Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 97: Dr. Denis, lama tidak bertemu!



Tokk... tokk.. suara kaca jendela mobil Daniel di ketuk seseorang, membuat Daniel melepaskan ciuman di bibir Ara, beberapa saat dua orang di dalam mobil menjadi sangat canggung.


Ara kemudian menoleh ke luar mobil dan membuka kaca jendela.


"Ada apa Sus?"


"Tas nona Ara tertinggal, aku baru sadar saat kebetulan lewat di taman tadi" Suster itu kemudian menyodorkan sebuah tas kecil pada Ara. Ara segera menerima tas itu, "Terimakasih, Sus" Suster itu tak menjawab hanya mengangguk tersenyum kemudian pergi.


"Sungguh ceroboh, itulah akibatnya jika terlalu banyak ngambek, Ara"


Ara kemudian menoleh ketus pada Daniel dan memukul lengan pria itu,"Daniel, Diam!!" , Daniel menangkap tangan Ara dan memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa senti dari wajah Ara. Ara mundur dan pipinya merona.


"A.. apa?!" tanya Ara gugup. Daniel terus mendorong tubuhnya maju seakan ingin mengulangi ciuman itu, mata Ara tiba-tiba tertutup dengan gugup. Beberapa detik Daniel memandangi wajah istri di sampingnya itu. Senyumnya merekah lebar sambil tangan satunya meraih safety belt di samping tubuh Ara. Daniel menahan tawanya melihat Ara benar-benar gugup dan Klakkk.. sabuk pengaman itu terkunci sempurna.


Mendengar suara sabuk pengaman, Ara membuka matanya. Ia melihat wajah Daniel dari samping yang tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ara mendengus kesal.


"Huuuuuuuuuuhhhhh Danieeeeel sialaaaaaaannn! apa dia tidak tahu, jantungku hampir copot di buatnya!! dasar menyebalkan!!" Gerutu Ara dalam hati.


"Kenapa cemberut seperti itu? kecewa atau bagaimana? jika kau mau lagi katakan saja, aku pasti berikan" toleh Daniel melihat Ara yang menekuk wajahnya dalam.


"Diam!!Jangan lakukan itu lagi, jika kau lakukan lagi aku benar-benar akan menamparmu"


"Hemm, di tampar istri juga tidak buruk" seru Daniel sambil menyentuh hidung Ara dengan telunjuknya. Karena malu, Ara membuang mukanya ke luar jendela.


"Dasar orang gila!" seru Ara masih dengan wajah kesalnya.


tok.. tok.. tokk..


Bunyi kaca jendela di ketuk kembali terdengar. Mata Ara membulat kaget dan menurunkan kaca jendela, Daniel segera menoleh.


"Kak Denis!" Seru Ara kaget melihat Denis.


"Aku pikir aku salah orang, ternyata benar-benar kau Ara. Bisakah kau keluar dulu?" pinta Denis pada Ara,


Ara mengangguk, kemudian membuka pintu dan turun. Mata Denis melihat Ara sekilas kemudian sorot matanya beralih pada Daniel yang juga membuka pintu mobil dan berjalan mendekati Ara.


"Selamat sore Dr. Denis.


, lama tidak bertemu," Daniel dan Denis terlihat sama-sama melempar tatapan tajam.


"Sore Tuan Qin" sapa Denis singkat dan dingin.


"Kalian, bagaimana bisa saling kenal?" Ara terkejut ,kemudian Denis melemparkan pandangannya kembali pada Ara. "Ara, ayo ikut aku". Tangan Ara segera di genggam Denis yang berusaha membawa Ara masuk ke dalam mobilnya. Namun tentu saja Daniel tak membiarkan itu terjadi. Daniel pun meraih tangan Ara satunya berusaha mencegah langkah Ara untuk pergi. Langkah Ara dan Denis terhenti, seketika mereka menoleh.


" Dr Denis, Ara pergi bersamaku maka pulang pun harus bersamaku"


"Aku ada urusan dengan Ara, maka lepaskan tanganmu"


"Tidak, aku tidak akan melepaskannya. Dia milikku!" Seru Daniel tegas, Ara yang berada di tengah-tengah perdebatan mereka hanya bisa diam dan masih bingung dengan apa yang terjadi.



Ucapan Denis barusan membuat Ara kemudian menoleh pada Denis dengan kening yang berkerut.


"Apa maksudnya dengan rasa bersalah? Apa yang sedang kalian bicarakan?" Seketika Ara melepaskan genggaman tangan kedua pria itu dan menatap mereka dengan tatapan bingung secara bergantian. "Kenapa? kenapa kalian sekarang diam?"


"Aku akan menjelaskannya, masuklah ke mobilku dulu!" Daniel berusaha membawa Ara masuk ke dalam mobil tapi sekali lagi Denis menghentikan langkah Ara dan memegang kedua lengannya, tatapan seriusnya masuk ke dalam manik-manik mata Ara.


"Dengar, kau bebas ingin ikut dengan siapa dan mendengarkan siapa. Tapi aku mohon ikutlah dengan ku kali ini, percayalah padaku Ara"


Beberapa detik Ara tak mengeluarkan sepatah katapun, wajahnya terus berpikir. Di detik selanjutnya ia menepis tangan Daniel dan melepaskan genggamannya.


"Ara.. " Daniel memohon.


"Setidaknya Denis lah yang selalu ada bersamaku" ucap Ara lirih.


Kedua tangan Daniel segera menggenggam kedua lengan Ara.


"Apapun yang mereka akan katakan berjanjilah kau juga akan memberikan kesempatan untuk ku menjelaskan. Oke?" Ara mengangguk kemudian pergi masuk ke dalam mobil Denis.


Ara masih membeku, wajah Daniel terus terbayang di kepalanya. Bahkan ucapan Daniel barusan terdengar seperti suara keputusasaan yang menyedihkan. Wajahnya yang dingin dan tajam beberapa menit lalu sekarang justru berubah menjadi wajah kekhawatiran, Ara melihat sebuah kerapuhan dari tatapan pria itu.


"Kenapa aku melihat sebuah rasa putus asa dan sakit dari dalam matanya? kenapa hatiku juga ikut merasa sakit tiba-tiba?"


Denis tak langsung membawa Ara pulang ke kediaman Li. Ia membawa Ara pergi ke taman terdekat. Beberapa lama mereka duduk, Denis hanya terdiam. Sesekali Ara menoleh pada Denis dan berusaha sabar menunggu kalimat yang akan diucapkan Denis.


"Kak," panggil Ara sudah tak sabar.


"Daniel adalah mantan suamimu"


Akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibir Denis. Tubuh Ara bergetar, Ara memegangi jantungnya yang akan lepas dari tempatnya saat ini. Di dalam pikirannya, berjalan cepat semua yang telah terjadi. Akhirnya Ara mendapatkan alasan kenapa hatinya selalu merasa sesak ketika melihat Daniel, mimpi-mimpinya tentang pria yang mirip dengan Daniel itu mungkin benar adalah pria itu. Rasa familiar aroma parfum dan rasa manis di ciuman Daniel pun ternyata itu


memang sebagian dari kenangannya bersama Daniel dulu. Ingatannya memang hilang, tapi tubuhnya mengenali Daniel.


"Jadi, Ayah brandon adalah Daniel" Ara dengan ragu menoleh pada Denis. Denis mengangguk.


Denis melihat tumpukan air mata di pelupuk mata Ara. Melihat wanita di sampingnya ini merasakan lagi sesak yang sudah hilang selamat dua tahun ini membuat Denis merutuki diri sendiri. Sesegera mungkin ia memeluk Ara. Tangis Ara pecah di dada Denis.


"Maafkan aku Ara, seharusnya aku tak membiarkanmu bertemu dengannya dan merasakan sakit yang sama untuk kedua kalinya"


"Cepat atau lambat aku tetap harus menghadapinya, Kak" Ara kemudian melepaskan pelukan Denis, menyeka air matanya dan tersenyum. "Lalu, kenapa dia meninggalkanku kak?"


"Dia meninggalkanmu karena...... " Denis menceritakan semuanya pada Ara dari sudut pandangnya. Semakin diceritakan, semakin Ara merasa sedih dan sakit. Ia memang tak mengingat apapun tapi ia bisa membayangkan betapa menderita dirinya yang dulu. Denis menghentikan ceritanya ketika melihat Ara menunduk dan tetes air matanya semakin deras.


"Ara, dengar.." Denis memegang pipi Ara dengan kedua tangannya, menyeka air mata Ara dengan kedua ibu jarinya kemudian ia berusaha menolehkan wajah Ara untuk menghadap dirinya. "Masih belum terlambat untuk merubah keadaan ini,Ra. Kau yang putuskan akan hidup dengan masa lalu atau berjalan ke depan bersamaku? " ujar Denis dengan tegas.