Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 26: Nyonya Daniel!



Ara mendorong tubuh Daniel menjauh dengan canggung.


“Bukan begitu, aku hanya khawatir padamu, aku mengenal seperti apa dia itu. Aku tak mau masa depanmu hancur karena aku"


Mendengar ucapan Ara dan melihat wajahnya yang seperti kelinci yang akan menangis, Daniel menarik tengkuk Ara dan memeluknya. Ara bisa mendengar degup jantung pria menawan di depannya ini. Wangi sabunnya yang harum bunga lavender begitu menghanyutkan.


“Tenanglah, aku berani menikahimu itu artinya aku menerimamu dengan semua resikonya. Lagipula, aku tak terbiasa menghindari masalah, jangan berpikir terlalu jauh, oke?”Seru Daniel menatap mata Ara dengan lembut.


Daniel sangat berbeda dengan Kevan. Meskipun mereka sama-sama memiliki wajah yang tampan dan tubuh mempesona, kArakter kepribadian mereka benar-benar berbeda.


Dengan tubuh tinggi besarnya, dari awal bertemu dan bicara dengannya, kau akan langsung tahu, pria ini begitu tenang, ia bisa memposisikan dirinya dengan baik. Kata-katanya bahkan pelukannya bisa membuaimu dalam sebuah kata nyaman yang hangat. Aura dewasa dari kArakternya terlihat jelas.


Berbeda dengan Kevan. Sejak awal berbicara dan bertemu dengannya, ia sudah terlihat sangat mendominasi. KArakternya kuat, tegas, dan hal yang paling tak ia sukai dari Kevan adalah sifatnya yang memaksakan kehendak. Pelukannya bisa sangat nyaman tapi penuh dengan ancaman.


Mereka berdua benar-benar berbeda.


“Baiklah"


tak lama kemudian, sebuah panggilan masuk ke ponsel Ara. Ara menatap layar ponsel, tertulis “Bos iblis", Daniel menatap layar ponsel Ara dan pandanganya berpindah ke mata Ara.


“Siapa dia?"


“Kevan, apa aku harus menjawabnya?"


“Jawab saja, nyalakan speakernya"


Ara mengangguk, kemudian ia menjawab panggilan Kevan. Daniel tampak serius mendengarkan percakapan mereka. Kevan menghubungi Ara, memintanya untuk datang besok pagi untuk bekerja. Ara menolak seketika. Untuk apa Ara datang? Ia sudah memutuskan pergi maka akan pergi tak akan kembali. Namun Kevan mengingatkan Ara dengan kontrak kerja yang sejak Awal ia sudah tanda tangani. Jika ia melanggar kontrak maka Ara harus membayar denda dengan nominal tinggi. Ara menatap wajah Daniel. Seperti bertanya, apa yang harus ia lakukan. Wajah Daniel begitu tenang. Ara tak bisa memutuskan ia menutup panggilan, meminta Kevan menunggu sampai ia memutuskan dan Kevan setuju.


Ara menutup panggilannya, ia menghela nafas panjang. Daniel terlihat diam, wajah Daniel tak bisa di jelaskan. Wajah diamnya menyembunyikan banyak perasaan. Dalam 1 hari, banyak kejadian tak terduga karena Kevan. Ia pasti terkejut. Rasa bersalah terus membayangi Ara. Dengan ragu ia menatap Daniel di depannya.


“Aku harus bagaimana?"


Ara menatap Daniel dengan gusar. Akankah dia marah jika ia memutuskan menyelesaikan kontraknya yang tinggal 2 bulan bersama Kevan?


“Kau maunya bagaimana?"


“Jika aku menyetujui bekerja lagi dengannya menghabiskan sisa 2 bulan masa kontrakku dengannya, apa kau marah?"


Daniel menatap Ara dalam-dalam.


“Menurutmu apa aku tak boleh marah?"


Bagaimanapun statusnya sebagai suami sah Ara tak bisa di bantah. Tentu saja ia berhak marah istrinya harus bekerja dengan mantan pacarnya. Seketika pundak Ara sangat berat seakan bola dunia jatuh di atas punggungnya.


“Baiklah, jika dia bisa bekerja secara profesional aku tak masalah kau bekerja dengannya, lagipula hanya tinggal 2 bulan, apa kau bisa menjaga kepercayaanku?"


Daniel menatap Ara dengan serius. Ara mengangguk setuju. Daniel mengusap pipi Ara lembut dengan tersenyum kemudian berjalan menuju lemari dan mengambil setelan kaus dan celana panjang dan memakainya.


“Aku akan keluar sebentar mengambil beberapa bArangku"


Daniel berjalan mendekati Ara dan mencium keningnya sambil tersenyum. Pandangan matanya begitu lembut.


“Kau tidurlah lebih dulu, tak perlu menungguku. Jika kau butuh atau terjadi sesuatu segera hubungi aku ya"


Ara mengangguk dan tersenyum. Daniel benar-benar pria lembut. Seharusnya ini adalah malam pengantinnya, tapi ia bahkan tak membahas masalah ini. Jika dia Kevan, mungkin akan berbeda.


Ara mengantar Daniel hingga pintu keluar. Setelah Daniel menghilang di balik pintu Lift. Ara kemudian menatap layar ponselnya, ia tak berharap memberikan jawaban pada Kevan saat ini. Ada keraguan di mata Ara, ia tahu betul Kevan seperti apa, tapi membayar denda kontrak itu juga bukan pilihan. Kevan akan terus mencari cara untuk menyusahkannya. Ara terus mengulur waktu untuk menjawabnya.


***


Di dalam hati Daniel, ia begitu marah melihat apa yang Kevan lakukan pada Ara. Ara pasti banyak menderita berada di sisi pria brengsek seperti Kevan. Berkali-kali Daniel membanting tangannya di atas stri mobil Audi A5 itu.


Tak berapa lama ia sampai di TopHill. Ia memasuki pintu ruang VIP, di ujung ruangan melihat Tritan dengan beberapa wanita penghibur. Di atas meja berserakan botol-botol Alkohol.


“Hei my bro!!"


Tritan tak bergeming dari tempat duduknya. Ia melihat Wajah Kevan begitu dingin, sangat berbeda dengan saat ia bersama Ara. Daniel duduk di ujung kursi mengabaikan ucapan Tritan. Ia menuangkan Bir ke dalam sebuah gelas dan meneguknya sekali tegukan. Kali ini ia benar-benar marah.


Salah satu gadis mendekati Daniel dengan wajah yang menggoda. Gadis itu adalah gadis tercantik yang di miliki TopHill. Saat tangan gadis itu menyentuh dada bidang Daniel, Daniel melemparkan mata pembunuh pada Gadis itu.


“Singkirkan tangan kotormu dari tubuhku!!Pergi!!!"


Dengan tubuh bergetar, gadis itu pergi menghampiri Tritan dengan pandangan jengkel. Tritan tak bisa menahan tawanya. Tritan bersahabat dengan Daniel sungguh sudah sangat lama. Ia selalu bersikap dingin pada setiap gadis. Tak heran jika ia membentak gadis barusan dengan kasar.


Wajah Daniel menghitam. Tritan bangkit dan menghampiri Daniel.


“Ada apa ini? kenapa wajahmu seperti ingin membunuh orang? santailah sedikit!"


Daniel meneguk bir di tangannya sekali lagi dan menoleh pada Tritan. Matanya benar-benar mengerikan.


“Kau kenal Kevan Wingsley? siapa dia?"


Tritan tertegun mendengar pertanyaan Daniel. Ia jelas-jelas mengerutkan alisnya tanda keheranan.


“Seberapa kaya keluarganya?"


“Di kota ini, keluarganya keluarga terkaya ke 2 setelah Romanof dan Lee, apa kau punya masalah dengan keluarga Wingsley? perlu bantuanku untuk membereskannya?"


Daniel tersenyum ketus. Ia meletakan gelas bir ke atas meja.


“Untuk saat ini tak perlu, aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya"


“Apa ini berhubungan dengan putri keluarga Romanof? hemm.. Siapa namanya??? hemm Ara?"


“Nyonya Daniel!"


“Hah??? nyonya? kau dan dia? sudah....???"


Daniel tersenyum, senyumannya kali ini begitu cerah, tak seperti sebelumnya. Melihat perbedaan wajah Daniel, tritan tau pasti terjadi sesuatu dengan mereka. Daniel bukan tipe pria playboy sepertinya. Tak banyak wanita yang bisa mencuri perhatiannya, tapi sepertinya gadis ini benar-benar mengambil porsi besar dalam pikiran sahabatnya ini.


“Dimana Yogi?"


“Entahlah, kau memberinya terlalu banyak tugas, kau tak berperi kemanusiaan"


“Hemm, kalau begitu bantu aku mengawasi Kevan. Aku tak mau dengar dia mengakiti istriku 1inc pun"


“Baiklah tuan Daniel yang agung, ngomong-ngomong, atur aku bertemu dengan nyonya mu itu, aku ingin lihat seberapa hebat gadis itu sampai kau seperti ini"


Tritan dengan santai merangkul bahu lebar Daniel sambil menggodanya. Daniel tak bereaksi berlebihan dan tak mengucapkan apapun dari mulutnya, ia hanya menyunggingkan senyuman tipis ketus dari bibirnya. KArakternya yang tenang begitu anggun dan elegan.


Daniel kemudian bangkit dan melemparkan kunci mobil Audi pada Tritan. Tritan refleks menangkap kunci itu di tanganya dan mengernyitkan alisnya.


“Apa ini?"


“Bawa ke bengkel!"


Dengan cuek ia keluar dari ruangan itu tanpa peduli wajah Tritan yang keheranan, ia bahkan menggelengkan kepalanya berulang-ulang sambil menuangkan bir ke dalam segelas atas meja.


Daniel kembali ke apartemen Ara setelah mengambil beberapa bArangnya.


Saat masuk ke kamar, ia tak menemukan Ara di atas tempat tidurnya. Wajah Daniel benar-benaf menghitam. Di apartemen Ara, ada 2 kamar yang berseberangan, awalnya Ara ingin tidur di sofa, untuk menghindari Daniel, namun ia mengurungkan niatnya dan masuk ke dalam kamar kedua di apartemennya. Sebelum tidur ia tak lupa mengunci pintu kamarnya.


bagaimanapun dia orang asing, Ara masih tak terbiasa tidur bersama Daniel, apalagi ini seharusnya menjadi malam pengantin mereka. Ara benar-benar belum siap lahir batin.


Daniel berdiri di depan kamar Ara. Dengan ragu meraih handle pintu kamar itu. Ya seperti dugaannya, kamar itu terkunci. Ara benar-benar sedang menghindarinya, mungkin ia khawatir ia akan menagih malam pengantin pada gadis itu. Daniel tersenyum ketus.


Baiklah, tidur ya tidur saja.


Dengan kesal Daniel masuk ke dalam kamarnya dan berusaha untuk tidur.


Keesokan harinya, Ara bangun karena mendengar suara dering di ponselnya. Dengan malas ia membuka matanya. Di layar tertulis nama Daniel. Ara memicingkan matanya. Dengan cuek ia mengabaikan panggilan itu. Namun Daniel tak juga berhenti. Dengan kesal ia bangkit dari tidurnya dan mengangkat panggilan itu.


“Apa? jika tak ada yang penting, aku masih ingin tidur"


“Sudah siang, bangunlah!"


Siang? Ara buru-buru melihat layar ponselnya, matanya membulat saat ia melihat jam di ponselnya menunjukan pukul 12:10


“Buka pintunya, aku memesankan makanan untukmu, seharusnya orang itu sudah sampai di depan pintu, jangan buat orang lain lama menunggu” lalu,“Tit” suara panggilan diakhiri terdengar dari ponselnya.


Benar saja, bunyi bell pintu terdengar beberapa kali, Ara segera bangun dan masuk ke dalam kamar mandi mencuci wajahnya dan buru-buru membuka pintu.


Saat pintu terbuka, dengan wajah kaget Ara mendapati Daniel membawa beberapa kantung makanan untuk Ara dengan senyuman.


Di..dia.. Apakah benar seorang pengantar makanan? Tapi kemudian Ara melihat setelan jas mahal yang di kenakan Daniel. Ia memicingkan matanya. Mana ada seorang pengantar makanan menggunakan setelan jas majal begitu.


Tanpa basa basi, Daniel masuk melewati tubuh Ara dan meletakan beberapa makana di atas meja makan. Langkahnya di susul Ara.


“Baru bangun?"


“Ti..tidak.. Aku sudah sempat bangun, tapi tidur lagi"


Kebohongan dan kebodohan benar-benar sangat tipis. Daniel bahkan menatap Ara dengan tawanya yang aneh. Seakan menangkap basah kebohongan di wajah Ara.


Ara ingin sekali menepuk wajahnya karena kesal.


“Ayo makan!"


“Kau datang kemari hanya untuk mengantar makanan ini dan makan bersamaku?"


Seru Ara dengan wajah keheranan. Pria ini apakah waktunya sangat senggang hingga bisa pulang untuk mengantar makanan dan makan bersamanya? Wajah Daniel sangat datar, mengacuhkan pertanyaan Ara.


“Duduk dan temani aku makan!"