
Malam itu Ara tak bisa tidur, ia hanya berguling-guling di atas tempat tidurnya. Bolak-balik Ara melihat jam di dinding. Saat ini pukul 11:34pm. Akhirnya Ara memutuskan untuk bangun dan meraih tas dan mantelnya. Ia kembali menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana, rumah sakit begitu lengang, ini memang sudah terlalu larut. Ia teringat akan perkataan Denis, ayahnya di rawat hanya beberapa blok dari kamar kakeknya. Hatinya mulai bimbang, langkahnya melambat, dari kejauhan Ara melihat sebuah papan bertuliskan "Elevander VVIP no 8", itu adalah bangsal milik ayahnya. Ia hendak berjalan mendekat, tetapi langkahnya terhenti dan buru-buru ia bersembunyi di balik tembok. Ia melihat seseorang berbaju mencurigakan keluar dari ruang rawat ayahnya. Pakaiannya serba hitam, memakai topi dan masker. Ia tak terlalu tinggi, mungkin tingginya tak jauh berbeda dengan Ara. Setelah orang itu menghilang, Ara dengan buru-buru masuk ke dalam bangsal ayahnya.
Benar saja seperti dugaannya, melalui bedside monitor yang berbunyi tidak biasa,ia bisa melihat kondisi ayahnya jadi tidak stabil. Nafas pria itu bahkan tersengal-sengal. Dengan cepat Ara menekan tombol darurat di atas nakas. Tak lama berselang dokter dan suster datang. Ia terkejut ketika melihat Denis yang datang, Denis sama terkejutnya melihat Ara selarut ini berada di rumah sakit. Tapi Denis tak berkata apapun, tak ada waktu bicara. Ia segera menangani Higa. Ara mundur beberapa langkah. Ara terus memperhatikan Denis yang sedang berkonsentrasi memeriksa Higa. Melihat wajah serius Denis, ia jadi teringat kenangannya bersama pria itu. Denis memang dekat dengan Ara sejak kecil.
Ara sering datang ke kediaman keluarga Han untuk meminta Denis membantunya mengerjakan PR atau ia hanya sekedar bermain dengan Denis. Wajah seriusnya bahkan tak berubah setelah belasan tahun. Bukan hanya wajah seriusnya, tapi karakter lembut di dirinya juga tak berubah.
Perlahan suara bedside monitor di samping tubuh Higa berbunyi kian stabil. Para perawat ke luar ruangan, sedangkan Denis tinggal di ruangan dan mendekati Ara.
"Bagaimana kau bisa di sini selarut ini?ini tak baik untuk kandungan mu"
"Aku tak bisa tidur Kak, jadi kuputuskan datang"
"Apa kau baik-baik saja? wajahmu pucat"
"Hemm, baik-baik saja"
"Baguslah"
"Kak"
"Ya?"
"Selama ayah dan kakek di sini, apa kau pernah melihat seseorang berbaju hitam masuk ke dalam bangsal kakek dan ayah?"
Mendengar perkataan Ara, Denis mengerutkan keningnya mencoba berpikir.
"Sejauh ini tidak, kenapa?"
"Sebelum kejadian ini, aku melihat seseorang yang mencurigakan masuk ke dalam bangsal, saat aku masuk kondisi ayah jadi seperti tadi, aku curiga seseorang benar-benar mencelakai ayah dan kakek"
"Sejujurnya, aku menemukan sesuatu yang tak biasa dari hasil tes darah mereka berdua, ada kandungan racun yang berbeda. di dalam tubuh ayahmu ada racun bernama DymethylMercury, racun yang sulit terdeteksi, baru akan terdeteksi setelah lebih dari 3 minggu tekontaminasi, korban mula-mula akan sesak nafas, lemah jantung, lemah otot dst. Jika terlalu lama terpapar ia akan koma dan meninggal. Sedangkan di tubuh kakekmu ada dua macam racun, arsenik dan racun yang sama seperti ayahmu tapi racun yang kedua masih sangat kecil dosisnya" Mendengar perkataan Denis, Ara tak terlalu terkejut.
Ara sudah mengira sebelumnya bahwa pasti ada yang tidak beres terkait penyakit ayahnya.
"Ara, lebih baik kau tak perlu menyelidiki masalah ini, biar aku yang menangani, aku khawatir terjadi apa-apa padamu"
"Terimakasih Kak, tapi aku baik-baik saja"
"Tapi Ara, tolong dengarkan aku sekali ini, ini benar-benar berbahaya, Higa dan kakekmu memiliki perusahaan besar, siapapun bisa ada di belakang ini semua, jika mereka tahu kau memiliki sesuatu yang mengancam mereka, mereka tidak akan tinggal diam begitu saja. Jadi lebih baik biar aku yang mengurusnya"
"Baiklah aku serahkan padamu kak, tapi percaya atau tidak, aku sudah memiliki kandidat orang yang meracuni kakek dan ayah , kak"
"Aku akan katakan pada mu saat semuanya sudah jelas"
"Baiklah, kita bicarakan besok, sekarang aku akan mengantarmu pulang"
"Tapi aku membawa mobil sendiri kak, jadi kau tak perlu mengantarku"
"Tapi Ara...."
"Kak, aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir" Sela Ara mencoba meyakinkan Denis. Akhirnya Denis pun mengalah.
Ara dan Denis tidak menyadari sedari tadi seseorang berbaju hitam yang di lihat Ara sebelumnya memperhatikan mereka dari luar. Ia kemudian pergi menjauh ketika Ara mengatakan akan kembali. Orang itu masuk ke dalam mobilnya dan membuka topi dan maskernya. Menekan tombol untuk menanggik seseorang
"Halo, yang kau katakan benar, Ara ada di sini.. Apa yang harus aku lakukan?"
"Kau ikuti mereka, aku akan meminta orang kesana membereskan mereka, aku tak ingin mereka mengacaukan rencana ku! lagipula jika rencana ku kacau, kesepakatan kita tentu batal"
" Tidak akan ku biarkan"
"Bagus"
Pip.. suara bunyi panggilan di akhiri.
"Ara, kau enyahlah saja.. " Seru seseorang itu dengan senyum ketus.
***
Saat ini pukul 1:30 dini hari. Ara mengemudikan mobilnya tak terlalu cepat, ia hanya ingin menikmati situasi lengang kota A.
"Kota A tidak pernah sepi saat siang, ternyata saat dini hari bisa begitu lengang. Ya benar, semua orang butuh istirahat,. setelah sibuk bekerja, kita akan membutuhkan waktu lagi mengisi tenaga, hati pun begitu. Setelah lelah berlari, ia juga butuh berhenti"
Senyum Ara memudar, ketika ada dua buah mobil yang menghimpit mobilnya tiba-tiba. Mobil-mobil itu sepertinya hendak menandakan body mobil mereka pada mobil Ara untuk membuatnya oleng. Ara dengan cepat menekan pedal gas mobilnya dan melaju dengan cepat. Mobil Ara sangat cepat, kecepatannya hingga sampai 100km/s , jalan di kota A memang lengang, mobil-mobil itu mengejar mobil Ara hingga perbatasan kota A dan B.
Daerah perbatasan kota A dan B adalah kawasan hutan lindung, dimana kanan dan kirinya hanya ada pohon-pohon pinus. Ara hanya fokus pada mobil-mobil yang mengejarnya, ia bahkan tak menyadari indikator bahan bakar mobilnya tak henti berkedip, tak lama kemudian mobil itu berhenti.
"Aghhh mobil bodoh!! kenapa di saat seperti ini kehabisan bensin" gerutu Ara, Ara dengan cepat keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam hutan. Ara mencoba menoleh ke belakang, mobil-mobil itu berhenti dan setidaknya ada 7 orang pria berbaju hitam-hitam mengikutinya masuk ke dalam hutan. Ara berlari semakin panik, ia berlari sambil mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Denis.
"Kak, kak Denis, tolong aku!! banyak orang berbaju hitam mengejarku!!" Denis yang sedang duduk di belakang meja kerjanya, mendengar suara Ara yang panik, ia segera berdiri, wajahnya pun ikut panik.
"Ara, Ara kau dimana sekarang??!"
"Aku di..... tut.. tut.. tut.. tut.. " belum sempat Ara mengatakan dimana ia berada, sinyal ponselnya hilang, panggilan pun terputus. Ara mencoba bersembunyi di balik batu besar dengan nafas tersengal-sengal. Ia mencoba memanggil Denis lagi namun tak bisa. Dalam kepanikan, Ara tak sadar seorang pria mendekatinya dan memukul tengkuknya dengan kencang, hingga ia hilang kesadaran.