Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 9: Good night



Kevan mengendArai mobilnya melesat menembus dinginnya malam. Ia membuka kaca jendela mobilnya, asap rokok keluar dari mulut Kevan.


Sesampainya di rumah, Kevan melihat tubuh mungil Sisil berdiri di depan pintu menunggunya, ia buru-buru mematikan rokok di tangannya tapi terlambat, sisil terlanjur melihat Kevan merokok.


“Kau merokok lagi Van?"


“Hmm"


Kevan menjawab singkat sambil tersenyum.


“Jangan merokok lagi, jika kali ini terjadi sesuatu pada ginjalmu, aku sudah tak bisa lagi menolongmu Van"


Mendengar itu, Kevan tersenyum dan merangkul Sisil masuk ke dalam rumah.


“Kau tak perlu menolongku lagi Sil, aku akan tetap sehat"


“Berjanjilah kau akan tetap sehat, jika kau sakit, kau tak akan bisa menemaniku sampai aku mati nanti"


Langkah Kevan terhenti, ia menoleh ke Arah Sisil dengan mata hangatnya.


“Aku tidak akan sakit dan kau tidak akan mati, jangan berpikir terlalu jauh, oke? kau harus tidur sekarang"


Sisil tersenyum dan mengangguk. Kevan mengantar Sisil hingga tempat tidurnya. Ia duduk di samping tubuh Sisil yang terbaring. Menarikan selimut ke tubuh Sisil.


“Good night Sil"


Kevan hendak bangun dari tempat tidur namun Sisil meraih lengan Kevan. Telunjuknya mengetuk-ngetuk keningnya sambil tersenyum, Kevan mengerti maksud Sisil, kemudian ia mencium kening Sisil dengan lembut “Good night".


Sisil tersenyum puas, Kevan tersenyum dan meninggalkan kamar Sisil. Sudah menjadi sebuah kebiasaan untuk Kevan mengantar Sisil tidur, hingga mengecup keningnya pun harus ia lakukan. Untuk Kevan itu hanya ciuman untuk menghibur Sisil.


Kevan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, berdiri di samping jendela dan memantikan api pada sepuntung rokok di tangannya. Ia menghisap dalam-dalam asap rokok di mulutnya. Saat seperti ini, banyak sekali yang terlintas di kepala Kevan.


Ia sering bertanya-tanya, bagaimana ia harus terus melanjutkan hidup seperti ini, berusaha menyukai Sisil dan harus menikahinya hanya karena balas budi Sisil padanya itu sangat sulit. Beberapa kali keluarga Lee bertanya pada Kevan, kapan ia mau menikahi Sisil. Jika pertanyaan itu di tanyakan padanya, ia hanya menjawab secepatnya, sisil mengerti Kevan masih belum bisa membuka hati sepenuhnya untuknya. Kevan tahu, cepat atau lambat, ia tak mungkin menghindar lagi, menikahi Sisil adalah takdirnya.


Keesokan harinya..


Matahari menyapa bumi dengan sinarnya yang hangat, Ara hanya tidur 4 jam, selebihnya ia harus bangun dan menerjemahkan file yang Kevan berikan kemarin. Sebuah lingkar hitam tergambar di bawah mata Ara. Ia berusaha membuka matanya dan menatap layar Laptop di hadapannya. Ini benar-benar menyusahkan, batin Ara terus memaki, ia masih belum bisa memaafkan ayahnya, bagaimana bisa seoranv ayah tega mendorong anaknya ke dalam sebuah masalah. Sekarang tugasnya bukan lagi mencari cincin, tapi juga menjadi pelayan, translator dan sekretaris Kevan.


Ara melirik jam di ujung matanya. Sekarang pukul 6:15, jangankan 3 file yang harus di terjemahkan Ara, setengah dari 1 file pun belum selesai ia terjemahkan. Hari ini akan sangat berat sepertinya, Ara harus membayangkan wajah dingin Kevan yang mengetahui tugasnya belum selesai. Ia merinding seketika. Ara frustasi. Sudah tidak ada waktu lagi mengerjakan tugas ini. Ara harus buru-buru mandi dan menuju rumah Kevan.


Setelah rapih, Ara buru-buru menuju pintu Lift, sepotong roti berada di mulutnya, tangan kanannya menyentuh tombol Lift. Tak lama berselang pintu Lift terbuka. Lift itu hampir terisi penuh, 3 orang pegawai, 1 pria bertubuh besar membawa kotak perkakas cukup besar di tangannya dan seorang ibu dengan 2 orang anak kembar disudut Lift. Ara dengan cepat memasuki Lift itu. Saat sampai di lantai dasar, secepat kilat Ara menuju halte terdekat, mujur, bis tujuan Ara sudah menunggunya. Setengah berlari Ara masuk ke dalam bis itu. Saat ini pukul 6:45 menit, Ara mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, masih ada 15 menit, ia harap ia tak terlambat.


Sesampainya di Halte, Ara memacu langkahnya berlari menuju rumah Kevan. Seperti sedang berlari menjauhi malaikat maut, Ara terus memacu langkahnya. Sesampainya di depan rumah Kevan, ia membuka pintu. Terlihat Kevan dan Sisil sedang bercengkrama di ruang tengah, dengan nafas tersengal-sengal ia mendekati Kevan. Kevan tersenyum dan melirik jam di tangannya.


“Terlambat 1 menit"


Wajah Ara berubah sangat masam. Ia meremas tangan di samping tubuhnya.


“Maaf, pak Kevan"


Sisil menangkap wajah marah Ara. Ia berdiri dan mendekati Ara.


“Hanya 1 menit, takan membunuh kami Ra, ayo aku bantu memasak"


“Sil, tak perlu membantunya, kembali ke sini, bi Jia sudah kembali jadi bisa membantunya"


Kemudian Sisil menoleh menatap Ara.


“Bibi Jia pelayan di sini, ia akan membantumu"


Ara mengangguk dan tersenyum. Ara membalikan badan dan berjalan menuju dapur. Langkahnya sedikit pincang karena pergelangan belakang tumitnya terluka karena gesekan sepatu saat ia berlari tadi. Bagaimana tidak terluka, ia memakai heels hampir 10cm dan harus berlari, masih untung ia tak terjatuh tadi, di tambah tangannya terus menutupi roknya yang sedikit robek karena tersangkut pintu bis tadi.


Mata Kevan turun melihat rok Ara yang robek dan luka di pergelangan tumit Ara.


1 jam berselang, masakan telah siap dan sudah tertata rapih di atas meja makan, Kevan dan Sisil mulai duduk di depan meja makan, Ara berdiri di samping bibi Jia.


“Ara duduklah, kita sarapan bersama”Seru Sisil tersenyum pada Ara, Ara tersenyum canggung.


“Ah, tidak perlu, aku sudah sarapan tadi"


Mata Ara tiba-tiba mengArah pada Kevan, mata dinginnya seperti menembus tepat di jantungnya.


“Kenapa masih berdiri, duduk!!"


“Iya baiklah pak direktur"


Titah Kevan membuat Ara tak berani membantah, dengan berat hati ia duduk berhadapan dengan Sisil dan itu artinya ia duduk di samping Kevan. Sisil melihat wajah ketakutan Ara, ia menahan tawanya.


Ara hanya memakan sedikit dari makanan di atas piringnya, Ara tak sanggup banyak menelan makanan di piringnya, mata Kevan terus mengawasinya. Dalam hari Ara bertanya-tanya. Entah punya dendam apa Kevan dengannya hingga sepertinya ia senang sekali membuatnya seperti seekor ayam yang di ikat untuk dijadikan makanan serigala lapar di depannya.


Setelah selesai, Kevan dan Ara bergegas menuju Kantor dengan mobil pribadi Kevan. Sisil mengantar mereka sampai di pintu keluar. Senyumnya seperti sinar matahari pagi yang hangat, Ara dengan jelas melihat ketulusan Sisil begitu juga dengan Kevan.


Ara memperhatikan dua orang di hadapannya itu, sebuah pertanyaan besar tergelitik masuk ke pikirkan Ara. Mana wajah asli Kevan sebenarnya? wajahnya yang selembut sutra seperti sekarang atau wajahnya yang sedingin es seperti saat ia bekerja. Kenapa seseorang bisa memiliki dua wajah dan kArakter yang berbeda dalam satu tubuh. Hanya satu yang sama, ia tetap setampan itu meskipun dengan wajah yang berbeda.


Kevan mulai membuka pintu mobilnya diikuti Ara.


Mobil melaju, butuh waktu beberapa saat hingga Ara sadar mereka tidak berjalan menuju kantor. Ara seketika menoleh ke Arah Kevan yang serius mengemudi di sampingnya.


“Pak,kau salah jalan"


Kevan menoleh menatap Ara sekilas tanpa memberikan jawaban apapun. Hingga mobil berhenti di depan toko baju yang sama saat mereka pertama kali bertemu. Ara menghentikan pandangan sibuknya dan kembali menoleh menangkap mata Kevan yang juga menatapnya.


“Kenapa kita kesini?"


“Kau mau ke kantor dengan memamerkan pahamu itu?"


Mata Kevan melirik turun ke paha Ara. Dengan cepat Ara menutupinya dengan tangannya. Wajahnya tiba-tiba merona merah ia kemudian turun dari mobil. Kevan membuka kaca mobilnya menatap Ara dari dalam.


“Kau masuklah dulu dan pilih baju yang kau suka, pastikan baju itu pantas untuk bertemu klien hari ini"


“Ya, baiklah"


Kemudian Kevan menutup kaca jendela mobilnya dan pergi meninggalkan Ara. Ara menatap roknya yang robek. Sejujurnya masalahnya saat ini ia hanya memiliki sedikit uang untuk membeli Rok baru. Ia menghela nafas, tapi jika ia kembali tanpa mengganti roknya, sudah jelas Kevan akan marah. Dengan berat hati ia masuk ke dalam toko itu.