
Mata Ara terbangun di pagi hari mendengar suara gemericik air mengalir dari dalam kamar mandi. Ia masih sangat malas untuk bangun. Ara mendengar suara air berhenti dan melihat Kevan keluar hanya berbalut handuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Ia dengan bangga memamerkan perut sixpacknya. Ia mengusap rambutnya yang basah dengan 1 tangan. Menatap Ara yang duduk di atas tempat tidur sekilas dan masuk ke walk in closet.
"Bangunlah, kau buatkan aku sarapan!" serunya dari dalam.
Ara mengerlingkan matanya kesal. Dengan malas ia bangkit dari tempat tidurnya menarik selimut tipis di bawah bed cover untuk membalut tubuhnya yang telanjang dan masuk ke kemar mandi.
Setelah berpakaian rapih, ia turun ke lantai bawah menuju dapur. Ia menguap berulang-ulang. Hampir semalaman Kevan membuatnya hampir tak bisa tidur.
Ara dengan malas membuatkan Kevan roti selai sederhana dan segelas susu hangat. Ia meletakan makanan itu di atas meja makan tepat di hadapan Kevan yang sibuk membaca koran. Kebiasannya tak berubah meskipun sudah pindah rumah. Ara menarik bangku di depan Kevan dan meneguk susu hangat di tangannya.
"Mulai hari ini, tak perlu menyetir sendiri, berangkatlah bersamaku dalam 1 mobil"
"Hemm, baiklah" jawab Ara acuh tak acuh, apa lagi yang harus di tutupi, semuanya sudah sangat jelas, ia secara resmi memberi tahu semua orang kalau dia sekarang adalah simpanannya. Sudah terlanjur malu, sekarang tinggal berjalan di samping Kevan dengan wajah tak tahu malu saja sekalian. Ara lagi-lagi menghela nafas panjang.
Sesampainya di kantor, Gerry sepeti biasa berjalan menyambut Kevan di lobby. Tak ada tatapan yang berbeda dari wajahnya menatap Ara. Seperti biasa, ia tersenyum lembut.
"Apa kau tidur dengan baik? lingkar hitam di bawah matamu terlihat jelas"
"Benarkah? aku tak cukup tidur belakangan ini"
Mendengar ucapan Ara, Gerry menahan tawa gelinya.
"Tega sekali kemarin kau ikut menodongkan pistol ke arahku, padahal kau tahu siapa aku"
"Jika aku tak melakukan itu, bos yang akan mengangkat pistolnya ke arahku, sayangnya aku tak berencana mati muda Ra"
Gerry melirik Ara dengan tertawa kecil. Melihat itu Ara juga tak bisa menahan tawanya.
"Ding" suara pintu lift terbuka. Mereka berjalan tanpa ragu keluar dari dalam lift dan menyusuri lorong menuju ruangan Kevan. Seperti yang ia duga. Banyak mata melihatnya dengan wajah jijik. Ara terus berjalan tak peduli, ia membalas tatapan mereka dengan pandangan mengejek. Seperti sedang bicara " Aku setiap malam bisa tidur dengan bos kalian yang tampan, kalian, apa yang bisa kalian lakukan selain menatapku dengan tatapan seperti itu?" gerutunya di dalam hati melahirkan senyuman sinis di sudut bibirnya.
Sepanjang hari 3 orang itu terlihat sangat sibuk. Sementara Ara sibuk menerjemahkan dokumen dan Kevan memeriksanya, Gerry sibuk menggantikan tugas Ara sebagai sekertaris. Banyak panggilan masuk dari berbagai macam klien dan kolega. Tak heran, belakangan ini Kevan sibuk dengan urusan pribadinya, ia tak sempat memikirkan urusan kantor, walhasil pekerjaan mereka menumpuk.
"Bos, anda mendapatkan undangan pesta dari Tuan muda Billy, ia mengatakan ia teman lama anda, ia bertanya apakah anda akan datang?"
"Dimana dan kapan?"
"Nanti malam pukul 9, di Top Hill"
"Baiklah"
Seketika Ara merasa ada sepasang mata menatapnya. Ia menoleh ke samping menatap Kevan.
"Apa?"
"Kau akan ikut menemaniku"
"Tidak, aku lelah, kau bisa ajak Sisil sebagai gantinya"
"Apa kau tak ingin bertemu ke empat kakakmu di sana? kau pasti merindukannya bukan?"
"Apa??? mereka datang? baiklah, dengan senang hati aku akan datang!" Kevan tersenyum pahit.
***
Malam pun datang. Ara memakai gaun super anggun malam ini. ikatan kepang menyamping di rambutnya memperlihatkan lehernya yang indah. Kevan dan Ara memasuki ruangan. Pertama kalinya dalam sejarah keluarga, pewaris keluarga Wingsley dengan senang hati menggandeng nona muda keluarga Romanof untuk datang ke pesta resmi bersama. Seluruh kota juga tahu, 2 keluarga besar ini bertahun-tahun tidak pernah akur dan sekarang keturunan 2 keluarga itu berjalan bersama.
Semua mata tertuju pada mereka berdua. Tak terkecuali Jade dan 4 kakaknya yang menatapnya dengan tatapan membakar.
Jade sampai tak percaya, Kevan benar-benar mengacuhkan adiknya, hingga ia datang tak bersama Sisil justru membawa Ara datang ke pasta ini.
Kevan dan Ara segera bertemu dengan Billy. Pelukan hangat teman lama langsung menyambut kedatangan Kevan. Percakapan mereka begitu ringan, sepertinya mereka benar-benar teman lama yang cukup dekat di masa lalu. Ara meninggalkan Kevan dan menuju meja Bar dan memesan segelas coctail. Matanya terus memperhatikan sekeliling. Ia melihat seorang pria memandanginya dengan wajah dingin. Pandangan mereka bertemu sekilas, kemudian pria itu membuang mukanya dengan cepat setelah Jade datang mendekati Ara.
" Tak ku sangka kau nona muda dari keluarga Romanof"
"Hemm, kau juga sudah tahu"
"Kau sengaja datang merebut tunangan adiku kah?"
"Hmm itu benar"
Jade melirik Ara sekilas kemudian meneguk segelas cocktail di tangannya, senyum pahitnya mengembang sempurna.
"Jangan bersamanya, kau hanya akan kecewa. pada akhirnya dia akan tetap menikah dengan adiku"
"Benarkah?"
" Terrimakasih peringatanmu, aku akan pikirkan baik-baik, cheers?"
"Cheers"
Semakin malam, suasanya pesta semakin ramai. Kevan beberapa kali membawanya pergi berkenalan dengan teman-temanny. Hampir semua temannya keheranan ketika mereka tahu dialah putri keluarga Romanof yang hilang. lama-kelamaan ia bosan dengan obrolan mereka, ia pergi ke toilet untuk mencari udara segar.
Beberapa menit Ara duduk di atas closet dan kepalanya bersandar pada dinding kubikel toilet. Kepalanya sedikit pusing karena ia minum sedikit banyak dari batasnya. Di dalam sana ia tanpa sengaja mendengar beberapa obrolan gadis-gadis. Mereka membicarakan Kevan dan tentu saja dirinya. Ara tersenyum getir. Ia tak peduli. Sampai salah satu gadis membicarakan ibunya. Ara yakin suara itu adalah suara salah satu dari kakaknya. Ia terus mendengarkan percakapan mereka.
"Buah tak akan jatuh terlalu jauh dari pohonnya, ibunya berselingkuh dan sekarang anaknya pun menjadi selingkuhan bahkan simpanan anak sulung keluarga Wingsley, bukankah itu memalukan kak? haha"
"Hmm, memalukan, tak heran ayah membuang ibunya untuk ke dua kalinya, entah bagaimana nasibnya di luar sekarang, Ara justru dengan bangga datang ke sini bersenang-senang, dia benar-benar keterlaluan!!"
Mendengar ucapan di luar, ia seketika bangkit dari duduknya dan membuka pintu kubikel. Seperti dugaannya, itu Clara dan Mona, anak dari Wulan, istri pertama Higa. Saat mereka melihat Ara dari balik pintu kubikel, mereka tak bisa menyembunyikan wajah kagetnya. Ara dengan tatapan tajamnya mendekati tubuh 2 saudaranya itu.
"A..ara"
"Coba kau ulangi lagi, dimana ibu ku sekarang? apa yang terjadi padanya?"
Seketika mulut mereka menyunggingkan senyum liciknya dan wajah mereka sekeperti mengejek menatap Ara yang serius memandangi mereka.
"Baru ingat ibumu? nasibnya benar-benar buruk karena melahirkanmu"
"Cepat katakan, apa yang Higa lakukan pada ibu???" seru Ara mencengkram lengan Clara dengan kuat.
"Entahlah, setelah ayah tahu kau gagal dalam misimu, ayah memerintahkan bawahannya untuk membawa ibumu pergi, mereka membawa pergi ibumu kemana kami tidak tahu"
Ara seketika jatuh ke lantai, air matanya berjatuhan.
"Sekarang kau baru sadarkah selama ini kau terlalu sibuk menggoda tuan muda Wingsley sampai lupa tugas utamamu? karenamu, nasib ibumu tak ada yang tahu haha benar-benar anak durhaka"
Ara dengan cepat berdiri dan berlari keluar meninggalkan saudaranya. Langkahnya denga cepat menghentikan taksi dan pergi ke kastil keluarganya. Tampa peduli Kevan sedang sibuk mencarinya dengan wajah khawatir.
Sesampainya di Kastil, ia di sambut oleh Anton. Anton sangat terkejut melihat nona muda itu dengan air mata bercucuran di pipinya. Ia menanyakan dimana ibunya, namun Anton tak menjawab apapun, akhirnya ia tahu yang di ceritakan Clara adalah benar. Ia kemudian bertanya dimana Higa, kemudian Anton mengantarkannya masuk ke ruang kerja Higa.
Higa berdiri di samping jendela besar ruangan itu, dengan santai menghisap rokok di tangannya. Mendengar pintu terbuka, ia menoleh sekilas. Tak ada perubahan ekspresi saat melihat Ara berjalan tergopoh-gopoh masuk ke ruangan itu. Dengan nada tinggi, Ara membuka suaranya hampir memaki ayahnya itu.
"Dimana ibuku sekarang!!! jawab!!"
Higa masih mengabaikan Ara, tak ada jawaban di mulutnya. Ia berjalan duduk di belakang meja kerjanya dengan punggung bersandar di atas bangku dan kakinya menyilang. Menatap Ara dengan sangat santai.
"Dimana ibuku??? kau bawa dia kemana?"
"Apakah kau datang membawakanku cincin itu?"
"..."
"Sepertinya tuan muda Wingsley membuatmu lupa kalau kau putri dari keluarga Romanof? kau lupa apa tujuanmu di sana, sekarang bahkan kau menjadi simpanannya haha, kau benar-benar membuatku malu. Pergilah dan jangan kembali lagi sebelum kau mendapatkan cincin itu"
"Aku tanya sekali lagi, dimana kau bawa pergi ibuku????!!"
"...."
"Baiklah, jika kau tak mau memberitahuku, aku akan mencarinya sendiri"
Ara kemudian berjalan meninggalkan Higa di belakang. Wajahnya benar-benar hitam. Pikirannya benar-benar kacau.
"Meskipun mencari sampai ujung dunia, kau tak akan menemukannya!!"
Langkah Ara terhenti seketika. Ia memejamkan matanya beberapa saat dan melanjutkan langkahnya kembali.
Di depan pintu, Anton menunggunya dengan wajah Khawatir. Ia mengantarkan Ara kembali ke apartemennya. Sepanjang jalan ia hanya diam, air matanya terus mengalir.
"Pak, meskipun aku tahu kau tak akan bicara apapun, tapi aku akan tetap bertanya padamu, dimana ibuku sekarang?"
Anton melihatnya dari kaca spion dalam. Wajahny begitu sendu.
"Aku tak bisa mengatakan apapun nona, tapi bisa ku pastikan ibumu baik-baik saja"
"Hmm, syukurlah, aku hanya takut kehilangannya, ia satu-satunya yang aku punya pak"
Tangisnya semakin deras. Ada rasa sakit menjalar dari hatinya. Perasaan takut yang luar biasa.
"Takdir macam apa ini? sejak kecil di buang, setelah dewasa di permainkan dengan rasa kehilangan dan rasa takut, apakah hidupku seperti lelucon untuk semua orang?" Ara tersenyum getir.