untuk membuka brankas rahasia itu"


Tangan Ara seketika membeku.


“Bagaimana harus masuk ke ruang penyimpanan wine mereka? ini tak masuk akal. Ayah kau benar-benar tak masuk akal."


Higa tersenyum ketus. Ia mematikan putung rokok di tangannya dan menatap Ara dingin.


“Kau sungguh kaya raya, kau bisa dengan mudah membayar seorang detektif atau agen rahasia terlatih untuk melakukan ini, kenapa harus aku?"


“Karena aku membencimu dan ibumu"


Jantung Ara tiba-tiba berhenti berdetak seketika mendengar ucapan Higa. Semuanya terasa sesak, tidak ada oksigen yang bisa ia hirup. Pelupuk matanya tak kuat lagi menahan hujan di sudut matanya. Benarkah ini ayah yang selalu ia bayangkan di dalam tidurnya? kenapa jauh berbeda?


Ara teringat dulu ketika berumur 8 tahun, bertepatan di hari Ayah, gurunya memberikan tugas untuk menuliskan pengalaman muridnya bersama ayahnya yang paling berkesan. Sepanjang 8 tahun hidupnya saat itu, jangankan bertamasya dengan ayahnya, melihatnya pun tak pernah.


Sepanjang pelajaran itu, Ara hanya menatap lembar kosong di tangannya hingga bell pulang berdering yang sanggup ia tulis hanya “Aku tak punya ayah” matanya berkaca-kaca.


Tanggal 12 November adalah hari Ayah sedunia, tidak berlaku untuk Ara dan anak-anak yang di tinggalkan Ayahnya. Untuk mereka yang memiliki ayah, di hari itu ayah-ayah mereka akan sibuk menjemput anak-anaknya di sekolah,berlibur bersama keluarganya atau sekedar makan malam bersama. Setiap anak akan menyiapkan sebuah kado indah untuk ayahnya.


Ara hanya diam. Ia diam-diam membayangkan seperti apa wajah ayahnya, bagaimana rasanya di peluk ketika menangis.


Setiap kali ia bertanya pada ibunya, dengan wajah berseri-seri Ibunya selalu bercerita kehebatan suaminya. Seperti dongeng kerajaan. Ayahnya bak raja yang baik hati dan hangat.


Hanya dengan mendengarkan dongeng itu setiap tahun di masa kecilnya, Ara merasakan aliran kehangatan di mata ibunya. Ayahnya hebat. Kata-kata itu yang selalu muncul di benaknya.


Pernah suatu ketika ia bertanya kemana ayahnya pergi, ibu selalu menjawab dengan senyuman. Tak pernah jelas apa arti dari senyumannya, yang ia tahu, ayahnya masih hidup.


Waktu berjalan begitu cepat. Ara besar mulai memahami, jika ayahnya masih hidup dan tak pernah kembali hanya ada 1 kemungkinan. Ibu dan ayahnya telah berpisah, semenjak itu Ara tak pernah lagi bertanya perihal ayahnya. Jauh di relung hatinya, gambAran ayahnya masih sama. Ia seperti udara di musim semi.


Hari ini kenyataan memecahkan rangkaian hawa hangat di hatinya. Ibunya berbohong. Ayah di dalam ceritanya selama 15 tahun pada akhirnya hanya sebatas dongeng sebelum tidur.


Hatinya patah, berserakan jatuh.


Mulut Ara benar-benar terkunci, jawaban dari mulut Higa seperti menjawab semua pertanyaan di hatinya. Ayahnya membencinya, membenci ibunya.


“Suatu hari, aku akan membuatmu membayar mahal untuk setiap tetes air mataku dan ibuku yang jatuh sepanjang lebih dari 15 tahun ini"


Tanpa masuk ke dalam mata Higa. Ara membuka tuas pintu, tangannya meremas map cokelat dan melangkah keluar.


Ara melemparkan tas dan mantelnya ke sembArang tempat, ia membanting tubuhnya jatuh di atas sofa di kamarnya. Langit-langit kamarnya menghitam. Tangannya terangkat tinggi-tinggi membuat matanya terfokus pada foto cincin di tangannya, hanya ada sebuah kemarahan.


“Aku akan menemukan cincin itu dan kau harus membayar mahal untuk ini Higa"


Sepanjang malam itu, Ara membiarkan pintu balkon kamarnya terbuka, membiarkan angin dingin masuk membekukan hatinya. Setiap kali memejamkan mata, hanya wajah Higa dengan kata-kata terakhirnya yang terlintas, insomnia. Pikirannya di penuhi labirin, kertas-kertas yang di berikan Higa berserakan. Ia terus memperhatikan detil denah rumah dan kastil Kevan.


Hanya ada 1 cara, mau tidak mau ia harus tinggal di rumah Kevan. Bagaimana caranya?


Berkali-kali di pikirkan, berkali-kali ia membanting wajahnya ke tumpukan bantal di atas kasurnya. Pikirannya tak lebih dari jalan buntu gelap.


Keesokan harinya...


Tidak ada perintah datang ke villa artinya Ara tak perlu bangun terlalu pagi. Saat ini pukul 6:30 tubuhnya masih meringkuk di bawah selimut, hingga terdengar suara ponselnya berdering.


-Nomor tak di kenal


Ara beberapa kali menekan tombol bisu di ponselnya, mengabaikan panggilan itu. Lebih dari 6x dan sekali ini berbunyi lagi, Ara kehilangan kesabArannya. Dengan marah, Ara menjawab panggilan itu.


“Apa??? SIAPA???"


“Selamat pagi"


Suara Pria terdengar begitu ceria di seberang ponselnya tak membuat Ara ingin membuka matanya.


“Biarkan aku tidur sebentar lagi, jangan ganggu aku!”


Klik! Ara menutup panggilan teleponnya dan kembali menarik selimutnya tinggi-tinggi.


Meskipun suara Ara terdengar ketus dan kemudian tenggelam di balik layar ponselnya, suara gadis itu sukses membuat Jade melengkungkan senyumannya. Ia berdiri di samping mobil sport ferrari hitamnya yang terparkir di pelataran apartemen Ara.


Tampilannya begitu kasual. Jaket putih berbahan jeans dengan lengan tergulung sesiku, kaus hitam, celana jeans putih dan kacamata hitamnya sukses membuat pemandangan di sekitar apartemen Ara berubah menakjubkan.


Matanya tak mau lepas menatap ke salah satu jendela kamar apartemen sambil menggigit lapisan sandwich di tangannya. Ia bahkan tak peduli gadis-gadis yang tersenyum simpul setiap kali melewatinya berusaha mencuri perhatiannya.


1 jam terlewati. Ara bersiap menuju kantornya. Langkahnya begitu santai menyusuri lorong-lorong apartemennya. Langkah santainya tiba-tiba terhenti ketika mata sebening kristalnya menatap lurus ke seberang jalan.


Setelah lama menunggu, akhirnya tubuh mungil Ara muncul dari dalam lobby, Jade tersenyum simpul dan melambaikan tangannya pada Ara.


Sempat tak ingin percaya pria yang bersandar di samping mobilnya adalah Jade. Langkahnya semakin lama semakin melambat. Ara membuka matanya lebar-lebar. Melihat langkah Ara yang ragu-ragu, Jade berlari mendekati Ara dan tersenyum. Ara mengedipkan bulu matanya berulang-ulang. Ia tak bermimpi. Itu benar Jade.


“Selamat pagi nona sekretaris"


“Ja..Jade? ke..kenapa kau....."


Kata-kata di mulut Ara segera terputus ketika tangannya di tarik mengikuti ayunan langkah Jade menuju mobilnya. Ara tak bisa lagi menyembunyikan wajah herannya. Jade membuat Ara duduk di dalam mobil dengan pandangan bingung.


Bagaimana dia tahu kalau aku tinggal di sini?


suara pintu mobil di tutup memecahkan lamunannya. Jade menatap wajah cantik Ara dengan senyuman. Perlahan ia mendekati tubuh Ara. Ara reflek memundurkan tubuhnya ke samping


“Mau apa?!”


Wajah Jade berhenti tepat di depan wajah Ara. Manik mata Ara membesar, ia melihat detil wajah pria yang berada tak lebih dari 10cm di depannya. Seperti pahatan mahakarya, wajahnya begitu enak di lihat. Aroma maskulin di tubuhnya menambah kesan tampan. Wajah Ara bersemu merah.


“Kau lihat apa?”


Pikiran Ara terpecah belah saat suara Jade membawa ruhnya kembali dari khayalan. Tangan Jade dengan cepat meraih sabuk pengaman di samping tubuh Ara dan menguncinya,sekilas lalu Ara melihat senyuman di sudut bibir pria di depannya yang sempat membuat Jantung Ara berhenti sepersekian detik, berbagai cacian berteriak-teriak kesal di dalam hatinya.


“Jika hanya memasangkan sabuk pengaman tak perlu sedekat itu, lagi pula aku bisa memasangnya sendiri!!"


Tanpa bersuara, Jade hanya tersenyum mengabaikan kekesalan Ara. Dengan cuek tangannya menarik tuas persneling dan menginjak pedal gas.