
Sepanjang perjalanan Ara tak berani melihat bos di sampingnya, ia mengingat semua kejadian yang berhubungan dengan Kevan. Mulai dari kemarin malam hingga saat ini, dari semua kejadian hanya ada 1 kata yang bisa menggambarkannya yaitu Memalukan.
Bagaimana tidak memalukan, dari awal pertemuan kata-kata yang keluar dari mulutnya tak lebih dari kata umpatan, Ara merasa dirinya telah selesai, benar-benar selesai. Harus mencari cincin dan harus berdiri di samping orang yang pasti membenci dirinya benar-benar akan menjadi perjalanan sulit. Berkali-kali Ara menepuk pipinya, Kevan memperhatikan gadis di sampingnya dengan tatapan aneh.
Sesampainya di Sushifan, mereka di sambut oleh beberapa pegawai. Ara berjalan di belakang Kevan. Mereka di antar ke ruangan VIP, Gerry sudah menunggu. Di atas meja sudah tersedia beberapa menu, pasti Gerry yang memesannya.
Beberapa saat berselang, mereka menikmati makan siang, Ara merasa sangat canggung berada di antara 2 pria. Selama makan siang ia tak mengucapkan sepatah katapun.
Setelah selesai, mereka kembali ke kantor, Ara masih semobil dengan Kevan.
“Kenapa diam? makanannya tidak enak?"
“Enak"
“Lalu kenapa diam?”Ara kemudian menoleh ke Arah Kevan
“Kenapa kau menerimaku? pertanyaan ini menggangguku, bukankah gadis tadi lebih kompeten dariku?"
Mendengar pertanyaan Ara, Kevan tersenyum.
“Ya benar, secara logika seharusnya aku menerimanya, tapi dia tak terlihat membutuhkan pekerjaan ini"
“Hah? darimana kau tahu?"
“Dia tak terlihat kekurangan uang"
“Jadi maksudmu? aku kekurangan?"
“Bukankah begitu? kalau tidak, kau takan memandangi struk belanja dengan menyesal seperti kemarin malam kan?"
Kevan puas menertawai Ara, Ara tak bisa menyanggah, memang pada kenyataannya dia memang benar, betapa dia menyesal harus mengeluarkan uang itu hanya untuk 3 setel baju.
Menjadi seorang sekretaris di dunia nyata dengan buku sekolah sangatlah berbeda. Ara baru menyadari betapa sulitnya menjadi sekretaris seorang direktur di perusahaan besar seperti Wingsley, hari ini tak terhitung berapa kali ia mengangkat telepon dari kolega untuk penawAran kerja. Walaupun baru bekerja Ara mulai mengerti cara kerja perusahaan yang Kevan bawahi.
Meskipun hanya tamatan SMK di kota kecil, Ara tidaklah bodoh, ia dengan cepat beradaptasi, kemampuan Ara berbahasa inggris juga di acungi jempol oleh Kevan, hal itu bisa di lihat beberapa kali Ara mendapatkan telepon dari luar negeri, Ara tanpa ragu berbicara dengan lancar di hadapan Kevan, ia terkesan.
“Untuk lulusan SMK kota kecil, kau bisa fasih berbahasa inggris itu luar biasa"
“Kau berlebihan pak Kevan"
“Aku tak perlu membawa penerjemah ketika pergi bertemu kolega asing, kau bisa menerjemahkannya untukku"
“Maaf pak Kevan, saya menolak"
Kevan mengerutkan keningnya,Kevan heran darimana datangnya keberanian Ara menolak perintahnya
“Kenapa menolak?"
“Itu di luar tugas saya sebagai sekretaris"
“Baiklah, selain jadi sekretaris kau juga merangkap menjadi translator ku"
“Saya tetap menolak pak"
“Jika gajimu aku naikan 2 kali lipat tetap menolak?"
“Bagaimana jika 3 kali lipat?"
Kevan mendengus kesal dengan senyuman tak percayanya ia memandang Ara
“Apa ini waktu yang tepat untuk tawar menawar gaji?"
“Saya tidak memaksa, anda yang tentukan"
Dengan percaya diri Ara berbicara pada Kevan, Kevan masih tersenyum tidak percaya. Baru kali ini seorang pegawai bisa sebegitu beraninya tawar menawar di hadapannya.
“Baiklah, aku setuju, tapi pekerjaanmu pun akan bertambah, apa kau setuju?"
Dengan nominal 3x lipat gajinya, tak hentinya Ara menghitung di kepalanya, gaji 3 kali lipat tentu saja menggiurkan, awalnya Ara hanya iseng tawar menawar dengan bosnya, siapa sangka Kevan justru menyetujuinya.
“Baiklah tidak masalah"
“Baiklah, kita sepakat"
Kevan mengulurkan tangannya tanda sepakat pada Ara. Ara menyambut tangannya dengan senyuman
“Oke sepakat"
Kevan hanya tersenyum melihat Ara yang menjawab kata sepakat dengan cepat.
“Tentu saja, di dunia ini mana ada yang tak cinta uang?"
Sesampainya di kantor, mereka langsung menuju ruangan Kevan, disana sudah menunggu Jade. Melihat Jade, Kevan tersenyum dan berjalan cepat dan segera memeluk Jade sahabatnya, wajahnya tak jauh beda dengan Kevan, sama-sama tampan, namun kulit Jade tak seputih Kevan, kulitnya lebih eksotis ketimbang Kevan.
Dalam hati Ara apa semua orang tampan dan kaya akan selalu di kelilingi orang-orang tampan dan cantik juga? seperti Jade, wajahnya lebih cocok menjadi model kelas internasional. Kulit sawo matang dan bulu halus di pipi dan dagunya membuat wajahnya semakin tampan. Ara hampir tak berkedip menatap Jade, tapi itu hanya beberapa detik, akan sangat tidak sopan jika ia memandang sahabat bosnya seperti tadi, hingga ia memalingkan wajahnya secepat mungkin.
Jade melirik Ara sekilas, kemudian ia menatap Kevan.
“Siapa?” tanya Jade pada Kevan.
“Sekretaris baruku"
Kemudian Jade melangkah mendekati Ara. Tinggi Jade hampir sama dengan Kevan, sekitar 182cm, saat berdiri di hadapan Ara, terlihat jelas perbedaan tinggi mereka. Tinggi Ara hanya 169cm. Melihat Jade mendekat, Ara menatap Jade dengan senyuman. Jade mengulurkan tangannya.
“Halo, aku Jade Lee, sahabat bosmu,” senyum manis Jade tertarik melengkung penuh hingga ujung bibirnya. Benar-benar pria tampan yang manis. Ara meraih tangan Jade.
“Ara "
“Nama mu hanya Ara?"
“Ayana Diandra R, tapi tuan bisa panggil aku Ara"
“Kenapa kau singkat nama belakangmu? apakah nama belakangmu adalah rupawan?"
Senyum menggoda kali ini Jade berikan pada Ara. Ara sempat tersipu malu, ia sempat melirik Kevan yang berada di belakang Jade, wajahnya seperti tidak senang. Mendengar itu Kevan menepuk bahu Jade.
“Sejak kapan tuan muda Jade peduli dengan sekretaris ku?"
“Mulai saat ini van, sekretaris mu kali ini cantik seperti bunga musim semi, menarik"
Mata Jade masih belum terlepas dari Ara.
“Ara, tolong buatkan kopi untuk Jade"
Titah Kevan pada Ara, Ara mengangguk dan buru-buru melepas genggaman tangan Jade. Jade menahannya dengan senyuman.
“Tuan Jade, maaf, saya harus membuatkan anda kopi, bisakah anda melepaskan tanganku?"
“Dengan satu syarat” kali ini Jade tersenyum licik, Ara mengerutkan keningnya seperti sedang bertanya.
“Temani aku makan malam hari ini"
Mendengar permintaan Jade, entah apa yang Ara rasakan sekarang, ini hari pertamanya bekerja, sudah banyak sekali hal-hal tak terduga. Entah harus merasa tersanjung atau merasa murah kali ini.
“Kau tak keberatan kan Van?"
Kevan melirik Jade, Ara berharap bosnya menyelamatkannya kali ini.
“Boleh saja jika dia mau"
Lemas, harapan Ara pupus ketika Kevan dengan ringan berkata seperti itu, mendengar izin Kevan, Jade melemparkan senyum hangat pada Kevan. Kevan membalasnya.
“Oke sepakat, sore nanti sepulang kerja aku akan menjemputmu"
“Ta..tapi tuan, saya belum setuju"
“Aku tak butuh persetujuan mu cantik, setuju atau tidak kau harus tetap menemaniku"
Kedipan kecil di sebelah matanya menjelaskan segalanya. Jade melangkah pergi meninggalkan wajah Ara yang kebingungan. Mata Kevan berganti menatap wajah Ara.
“Sekretaris ku ternyata luar biasa ya, di hari pertama berkerja sukses menggoda sahabat bosnya, ini suatu pencapaian"
Mendengar ucapan Kevan, aliran darah Ara meningkat, matanya menghitam karena marah.
“Maaf direktur Kevan, anda salah paham
Tak satupun kata-kata saya yang terkesan menggoda tuan Jade, jangan menyimpulkan seolah saya murah. Saya permisi tuan"
Tangan Ara di raih Kevan seketika Ara hendak pergi.
“Di kantor ini, semua pegawai adalah milikku termasuk kamu. Kau takan pergi dengan Jade nanti sore, kau harus pergi bersamaku, ingat perjanjian yang kau sepakati? kau harus lembur hari ini"
“Lembur di hari pertama?"
“Tentu saja"
Bos macam apa seperti itu, hati Ara benar-benar di penuhi makian untuk Kevan kali ini. Semua pegawai miliknya? dia pikir dia itu siapa, kalau bukan karena cincin itu, ia akan memutuskan berhenti seketika ini. Baru 1 hari Ara bekerja dengan Kevan, entah berapa banyak cacian yang terlintas di hati Ara.