Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 12: Jangan sampai ketahuan



Berada di bawah guyuran air dingin di atas kepalanya, kesadaran Ara perlahan-lahan mulai pulih. Rasa menggigil yang sebelumnya ia rasakan, perlahan juga menghilang berganti rasa canggung luar biasa. Pandangan mata Kevan terus tertuju pada wajah Ara, tubuhnya juga masih dengan sabar menyangga tubuh Ara. Ara berusaha melepaskan tangan Kevan namun Kevan enggan melepaskannya. Dengan canggung Ara menatap wajah Kevan.


“Te..terimakasih, aku sudah lebih baik, kau bisa melepaskan tanganmu sekarang"


Kevan terus menatap Ara dalam-dalam.


“Kenapa kau berpikir Gerry lebih bisa membantumu di banding aku?"


Ara tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya, butuh waktu beberapa saat untuk Ara mencerna pertanyaan Kevan. Ketika sadar apa yang di maksud Kevan, Ara tak bisa tak mengerutkan keningnya. “Di saat seperti ini bagaimana bisa ia melontarkan pertanyaan seperti ini,” pikir Ara. Tapi melihat wajah Kevan yang serius bertanya, terpaksa ia harus menjawabnya.


“Nama Gerry secara kebetulan muncul di nomor teratas yang paling sering aku hubungi, tanpa banyak berpikir aku mengirimkan pesan padanya"


Wajah Kevan tak terlihat puas mendengar jawaban Ara. Matanya terus menguliti wajah Ara.


“Mulai saat ini, jadikan nomorku menjadi kontak daruratmu"


“Ke..kenapa begitu?"


“Karena Gerry akan aku pindah tugaskan"


“Hah?? kenapa begitu?"


Kevan tersenyum mengabaikan pertanyaan Ara, ia berjalan mundur sambil melepas satu persatu kancing kemeja putihnya yang ikut basah karena menahan tubuh Ara. Ia melepaskan kemejanya seperti tidak perduli ada sepasang mata yang hampir tak bisa berkedip melihat tubuhnya.


“Mengangumkan” hanya satu kata itu yang bisa menjelaskan betapa selama ini Kevan dengan sempurna menyembunyikan tubuhnya yang menawan di balik setelan kemejanya setiap hari.


Lamunan Ara buyar ketika tubuh tanpa sadar Kevan melemparkan handuk tepat mengenai wajahnya. Rasa kesal bercampur malu menyelimuti wajah Ara. Rasanya ia ingin sekali berubah menjadi microba dan bersembunyi di manapun. Ini benar-benar memalukan.


“Cepat keringkan tubuhmu, aku akan tunggu di luar"


Saat Handuk terjatuh dari wajah Ara, ia sudah tak melihat bayangan Kevan di ruangan itu.


Ara berjalan ke depan sebuah cermin tak jauh dari tempatnya berada, ia melepas jas hitam Kevan yang menutupi bagian depan tubuhnya. Saat Jas itu terlepas ia melihat kemeja yang ia gunakan sudah tak bisa lagi di pakai, hampir seluruh kancingnya lepas. Melihat kondisi kemejanya seperti ini, ia tak bisa menahan malu di wajahnya. Kevan pasti melihat sebagian besar tubuh bagian atasnya.


Perlahan ia melepas setelan kemejanya yang basah, ia meraih baju handuk di dekatnya. Tidak ada baju yang bisa ia kenakan, dengan ragu-ragu ia membuka pintu kamar mandi. Ia tak melihat siapapun di kamar itu, hanya sebuah paperbag besar berada di atas tempat tidur.


Paperbag itu berisi satu stel baju ganti untuk Ara, ponsel dan tasnya yang sempat terjatuh di kamar mandi beberapa saat sebelum banyak tangan menyeretnya ke kamar ini. Dengan segera Ara mengganti baju dan keluar dari kamar itu.


Ara masih merasakan sedikit pusing, sepertinya pengaruh obat dan wine itu tak akan hilang begitu saja.


Saat pintu terbuka, di ruangan itu hanya terlihat sosok Kevan sedang duduk bersandar dengan sepuntung rokok di tangannya. Ia sudah mengenakan baju yang berbeda, kali ini hanya setelan kemeja berwarna hitam dengan kerah lengan yang ia gulung hingga hampir sesikunya seperti sedang memamerkan gurat otot lengannya, terlihat sangat maskulin. Ara sekali lagi tak berkedip beberapa saat. Kevan menatap Ara dengan tajam.


“Bagaimana bisa kau ada di sini dengan sampah itu?"


“Awalnya hanya makan siang tapi justru di jebak pada akhirnya"


Kevan mematikan rokok di tangannya sebelum melangkah mendekati Ara. Ia menundukan tubuhnya, wajahnya begitu dekat dengan Ara.


Ara terperanjat kaget, darimana Kevan tahu tentang ini


“Sebotol wine yang aku pecahkan itu berharga ribuan dolar, ia hanya memintaku menemaninya minum 3 gelas wine, aku tak berpikir ia merencanakan sesuatu padaku"


“Kau pikir 3 gelas wine itu sebanding untuk membayar 1 botol wine seharga ribuan dolar itu?"


“A...aku...."


“Jika kau pikir begitu, saat ini karena masalah ini, aku kehilangan bukan hanya ribuan dolar, tapi juga ratusan ribu dolar, bagaimana kau bisa membayarnya? menemaniku minum 1 botol wine?"


Kali ini, Ara benar-benar terdiam, kata-kata Kevan menyadarkan betapa naif dirinya.


“Kenapa diam?"


“Jawaban apa yang kau harapkan? apalagi yang aku punya selain gaji darimu, kau bahkan tahu berapa lama aku bisa membayarnya, huh"


Mendengar jawaban Ara,Kevan menghela nafas panjang.


“Maka dari itu lain kali gunakan otakmu dengan benar!"


Seru Kevan menjentikan telunjuknya pada kening Ara dan berbalik pergi. Ara mengikuti langkah Kevan dengan cepat.


Sepanjang perjalanan pulang, Kevan hanya diam.


Sesampainya di kantor, Gerry telah menunggu Kevan dan Ara di Loby. Terlihat wajah khawatir di wajah Gerry. Gerry dan Ara berjalan di belakang Kevan.


“Kau baik-baik saja Ra?"


“Hmm, baik-baik saja, terimakasih kalian datang tepat waktu"


“Syukurlah, tuan Kevan sangat mencemaskanmu tadi"


Ucapan Gerry sontak membuat Kevan melirik sinis ke Arahnya. Ia melemparkan tatapan membunuhnya, seketika Gerry merasakan kengerian luar biasa. Ara mendengar ucapan Gerry hanya tersenyum bingung.


“Gerry, apa kau sudah melakukan yang aku perintahkan"


“Tentu saja tuan, semuanya beres"


Yang Ara tidak tahu, Kevan bukan hanya membuat bisnis tuan Chang bangkrut tapi ia juga merusak reputasi dan nama baiknya bahkan rumah tangganya.


Setelah beberapa hari berlalu, sebuah situs online menampilkan sebuah berita mencengangkan, sebuah foto tuan Chang bersama Lina berada di atas ranjang dengan pose tidak senonoh. Meskipun wajah mereka di sensor, Ara masih bisa melihat dia adalah Lina dan Tuan Chang. Bahkan tuan Chang sampai datang langsung memohon pada Kevan untuk menghentikan berita mengenai dirinya.


Ternyata dengan cara ini Kevan membereskan tuan Chang, lalu bagaimana dengan Lina? tak perlu di ragukan lagi, nasibnya pasti tamat. Saat Tn Chang datang menemui Kevan, ia tak melihat Lina di dekatnya.


“Tak heran ibu begitu khawatir padaku, jangankan menghadapi keluarga Wingsley lainya, menghadapi Kevan sendiri saja aku bisa merasakan bahaya yang luar biasa, jika jati dirinya sampai ketahuan olehnya, tamat sudah riwayatku"