Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 23: kau benar-benar lucu tuan



klak! suara kunci pintu terbuka, dengan langkah gontai ia masuk ke dalam apartemennya. Sudah beberapa hari ia tak pulang. Ini adalah satu-satunya tempat ia bisa kembali.


Ia membanting tubuhnya di atas sofa, memandangi langit-langit kamarnya, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya ingin menangisi dirinya sendiri, menangisi betapa konyol hidupnya sampai detik ini.


Beberapa jam berlalu, ia bahkan hampir tertidur, sampai ia mendengar suara kunci pintu terbuka. Ara terkejut. Seharusnya tidak ada yang tahu nomor pasword kunci apartemennya. Ara bangkit dari sofa, lampu apartemennya dari awal memang sengaja tak ia nyalakan, ia sedikit menyesalinya. Dengan cepar Ara meraih sebuah Vas di tangannya, berjalan mengendap-endap melihat siapa yang datang.


Seorang pria bertubuh tinggi besar berdiri di depan pintu, ia melangkahkan kakinya masuk, dengan panik Ara melempar vas itu. Pria itu menepisnya dengan lengannya, Ara segera menekan tombol saklar. Saar lampu menyala, ia terkejut melihat pria itu adalah Kevan. Dari lengannya, mengalir darah segar. Kevan mengerutkan alisnya.


"Kau ini apa-apaan??? kenapa masuk mengendap-endap, membuatku takut!!"


Dengan wajah kesal Ara mendekati Kevan dan menarik tangannya membawanya duduk di atas Sofa. Dengan segera ia membawa kotak obat dan membalut tangan Kevan. Kevan tak berbicara sepatah katapun. Ia memandang Ara dengan tatapan dingin.


"Darimana kau tahu pasword apartemenku?"


Tubuh Ara tersentak kaget, Kevan tiba-tiba memeluknya dengan erat. Sangat erat sampai Ara sulit bernapas.


"Jangan lakukan lagi, aku mencarimu sampai hampir gila, jangan pergi seperti ini lagi"


Ara terdiam.


"Kemana kau pergi? aku tak bisa menemukanmu dimanapun? jika aku tak bertemu denganmu di sini, aku mungkin akan benar-benar gila"


"Maaf membuatmu khawatir,aku tak akan pergi lagi"


Kevan mencangkan pelukannya pada tubuh Ara. Ara merasakan kehangatan. Ara sebenarnya hanya ingin sendiri saat ini, tapi Kevanlah satu-satunya orang yang datang mencarinya dan memeluknya. Satu-satunya orang yang mengkhawatirkan dirinya dan satu-satunya orang yang berharap dirinya tak pernah pergi. Meskipun ini salah, tapi perasaan dirinya masih di butuhkan orang lain membuat dirinya lebih baik. Perlahan Ara mengangkat tangannya dan membalas pelukan Kevan.


"Ayo pulang" Seru Kevan tersenyum dan melepaskan pelukannya.


***


Rumor beredar begitu cepat. Kali ini bukan hanya kantor, tapi media pun mulai memberitakan rumor perselingkuhan Kevan. Kevan mulai terganggu, tekanan di keluarganya mulai meningkat. Kevan masih acuh tak acuh dengan tekanan dan berita di luar, tapi tidak untuk Ara. Ara tahu ini tak akan baik, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan tinggal di apartemen Kevan.


Setiap hari ia hanya menunggunya kembali,memasak,makan bersamanya, tidur bersama di pelukannya, meskipun tak masuk akal, tapi lama kelamaan Ara menikmatinya. Ara mulai percaya dan berharap pada Kevan.


Tapi beberapa hari ini, Kevan sering pulang larut atau tak pulang sama sekali, bahkan Ara mencium bau alkohol dari tubuhnya.


Beberapa kali Ara bertanya ada apa pada Kevan, ia tak menjawabnya, ia hanya tersenyum dan mengatakan bukan masalah besar, hanya masalah kantor. Ara tahu dia berbohong tapi tak berpikir terlalu jauh.


Malam itu, seperti biasa Ara menunggu Kevan kembali. Berkali-kali ia menghubungi ponsel Kevan, namun nomornya tidak aktif. Ara memandangi jam di dinding, sudah malam. Waktu menunjukan pukul 8:23 pm. Apa dia tak pulang lagi? batinnya.


Tak lama bereselang. Suara bell berbunyi. Ara tahu, itu pasti buka Kevan. Kevan tak mungkin kembali dan repot-repot menekan bell hanya untuk masuk.


Ara melanhkahkan kakinya menuju pintu utama. Ia membuka pintu dan seketika terkejut melihat siapa yang berdiri tersenyum padanya.


"Si..sisil"


Pandangan mata lembut dan Anggun yang biasanya ada di matanya tak terlihat lagi. Semua yang ada di dirinya bahkan berubah total. Sorot matanya lebih tajam.


Tanpa peduli wajah Ara yang terkejut, Tanpa basa basi Sisil melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen itu. Ara mengikutinya dari belakang. Mata gadis itu lebih tegas, ada sorot tajam memandangi setiap detail apartemen itu.


"Bagaimana rasanya tinggal bersama tunangan orang lain Ra? sepertinya menyenangkan?"


Sisil menoleh menatap wajah Ara dengan senyuman mengejek. Ara hanya diam, tak sanggup berkata apapun.


"Apa kau sedang menunggunya pulang? jangan menunggunya, dia tak akan datang lagi mulai sekarang"


Sisil tiba-tiba tersenyum bahagia. Ara mengerutkan keningnya, masih tak berbicara apapun. Sisil kemudian mengambil sebuah pena perekam di dalam tasnya. Ia dengan cepat menyodorkan pena itu ke pada Ara. Mata Ara tampak sangat ragu melihat pena itu tapi pada akhirnya ia menerimanya.


"Apa ini?"


"Dengarkanlah, kau akan tahu"


"Ketika kau menikah, bagaimana dengan nasib selingkuhanmu?" seru salah seorang pria di rekaman itu. Samar terdengar suara tawa Kevan.


"Apa yang dia harapakan? berharap jadi nyonya wingsley? kau tahu itu mustahil, ia hanya mainanku, saat aku bosan kapan saja aku tinggalkan"


"Wah, teganya, kau benar-benar berani mempermainkan putri keluarga Romanof, benar-benar cari mati"


"Dia hanya putri yang di buang, keluarganya tak menginginkannya, lalu aku harus bersamanya? apa kau sudah gila? lagipula siapa yang mau menikahi gadis buangan sepertinya hahaha"


Saat itu juga, dunia Ara runtuh. Ia berkali-kali meyakinkan dirinya, rekaman itu palsu, tapi suara yang ia dengar adalah suara Kevan. Jadi, selama ini dia benar-benar telah di bohongi? Kevan membohonginya? Air mata Ara mulai berjatuhan. Sisil terlihat bahagia melihat runtuhnya dunia Ara di depannya. Sisil kemudian memberikan sebuah undangan pernikahan. Disana tertulis nama Kevan dan Sisil.


"Kakak ku sudah memperingatkanmu sebelumnya, pernikahan ku di adakan besok, kau jangan lupa untuk datang"


"Kau mengundangku untuk datang? kau tak takut aku membuat calon suamimu berubah pikiran?"


"Datang saja dulu, kita lihat apakah saat dia melihatmu dia akan berubah pikiran atau tidak, aku akan membuatmu menyadari posisiku lebih penting untuknya"


Setelah itu Sisil meninggalkan Ara dengan rasa bangga. Berbeda dengan Ara, cahaya yang semula meneranginya tiba-tiba hilang. Matanya terus menatap pena perekam itu. Suara Kevan terus berputar di kepalanya, ia tak menyangka, Kevan di belakangnya bisa berbicara sekejam itu.


Ternyata perasaan Kevan hanya halusinasi di pikirannya, kenapa ia begitu bodoh bisa mempercayai perkataannya mentah-mentah.


Malam itu, Ara pergi ke TopHill setelah memasukan semua barang-barangnya ke dalam sebuah koper besar. Ia mengendarai mobil audi A5 nya dengan kecepata tinggi. Sesampainya disana. Ia duduk di bar, ia meminum banyak sekali alkohol sampai mabuk.


Sepanjang malam itu di meja bar Ara memutar-mutar suara rekaman itu di tangannya. Matanya kosong. Kepalanya menopang di atas lengannya yang terjulur di atas meja. Hatinya berserakan hancur.


Di antara pandangan kaburnya, ia melihat seorang pria duduk di sebelahnya, meskipun pandangannya kabur, ia masih bisa melihat wajah pria itu begitu tampan. Pria itu tersenyum padanya. Ara tak memperdulikannya sampai pria itu merebut pena rekaman dari tangannya, ia dengan susah payah mengangkat kepalanya.


"Hei!! kembalikan!!"


Ara berusaha merebut pena itu kembali, namun dengan mudah pria itu menghindar, ia dengan acuh mendengarkan isi rekaman di pena itu. Setelah selesai mendengarkan, ia mengulurkan tangan Ara dan mengembalikan pena itu padanya. Ara menunduk menatap pena itu dalam-dalam, tanpa sadar air matanya berjatuhan. Pria itu masih di sampingnya, dengan santai memandangj gadis mabuk di sampingnya sambil sesekali meneguk cocktail di tangannya.


Selesai menangis, Ara mengangkat wajahnya, menyibakan rambut bergelobang yang menutupi wajahnya ke belakang, seketika wajah cantik Ara terlihat jelas, pipi putihnya terlihat merona merah karena mabuk. Ara kemudian menatap pria di sampingnya sambil menyeka air matanya. Ia tersenyum pahit pada pria itu. Pria itu tak bereaksi berlebihan, hanya mengerutkan keningnya.


"Tuan, kau sudah dengar yang dia katakan kan? dia bilang siapa yang mau menikahi gadis buangan seperti ku? apakah aku terlihat separah itu dimatanya? aku benar-benar konyol, hehe ya tapi benar juga, tak akan ada yang mau menerimaku, siapa aku? orang lain semuanya tahu aku putri yang di buang keluarganya, ibuku di asingkan karena tuduhan perselingkuhan, sekarang di tambah aku jadi wanita simpanan, siapa lagi yang mau menikah denganku, hahaha"


Pria itu tersenyum melihat Ara. Ara memalingkan wajah cantikanya dari pria itu. Ia kembali menatap pena perekam itu di tangannya.


"Bagaimana jika aku mau menerimamu, apa kau mau menikah denganku?"


Mendengar ucapan pria itu, Ara tak bisa menahan tawanya, bahkan tanpa sadar ia memukul-mukul meja bar di depannya.


"Kau.. kau benar-benar lucu tuan, haha"


Samar Ara melihat senyum kecil di sudut bibir pria di sampingnya itu. Ara pelan-pelan bangkit dari tempat duduknya, pandangannya yang kabur membuatnya tak bisa berdiri tegak. Ketika ia hampir jatuh, pria di sampingnya dengan cepat menahan tubuh Ara. Ara menatap pria itu.


"Jangan pedulikan aku, bersenang-senanglah, nikmati malammu, sampai jumpa"


Ara melepas tangan pria itu dan berjan melewati pintu keluar. Ia berjalan di koridor dengan langkah gontai. Menahan sesak di dadanya, Air mata yang jatuh tak bisa lagi ia kendalikan.


"Air mata bodoh, kenapa kau terus berjatuhan!! hentikan!!"


Dengan bodoh Ara menepuk-nepuk pipinya. Tanpa di sadari Ara. Pria tampan itu mengikutinya dari belakang. Sampai ketika ia melihat Ara akan terjatuh, buru-buru ia meraih pinggang Ara.


Keesokan harinya, Ara terbangun di dalan sebuah kamar VIP di TopHill. Ia merasa kepalanya sangat pusing. ia mulai bangkit dan duduk. Matanya melihat sekitar, tak ada siapapun di ruangan itu. Ia hanya melihat beberapa obat pereda nyeri di atas nakas. Ia juga melihat tak ada yang aneh pada tubuhnya, ia masih menggunakan baju lengkap. Seharusnya tak terjadi apa-apa semalam. Tapi siapa yang membawanya kesini? Ara terus memutar ingatannya. Hanya 1 orang yang ia temui, hanya pria itu, apakah benar dia yang membawaku kemari? tangannya kemudian meraih tas di nakas samping tempat tidurnya. Ia mengambil ponsel dan melihat jam, saat ini jam 8. Mata Ara tiba-tiba terbuka sempurna.


"Pernikahan Kevan!!"


Buru-buru ia masuk ke kamar mandi. Ia lupa ia tak membawa baju ganti , bajunya semua ada di koper, kopernya ia tinggalkan di dalam mobilnya. Akhirnya ia bergegas turun dari kamarnya dan menuju mobilnya. Ia membuka koper dan mencari gaun terbaik yang ia punya, untungnya, filter kaca mobilnya sangat gelap, dari luar tak akan bisa melihat apapun di dalam, dengan berani ia mengganti pakaian di dalam mobil, sedikit touch up setelah itu ia bergegas datang ke tempat acara pernikahan Kevan.