Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 137:Day bleeds...



Beberapa jam sebelumnya...


Setelah melakukannya di ruang kerja Daniel, mereka duduk bersama di sebuah gazebo kecil di tepian kolam berenang sambil memperhatikan Brandon berenang dengan gembira. Ara duduk bersandar di dalam pelukan Daniel, mereka berdua menghadap ke kolam renang dan sesekali tersenyum melihat Anak semata wayangnya tertawa bersama Lisa.


"Seminggu lagi, FireGate akan meresmikan cabang barunya, Clara mengundang semua orang - orang penting yang berhubungan dengan perusahaanmu" ujar Daniel seketika mencuri perhatian Ara. Ara menoleh, wajahnya berubah menjadi lebih serius. Ara belum mendengar apapun tentang peresmian itu. Ya darimana lagi ia harus mencari tahu, ia sama sekali buta dengan medan perang di depannya. Ia hanya tahu musuh utamanya adalah Clara dan Elly, berperang di kota A dan matanya adalah Daniel. Jika tidak ada Daniel maka ia tak tahu harus bagaimana.


"Hari itu, kita akan pergi kesana bersama dan mengumumkan bukti yang sebenarnya untuk mengambil alih perusahaanmu. Aku sudah merencanakannya dengan matang jadi kau tak perlu khawatir" ujar Daniel.


"Hemm baiklah, aku percaya padamu"


***


Setelah makan bersama di acara ulang tahun mereka hendak beranjak pulang, namun Daniel meminta Lisa membawa Brandon lebih dulu pulang di antar oleh Yogi karena ia akan mengajak Ara pergi ke suatu tempat. Lisa mengangguk setuju, akhirnya mereka pulang bersama Yogi sedangkan Daniel membawa Ara masuk ke dalam mobilnya menuju sungai terpanjang di kota A. Pemandangannya sangat indah saat malam hari. Dari sana, mereka bisa melihat ramainya lampu ibu kota. Setiap pagi akan ramai dengan orang-orang yang berlari pagi, sedangkan jika malam akan ramai dengan orang-orang yang sengaja ingin bersantai. Seperti malam ini, meskipun sudah pukul 10 malam, tempat itu masih ramai orang berdatangan.


Daniel dan Ara duduk di sebuah bangku besi panjang yang menghadap ke sungai itu. Udara dingin yang mulai menusuk membuat Ara sesekali mengusap-usap lengannya. Daniel melihat istrinya merasakan kedinginan akhirnya memberikan mantelnya untuk Ara. Ara tersenyum, "Terimakasih" ujarnya sambil memeluk manja lengan suaminya.


"Kenapa kau membawaku kesini Daniel?" tanya Ara.


"Ini kencan" ujar Daniel.


Ara mendengar ucapan Daniel, ia jadi terkekeh. Benar juga, selama mereka menikah, mereka tidak pernah sekalipun benar-benar pergi berkencan. Dari awal hingga hari ini masalah demi masalah terus berdatangan hingga tak terpikirkan untuk pergi berkencan seperti yang mereka lakukan sekarang. Seingat Ara, mereka pernah merasakan tertawa bersama tanpa beban saat mereka menghabiskan waktu di pasar malam dan membeli kaki ayam pedas juga ayam panggang. Saat itu hanya beberapa jam tapi ya bisa di bilang juga berkencan setelah itu tidak pernah lagi.


"Ara, maafkan aku tidak memberikan kenangan apapun sebelum menikah dulu. Kita tidak pernah berpacaran jadi tak pernah pergi berkencan. Saat melihat Yogi dan Lisa aku yakin kau iri pada mereka"


"Benar, kau jahat. Selama ini menikah tidak pernah mengajakku berkencan, bahkan foto bersama pun tidak ada" ujar Ara berpura-pura menekuk wajahnya seakan ia sedang kesal. Daniel kemudian memindahkan tangan Ara masuk ke dalam genggamannya, menatap Ara dengan lembut tepat di dalam manik matanya.


"Aku janji, setelah ini semua selesai aku akan membayar hutang kencan kita. Kita akan pergi ke tempat-tempat orang lain biasa melakukannya, melakukan semua hal seperti pasangan kekasih lakukan, pergi ke bioskop, taman hiburan, mendaki gunung dan semua apapun akan kita lakukan"


"Benarkah? baiklah aku pegang janjimu awas jika kau berani berbohong padaku!" ujar Ara memeluk Daniel dengan wajah bahagia sambil tangannya mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya dan mengangkatnya ke udara.


"Kau sedang apa?" tanya Daniel bingung.


"Kau bilang ini kencan bukan? aku ingin mengambil gambar untuk kencan kedua kita. Kencan pertama tidak sempat ambil gambar, kali ini tidak boleh terlewatkan" ujar Ara.


"Kencan kedua? kapan yang pertama?"


"Saat di pasar malam"


"Oh"


"Daniel, senyum dan bilang Cheeese!!!" seru Ara pada Daniel.


Klik... suara jempretan kamera ponsel Ara berbunyi. Hati Ara di penuhi bunga kali ini, akhirnya setelah sekian lama ia memiliki foto mereka berdua. Daniel melihat istrinya begitu gembira ia jadi ikut tertawa.


"Hanya sebuah foto, kau sebahagia itu" ujar Daniel sambil membelai lembut kepala Ara.


"Tentu saja, ini foto pertama kita. Kelak aku akan mencetaknya dan menaruhnya diatas meja kerja mu dan meja kerja ku"


"Baiklah" Daniel tersenyum


1 jam berselang, setelah Daniel dan Ara berjalan-jalan kecil di sepanjang sungai sambil membeli beberapa makanan kecil mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. karena juga sudah larut malam, suasana juga sudah mulai lengang. Sebenarnya jika tidak terbentur waktu, Ara masih ingin menikmati malam ini dengan Daniel tapi hari mulai semakin dingin akhirnya mau tidak mau mereka kembali.


"Nona, mereka sepertinya sudah akan pulang" ujar seorang pria berbaju hitam-hitam menggunakan topi juga masker terdengar sedang menghubungi seseorang dari ponselnya. "Baik, segera laksanakan nona. Kau tidak akan kecewa dengan pekerjaanku" sambungnya kemudian menutup sambungan ponselnya.


Sejak berada di restoran, dua pria berbaju hitam ini memang sudah mengikuti Daniel dan Ara tanpa Daniel dan Ara sadari.


Melihat Daniel dan Ara masuk ke dalam mobilnya, dengan cepat mereka juga masuk ke dalam mobil dan mulai menunggu waktu yang tepat untuk beraksi.


Malam itu jalan mulai lengang, Daniel dan Ara tidak tahu akan bahaya yang mereka hadapi, mereka masih sesekali tertawa bersama di dalam mobil dan berbincang ringan. Laju mobil mereka tidak kencang juga tidak lambat. Daniel mengendarai mobilnya dengan sangat santai.


"Apa kau senang?" tanya Daniel.


"Sangat senang"


"Kalau begitu kau melupakan sesuatu" ujar Daniel sambil menoleh Ara sekilas.


Daniel menunjuk pipinya dengan jari telunjuk nya isyarat meminta Ara mencium pipi Daniel dengan senyum simpul di bibirnya. Ara tersenyum malu, sebenarnya semua hal sudah mereka lakukan bersama bahkan sampai memiliki Brandon tapi permintaan kecil Daniel yang seperti ini saja sudah bisa membuatnya tersipu malu. Tanpa pikir panjang Ara mendekatkan bibirnya pada pipi Daniel tapi siapa sangka Daniel seketika menoleh dan bibir mereka bertemu.


BANGGGGG!!! Tiba-tiba sebuah Truk kontainer menabrak mobil mereka dengan keras dari arah samping. Benturan yang paling keras mengenai sisi sebelah kanan yaitu sisi Daniel. Mobil mereka terdorong dan terguling beberapa kali, benturan-benturan sangat keras. Ara tidak yakin berapa kali mobil mereka terguling dan jatuh ke tepi trotoar, saat mobil berhenti berguling Ara bisa merasakan darah segar mulai mengalir dari kepala dan hampir seluruh tubuhnya mati rasa karena terlalu banyak menahan sakit.


Beberapa menit Ara berusaha menyadarkan dirinya, memperjelas pandangan matanya yang kabur, setelah sedikit cukup jelas dengan susah payah menoleh pada Daniel di sampingnya.


"Daniel.... Danieeeel... " dengan sisa-sisa kesadaran Ara, tangannya masih berusaha meraih lengan Daniel untuk membuatnya sadar. Pria itu tidak bergerak sama sekali, air mata Ara mulai membajiri pipinya bercampur darah. Dari dari kepala hingga tubuh pria di sampingnya sudah penuh dengan darah, Ara ingin bertetiak tapi suaranya parau.


"Daniel, aku mohon bangunlah. Jangan membuatku takut begini. Daniel bangun... Daniel bangun.. Danieeel" bisiknya dengan suara rendah sampai tidak ada suara lagi yang bisa Ara keluarkan, ia berteriak dalam hati. Tangannya yang lemah juga ikut kehilangan tenaga. Lama kelamaan, matanya mulai ikut tertutup, tapi di tengah kesadaran yang mulai menghilang itu ia masih bisa mendengar suara langkah kaki orang mendekat.


Dua orang itu mengecek keadaan Ara dan Daniel. Dengan kondisi mobil yang sudah rusak berat dan kondisi orang di dalam mobil sangat memprihatinkan, siapapun akan segera mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak akan selamat. Jika pun selamat itu adalah mukjizat.


"Nona Elly, mereka berdua sudah mati" ujar salah seorang pria sambil mengangkat ponselnya, tak berapa lama pria itu tertawa dan pergi meninggalkan Ara dan Daniel sendiri.


Ara masih sempat mendengar percakapan itu. Kata "Mati" yang di ucapkan pria itu membuat tubuhnya yang sudah separah ini masih kalah sakit di banding hatinya yang hancur sekarang. Air mata terus mengalir deras. Ia tak dapat lagi membuka matanya.


"Elly, kenapa kau lagi?!"..."Daniel, aku mohon kau jangan mati.. bagaimana aku bisa hidup dan menghadapi mereka jika sendiri???! kau masih berhutang padaku, kau baru saja berjanji bagaimana kau justru malah pergi??!" batin Ara menangis kemudian tak sadarkan diri.


🎼Saya akan jatuh dan kali ini saya khawatir tidak ada yang menyelamatkan saya


Semua atau tidak sama sekali ini benar-benar membuat saya gila


Saya butuh seseorang untuk menyembuhkan


Seseorang yang tahu


Seseorang untuk dimiliki


Seseorang untuk dipegang


Hanya untuk mengetahui bagaimana rasanya


Mudah dikatakan


Tapi itu tidak pernah sama


Saya kira saya agak suka cara Anda menghilangkan rasa sakit


Saya kira saya agak suka cara Anda membantu saya melarikan diri


Sekarang hari berdarah


sampai malam hari


Dan kamu tidak di sini


Untuk membantu saya melalui semua itu


Saya lengah


Dan kemudian Anda menarik permadani


Saya mulai terbiasa menjadi seseorang yang Anda cintai


Dan saya cenderung menutup mata ketika sakit kadang-kadang


Aku jatuh ke tanganmu


Aku akan aman dengan suaramu sampai aku kembali


🎼


(Lirik- somebody to loved by lewis capaldi)