Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 104: Daniel, apa kau pernah merobohkan apartemen ku?



Setelah mengantar Ara dan Brandon pulang, Daniel kembali ke kediaman keluarga Hong dan mencari Tritan namun Tritan tidak ada. Ia segera menghubungi Tritan dan menanyakan dimana keberadaanya.


"Dimana kau sekarang?" tanya Daniel.


"Di pemandian air hangat, the Breeze"


"Baiklah aku kesana!"


***


Daniel membuka pintu kamar VIP pemandian air hangat the Breeze. Pintu terbuka langsung terlihat Tritan berendam di kolam air hangat bersama dua wanita cantik memakai bikini, membuat Daniel menggelengkan kepala dan mengerutkan alisnya. Ia kemudian masuk, berjalan dan duduk di kursi santai di pinggir kolam.


"Haisssh Daniel, bisakah kau merubah ekspresi jelek mu itu jika bertemu denganku?"


Daniel mengacuhkan ucapan Tritan, ia hanya mengangkat botol wine dingin di dalam ember es dan menuangkannya ke dalam gelas.


"Tuan, dia begitu tampan apanya lagi yang harus di rubah.. jika dia mau aku juga bersedia menemaninya bermain" ucap salah satu gadis di samping Tritan. Tritan pun terkekeh dan menoleh pada gadis itu.


"Dia tampan tapi tidak normal, dia tak suka gadis-gadis cantik seperti kalian" Tritan setengah tertawa.


"Ma.. maksudnya dia gay?" Tatapan mata gadis-gadis itu seketika berubah menatap Daniel dengan pandangan menjijikkan.


"Sangat di sayangkan sekarang pria kekar berotot justru menyukai sesama jenis, padahal kami menghabiskan banyak uang untuk merawat tubuh kami, bukanlah sangat kejam?" bisik salah satu gadis.


Daniel tersenyum sinis mengacuhkan pandangan gadis-gadis itu


"Aku punya urusan pribadi dengannya, kalian pergilah" Ujar Daniel sangat dingin. Mendengar kata "Urusan Pribadi" dari mulut Daniel pada Tritan ditambah wajah dinginnya, gadis-gadis itu sukses salah paham pada Daniel dan Tritan. Mereka segera menoleh pada pria di samping mereka dengan pandangan yang sama menjijikkannya seperti yang di terima Daniel beberapa saat lalu. Setengah tergesa-gesa mereka segera bangun dan pergi meninggalkan Tritan.


"Hei gadis-gadis!! kalian mau kemana? aku bukan Gay, jangan pergi!!" pekik Tritan pada mereka yang hampir menghilang di balik pintu. Daniel tertawa bahagia dan Tritan mendengus kesal.


"Kau boleh tak menyukai gadis cantik, tapi bisakah tak menjatuhkan harga diriku? bisa gawat jika tersebar rumor aku Gay!" ucap Tritan sambil keluar dari kolam air hangat itu dan memakai baju handuknya kemudian duduk di samping Daniel.


"Malam hingga pagi kau bermain dengan Elly bagaimana bisa sekarang kau berendam dengan gadis-gadis?!sungguh playboy yang berbakat"


"Bagaimana kau tahu aku bersama Elly hingga pagi?"


Daniel tak menjawab pertanyaan Tritan ia hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya sambil meneguk wine dalam gelas di tangannya.


"Apa kau tahu dimana Elly sekarang?" tanya Daniel.


"Entahlah, beberapa jam lalu dia bilang dia akan pergi ke suatu tempat dan tak membiarkanku mengantarnya, sebenarnya ada apa? "


Wajah Daniel sangat rumit kali ini, ia tak bisa tak mencurigai Elly, apalagi ia dan Ara melihat orang yang sama di sudut gedung saat kejadian tadi. Panjang lebar Daniel menceritakan titik permasalahanya pada Tritan. Tritan sangat terkejut apalagi saat mengetahui kemungkinan Elly berada di balik kejadian ini.


"Aku butuh bantuan mu untuk mengecek kamera CCTV di setiap sudut jalan itu. Sementara ini mungkin aku akan pergi bersama Ara dan Brandon."


***


Keesokan harinya, Ara dan Brandon di antar oleh Xander dan Meira ke bandara. Sesampainya di sana, mereka melihat Daniel berdiri sibuk memainkan ponselnya.


Brandon yang juga melihat Daniel tersenyum berlarian sambil memanggil namanya.


"Om Danieeell!!"



Seketika senyum Daniel merekah melihat jagoannya berlari ke arahnya. Dengan sigap ia membuka tangannya dan memeluk Brandon.


"Hai ironman, kau mau kemana hari ini?"


"Kau benar!" senyum Daniel pada Brandon.


Ara, Xander dan Meira ikut tersenyum mendengar ucapan Brandon pada Daniel.


"Ikatan ayah anak memang tidak bisa di hilangkan begitu saja" batin Xander.


Setelah percakapan singkat, Ara, Daniel dan Brandon bergegas check in dan naik ke dalam pesawat. Daniel membawa Ara dan Brandon masuk ke dalam kabin kelas suite. Ara tertegun melihat penampakan kabin pesawat itu.



"Daniel, kelas ekonomi ada di sana, bukan di sini"


Daniel tak menjawab pertanyaan Ara justru terus menggenggam tangan Ara lebih erat membawanya duduk di kursi mereka.


"Daniel, apa kau yakin kita duduk di sini? sepertinya kita salah tempat duduk" tanya Ara kedua kalinya. Daniel kemudian menoleh pada Ara.


"Sayang, kau hanya perlu duduk dan diam, oke?"


Bagaimana Ara tak bingung, tiket pesawat yang ia berikan pada Daniel jelas-jelas adalah kelas ekonomi, bagaimana bisa sekarang jadi kelas suite seperti ini. Tiba-tiba ia menoleh pada Daniel yang sedang bercanda dengan Brandon.


"Daniel, Jangan-jangan kau menukar kelas tiket kita dengan kelas Suite ini?" Ara bertanya dengan wajah penasaran, Daniel sekali lagi mengabaikan ucapan Ara dan terus sibuk bermain dengan Brandon hingga ia harus menggoyangkan lengan Daniel untuk mendapatkan jawaban.


"Daniel, kau dengar aku tidak??!" Ara mulai kesal, begitu juga Daniel yang terus saja di ganggu oleh rengekan Ara. Sepertinya ia tak akan berhenti bertanya jika Daniel tak menjawabnya. Dengan menghela nafas panjang Daniel menoleh pada Ara.


"Iya aku menukarnya dan aku juga membeli semua kursi di kabin ini jadi hanya kita yang ada di sini, bagaimana? sudah puaskah dengan jawabanku, Nyonya Qin?"


"Apa??!! ke..kenapa?"


"Kenapa? tentu saja aku tak suka berada dalam ruangan ssempit apalagi harus satu ruangan dengan orang lain. Lagipula aku ingin Brandon bisa bebas bermain."


“Tentu saja, aku tak nyaman berada di ruangan sempit, bukankah apartemen ini jadi terlihat lebih luas? lebih nyaman kan?


“Jika ingin tinggal di tempat yang luas, tinggal di lapangan saja! bisa-bisanya kau merobohkan apartemen ku tanpa persetujuanku"


Ara tiba-tiba diam dengan pandangan kosong, saat mendengar kata-kata Daniel barusan, sekelebat ingatan masa lalunya tiba-tiba muncul dalam kepalanya.


"Ara, kau kenapa? apa yang terjadi?" tanya Daniel cemas ketika melihat pandangan kosong di wajah Ara. "Klak" jentikan di jari Daniel menyadarkan Ara.


Ara mendongak dan menatap Daniel dengan wajah seperti orang kebingungan. "A.. aku tidak apa-apa! Daniel, apa kau pernah merobohkan apartemen ku?"


Mendengar pertanyaan Ara, seketika Daniel terkekeh geli, ia jadi teringat saat awal mereka menikah dan saat ia mengubah apartemennya menjadi hanya memiliki satu kamar agar ia bisa tidur bersama wanita di depannya ini kala itu. Dengan gemas Daniel menyentuh hidung Ara dengan jarinya lembut.


"Benar, di awal kita menikah aku pernah merobohkan apartemenmu, apa ingatanmu sudah kembali Ara?" mendengar ucapan Daniel Ara segera menggeleng.


"Tiba-tiba aku ingat kejadian itu, lalu kenapa kau merobohkan apartemen ku?


"Karena kamar apartemenmu awalnya ada dua dan kau selalu menolak tidur bersamaku"


"Kenapa aku menolak tidur denganmu? bukankah katamu kita sudah menikah waktu itu?"


"Karena kau belum mencintaiku saat awal kita menikah dulu"


"Bagaimana bisa kita menikah jika tidak cinta?"


"Ceritanya panjang Ara, kau tunggulah sampai kau ingat sendiri, yang jelas seiring berjalannya waktu akhirnya kau mencintaiku. Jika tidak, mana mungkin kau sampai hamil dan melahirkan anakku sekarang" seru Daniel tersenyum dan mencubit pipi Ara lembut. Ara segera memalingkan wajahnya, pipinya seketika merona.