
Apa kau ingat, seorang pria memakai sweater hitam yang memberikanmu sebuah payung berwarna biru ketika kau berjalan di bawah hujan sore itu, tapi tanpa perasaan kau justru menggunakan payung itu berjalan bersama pria lain, pria itu Denis yang kau temui sesaat setelah pria tadi memberikanmu payung. Apa kau ingat?"
Ya benar, yang di katakan Daniel tidak salah. Ara ingat betul hari-hari lebih dari 10 tahun lamanya itu. Ada seorang nenek tua penjual bunga dengan toko kecil tak jauh dari sekolahnya dulu. Pernah suatu hari ia membeli bunga di Toko nenek itu, karena terlalu tua pandangan mata sang nenek rabun dan tak benar-benar bisa melayani pembeli yang beli. Toko itu tidak ramai tapi hatinya tergerak untuk membantunya. Dengan izin Deasy, setiap hari minggu Ara akan datang membantu, beberapa minggu tidak terlalu ramai tapi setelah banyak orang tahu ia membantu menjaga Toko nenek itu, Tiba-tiba banyak sekali orang yang datang dan mayoritas seorang pria.
Ara yang cantik menjadi magnet sendiri di dalam Toko itu, mulai saat itu setiap minggu bunga yang ada di Toko itu hampir habis terjual. Tak bisa Ara lupakan adalah selalu ada satu hari minggu dimana tidak ada seorangpun datang hanya ada satu pembeli dan selalu membeli semua bunga di sana. Setiap kali membeli dan datang ia memakai jaket berwarna hitam dan masker juga topi, seperti sedang menyembunyikan identitasnya. Yang Ara benar-benar bisa lihat adalah mata pria itu yang indah. Sebelum pergi, pria itu akan memberikan satu tangkai bunga matahari padanya,
"Karena kau cantik seperti matahari"
Alasan itu yang selalu ia katakan ketika Ara bertanya kenapa? pada pria itu. Berbulan-bulan hal seperti itu menjadi sebuah kebiasaan dan setiap bulan Ara akan selalu menunggu pria itu, diam-diam menaruh hati untuk si pemilik mata indah berjaket hitam itu. Suatu hari pria itu tak pernah datang lagi lebih dari 2 bulan. Hatinya yang menunggu menjadi sangat suram. Ia tak tahu pria itu siapa, berasal dari mana yang ia tahu pria itu telah memenuhi hatinya.
Suatu sore usai pulang sekolah, Ara tak bisa kembali karena hujan terlalu lebat. Ia memperhatikan jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 3 sore. Teman-temannya sebagian besar telah pulang, Ara tahu jika menunggu lebih lama lagi Deasy akan khawatir sehingga ia putuskan untuk berlari menerobos hujan. Baru beberapa meter kakinya melangkah keluar dari pagar, seorang pria berlari mengejarnya dan berhenti di depannya. Ara mendongak menatap wajah pria itu, pria itu adalah pria bermata indah yang tak lagi muncul di Toko bunga. Perlahan ia meraih tangan Ara dan memberikannya payung berwarna biru di tangannya. Menghentikan jutaan rintik hujan yang membasahi tubuhnya, Ara terpaku.
"Gunakan ini" Tangannya memasukkan sebuah payung ke dalam genggamannya, suara lembut yang ia rindukan kini ada di depannya,"kau akan sakit jika hujan-hujanan seperti ini"
"Kau siapa?" Ara mengabaikan ucapan pria itu, dari balik masker yang ia kenakan Daniel tersenyum.
"Aku adalah pengagum rahasiamu" setelah berkata seperti itu, ia melangkah pergi ke arah berlawanan dengan tujuan Ara. Ia meninggalkan Ara, Ara membalikkan badan menatap tubuh jangkung yang sekarang pergi menjauh dan menghilang di persimpangan jalan. Saking terkejutnya sampai lupa berterimakasih. Setelah kejadian itu, Ara tak pernah melihat lagi pria itu, yang datang ke toko juga bukan dirinya lagi, pria bermata indah itu seperti meminta seseorang wanita menggantikan kebiasannya. Jika Ara bertanya siapa pria itu, wanita itu tidak akan menjawab, ia hanya akan berkata,
"Seseorang memintaku memberikan bunga ini untukmu, Nona. Ia mengatakan jika kau bertanya kenapa maka aku harus menjawab karena kau secantik matahari" seru wanita itu. Perasaan Ara senang namun lebih banyak perasaan kecewa.
Ara tersadar dari lamunannya, menatap Daniel di depannya kemudian membuka selimut di tubuhnya. Dengan ragu, ia menempelkan selimut itu pada setengah wajah Daniel,berusaha memastikan pria bermata indah itu benar Daniel atau bukan. Setelah selimut itu menutupi setengah wajah pria di depannya ini, melihat matanya persis dengan mata indah pria itu, guncangan di hati Ara semakin besar,
"Daniel....kau.. kau adalah pria itukah?"
Daniel tersenyum lembut membuka selimut yang menutupi wajahnya, ia tak mengangguk juga tak menyangkal,
"Apa kau benar-benar mengingat pria itu? apa kau me......" Ara seperti tak memberi kesempatan Daniel berbicara lebih lagi, ia meraih tengkuk pria itu, dengan cepat mendaratkan ciuman padanya. Daniel sedikit terkejut namun kemudian membalas ciuman yang ara berikan. Jantung mereka terpacu semakin cepat, Daniel mendorong tubuh Ara dan menjatuhkannya berbaring di atas dinginnya lantai balkon.
"Kenapa Daniel?kenapa kau melakukan itu semua untukku saat itu?" tanyanya melepaskan ciumannya dan menatap mata yang pernah terus memenuhi hatinya itu.
"Karena aku mencintaimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu di pesta itu"
Daniel menggeleng, "Dengar, aku tidak pernah menceritakan hal ini pada Ara yang dulu, aku menceritakan ini padamu karena satu-satunya ingatan yang kau miliki adalah ingatan selain 3 tahun ini, aku ingin kau tahu aku mencintaimu sudah selama itu, kelak siapapun yang datang mengatakan bahwa aku tak mencintaimu atau hal buruk lainnya maka kau harus ingat lebih dari 10 tahun aku memendam perasaan padamu, jika bukan cinta aku tak tahu lagi kata apa yang cocok untuk menggambarkan perasaanku padamu sampai hari ini."
"Apa ini berhubungan dengan urusan kakekmu itu?"
"Benar, di hatiku" Daniel meraih tangan Ara dan meletakkannya di dadanya, Ara bahkan dapat merasakan jantung Daniel berdegup kencang saat ini. "Sudah penuh sesak dengan cinta untukmu, setelah kau kembali atau sebelum kau kembali pun aku tak pernah menyentuh satu inci kulit wanita lain selain kamu saat ini, bukan tak bisa tapi karena tak mau. Tidak ada wanita yang memenuhi kualifikasi ku selain kamu" ujar Daniel semakin mendekatkan wajahnya pada Ara, "Jadi Ara, apa boleh aku "melakukannya" sekarang denganmu?"
Wajah Ara merona merah mendengar permintaan Daniel barusan, jantungnya terlalu cepat berdetak hingga membuatnya seperti akan loncat keluar. Ia bukan wanita bodoh yang tak tahu apa yang di inginkan Daniel dari pertanyaannya. Dengan ragu Ara mengangguk, setelah itu Ara bisa melihat wajah serius Daniel beberapa saat lalu berubah melembut dan senyuman indah tertarik dari sudut bibirnya. Jarinya membelai bibir Ara dan kembali mencium wanita di bawahnya saat itu.
Saat ciuman mereka semakin dalam dan memanas, Daniel mengangkat tubuh Ara masuk ke dalam kamar dan menjatuhkannya di atas tempat tidur. Membuka satu demi satu kain, menanggalkannya hingga tak tersisa. Daniel dan Ara melakukannya sepanjang malam, melepaskan rindu seperti telah berpisah puluhan tahun lalu.
🎶Kita berbagi kisah suka
Kita berbagi kisah duka lara
Membahas hal yang biasa
Hingga syair sang pujangga
Berbincang tentang rasi bintang
Sejak kubuka mata hingga petang
Kita mencoba satukan hati kita (hati kita)
Kuberharap kita akan selamanya🎶
(Rekah-brisia joddie)