Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 138: Jika tak ingin pergi maka tak perlu pergi



"Dokter, tekanan darah pasien semakin menurun!!" ujar salah satu suster dengan sangat panik. Suara kepanikan dokter dan suster itu membuat Ara sedikit tersadar sari pingsannya.


Saat ia membuka mata, bau antiseptik dari rumah sakit menusuk hidungnya. Ia melihat banyak dokter dan suster juga mengerubunginya. Mereka sibuk merobek satu persatu kain yang ada di tubuhnya untuk membersihkan banyak luka. Beberapa kali ia mendengar dokter bertanya, "Apakah ada patah tulang? bagaimana organ vitalnya?", Ara tak bersuara ia hanya memandang lampu ruang UGD , wajahnya menoleh mendengar suara kepanikan lain di sebelah tempat tidurnya. Dari sela-sela tubuh dan suster yang sedang menanganinya, ia melihat wajah Daniel yang pucat juga terbaring.


Suara panik suster bergantian meminta instruksi dokter untuk menyelamatkan Daniel.


"Dokter, pasien mengalami henti jantung!"


"Segera ambil alat kejut jantung!"


Seorang suster segera berlari mengambil defibrilator dan segera menyalakan alat itu.


100 joule...


200 joule...


sekali lagi...


Bang.. bang.. suara alat itu ketika mengenai dada Daniel. Setiap kali alat itu mengenai dadanya, tubuh Daniel akan terangkat kemudian dengan cepat turun seperti semula.


"Daniel.." batinnya getir melihat kekasih hatinya terbaring tak berdaya di sampingnya. Ara tak sanggup bicara, air matanya terus terjatuh berusaha meyakinkan diri sendiri ini hanya mimpi.


Penglihatan Ara kali ini tertutup tubuh dokter sepenuhnya. Ia hanya merasakan ranjang pasien yang saat ini ia gunakan bergerak ke luar dari ruangan. Ia hanya mendengar sekilas bahwa ia harus menjalani Scan MRI untuk mengetahui kondisinya lebih lanjut. Saat di ambang pintu dengan jelas ia mendengar suara bedside monitor Daniel berbunyi nyaring dan panjang.


Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiitttttttt......


Setelah mendengar itu, pintu tertutup dan suara menghilang dari pendengarannya. Detak jantung Ara seakan juga ingin berhenti,


"Kamu, jangan pergi.. aku ingin kau kembali Daniel" batin Ara.


***


6 hari berlalu, dengan kondisi kecelakaan seperti tempo hari ia hanya menderita patah tulang dan luka-luka itu saja sudah merupakan mukjizat namun tak ada raut bahagia sama sekali di wajahnya. Mendengar Ara kecelakaan, Meira, Xander dan Denis segera datang. Denis bahkan mengerahkan semua kemampuannya untuk mengecek kondisi Ara. Untung saja wanita ini memiliki banyak nyawa, jika tidak dengan kondisi mobil rusak parah seperti itu dia mungkin tidak akan bertahan.


Sejak siuman, yang ia tanyakan hanya Daniel dan Daniel saja. Jawaban mereka tetap sama, saat mereka sampai mereka tidak melihat dan juga tidak menemukan dimana keberadaan Daniel. Pihak rumah sakit juga enggan mengatakan kemana perginya suaminya itu. Di ingatannya, ia hanya bunyi bedside monitor itu yang selalu terdengar di telinganya. Ia takut untuk membayangkan Daniel benar-benar meninggal atau semacamnya. Rasa marah, kesal, sedih semuanya bercampur menjadi satu jika ia mengingat Elly. Elly berada di belakang semua ini.


"Selamat pagi, Nona cantik" ujar Denis memasuki bangsal kamar Ara dengan sebuket bunga mawar. Senyuman pria ini sehangat matahari pagi, sudah beberapa hari ini ia bergantian dengan paman dan bibinya menjaganya.


Mendengar sapa Denis, Ara tersenyum. Tak lama kemudian Xander dan Meira pun ikut datang.


"Bagaimana keadaanmu Ara?" ujar Meira sambil menyentuh lembut pipi Ara.


Ara tersenyum, "Sudah lebih baik bi,"


"Baguslah, aku menbawakanmu sup iga sapi agar kau bisa cepat sembuh" ujar Meira sambil berdiri membuka wadah makanan berisi sup iga dan juga nasi. Dengan sabar Meira menyuapi Ara. Ara tak banyak bicara. Ia hanya berbicara jika perlu atau di tanya saja.


"Paman Xander, apa paman sudah mendapatkan kabar tentang Daniel?" lagi-lagi Ara menanyakan hal yang sama, Xander mengedarkan pandangannya pada Meira dan juga Denis di sampingnya.


"Masih belum" jawab Xander singkat. Wajah Ara kembali suram.


"Aku sudah kenyang, Bi" ujar Ara menjauhkan sendok dari mulutnya. Meira seperti bisa merasakan apa yang Ara rasakan. Orang-orang yang ia sayangi satu persatu hilang, ia tak bisa membayangkan betapa hancurnya Ara sekarang.


"Ara bagaimana kalau kita jalan-jalan di luar. Udara pagi begitu bagus, bagaimana?" tanya Denis berusaha menghibur Ara. Ara awalnya menolak namun Denis memaksa akhirnya ia menyetujuinya.


Denis membawa Ara pergi ke danau buatan tak jauh dari rumah sakit. Rumah sakit di kota A memang sangat besar, salah satu kolega keluarga Han. Denis mendorong kursi roda Ara sambil berbicara banyak tapi tidak ada respons dari gadis itu. Pikiran Ara melayang-layang bahkan hampir tak mendengarkan apa yang Denis katakan. Kursi roda berhenti di tepi danau. Udara dingin bercampur matahari yang hangat membuat suasananya nyaman.


"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi besok adalah acara peresmian cabang FireGate yang baru"


"Hemm, aku sudah tahu" jawab Ara singkat membuat Denis di sampingnya langsung menoleh.


"Jika tak ingin pergi maka tak perlu pergi" ujar Denis, seketika Ara menggelengkan kepalanya.


"Tidak kak, aku harus pergi kesana meskipun harus menyeret tubuhku. Aku lebih baik mati berkalang tanah daripada mati berkalang bangkai. Mereka sudah sangat bersusah payah mencoba menutup mulutku dengan cara seperti ini maka aku tidak akan segan lagi pada mereka"


"Tapi kau akan terus dalam bahaya Ra"


"Aku sudah hampir mati dua kali, jika aku benar-benar mati aku tak mau rugi. Karena mereka aku kehilangan orang yang paling penting untukku, Daniel telah bekerja keras membantuku aku tak ingin mengecewakannya kak" ujar Ara sambil terisak.


"Baiklah, aku akan menemanimu"


🎼'


Stay in your place"


"Better seen and not heard"


But now that story is ending


Cause I


I cannot start to crumble


So come on and try


Try to shut me and cut me down


I won't be silenced


You can't keep me quiet


Won't tremble when you try it


All I know is I won't go speechless, speechless


Let the storm in


I cannot be broken


No, I won't live unspoken


'Cause I know that I won't go speechless


🎼


***


"Di mana Elly? tanya Clara pada dingin pada Rudy di sampingnya sambil di bantu beberapa orang untuk merapihkan gaunnya.


Hari ini adalah hari FireGate meresmikan cabang barunya, di saat seperti ini seharusnya Elly berada di sisiNya mengatur semua hal namun sejak pagi wanita itu tidak bisa di hubungi. Nomornya tiba-tiba tidak aktif. Beberapa orang juga sudah menjemputnya di apartemen namun tidak ada jawaban di dalam apartemen itu. Hal ini membuat Clara kesal setengah mati.


"Dian masih tak bisa di hubungi" jawab Rudy singkat.


"Ada apa lagi dengan gadis itu kenapa tiba-tiba hilang?" tanya Clara dan Rudy mengangkat bahunya tanda tidak tahu, "Sudahlah sayang, kau tak perlu pikirkan gadis itu. Ini adalah acara besarmu, dengan begini seluruh kota dan dunia akan tahu kau adalah presdir utama FireGate" ujar Rudy sambil tersenyum memeluk Clara dari belakang. Clara tak menolak pelukan tunangannya itu, tapi pikirannya masih terganggu dengan Elly. Elly adalah oportunistik, ia tidak akan mungkin melewatkan begitu saja acara sebesar ini, pikienya.


"Ini aneh"