Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 87: Itu Ara, benarkan?!



"Daniel, 2 tahun sudah berlalu, apakah kau masih akan terus seperti ini? kau membuat ku semakin khawatir"


Tritan menatap wajah Daniel dengan rasa cemas tak tergambarkan. Ia menatap serius pada Pria dewasa di sampingnya ini. Pria itu setiap hari tak pernah absen untuk duduk di bar club house TopHill. Pandangannya kosong menatap gelas cocktail di depannya.


"Dengan cara apa lagi aku bisa mencarinya? semuanya sudah ku upayakan tapi ia tetap tak di temukan" ujar Daniel dengan tatapan nanar tanpa menoleh sedikit pun pada Tritan.


"Daniel, berhentilah, jika memang Ara jodohmu dia akan datang meskipun kau tak mencarinya, bagaimana kalau kau ikut saja denganku ke kota G? besok temanku mengadakan pesta, di sana banyak gadis-gadis cantik, siapa tahu kau akan terhibur" Tritan tersenyum penuh harap pada Daniel. Daniel menoleh tersenyum ketus.


"Mencari wanita cantik jauh-jauh ke kota G buat apa? disini kekurangan wanita kah?"


"Aku bosan dengan wanita di sini, bagaimana? kau ikut?"


" Kau bertahun-tahun bersamaku, masih tidak tahu juga aku seperti apa?"


"Oke kalau kau tak ingin mencari wanita, setidaknya mencari udara pegunungan yang segar akan lebih baik untukmu, kau tak bisa terus berada di kotak tinggi ini, keluarlah itu mungkin bisa sedikit menjernihkan pikiranmu"


Untuk beberapa detik Daniel tak menjawab Tritan. Ia membalikkan tubuhnya menatap kerumunan orang yang sedang menari dengan gembira di tengah ruangan.


"Bagaimana?Jangan sia-siakan umurmu, bersenang-senanglah, jika seperti ini kau akan mati sia-sia" Ujar Tritan bertanya sekali lagi pada Daniel. Daniel menatap Tritan kemudian menjawab dengan wajah datar. "Oke,baiklah" .


Seperti salah dengar, Tritan tak menyangka Daniel benar-benar akan menyetujui ajakannya pergi ke kota G. Tritan tersenyum bahagia, setidaknya sahabatnya itu bisa mendapat hiburan barang sedikit. Jika terus seperti ini dia akan mati muda.


*** Kota G***


Daniel saat ini mengenakan kaus polo putih lengan panjang, celana panjang santai berwarna coklat dan juga kaca mata hitam. Wajahnya masih terlihat tampan, ia menuruni tangga pesawat bersama Tritan. Langkah kaki lebar mereka berhenti saat sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka.


"Tuan muda Hong dan Tuan muda Qin, silahkan!" Seorang pria paruh baya menyambut Tritan dan Daniel sambil membuka pintu,"Terimakasih paman Zang" seru Tritan, tak menunggu lama Daniel dan Tritan masuk ke dalam mobil.


Kota ini, kota yang hampir saja mempertemukan Daniel dan Ara, namun karena salah paham di kota ini juga lah mereka berpisah dan tak pernah bertemu lagi hingga sekarang. Sepanjang perjalanan Daniel hanya terdiam, menghela nafas sambil menyembunyikan mata sendunya di balik kaca mata hitam yang ia kenakan.


Mobil itu melaju menuju Villa keluarga Hong di kota G. Villa itu berada di atas bukit tertinggi di kota G. Dari sana, mereka bisa melihat hampir seluruh kota dari balkon. Setelah sampai Daniel dan Tritan masuk ke dalam kamar masing-masing. Pemandangan terbaik berada di kamar Daniel, Tritan sengaja mengalah pada Daniel. Di banding dirinya, Daniel lebih membutuhkan pemandangan dan udara segar kota G.


"Daniel, kau mau ikut aku tidak bertemu gadis-gadis?!"


Suara Tritan tiba-tiba terdengar, Daniel yang sedang berada di balkon pun menoleh ke arah pintu kamar. Ia melihat Tritan di ambang pintu dengan tersenyum.


"Pergilah, aku ingin di sini"


"Baiklah, nanti malam paman Zang akan menjemputmu, aku tunggu di sana ya"


"Oke!"


Brakk.. Terdengar suara pintu tertutup.


***


"Kita akan kemana Tuan Muda?" Tanya paman Zang.


"Kita ke Queen Hotel"


Akhirnya mobil berjalan lambat menuruni jalan berkelok. Tritan membiarkan kaca jendelanya terbuka, ia membiarkan angin masuk ke dalam mobil.


"Paman kau begitu awet muda, apa karena udara di kota ini sangat sejuk?" tanya Tritan pada Zang, Zang pun tertawa.


"Tentu saja tuan muda, di banding kota besar saya lebih suka berada di kota ini, meskipun tak terlalu besar tapi udaranya sangat segar"


"Pantas saja gadis-gadis di sini begitu can...... tik..." Suaranya tiba-tiba menghilang, matanya terbelalak tetegun ketika mobilnya menyalip seorang gadis bersepeda yang terlihat begitu cantik memakai baju terusan bermotif bunga lily, topi Floppy coklat dan rambut tergerai indah menambah cantik dirinya.


"Paman!! paman.. jalannya lebih lambat, ikuti gadis itu!!" Titah Tritan pada Zang dengan suara tinggi, Zang yang terkejut hanya bisa menganggukan kepalanya dan berusaha mengikuti kemana gadis itu pergi.


"Ara?! benarkah yang aku lihat? benarkah?!" batin Tritan masih tertegun. Matanya tak lepas dari gadis bersepeda itu. Akhirnya gadis itu berhenti di sebuah toko roti. Tritan pun ikut berhenti dan ikut masuk ke dalam toko itu. Dengan ragu-ragu ia mendekati gadis yang sekarang sedang terlihat memilih-milih roti.


"Ara!!" seru Tritan ragu-ragu.


"Ya?!" Ara menoleh, sekilas menatap Tritan dengan wajah aneh. Dengan cepat Tritan menggengam lengan Ara dan memeluknya.


"Ara.. kau benar Ara!! " Ara yang terkejut, ia pun segera melepaskan pelukan Tritan dan


Plakkk... sebuah tamparan keras mendarat di pipi tuan muda itu. Tritan tertegun.


"Dasar pria mesum!!! kau pikir aku wanita murahan?!! berani sekali kau tiba-tiba memelukku, cari mati,huh?!" Ara membulatkan matanya, amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. Melihat Tritan yang masih terdiam menatapnya, Ara kemudian berjalan cepat meninggalkan Tritan. Namun lengannya segera di tahan, langkahnya terhenti.


"Ara, kau ini kenapa?! kau tak ingat aku? aku Tritan!! Tritan Hong"


"Lepas Tuan! siapa kau? aku tak kenal! sepertinya kau sudah salah mengenali orang!!"


"Tidak, aku mungki bisa salah mengenali gadis lain selain kamu! kau ayana Diandra Romanof, putri kelima keluarga Romanof"


.Kali ini Ara tertegun, pria ini mengetahui namanya. Tapi ia teringat pesan Meira dan Xander. Untuk tidak memberitahukan identitas aslinya pada pria asing. Ia pun tersenyum pada Tritan.


"Anda benar-benar salah orang, namaku Tiara bukan nama wanita yang kau sebutkan tadi. Permisi!" Dengan langkah cepat Ara meninggalkan toko itu. Tritan tak menyerah, ia terus mengikuti Ara hingga ia menghilang di balik pagar rumah besar.


"Paman, apa kau tahu ini rumah siapa?!"


"Ini kediaman keluarga Li, Tuan"


"Li? Paman selidiki keluarga Li dan lihat siapa saja anggota keluarganya. Aku ingin tahu siapa gadis yang bernama Tiara itu"


"Baik, Tuan Muda"


***


Daniel saat ini sedang berjalan-jalan di sekeliling Villa milik keluarga Hong. Villa tersebut memang sangat besar. Pemandangan di sana memang sangat bagus, beberapa saat ia duduk di sebuah gazebo, ponselnya bergetar. Dengan malas ia merogoh kantong celananya mengambil ponselnya. Itu sebuah pesan dari Tritan. Daniel membuka kunci layarnya dan melihat isi pesannya. Saat pesan terbuka, jantung Daniel seakan hendak berhenti, tangannya bergetar saat ia lihat pesan yang di kirimkan Tritan, ia mengirimkan 4 pesan gambar dengan objek yang sama.


2 foto pertama menampilkan seorang wanita cantik bersepeda dan 2 lainnya dengan gadis yang sama sedang berada di toko roti. Seperti sedang bermimpi, Daniel berkali-kali mengedipkan matanya untuk memastikan apa yang ia lihat bukan sebuah halusinasi. Bahkan ia berkali-kali memperbesar foto gadis itu. Di lihat dari manapun wajah gadis itu sungguh mirip dengan Ara. Dengan tangan bergetar, Daniel menghubungi Tritan.


"Tritan, apa itu Ara?! itu Ara, benarkan?!"