Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 133: Jadi kau mengerti tidak nyonya Qin?



"Kevan, apa kau benar-benar berpikir aku wanita seperti itu?" tanya Ara dengan tatapan tajam pada Kevan. Kevan seakan tak peduli hanya tersenyum dan meletakkan cangkir di atas meja.


"Kenapa menyembunyikan hal ini dari ku Ara? apa kau sengaja membalas sakit hati mu padaku dengan meruntuhkan perusahaanku?"


Ara semakin bingung,


"Meruntuhkan perusahaanmu? apa maksudnya?"


"Apa dia tidak cerita bahwa karena cemburu padaku dia membuat perusahaan keluargaku jatuh dan sampai hari ini kami masih berusaha bangkit" ujarnya sedikit emosi terlihat dari wajahnya. "Tapi aku dengar dia juga kehilangan perusahaannya sekarang, jadi kau tetap mau bersamanya? dia tidak memiliki apapun sekarang" sambungnya


"Kau dulu dan sekarang masih tidak berubah, selalu memandang rendah orang lain. Aku menyesal kenapa Daniel tidak membuat mu bangkrut saja agar kau bisa berubah", " aku harus pergi, suami dan anakku menungguku di rumah, terimakasih tehnya" Ara kemudian bangun dari duduknya dan hendak pergi namun tangannya di raih dengan cepat oleh Kevan, "Ara".


"Kevan, kau salah menilaiku" ujarnya kemudian melepaskan tangannya dari Kevan dan melangkah pergi. Kevan tak mengejarnya ia hanya memandangi sosok cantik yang keluar dari pintu itu.


Ara membuka pintu kafe dengan marah, bisa-bisanya sepagi ini di buat kesal olehnya. Dalam hati Ara selalu bertanya kenapa jika bertemu dengan Kevan moodnya selalu berubah jadi tidak baik, jika bisa ia ingin tak lagi bertemu dengan pria itu. "Sungguh menjengkelkan" batinnya sambil melangkah pergi.


"Teh pagi diminum bersama mantan apakah rasanya lebih enak??"


Suara berat seorang pria terdengar bergemuruh di telinga Ara. Langkahnya seketika membeku, uratnya mulai menegang. Daniel yang sejak tadi berdiri di samping mobilnya hanya dia lewati begitu saja, ia tak sadar sesosok pria sedang mengawasinya dengan aura mengerikan. Ara kemudian menoleh ke belakang. Jarak mereka hanya sekitar 3 langkah,


"Da.. Daniel" ujar Ara takut-takut. Mata Daniel mengedar melihat kantung belanjaan Ara. "Jangan salah paham, aku tidak... "


"Ayo,pulang" sela Daniel sambil merebut kantung belanjaan Ara dan memasukan 2 anjingnya ke dalam mobil. Sepanjang jalan Daniel tak berkomentar apapun, hanya diam, wajahnya misterius. Beberapa kali Ara berusaha menjelaskan tapi justru ditolak oleh Daniel. Sesampainya di rumah, langkah cepat Daniel menuju dapur. Ara membantu Daniel membereskan belanjaannya.


"Daniel, kau sedang marah? sini biar aku yang masak untukmu" tanyanya sambil merebut sayuran di tangan Daniel. Daniel tertegun beberapa saat tapi kemudian ia justru mendorong tubuh Ara mundur hingga pinggangnya membentur counter meja dapur. Pria jangkung di depannya merentangkan tangannya dan menopangkannya di atas meja membuat tubuh Ara terjepit di tengah-tengah, wajah Daniel maju mendekati wajah Ara hingga hanya menyisakan beberapa senti saja.


"Iya aku marah, jadi lebih baik diam dan duduk di sana" ujarnya sambil menunjuk kursi meja counter di belakang kepala Ara, meskipun terdengar dingin tapi wajahnya lembut. Ara tak berani berkata apapun dan langsung menurut duduk di tempat yang Daniel minta seperti seekor kelinci yang sedang ketakutan wajah Ara membuat Daniel tersenyum kecil.


Tanpa basa basi Ara duduk kemudian memperhatikan Daniel memasak.


"Pesona pria ini memang sulit tertandingi,meskipun ia miskin pun aku tetap merasa beruntung memiliki pria sepertinya" batin Ara senyam-senyum sendiri sambil memperhatikan suaminya memasak.




Beberapa menit berlalu, makanan telah selesai di masak. Wangi harum masakan Daniel seketika membuat perut siapapun termasuk Ara bergemuruh minta cepat di isi. Daniel memanggil Ara mendekat, memberikannya dua porsi makanan di atas tangannya dan mendekatkan wajahnya. Jantung Ara berdebar.



"Sepanjang kau melihatku memasak kau tak berhenti tersenyum kenapa? apa kau baru menyadari aku lebih tampan dari mantanmu?" bisik Daniel, matanya menancap lekat pada manik mata Ara membuat Ara sesak napas beberapa saat. Namun setelah mendengar ucapan Daniel barusan meskipun benar, Ara tetap mengerlingkan matanya dan menghela napas panjang.


"Daniel, kau tahu tidak apa yang paling menjengkelkan dari dirimu itu? kau terlalu narsis" ujarnya kemudian membawa makanan itu ke atas meja makan berlalu dari hadapan Daniel. Daniel terkekeh kecil mendengar ucapan Ara yang seakan tidak mengakui perasaannya sendiri. Ia kemudian membuka apronnya dan berjalan menyusul Ara yang sudah duduk di depan meja makan.


"Brandon, kau memiliki keluarga yang bahagia. Kau pasti senang" bisiknya pada Brandon dengan suara rendah, Brandon yang sedang sibuk memakan satu demi satu makanan di atas high chair nya tak menggubris ucapan Lisa barusan.


"Daniel, kenapa kau menjatuhkan perusahaan Wingsley?"


"Apakah masih belum jelas bahwa aku tidak suka dengan mantanmu?"


"Jadi benar kau curiga dan cemburu padanya?"


"Hemm, tentu saja. Di dunia ini orang yang paling bisa aku curigai adalah dia. Setelah kejadian kau di kantornya beberapa tahun lalu siapa lagi yang bisa aku curigai?"


"Tapi aku hilang juga bukan karena dia, kenapa tetap menjatuhkan perusahaannya?"


Daniel tidak menjawab, wajahnya datar seakan tak mendengar pertanyaan Ara barusan. Ia hanya terus menyuap makanan masuk ke dalam mulutnya.


"Daniel" tanya Ara semakin mendesak Daniel untuk bicara.


"Apa kau tadi ke ruang kerjaku?" tanya Daniel tetap berusaha mengabaikan pertanyaan Daniel mengenai perusahaan Wingsley.


"Hemm iya, mencari dokumen keuangan Firegate tapi tak berhasil menemukannya"


Setelah selesai makan, Daniel membawa Ara masuk ke dalam ruang kerjanya, membuatnya duduk di belakang meja kerja sedangkan Daniel berdiri di belakang membuat Ara berasa di antara lengannya. Tangannya menyalakan komputer dan membuka sebuah dokumen rahasia di dalam komputer itu.


"Pantas saja tidak ketemu, dia menyembunyikan folder nya, dasar bodoh kenapa tak terpikirkan" batin Ara mengutuk kebodohan dirinya sendiri.


File keuangan terbuka, lamunan Ara tentang Daniel buyar dan mulai fokus pada dokumen itu tapi apalah daya, baik dulu sampai sekarang ia belum benar-benar mengerti tentang laporan itu. Sedangkan ia harus menyelidiki masalah keuangan ini secepat mungkin agar masalahnya dengan Firegate cepat selesai dan cepat membuat Clara merasakan karmanya. Beberapa lama Daniel menjelaskan, Daniel menoleh melihat wajah Ara yang bingung sambil tertawa kecil.


"Jadi kau mengerti tidak nyonya Qin?" tanya Daniel meledek Ara, Ara seketika mengerucutkan bibirnya kesal. Membuat Daniel semakin tertawa.


"Mengerti, tentu saja mengerti tapi kepalaku jadi pusing, minggir dulu" ujar Ara berusaha menghindari rasa malunya akhirnya tiba-tiba bangun dari duduknya, Daniel seketika mundur dan ikut berdiri setelah beberapa lama membungkuk.


"Kau mau kemana?" tanya Daniel.


"Mandi" jawab Ara tanpa menoleh, setelah di ambang pintu Daniel mengangkat tubuh Ara membuat Ara seketika melingkarkan tangannya di leher Daniel.


"Ayo mandi bersama," ujar Daniel.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dear guys, maaf yaa telat upnya, belakangan ini lagi gak enak badan jadi telat. Makasi banyak yang udah pada nungguin, novel ini hampir tamat jadi stay tune yaa, jangan lupa vote, like, komen... 🥰🥰🥰