
2 hari berlalu, Ara sudah kembali ke kediaman keluarga Qin. Setiap hari, Daniel tak meninggalkan Ara sedetikpun. Pagi itu, Ara terbangun saat cahaya matahari dengan hangat menyentuh wajahnya dari balik tirai jendela balkon kamarnya. Ara membuka matanya dan duduk di atas tempat tidur. Samar-samar ia mendengar Daniel sedang berbicara dengan seseorang di teras balkon. Tak terlalu jelas apa yang ia bicarakan, hanya dari jendela itu ia melihat wajah Daniel begitu dingin dan serius. Kadang ada sebuah senyum menusuk kecil mengembang di wajahnya, beberapa detik Ara memperhatikan suaminya itu.
70% ingatannya kembali, Ara dengan jelas ingat tentang permasalahan yang terjadi dengan pria itu juga Windy. Sesuatu yang masih menggantung di dalam hati Ara. Sesuatu yang belum Daniel jelaskan saat ia yang amnesia bertanya tentang kenapa mereka berpisah selama 3 tahun belakangan. Jika semua fakta dan kenyataan di jadikan satu, semuanya akan berhubungan.
"Aldric mencintai ibu, ibu mencintai ayah, Meilyn membencinya karena cinta Aldric pada ibu sedangkan Daniel mengetahui permasalah ini mungkin merasa iba pada ku hingga memutuskan bersamaku. Mungkin saja ia memiliki hati untuk Windy, mengingat semudah itu ia memutuskan bertunangan dengan wanita itu dan juga kejadian ciuman mereka di kolam renang kemarin.. aghh" Tiba-tiba kepala Ara begitu sangat pusing, air matanya mengalir begitu saja seiring sakit di hatinya kembali terbuka.
"Ara, apa kau baik-baik saja?" tanya Daniel yang baru masuk ke dalam kamar dan langsung mendengar Ara merintih memegangi kepalanya membuatnya berlari mendekat dan menyentuh kepala Ara. Ara menepis tangan itu, Daniel menghela nafasnya. Istrinya ini sering sekali menguji kesabarannya. "Ara coba kau katakan apa yang membuatmu salah paham kali ini?jangan terus diam seperti ini" tanya Daniel dengan wajah serius.
"Daniel, apa sejak awal kau sudah tahu hubungan ayahmu dan ibuku?" tanya Ara.
"Tidak, aku baru mengetahui mereka pernah memiliki hubungan setelah aku lulus kuliah dan mulai mencari tahu tentang hidupmu"
"Jadi karena alasan itu kau mencintaiku?"
"Tidak,"
"Bohong, kau pasti iba pada hidupku dan ayahmu pasti memintamu untuk bersamaku? yakan?" ujar Ara membuat Daniel seketika tertawa.
"Kamu itu bicara apa? siapa yang memintaku bersamamu? jadi ini yang membuat istriku marah?" tanya Daniel sambil mencubit dagu istrinya, Ara buru-buru menepisnya dengan wajah kesal. "Sayang ku, Istriku yang cantik, yang hobinya salah paham padaku, dengar aku baik-baik. Aku mencintaimu karena aku mencintaimu"
"Bohong! jika kau benar mencintaiku kenapa kau mudah memutuskan bertunangan dengan Windy saat aku tidak ada, bagaimana bisa ponselmu begitu mudah di sabotase olehnya, bagaimana bisa dia masih berada di sekeliling mu hingga sekarang jika kau tak ada perasaan untuknya? bagaimana bi....." mata Ara kemudian melebar ketika tiba-tiba Daniel mencium bibirnya beberapa saat baru kemudian melepaskannya, tangannya memegang pipi Ara dan ibu jarinya membelainya dengan lembut.
"Jadi nyonya Qin, intinya kau sedang cemburu?" bisiknya lembut,
"Siapa yang cemburu? aku sedang mencurigai motifmu mencintaiku, apa itu tidak jelas di matamu?"
"Kau mencurigai orang yang salah"
"Belum tentu" Ujar Ara,
Daniel membuka layar kunci di ponselnya, terlihat jelas Wallpaper ponselnya adalah fotonya saat SMA dulu, masih begitu lugu dan cantik sedang berdiri di sebuah halte tak jauh dari sekolahnya. Beberapa saat hati Ara tertegun tapi lamunannya pecah ketika Daniel memperlihatkan sebuah berita di layar ponselnya. Mata Ara melebar melihat isi berita itu, Windy akhirnya resmi di jadikan tersangka atas kasus penganiayaan terhadapnya.
"Windy di penjara?! bagaimana bisa?!"
"Kau.."
"Iya.. aku.. aku mencintaimu karena aku mencintaimu bukan karena ayahku, ibumu, rasa ibaku atau semua hal negatif yang ada di kepalamu itu.." Satu jentikan jarinya mengenai kening Ara , membuat Ara kaget dan mengerutkan alisnya dengan kesal "Aku ini jatuh hati pada hatimu, matamu, hidungmu dan bibirmu... " sambung Daniel sambil terus mendekatkan bibirnya pada bibir Ara, "Dan semua yang ada padamu aku suka", Ara yang sudah merona segera mendorong tubuh Daniel dengan kedua tangannya, ia lupa bahwa pergelangan tangannya retak segera ia mengaduh kesakitan. "Aaah sakit" ujarnnya membuat Daniel segera menangkap tahan Ara dan memeganginya sambil tertawa meledek.
"Sudahlah mendengar gombalanmu, kepalaku jadi sakit, Minggir!!" ujar Ara sambil bangun dari duduknya memalingkan wajahnya yang merona dan melangkah menuju kamar mandi.
"Jadi kau masih marah?!" teriak Daniel pada Ara.
"Masih!" jawab Ara dari balik pintu kamar mandi. Daniel tersenyum kecil. Ia menggeleng heran dengan kelakuan Ara.
"Kau itu lucu sekali tahu tidak! Sebentar-sebentar cemburu, sebentar-bentar marah, kemudian malu dan merona" ujar Daniel dari balik pintu kamar mandi. Ara yang mendengar ucapan Daniel tak bisa berkata apapun hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangan menahan malu.
Daniel masih berdiri di depan pintu sampai kemudian ia mendengar pintu kamarnya di ketuk, ia segera melangkah dan membuka pintu. Itu adalah Medina yang meminta Daniel untuk turun ke ruang kerja Shamus. Tanpa berkata sedikitpun ia berjalan melewati Medina kemudian turun menuju ruang kerja kakeknya.
Selang beberapa lama, Ara baru selesai mandi. Butuh waktu lebih lama ia membersihkan dirinya karena tangannya yang terluka jadi lebih sulit untuknya bergerak. Saat pintu ia buka, ia tak melihat Daniel di dalam kamar itu. Ia dengan cuek masuk ke dalam Walk in Closet-nya kemudian berpakaian setelah itu menjemput Brandon ke kamarnya. Namun Brandon tidak ada. Tidak ada seorangpun di lorong rumah itu yang bisa ia tanyai, akhirnya ia berjalan menuruni tangga dan mulai mencari anak semata wayangnya itu. Beberapa menit mencari ia akhirnya mendengar suara tawa Brandon di taman barat sedang bermain dengan Eva dan Vela. Eva terlihat sudah baik-baik saja, wajahnya juga sudah seceria biasanya. Langkah terhenti ketika melewati pintu ruang kerja Shamus, ia mendengar suara kemarahan pria tua itu pada Daniel.
Di dalam ruangan, Daniel sedang di intrograsi oleh Shamus, di sana ada Meilyn, dan Sebastian adik sepupunya. Kemarahan Shamus di karenakan meskipun ia diturunkan dari posisinya di dua perusahaan besar yang ia kendalikan, Sebastian tidak bisa melakukan apapun untuk mengendalikan perusahaan itu. Bahkan rapat investor dan pemegang saham yang ia bawahi, tidak ada satupun dari mereka yang bersedia datang. Ini adalah hal yang aneh, mengingat sebelum acara perjamuan makan malam yang di adakan 3 hari lalu semuanya berjalan dengan lancar. Para investor dan pemegang saham mulai mempercayainya untuk memegang TopHill dan DownGrup. Tapi tiba-tiba saja mereka menolak dan menghindar dengan berbagai alasan.
Sebastian memang tidak bisa menghadiri acara keluarga 3 hari lalu, namun Shamus dan Aldric yang sempat memperhatikan Daniel saat berkumpul dengan beberapa kelompok pemegang saham dan juga investor dengan gelagat yang aneh sudah menduga ada yang sedang di rencanakan Daniel. Namun tak mengira ternyata Daniel telah menjalin komunikasi pribadi sebelumnya dan puncaknya saat mereka bertemu di acara malam itu.
"Daniel, apa hak mu melakukan ini pada perusahaan?" ujar Shamus kesal.
"Aku tak melakukan apapun, apa yang bisa aku lakukan ketika aku tak punya jabatan dan juga uang?" Ujar Daniel dingin dengan santai duduk di atas sofa dengan memangku kakinya sambil merentangkan tangannya pada kedua sisi sofa. Ia terlihat tenang dan santai menghadapi kemarahan Shamus. Bahkan Meilyn yang berada di sana juga tak habis pikir anaknya bisa sesantai itu padahal kakeknya sedang marah besar padanya.
"Aku tak mengira kau bisa diam-diam bergerilya merencanakan hal ini untuk membalasku Daniel"
"Aku tak membalasmu, aku juga tak membicarakan apapun pada mereka malam itu, hanya sebuah ancaman kecil tak ku sangka mereka begitu serius" ujar Daniel sambil menatap Kakeknya tersenyum sini, matanya kemudian beralih pada Sebastian. "Dan kau adik sepupu.. dengan posisi teratas mu diDown Grup dan juga TopHill, tak bisakah kau menghandle masalah ini sendiri sampai harus mengadu pada kakek? haha" tawa Daniel pecah mengejek adik sepupunya yang berusia tak jauh beda dengannya.
Sebastian mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam menahan amarah dan ejekan sepupunya itu. Sebastian mengenal Daniel sejak kecil, ia tahu betul seberapa angkuh dan dinginnya tapi juga tak pernah membayangkan ia bisa di ejek seperti ini hari ini. Daniel akhirnya berdiri dan mendekati Sebastian dengan mata tajamnya dan menyapu bahu sebastian seakan ada debu di sana.
"Jika ingin bermain dengan ku maka bermainlah pakai otak, pria dewasa bersaing dengan otaknya bukan mulutnya"