Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 31: karena aku suamimu



Sepanjang perjalanan Ara dan Daniel tak mengatakan apapun, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Ara sibuk kesal dengan Daniel karena dengan mudah di rendahkan oleh Kevan. Melihat wajah Kevan yang bahagia tadi, ia segera tahu besok akan jadi hari terburuknya. Sedangkan Daniel kesal Ara menghubunginya malah justru berani makan malam dengan mantan pacarnya, bahkan ia tak meminta maaf sekalipun.


Sesampainya di Lobby, Daniel berjalan di belakang Ara hingga di depan pintu apartemen mereka. Ara menekan pasword apartemennya dan pintu pun terbuka. Langkah lantangnya terhenti saat ia memasuki apartemennya. Daniel yang berjalan di belakangnya ikut mengehentikan langkahnya. Ara mundur dan kembali melihat nomor di depan pintu apartemennya.Daniel melihat Ara dengan tatapan heran.


“Kenapa tidak masuk?"


“Aku yakin ini apartemenku, tapi kenapa berubah?"


Ara keheranan bukan tanpa alasan, awalnya Higa memberikan apartemen ini dengan 2 kamar utama, 2 kamar mandi di masing-masing kamar, dapur dan ruang Tv, hari ini, saat Ara masuk, apartementnya berubah menjadi bergaya minimalis modern, sekat-sekat pembatas hilang tak berjejak, dari dapur hingga ruang Tv jadi terlihat begitu luas yang tersisa hanya 1 kamar utama, tentu saja dengan 1 kamar mandi dan 1 tempat tidur. Ruangan itu di dominasi warna putih dan Hitam, sederhana tapi sangat elegan. Lantainya bahkan berubah menjadi lantai granite. Seketika Ara menoleh menatap Daniel.


“Ini pasti perbuatanmu, yakan?"


Daniel mengabaikan Ara dan masuk melewati Ara dengan senyuman aneh. Ara masuk dan menyusul langkah Daniel, seketika tangannya meraih lengan Daniel, menghentikan langkahnya.


“Kau sengaja kan?"


“Tentu saja, aku tak nyaman berada di ruangan sempit, bukankah apartement ini jadi terlihat lebih luas? lebih nyaman kan?


“Jika ingin tinggal di tempat yang luas, tinggal di lapangan saja! bisa-bisanya kau merobohkan apartement ku tanpa persetujuanku"


“Kau tak perlu berterimakasih"


Daniel berjalan menuju dapur dengan santai dan mengambil segelas air putih dan meminumnya. Ara berjalan di belakangnya, ia berpikir keras , pria ini bukankah harusnya marah padanya kenapa ia justru memperbaiki apartemennya? kenapa?


“Aku begitu mengecewakanmu, tapi kenapa kau tak marah?"


“Karena aku suamimu”Jawab Daniel dengan ringan dan tiba-tiba mengecup bibir Ara. Ara tertegun, wajahnya seketika memerah. Ini salah, benar-benar salah, dia merobohkan tembok apartemenku dan sekarang menciumku, harusnya aku menamparnya kan? Setelah beberapa lama Daniel melepaskan ciumannya dan tersenyum pada Ara.


“Kau mungkin salah paham, kita menikah tanpa rasa cinta, kau mau tahu kenapa aku mau menikah denganmu? karena aku ingin Kevan merasakan apa yang aku rasakan dan juga..... Dan juga...."


“Dan juga kau harus merebut cincin keluargamu dari Wingsley?"


“Ka..kau tahu?"


“Hemm"


“Intinya aku hanya memanfaatkanmu, kaulah yang terlalu bodoh mempercayaiku, lagipula di kota ini mana ada yang mau menikahiku, kau benar-benar bodoh!"


Ara menghela nafas panjang, ia menjelaskan alasan ini dengan 1 nafas, mata Daniel tak terlihat terkejut, justru ia merasa Daniel sejak awal sudah tahu semua tentangnya. Matanya kini benar-benar kosong. Sejujurnya, Ara merasa Daniel adalah pria yang sangat baik.


“Untukku, itu tidak penting Ara, sejak awal aku memang berniat menikahimu"


“Apa kau belum mengerti? aku sedang mempermainkanmu saat ini"


Daniel tertawa melihat wajah Ara yang keheranan “Di permainkan olehmu suatu kehormatan untuku"


“Hah?kau sudah gila? aku bilang aku sedang mempermainkanmu, kau sedang di permainkan seorang gadis, bagaimana kau bisa sesenang ini?"


“Hemm itu semua tergantung juga siapa yang mempermainkanku, aku pikir kau sepadan dengan apa yang aku korbankan”Daniel tersenyum menatap Ara.


Seketika Ara merona, apa Daniel benar-benar menyukainya?


“Jadi nona Ayana Diandra Romanof, seumur hidupku kau akan jadi satu-satunya istriku, jangan berpikir aku tak tahu apa-apa tentangmu, jangan pernah berpikir juga kau bisa bercerai denganku karena menginginkan cincin itu"


dia bilang seumur hidup Aku akan jadi satu-satunya istrinya? Ara bahkan tak berpikir ia akan menikah dengannya selamanya.


“Selamanya yang kau katakan apa benar-benar akan jadi selamanya?”Batin Ara.


Malam mulai larut, di apartemennya hanya tinggal 1 kamar dan 1 tempat tidur, mau tidak mau mereka harus berbagi tempat tidur yang sama. Ara berada di tempat tidurnya. Mencoba tenang menunggu Daniel yang mandi di kamar mandi. Saat bunyi air di kamar mandi berhenti, Ara menarik selimutnua hampir penutupi wajahnya. Ia bukan berlagak sok suci, tapi bersama Daniel dalam satu kamar dan satu ranjang baru kali ini. Terakhir kali ia berada di atas ranjang yang sama, mereka hampir melakukannya. Waktu itu masih bisa menghindar, hari ini dan seterusnya mana bisa.


Daniel membuka pintu kamar mandi, mengenakan jubah tidur berwarna hitam bermotif sederhana. Tubuhnya yang kekar menggunakan jubah seperti itu bak raja-raja di dalam drama.


Daniel menatap Ara yang menyelimuti dirinya hampir menutupi wajahnya, ia hampir tertawa dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam selimut Ara. Ara mengerutkan alisnya. Jantungnya berdebar-debar. Karena terlalu takut, ia berbaring di ujung tempat tidur. Ara merasakan Daniel naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimutnya. Menarik pinggang Ara mendekati tubuhnya.


“Aku tak akan membunuhmu, kau bisa jatuh jika terus tidur di pinggir ranjang seperti itu"


Ara masuk ke pelukan Daniel hingga merasakan detak jantung dan beratnya nafas Daniel. Daniel menggenggam erat tubuh Ara.


10 menit berlalu, tak ada pergerakan yang mencurigakan dari Daniel, Ara mulai mengendurkan seluruh ototnya. DebAran jantung Ara mulai stabil.


Setelah Daniel merasa Ara lebih nyaman, ia menggerakan sedikit tangannya pada tubuh Ara, tak di sangka Ara tiba-tiba membuka matanya dan segera mendorong tubuh Daniel.


“Kau, jangan bergerak!"


“Tidak mau!"


Daniel segera naik ke atas tubuh Ara, mencium Ara dalam-dalam, beberapa menit merasakan sentuhan lembut bibir Daniel membuat otak Ara membeku, di menit selanjutnya Ara mendorong kuat-kuat tubuh besar Daniel dan Ara kembali menjauh hingga tepi ranjang. Daniel tiba-tiba merasa lucu melihat wajah Ara yang merah seperti tomat. Ia tertawa terkekeh. Membuat Ara semakin malu, ia mencoba mendekati tubuh Ara.


“Kau jangan kesini"


“Tidak, kamu yang ke sini”Seru Daniel menahan tawanya.


“Tidak mau! kau bilang kau akan hidup selamanya bersamaku kan,kita masih punya banyak waktu,aku tidak mau melakukannya sekarang, mengertilah, ku mohon”Setelah bicara Ara menyembunyikan wajahnya di dalam selimut, ia benar-benar kesal rasa malunya membuatnya sangat konyol. Ia tahu wajahnya pasti semerah tomat sekarang.


Daniel semakin tertawa kemudian menarik selimut yang menutupi wajah Ara.


“Kemarilah, jika terus disana kau akan jatuh"


tangan besarnya masuk ke dalam pinggang Ara dan menariknya ke tengah dan memeluknya. Matanya menatap Ara dengan senyum lembutnya.


“Aku tak akan memaksamu sekarang tapi ingat kau tak akan terus bisa menolakku, tidurlah"


Keesokan harinya..


Ara bangun pagi itu sudah tak melihat Daniel di sampingnya, Ara meraih ponsel di atas nakas samping tempat tidurnya. Ada satu pesan dari Daniel.


“Selamat pagi sayang, sarapanmu sudah ku siapkan di atas meja makan, aku ada urusan tak bisa mengantarmu, tapi aku sudah meminta Yogi datang menjemputmu"


Entah kenapa Ara tersenyum melihat pesan singkat dari Daniel itu. Dia sungguh manis.


Ara kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan berpakaian, setelah itu ia menuju meja makan, seperti yang Daniel katakan, sebuah roti selai dan segelas susu telah tersedia. Sarapan yang sederhana tapi membuat suasana hatinya secerah matahari.


Beberapa menit berlalu, saat ia membuka pintu, betul saja Yogi telah ada di luar menunggunya, Ara melihat sudut bibirnya yang membiru bekas pukulan Kevan semalam. Tiba-tiba ia begitu menyesal.


“Selamat pagi nona Ara, siap untuk berangkat?"


“Ya,, selamat pagi, yogi, maaf karena aku kau harus terluka seperti itu”Ara memperhatikan sudut bibir Yogi hingga membuat Yogi salah tingkah.


“Ti..tidak nona, aku baik-baik saja jangan khawatir"


“Baiklah, ayo berangkat"