
Elly malam itu sedang berencana merayakan promosinya di FireGate. Sebenarnya ini sudah sangat terlambat untuk di rayakan, sudah sejak 2 tahun lalu dan Tritan baru membahasnya. Apalagi ia memintanya untuk mentraktirnya, ia pikir sesekali mentraktir seorang Tuan Muda sepertinya tidak buruk juga dan lagi anggap saja ini hiburan untuknya.
Di tengah perjalanan menuju sebuah Club di kota G. Tritan melihat Daniel dan Ara di depan salah satu restoran, semakin dekat semakin yakin itu benar Daniel dan Ara. Tritan menghentikan mobilnya dan memberitahu Elly siapa yang berada di luar mobil. Elly tertegun, ia seperti tak mempercayai penglihatannya tapi itu benar-benar Ara. Dengan ragu Elly turun dari mobil dan memanggil Ara. Setelah Ara menoleh, ia baru benar-benar yakin itu Ara.
Setelah percakapan singkat mereka di depan restoran itu, Elly dan Tritan membawa Daniel dan Ara pergi ke sebuah Club di kota G. Sesampainya di sana mereka langsung duduk di salah satu meja sofa paling nyaman di dalam club itu. Setelah minuman datang, Tritan segera mengangkat gelasnya untuk bersulang.
"Cheeeersss!! untuk kembalinya Ara dan cheeersss untuk promosi Elly menjadi direktur penanggung jawab di FireGate!!" seru Tritan dengan semangat mengangkat gelasnya yang kemudian di ikuti oleh tiga orang lainnya.
Dentingan gelas koktail terdengar di antara kencangnya suara musik di dalam club. Di antara empat orang yang sedang duduk di sana, hanya Ara dan Daniel lah yang tidak berekspresi sama sekali. Terkadang, mereka saling mencuri pandang dan bertukar kesibukan pikiran masing-masing melalui sotot mata mereka.
Tritan melihat sahabatnya tampak serius sesekali melihat Ara akhirnya berusaha mencairkan suasana dengan merangkul bahu sahabatnya itu.
"Haduh, kalian ini ada apa lagi? baru juga bertemu setelah sekian lama, kalian itu suami istri kenapa seperti bertemu musuh bebuyutan?"
Ara dan Daniel: "...."
"Nyonya Bos, kau tahu tidak? 2 tahun dia mencarimu seperti orang gila, setiap hari putus asa dan mabuk-mabukan sambil memegangi foto kalian. Siapapun yang melihatnya pasti akan kasihan," celetuk Tritan melanjutkan ucapannya.
Ara menoleh pada Daniel, meskipun pria itu terlihat kesal, namun ada senyum kecil di bibirnya barusan. Senyuman itu seperti menjelaskan bahwa yang di katakan Tritan itu benar.
Ara memalingkan wajahnya dan meneguk koktail di depannya. Elly menyenggol lengan Ara kemudian berkata,
"Wah, Ara kau sangat beruntung.. aku jadi iri"
"Tentu saja beruntung, Daniel bahkan tak menyentuh gadis manapun, dia sangat mencintaimu Ara!!" seru Tritan melemparkan senyumannya pada Ara.
"Benarkah dia mencintaiku? jika benar lalu kenapa dia hampir bertunangan dengan gadis lain? cinta macam apa itu?" ujar Ara semakin dingin dan terlihat jelas emosi di setiap kata-katanya. Tritan yang sedang meneguk minumannya langsung tersedak terbatuk-batuk. Ia bahkan merasakan Nyonya Qin itu juga berubah menjadi lebih menyeramkan, Tritan tak menyadari karena ucapannya barusan, jurang antara Ara dan Daniel menjadi lebih besar. Daniel segera menoleh dan melotot pada pria di sampingnya itu, Ia juga menepis tangan Tritan di atas bahunya dan dengan dingin berkata,
"Berani bicara lagi aku buat MD tamat, mau?"
Ucapan Daniel barusan membuat Tritan merasa sangat ngeri dan merinding. Tabiat angkuh dan dingin sahabatnya ini kini sudah kembali.
"Sepertinya bukan hanya Ara yang kembali tapi sifat mengintimidasi mu pun ikut kembali Daniel dan itu sangat menyebalkan!! kalian benar-benar jodoh, sangat mirip" Ujar Tritan setengah tertawa. Daniel dan Ara sontak melemparkan tatapan kesalnya pada Tritan secara bersamaan. Senyuman Tritan pun seketika memudar.
Di sela obrolan itu, Elly kemudian mencondongkan tubuhnya lebih menghadap Ara. "Ara, kau kemana saja 2 tahun ini? aku dengar kau amnesia, apa kau juga lupa padaku?"
Ara tak langsung menjawab, ia hening sejenak dan kemudian tersenyum menoleh pada Elly.
"Tentu saja aku ingat padamu, bagaimana bisa melupakanmu?"
Entah kenapa, mendengar ucapan Ara barusan ada perasaan aneh di dadanya. Ara mengucapkannya sangat ringan dan dengan senyuman di bibirnya, tapi senyuman itu terlihat hambar.
"Be.. benarkah? kau ingat aku bagaimana?"
"Tentu saja aku ingat padamu, kau sahabatku. Lalu kenapa sekarang wajahmu pucat begitu?oh ya Elly, kapan terakhir kali kita bertemu?"
Pertanyaan Ara sontak membuat Daniel dan Tritan yang sibuk berbincang tiba-tiba diam dan menoleh pada dua wanita yang duduk di samping mereka.
Pertanyaan Ara mewakili pertanyaan Daniel dan Tritan selama dua tahun ini. Daniel bisa melihat perubahan wajah Elly yang tiba-tiba canggung dan gugup.
Ara kemudian mengangguk dengan tatapan penuh dengan pikiran yang melayang-layang di kepalanya. Pikirannya semakin rumit.
"Kau sedang memikirkan apa Ara?" tanya Daniel tiba-tiba.
"Tidak ada," Ara tersenyum dingin sekilas kemudian meminum lagi. "Baiklah, aku harus kembali ke rumah sakit, kalian bersenang-senanglah, sampai jumpa"
"Ayo, aku antar" seru Daniel.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri"
"Aku tetap akan mengantarmu,"
Ara bangun dengan sedikit menghela nafas, " Terserah kau saja lah", ucapnya singkat.
Elly melihat Ara bangun dari duduknya, ia tak bereaksi apapun. Tak mencegahnya juga tak melarangnya. Ia memasang wajah aslinya yang dingin menatap Ara dan Daniel yang keluar ruangan itu.
"Kenapa aku merasa ia tak seperti kehilangan ingatannya?" batin Elly.
***
Daniel membawa Ara masuk ke dalam mobil namun Ia tak lantas menyalakan mesin mobilnya. Beberapa saat ia terdiam dan memandangi Ara yang juga diam membuang wajahnya ke luar jendela.
"Daniel, jika benar kita pernah sangat dekat 2 tahun lalu, apa kau tahu bagaimana hubunganku dengan Elly saat itu?" Ara tiba-tiba menoleh pada pria di sampingnya ini. Daniel semakin dalam menatap manik mata Ara yang terlihat sangat serius itu
"Katakan padaku kenapa kau bertanya?"
"Tidak ada, aku hanya ingin bertanya saja"
"Kau sangat dekat dengannya, sepertinya kalian benar-benar bersahabat baik. Apa kau ingat sesuatu tentangnya? kenapa wajahmu sangat aneh ketika melihatnya Ara?"
"Entahlah Daniel, sepanjang aku bersamanya, di hatiku seperti tak merasa bahagia seperti layaknya seseorang bertemu dengan sahabat baiknya. Perasaan ini justru sangat bertolak belakang, maka dari itu aku bertanya padamu sekarang"
"Hemm begitu," Daniel mengangguk, ia memalingkan wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu. "Jika kau merasa begitu , apa mungkin perasaanmu ini ada hubungannya dengan kejadian yang menimpamu dua tahun silam? Bagaimanapun jabatan yang di tempati oleh Elly sekarang adalah jabatanmu dulu di FireGate. Namun ketika aku datang mencarimu ke sana sesaat setelah aku mendengar kau kembali ke kota A, aku bertemu dengan kakak tirimu,Clara.
Dia ia mengatakan Cliff telah menyerahkan semua aset termasuk perusahan padanya dan kau telah masuk ke dalam daftar hitam di perusahaan itu. Yang aku tahu beberapa waktu sebelum kejadian itu, kau pernah mengatakan padaku kakekmu memintamu mengawasi Clara dan saudaramu yang lain, bahkan kau memintaku membantumu menyelidiki keuangan perusahaanmu waktu itu. Bagaimana bisa kemudian Cliff menyerahkan perusahaan dan asetnya pada orang yang sebelumnya ia curigai? dan yang lebih anehnya lagi beberapa minggu setelah kau hilang, Elly secara ajaib menggantikan posisimu di sana, bukankah itu aneh Ara?"
"Benar, itu sangat aneh..lalu siapa Cliff?"
"Cliff adalah Peter, dia adalah kakek kandungmu"
Ucapan Daniel membuat Ara sangat terkejut. Ia benar-benar tak habis pikir.
"Peter adalah kakek kandungku?berarti selama ini Peter sudah tahu bahwa aku adalah cucunya? lalu kenapa dia diam saja???" Tanya Ara sambil mengepalkan tangannya karena kesal, kenapa ia merasa semua orang menyembunyikan kebenaran dari matanya. Daniel buru-buru menangkap lengan Ara yang terlihat terkejut dan emosi itu.
"Ara dengar, jika saat ini kau sedang berpikir untuk marah pada semua orang termasuk aku dan Cliff ,aku mohon urungkan niatmu itu! Aku berani jamin aku dan Cliff adalah satu-satunya orang yang berada di belakangmu saat kau harus berhadapan dengan keluarga Romanof-mu itu. Sekarang, yang kehilangan dan yang merasa di permainkan bukan hanya kau seorang Ara, kakekmu juga kehilangan dan juga dipermainkan oleh keluarganya yang lain hingga ia kehilangan semua harta hasil jerih payahnya. Sekarang pilihan ada di tanganmu, kau tetap akan bersembunyi dari masa lalumu, membiarkan mereka tertawa di atas penderitaan kalian seperti ini atau mencari tahu kebenaran dari masa lalu yang kau anggap buruk itu bersamaku?percayalah aku bisa membantumu!" Seru Daniel menggenggam tangan Ara.