Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 126: Siapa yang kau sebut priamu itu?



Setelah mengucapkan hal tadi, Ara segera pergi menuju tempat Daniel berada meninggalkan perkumpulan ibu-ibu sosialita itu. Ara mendekati Daniel yang sedang berbincang ringan dengan Aldric dan seorang kolega. Semakin dekat dengan Daniel, Ara semakin melihat jelas Aldric di sana yang sedang dengan bangga menggendong putra semata wayangnya itu. Langkah Ara semakin lama semakin bergetar. Bagaimana ia bisa lupa dengan pria yang sedang menggendong anaknya itu. Karena pria itu, ayahnya marah besar, ia sangat cemburu pada ibunya dan sejak saat itu membuat hidup Ara dan Deasy semakin menderita.


Daniel melihat Ara mendekat pun segera menoleh dan meraih pingganya rampingnya.


"Ara, kenalkan dia ayahku" ujar Daniel lembut, Aldric menatap Ara dengan senyuman lembut berbeda dengan Ara yang setelah mendengar ucapan Daniel bahwa ia adalah ayahnya rasanya seperti guntur dan kilat memporak porandakan hatinya. Wajah Ara kelabu, tak membalas senyuman Daniel maupun Aldric. Aldric yang melihat reaksi Ara, ia segera menoleh pada Daniel dan berkata,


"Daniel, aku perlu bicara dengan istrimu sebentar, kau bawalah Brandon bersamamu dulu"ucap Aldric. Mendengar ucapan Aldric, Daniel sempat ragu namun Daniel tak menolak sama sekali hanya mengambil Brandon dari gendongan Aldric kemudian berjalan pergi. Ara tak memperhatikan Daniel sama sekali, wajahnya hanya terpaku pada Aldric di depannya.


" Ayo, Ara ikut aku" ujar Aldric kemudian membawa Ara ke sebuah sudut ruangan menjauhi kerumunan. Aldric mengambil dua buah gelas White wine kemudian memberikannya satu pada Ara.


"Jadi kau adalah ayah Daniel?!"


"Benar"


"Kau sengaja membuat anakmu mendekatiku untuk menebus kesalahanmu pada kami kah? kau tahu tidak berapa sulitnya hidup kami setelah ayahku memergokimu yang sering datang ke rumah kami? tahu tidak? kau tahu tidak ayahku semakin membenci ibuku karena kamu?! sekarang kau malah hadir menjadi ayah dari Daniel! ibuku sudah tidak ada dan kau masih berusaha membuatku lebih menderita?!" ujar Ara hampir tak bisa menahan emosinya. Daniel yang memperhatikan Ara dan Aldric dari jauh melihat aura kemarahan Ara membuatnya ingin sekali datang dan mendengarkan apa yang sedang terjadi antara mereka. Tapi tentu saja itu tidak bisa dia lakukan.


Aldric menghela nafas panjangnya, berusaha tetap tenang menghadapi emosi Ara.


"Ara, aku tak pernah bermaksud membuat hidup kalian semakin menderita. Aku memang merasa bersalah pada ibumu karena cerita masa lalu kami tapi tak tahu kalau ayahmu akan seperti itu pada kalian dan juga masalah Daniel, aku tak pernah membuatnya atau memintanya jatuh cinta padamu. Ia mencintaimu karena dirinya sendiri, aku tidak tahu menahu soal itu. Jadi kau jangan salah paham tentangnya Ara, dia benar-benar mencintaimu"


"Siapa yang tahu apa yang ada di hatimu,"


"Aku berani jamin aku mengatakan yang sebenarnya, meski bagaimanapun dia mencintaimu dengan tulus"


"Jadi,dia sudah tahu siapa aku sebenarnya sejak dulu?"


Aldric tak bisa menjawab apapun, masalah ini dia sama sekali tidak tahu. Ia hanya diam dan Ara mulai tersenyum ketus.


"Bagus, kalian memang keluarga munafik! Aku sampai tidak tahu lagi siapa yang harus aku percaya," Ujar Ara kemudian setengah berlari keluar dari Ballroom. Air matanya mulai menetes,


"Daniel, pantas saja kau mencintaiku, memperhatikan ku, menjagaku, kau pasti merasa bertanggung jawab padaku karena kesalahan ayahmu! jadi semua ini palsu, kau menipuku!" ujar Ara terus berlari dan menaiki tangga. Di atas tangga, ia melihat Windy dan Meilyn sedang berdebat, ketika Ara datang Meilyn meninggalkan Windy dan masuk ke dalam kamarnya. Windy menoleh ke belakang, ia mendapati Ara berdiri menyaksikan perdebatan mereka. Dengan wajah penuh air mata, Windy menyeka dengan punggung tangannya. Ia kemudian berjalan dengan penuh rasa kesal dalam hatinya. Jika bukan karena Ara, semua rencananya pasti tidak akan seberantakan sekarang.


Ara dengan malas menatap Windy dan berusaha melewati Windy begitu saja. Kepalanya sudah penuh dengan emosi tentang masalah barusan, tidak ingin menambah rumit lagi dengan memperdulikan Windy.


"Kau yang hancur karena dirimu sendiri kenapa menyalahkan orang lain?!" ujar Ara dengan nada mengejek tanpa menoleh sedikitpun pada Windy semakin mengepalkan tangannya lebih kuat.


"Kau ini memang sialan! tak punya malu! kau sadar tidak sekotor apa dirimu hingga merasa pantas berada di samping Priaku?"


Ucapan terakhir Windy membuat Ara tersenyum ketus dan dengan berat hati menoleh ke belakang menatap wajahnya Windy yang sudah merah padam itu.


"Priamu? siapa yang kau sebut priamu itu? Daniel?! dia hanya menyukaiku dan tak menyukaimu, bagaimana bisa kau sebut dia priamu? kau ini menjijikkan!"


"Apa kau bilang?! aku menjijikkan?! lalu kau sebut apa dirimu sendiri itu! dasar rubah!"


"Terserah kau mau bilang apa, yang jelas aku berhasil memiliki hatinya dan kau gagal, jadi sebaiknya kau terima saja dan cari orang lain!" ujar Ara seperti sebuah bongkahan es, Ara tak percaya dia bisa mengatakan hal seangkuh ini, dengan cuek ia melangkahkan lagi kakinya untuk naik ke atas, namun Windy seketika menarik tangan Ara dengan kasar membuat Ara kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.


"Ara!!" pekik Windy berusaha meraih tangan Ara namun tak berhasil.


Tubuh Ara berguling hebat, kepalanya membentur setiap sudut anak tangga membuat kepalanya seketika berlumuran darah ketika sampai di bawah.


Sebenarnya Windy tak bermaksud untuk membuat Ara terjatuh tapi tarikan tangannya barusan memang terlalu kasar sehingga wajar jika Ara kehilangan keseimbangannya dan jatuh ke bawah.


Di sisi lain...


Daniel yang sejak tadi melihat percakapan Aldric dan Ara, ia melihat perubahan emosi di wajah Ara. Apalagi ketika istrinya itu berlari meninggalkan Aldric, Daniel segera memanggil pelayan untuk membawa Brandon kembali ke kamarnya setelah itu ia berlari menuju Ayahnya dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


Aldric akhirnya membuka suaranya, ia menceritakan setiap detil percakapan mereka. Daniel lagi-lagi harus menghela nafas.


"Ara, kenapa kau hobi sekali salah paham padaku?! kapan kau bisa percaya padaku sepenuhnya?! agh" gerutu Daniel dalam hati. Dengan cepat ia berlari berusaha menyusul Ara, namun pandangan matanya terhenti ketika ia melihat Ara bersimbah darah dan Windy masih berdiri mematung di atas tangga. Daniel semakin berlari mendekati Ara. Kepanikan muncul dari matanya,


"Windy! sebenarnya apa yang sedang terjadi?!!!"


"Daniel... Daniel.. bukan.. bukan aku yang mendorongnya! aku tidak salah! aku tak bermaksud begitu" ujar Windy dengan sangat ketakutan. Daniel bisa melihat wajah Windy yang memutih dan tubuhnya bergetar.


Daniel tak punya banyak waktu menggubris Windy, dengan segera Daniel membopong tubuh Ara yang bersimbah darah itu masuk kedalam mobil dan membawanya ke rumah sakit dengan panik.