Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 122: Hanya memasak, ini gampang



"Wajah suamiku, tidak boleh di pukul begitu saja" ujar Ara menatap wajah Meilyn dengan ketus. Yang tercekat karena kaget bukan hanya Meilyn tapi juga Daniel yang berdiri di belakangnya.


Dari semua percakapan diantara mereka, Ara menyadari satu hal. Daniel mungkin memiliki keluarga lengkap sejak kecil, kekayaan yang luar biasa, tapi ternyata itu juga tetap tak membuatnya bahagia. Kalau di ingat-ingat, saat pertama kali bertemu dengannya dulu, ia juga hanya duduk sendiri di taman belakang sampai ia menemukannya. Ia terlihat kesepian dan bosan dalam satu waktu. Seharusnya dia memiliki hidup yang sempurna, tapi setelah Ara mendengar perdebatan ini tiba-tiba ia merasa yang kasihan bukan hanya dirinya tapi Daniel lebih kasihan. Setidaknya meskipun ia hidup hanya bersama ibunya, ibunya memberikan kasih sayang utuh untuknya. Berbeda dengan Daniel, ibunya justru ikut memojokkannya.


Dengan marah Meilyn melepaskan cengkraman tangan Ara dari tangannya. "Apakah di keluarga ini semua kesalahan harus di selesaikan dengan tangan?" mata Ara mengedar ke sekeliling kemudian pandangannya berhenti pada Meilyn lagi. "Bu, bagaimana Daniel bisa merasakan ketulusanmu jika kau pun tak tulus padanya?" sambung Ara.


"Bagaimana aku mendidik anakku itu jelas bukan urusanmu! kau pikir kau siapa? keluarga ini tidak akan pernah menerima menantu seperti mu!"


"Biarpun kalian tak menerimaku, asal suamiku mau terima aku dan Brandon itu sudah cukup"


"Brandon anakmu itu? kau hilang 3 tahun, siapa berani jamin itu benar-benar anak kandung Daniel dan bukan pria lain?!" seru Meilyn tersenyum sinis.


"Ibu cukup!!!!" bentak Daniel pada Meilyn ketika mendengar ucapannya barusan.


Perasaan Ara mendengar kata-kata itu dari mulut mertuanya membuatnya hancur. Ia merasa harga dirinya terus di injak-injak seperti ini. Sejak kejadian beberapa tahun lalu itu, ia terbangun di bangsal rumah sakit, yang ia lihat hanya Denis, Xander dan Meira. Beberapa hari setelahnya ia juga baru di beri tahu bahwa ia sedang mengandung. Sejak ia membuka matanya dari koma sampai sebelum ia bertemu dengan Daniel ia sama sekali tidak pernah berhubungan dengan pria lain selain Denis. Itupun hanya hubungan pertemanan biasa tidak lebih. Hanya Daniel lah yang ia biarkan menyentuhnya hingga naik ke atas ranjang, jadi saat ia mendengar ucapan Meilyn barusan, ia merasa patah dan marah di dalam hatinya.


"Ara, jangan dengarkan ucapan ibu barusan" seru Daniel menatap Ara dengan wajah cemas, Ara tersenyum pada Daniel sekilas kemudian menoleh kembali pada Meilyn. Hal ini membuat Daniel mengerutkan alisnya karena bingung.


"Baik, aku tidak keberatan jika kalian ingin mengetes DNA Brandon untuk memastikan itu anak Daniel atau bukan, jika bukan maka aku siap pergi dari sini dan menghilang selamanya, tapi jika dia benar anak Daniel maka kalian harus meminta maaf padaku karena telah memfitnah ku, bagaimana?,"


"Ara, kau tak perlu begitu. Aku percaya Brandon anakku" timpal Daniel.


"Kau percaya tapi mereka tidak, jadi bagaimana ibu mertua?" ujar Ara dengan senyuman ketusnya. Seumur hidup, Ara tidak pernah berlaku setidak sopan ini pada yang lebih tua apalagi dia adalah mertuanya. Tapi jika bukan dengan cara begini, bagaimana lagi mengembalikan harga dirinya yang terlanjur rendah di mata mereka?


Akhirnya, Meilyn menyetujui dengan syarat ia yang akan menentukan rumah sakit mana Brandon akan menjalani test.


"Baiklah jika kalian ingin seperti ini, aku akan biarkan tapi ibu, aku yakin kau dan semua orang di sini bisa bersikap sportif dan tidak akan curang" ujar Daniel sambil menatap Meilyn, Shamus dan juga Windy. Di mata Daniel mereka seperti rubah, jika ternyata hasilnya benar Brandon adalah anak biologisnya, ia khawatir tiga orang itu akan curang dan memanipulasi data.


"Tentu saja, kenapa harus curang" ujarnya sambil tersenyum sinis.


"Sudahlah, kita akhiri perdebatan ini di sini. Nanti malam kita ada acara keluarga besar dan kolega keluarga jangan sampai terlambat" timpal Shamus sambil berjalan keluar di ikuti semua orang yang berada di sana.


Sesampainya di kamar, Ara segera merebahkan setengah tubuhnya di atas ranjang dengan kaki masih menyentuh lantai. Ia menghela nafas panjang. Ia merentangkan tangannya dan memejamkan matanya berusaha mengendurkan semua ototnya yang sempat menegang beberapa menit lalu. Daniel yang sebelumnya berjalan di belakangnya melihat Ara seperti melepaskan semua beban beratnya di atas ranjang, ia tersenyum dan ikut berbaring di samping Ara. Ara tak terkejut karena sudah menebak suaminya itu pasti akan datang dan tidur di sampingnya.


"Kau lelah?"


"Tidak, hanya sedang berpikir harusnya di cintai wanita cantik seperti Windy kau senang, aku sampai heran kenapa kau menolaknya" Ujar Ara tanpa menatap dan membuka matanya bertanya pada Daniel di sampingnya. Daniel diam beberapa saat kemudian menoleh pada Ara yang masih memejamkan matanya itu. Mendengar ucapan Ara, Daniel mengerutkan alisnya bingung. Karena tidak ada jawaban dari pria di sampingnya Ara membuka matanya dan menoleh pada suaminya yang sejak awal terus memandanginya,


"Kau pasti sangat mencintaiku ya hingga tidak peduli kata mereka?"


"Sangat"


"Daniel, kenapa kau menolak Windy? apa yang kurang darinya? aku rasa pria normal tidak akan menolaknya, kalian cocok"


"ti.. tidak cemburu"


"Masalah ciuman itu bukan apa-apa untukku, jadi jangan salah paham"


"Siapa yang tahu?"seru Ara dengan wajah kesal membuat senyum tipis Daniel akhirnya mengembang,


"Yang seperti ini masih bilang tidak cemburu?sedang membodohiku?" Daniel semakin mendekatkan wajahnya pada Ara, matanya tertuju pada bibir merah Ara yang terlihat lembab dan manis itu, "Sini aku beritahu ciuman yang sebenarnya itu seperti apa" sambungya kemudian mencium bibir Ara dengan lembut. Awalnya hanya ciuman biasa tapi Daniel jadi tak bisa menahan hasratnya. Ciumannya pindah dari bibir ke leher dan tulang selangkanya. Ara berusaha menolak, lelah yang semalam saja belum sembuh, bagaimana ia harus menanggung lagi lelah yang akan bertambah jika mereka melakukan lagi sepagi ini.


"Pria ini apa tidak kenal kata lelah? benar-benar gila!" batin Ara


"Daniel apa kau tidak lelah?" tanya Ara di jawab gelengan kepala Daniel. Ara menghela nafas.


"Da.. Daniel, aku lapar ayo kita sarapan dulu" Ucapan Ara membuat Daniel menghentikan ciumannya, ia memandang wajah istrinya di bawahnya itu,


"Kau lapar?" tanyanya,


"Iya"


"Baiklah, aku mandi dulu"


"Hemm" jawab Ara singkat kemudian bangun dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi, Ara bernapas lega. Baru-baru Ara keluar dari kamar menuju kamar Brandon untuk melihat anak semata wayangnya itu.


Beberapa lama kemudian, Daniel akhirnya selesain mandi dan memakai baju. Ia kemudian datang ke kamar Brandon dan melihat Ara, Brandon dan Vela sedang bercanda ria bersama.


"Ayo sarapan, katanya lapar?"Seru Daniel pada Ara, Ara kemudian mengangguk dan membawa Brandon keluar mendekati Daniel dan turun bersama ke ruang makan untuk sarapan. Saat mereka sampai, semua orang sudah duduk di atas kursi masing-masing. Ara dan Daniel pun duduk di bangku kosong dan Brandon duduk di high chair-nya.


"Akhirnya menantu datang juga, kami sudah lapar. Kau ingin di akui sebagai menantu bukan? maka lakukan tugasmu, buatkan kami sarapan" Ujar Meilyn ketus pada Ara. Daniel lagi-lagi menatap ibunya sangat dingin.


"Kita tidak kekurangan pelayan, biar pelayan yang melakukannya" seru Daniel. "Pelayan.. buatkan kami sarapan!" sambung Daniel sambil memanggil salah satu pelayan namun hal itu di cegah Ara.


"Tidak perlu, akan ku lakukan. Hanya memasak, ini gampang" ucap Ara sambil tersenyum menatap Daniel. Kemudian ia bangun dan berjalan menuju dapur.


Mata Daniel mengedar pada semua orang di sana.


"Kalian keterlaluan!" ujar Daniel kemudian berdiri hendak menyusul Ara.


"Daniel, duduk!!" pekik Meilyn kesal, namun Daniel tetap berdiri dan melangkah pergi mengabaikan ucapan Meilyn. Windy yang berada di sampingnya mencoba menenangkan.


"Bibi, tenanglah"


"Windy, kau lihat karena wanita itu ia jadi kehilangan akalnya"