
Ara berusaha tak percaya, ia berusaha berpikir ini tidak nyata. Semua kata cinta dan saat Daniel mengatakan ia tak akan berpaling dan tak akan meninggalkannya terus menari-nari di dalam kepalanya. Tangisnya benar-benar pecah.
Elly yang sedang merapikan tasnya melihat Ara tiba-tiba meringkuk dan menangis segera berlari ke Arah sahabatnya itu. Ia berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi. Namun Ara tak menjawab. Ia hanya membenamkan wajahnya di balik kedua tangannya. Ponsel di tangannya ia remas begitu kuat. Karena tak mendapatkan jawaban dari Ara, elly segera merebut ponsel di tangan Ara dan melihat apa yang terjadi.
Saat Elly membaca isi pesan Daniel, elly segera memeluk tubuh sahabatnya itu.
“Gadis ini benar-benar tak beruntung. Baru akan bahagia sedikit, ia sudah harus menelan pil pahit lagi”Batin Elly.
“Ara menangislah sepuasmu jika itu bisa membuatmu lebih baik”Seru Elly. Ara semakin terisak di pelukan Elly.
Beberapa jam berlalu. Ara sudah tak menangis lagi. Ia berusaha tetap tegar dan profesional. Ia datang ke kota G ini karena bisnis. Bisnis ini, pertemuannya dengan Direktur Xander tidak boleh gagal, kerja sama ini begitu penting untuk Fire Gate. Ara kemudian berusaha bangkit dan duduk di meja rias. Ia mengeluarkan beberapa peralatan make up nya dan mencoba menutupi sembab di wajahnya. Ia tak mungkin bertemu dengan kolega dengan wajah kacau seperti ini. Pikirnya.
“Apa kau sudah lebih baik?”Tanya Elly pada Ara sambil terus berjalan menaiki Lift menuju ruangan Direktur Xander. Ara hanya mengangguk kecil tanpa senyuman. Elly sangat mengerti perasaan Ara sekarang.
“DING”Suara pintu Lift terbuka. Dengan langkah pasti mereka menuju ruang kerja Direktur Xander dan di sambut sekretarisnya di depan pintu dengan senyuman.
“Anda pasti nona Ara dari Fire Gate?”Tanyanya sambil menunjuk ke Arah Ara. Ara segera mengangguk. “Benar”Jawabnya singkat “Tuan Xander sudah menunggu, silahkan" . Kemudian dengan cepat. Sekretaris itu membukakan pintu untuk Ara.
Seorang pria setengah baya sedang berkonsentrasi menulis sesuatu di atas kertas. Xander menyadari Ara datang kemudian mendongakkan wajahnya dan tersenyum melihat Ara. Ia segera bangun dari duduknya dan menghampiri Ara.
“Selamat siang tuan Xander, saya Ara dari Fire Gate" Xander tersenyum.
“Selamat siang nona Ara, bagaimana perjalananmu? melelahkan?"
“Ah tidak tuan Xander "
“Tapi kenapa wajahmu begitu pucat? "
“Akhir-akhir ini saya memang kurang enak badan, tapi tidak masalah, bukan hal besar. Kita mulai meeting nya? “Tanya Ara yang kemudian di jawab Anggukan oleh tuan Xander dan membawa langkahnya masuk ke ruang meeting.
Beberapa jam berlalu dengan lancar meskipun mereka sempat beradu argumen dengan pelik, namun pada akhirnya bisa di selesaikan dengan baik. Setelah selesai, mereka keluar dari ruangan dan tuan Xander mengantar mereka sampai Lobby.
“Nona Ara aku dengar terjadi kecelakaan beberapa hari lalu di Fire Gate, kecelakaan itu bahkan berhubungan dengan Windy Calder"
“Benar tuan, terjadi kecelakaan tapi itu semua hanya salah paham, semuanya sudah di atasi dengan baik, jadi anda tak perlu khawatir akan berimbas pada kerja sama ini "
“Oh tidak tidak, saya sedang tidak khawatir dengan kerja sama kita, di tanganmu aku percaya ini tidak akan gagal, tapi apa kau terluka, apa kau baik-baik saja?? “Tanya tuan Xander, sebenarnya pertanyaan tuan Xander membuat Ara mengerutkan alisnya karena terdengar sedikit aneh di telinganya.
“Kenapa dia mengkhawatirkan ku dan tidak bertanya keadaan Windy seperti semua orang? ini aneh"
“Tidak aku baik-baik saja tuan”Ara tersenyum dan melihat mobil yang menjemput Ara berhenti tepat di depan mereka “Mobil kami sudah datang tuan. Terimakasih atas kerjasamanya, kami akan berusaha tidak mengecewakan anda "
“Ya, hati-hati nona"
Kemudian Ara masuk ke dalam mobil di ikuti Elly. Di dalam mobil Elly ternyata juga merasa ada yang aneh dengan tuan Xander.
“Tuan Xander agak aneh ya Ra"
“Eh..kau menyadarinya juga? aku pikir aku saja yang merasakannya”Ujar Ara.
“Hemm, apa kau mengenalnya sebelumnya? kenapa merasa dia seperti mengenalmu sudah lama? "
“Benarkah? tidak ini pertama kalinya, sudah lah jangan berpikir macam-macam, besok masih harus cek lokasi kan"
“Hemm baiklah"
Semuanya berjalan lancar, bahkan tuan Xander memberikan hadiah menginap di salah satu resortnya. Ara dengan senang hati menerima hadiah itu.
Mereka kembali ke hotel.
Beberapa kali Clara menghubungi Ara. Menanyakan bagaimana hasil kerja sama mereka dengan Tuan Xander.
“Semuanya oke, tidak ada masalah kak"
“Bagus, kau tak perlu cepat-cepat kembali, kau boleh berlibur disana beberapa waktu lalu, aku rasa kau sedang terguncang karena pria mu ternyata calon tunangan Windy”Clara tertawa puas.
Clara benar-benar tak berperasaan. Ia benar-benar sedang menari di atas penderitaan Ara sekarang.
“Jika tidak ada yang lebih penting aku tutup kak"
Klik, Ara menutup panggilannya.
Ia berdiri di sisi jendela besar kamar hotelnya. Tak jelas apa yang ia lihat, tatapannya kosong. Ia pikir sekuat apapun Windy berusaha, Daniel tak akan pernah menyerah padanya.
“Daniel, ada banyak alasan untuk meninggalkanku, aku menyebalkan, kekanakan, egois, dan masih banyak lagi, lalu kenapa kau pilih meninggalkanku karena aku belum siap hamil? kau juga tahu trauma terbesarku karena apa, lalu kenapa kau memilih meninggalkanku dengan cara yang sama seperti Kevan?"
***
Selepas kepergian Daniel dari pandangannya, Windy merasa kesal.
“Kenapa hanya untuk gadis seperti Ara saja ia rela bertengkar dengan Shamus? bagaimana bisa ia juga rela kehilangan segalanya hanya demi gadis itu? apa sebenarnya yang ia tak miliki di bandingkan Ara? “Kepala Windy semakin pening. Memang luka di kepalanya hanya luka kecil dan juga bekasnya pun akan hilang. Ia pikir dengan menjebak Ara hingga ia terluka bisa membuat Daniel iba padanya. Namun justru sebaliknya. Di tengah kebimbangan Windy, Windy menoleh pada Shamus yang sedang tersenyum sinis menatap layar ponsel Daniel.
“Bukankah itu ponsel Daniel? kenapa ada di tangan Kakek?”Pikir Windy dengan heran.
“Kek, kenapa ponsel Daniel bisa ada padamu? “Shamus berdiri dan duduk di samping Windy sambil memberikan ponsel Daniel.
“Ponsel Daniel tertinggal, ini kesempatan mu untuk mendapatkannya “Windy memicingkan matanya bingung. “Caranya?"
“Kau pikirkan sendiri, aku harus pergi. Berpikirlah cepat, aku rasa Daniel akan segera menyadari ponselnya tertinggal dan akan cepat kembali “Seru Shamus kemudian pergi meninggalkan Windy. Di saat yang bersamaan, jenny memasuki bangsal Windy dengan membawa beberapa buket bunga dan juga bingkisan dari penggemar-penggemar fanatik Windy.
Melihat Shamus datang, jenny menundukan tubuhnya isyarat memberi salam pada Shamus dengan senyumnya namun tanpa membalas senyum gadis itu, shamus melewati Jenny begitu saja. Jenny juga tak peduli, kemudian ia meletakkan bArang yang ia bawa di atas nakas.
“Windy, ini hanya beberapa kado dari fansmu dan masih banyak lagi di mobil”Seru Jenny dengan wajah lelah. Windy tak menggubris sama sama sekali yang di katakan Jenny, ia hanya sibuk memandangi ponsel Daniel.
“Ponsel siapa yang ada di tanganmu? "
“Daniel "
“Hah?! kenapa bisa di tanganmu? "
“Tak sengaja ia meninggalkannya tadi, apa yang harus aku lakukan dengan ponsel ini Jen? “Windy kemudian menoleh pada Jenny, jenny terlihat berpikir. Tak berapa lama, ia menjentikkan jarinya.
“Gantilah nomor Ara dengan nomormu yang lain, tanpa merubah nama kontak di ponselnya. Dengan begitu, setiap kali ia mencoba menghubungi gadis itu, akan langsung tersambung padamu. Kau bisa mengendalikan hubungan mereka seperti yang kau mau”Ucap Jenny dengan semangat. Mendengar ucapan Jenny barusan, Windy tersenyum dengan wajah senang, jenny benar-benar memberi Windy sebuah pencerahan.
“Hah, kau memang cerdas Jen! itu ide bagus tapi bagaimana jika sampai Daniel tahu? dia akan marah besar padaku"
“Selama kau pintar, dia tak akan tahu “Jawab Jenny kemudian Windy mengangguk setuju dengan wajah girangnya.