
Beberapa hari setelahnya, Daniel dan Ara masih berusaha mengumpulkan data dan bukti dengan berbagai cara, baik kejadian di hutan perbatasan itu atau di dalam FireGate mereka tak lelah mencari. Beberapa hari ini Ara hampir tak pernah tidur di kamarnya, ia hanya tidur beberapa jam kemudian terbangun dan kembali menyusun puzzle bukti yang mereka dapatkan. Tak mudah mencari bukti-bukti itu, butuh bekerjasama dengan banyak pihak agar mereka mau berbicara. Sebenarnya jika bisa, akan lebih mudah jika ia bisa masuk langsung ke kantor itu dan membuka file tersembunyi di dalam komputer ruangannya dulu. Di sana ia menyimpan banyak sekali data, ia masih berharap meskipun sudah sekian tahun file itu masih ada di sana dan Elly tak cukup pintar untuk memeriksanya. Ya semoga saja.
Keesokan paginya, Ara terbangun dengan wajah bingung. Seingatnya, ia semalam berada di depan komputer dan sekarang sudah pindah ke dalam pelukan Daniel di atas tempat tidur.
"Aku pasti tertidur dan ia menggendong ku sampai di sini" ujarnya dalam hati.
Dengan perlahan Ara bangun dari tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Saat ini pukul 9 pagi, seharusnya juga Brandon sudah bangun. Setelah selesai dan rapih, Ara keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Tak di sangka saat ia turun, ia melihat Yogi sudah berada di ruang tamu membawa kue yang indah di hiasi lilin ulang tahun. Ara sempat tersenyum bingung sambil mengerutksn alisnya.
"Yogi ada apa ini? kenapa sepagi ini datang?" tanya Ara sambil berjalan mendekati Lisa dan Yogi.
Yogi tersenyum lebar, "Hari ini Lisa ulang tahun loh, Bu bos"
Mata Ara kemudian dengan cepat beralih pada Lisa yang sudah senyum-senyum menyembunyikan rasa malunya.
"Aku sudah katakan padanya untuk tidak seperti ini tapi kak Yogi tetap datang sepagi ini dan juga malah memberi kejutan untukku, maafkan kami Nyonya"
Ara melambaikan tangannya berkali-kali isyarat itu bukan masalah, ia justru memeluk Lisa dan memberinya ucapan selamat ulang tahun dengan hangat. Lisa sedikit mengerjap, matanya memandang Yogi yang tersenyum lebar di belakang punggung Ara. Tak lama kemudian, Ara melepaskan pelukannya.
"Ayo, tiup lilinnya" ujar Ara,
"Ada apa ini? sepagi ini sudah terdengar ribut?!" sela Daniel dari atas tangga dengan wajah dingin. Daniel sekali lagi terbangun ketika sosok Ara hilang dari sampingnya dan mendengar suara ramai di lantai bawah akhirnya ia bangun dan berjalan menuju asal keributan.
"Yogi ada apa ini?kenapa kesini sepagi ini? buat keributan lagi!" seru Daniel dingin berjalan mendekati mereka. Mata Daniel langsung tertuju pada kue dengan lilin yang di emang Yogi. Mereka yang tadinya saling melempar tawa tiba-tiba terdiam melihat Daniel datang. "Siapa yang ulang tahun?" sambungnya.
"Daniel, Lisa hari ini ulang tahun dan Yogi sedang membuat kejutan untuknya.. bukankah Yogi sangat manis?" ujar Ara pada Daniel sambil memeluk lengan Daniel. Mendengar ucapan Ara, Daniel semakin tidak senang. Bukan karena kejutan yang di berikan Yogi untuk Lisa tapi karena Ara lagi-lagi tetang-terangan memuji pria lain di depannya.
"Memangnya aku kurang manis padamu?" ujar Daniel menatap Ara semakin tajam. Ara langsung mendongak dan menoleh menatap Daniel, "Hah?!" tanya Ara dengan bingung.
Melihat Bos dan Ibu bosnya seakan ingin bertengkar, Yogi segera melerai mereka berdua karena jika tidak, dia sendirilah yang akan terkena imbasnya. Daniel tetap Daniel, meskipun ia kehilangan perusahaannya tapi ia tak kehilangan Pride-nya . Dimanapun pria itu bisa saja mem-bullynya dan tak membiarkan siapapun bernapas barang hanya sejenak.
"Bos Daniel, maafkan aku jika aku membuat keributan sepagi ini. Aku juga lupa minta izin padamu untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk Lisa"
"Iya Tuan, maafkan kami" timpal Lisa dengan cemas.
Melihat semuanya jadi canggung, Ara kemudian mencengkram kuat lengan Daniel untuk menyadarkannya.
"Daniel, kau itu masih ngantuk kah?" ujarnya tak kalah ketus pada Daniel,
"Ah sudah-sudah, ucapan orang baru bangun tidur jangan di hiraukan. Sebaiknya cepat tiup lilinnya Lisa, nanti tetesan lilinnya mengotori kuenya" ujar Ara tersenyum pada Lisa, Lisa dan Yogi kembali tersenyum lebar dan Lisa segera meniup lilinnya setelah memejamkan mata dan meminta harapan dalam hati.
"Fyuh" satu tiupan memadamkan semua lilin yang menyala. Semua orang gembira.
"Untuk merayakan ulang tahunmu, nanti malam Aku akan mentraktir kalian makan malam, bagaimana? setuju?" Ujar Ara
"Yeeeeeayyy, terimakasih bu bos!" seru Yogi gembira,
Setelah itu mereka memakan kue ulang tahun itu bersama-sama, tidak ada sekat antara mereka saat ini, mereka berbincang seperti seorang teman. Hanya Daniel yang tak banyak bicara seperti biasanya. Wajahnya selalu misterius seperti ada ratusan atau ribuan hal yang ia pikirkan.
Tiba-tiba Daniel bangun dan menarik tangan Ara masuk ke ruang kerjanya. Ia menempatkan Ara di depan meja kerja dan mulai menyalakan komputer.
"Lihat ini, Ara" ujar Daniel menunjukan sebuah File audit perusahaan FireGate. Mata. Ara membulat. Ada dua File audit yang terbuka. File yang sudah di tanda tangan Clara dan belum. Kedua File itu jika di lihat sekilas akan terlihat sama saja namun jika di teliti per digit akan semakin terlihat perbedaannya. Ada pengeluaran yang sangat besar dan itu di transfer masuk ke beberapa rekening pribadi.
"Aku sudah menyelidiki kemana aliran dana itu, sulit mendeteksi aliran dana itu karena mereka tidak langsung mentransfer dana ini ke rekening mereka pribadi tapi menggunakan rekening orang-orang di daerah terpencil kemudian baru di transfer ke rekening mereka"
"Mereka itu siapa?"
"Keluargamu, semua dari mereka masing-masing mendapatkan uang ini. Mendapatkan uang dari perusahaan tidaklah salah tapi memanipulasi data untuk mendapatkan penghasilan lebih itu kesalahan, itu sangat merugikan pemegang saham perusahaanmu, tapi lihat, di sini dan di sini di tulis berbeda. Kau tahu kan maksudku?"
Ara segera mengangguk,
"Darimana kau dapat data-data ini Daniel??" tanya Ara heran. Untuk mendapatkan data ini tentu saja tidak mudah, tidak mungkin ia mendapatkannya dari orang yang bersangkutan langsung dengan hasil audit atau pembuat laporan ini, ini akan sangat mengancam jika sampai tersebar keluar. Dan sekarang ada di tangan Daniel, bagaimana dia melakukannya?
"Tidak semua hal kau harus tahu sayang" ujar Daniel.
Ara lagi-lagi mengerutkan keningnya, tapi juga tak bertanya lebih jauh. Dengan cara bagaimanapun yang terpenting dokumen ini sudah berada di tangannya. Yang harus ia pikirkan adalah ia harus mencari cara dan waktu yang tepat untuk merebut kembali FireGate.
"Kau punya rencana?" tanya Daniel.
"Belum, kau punya?"
"Tentu saja punya" ujar Daniel licik tersenyum sambil memutar kursi Ara menghadapnya dan mencium bibirnya. Ara mendorong Daniel seketika.
"Apa rencanamu?"
Daniel menatap Ara dengan senyuman lucu, "Rencanaku memberikan adik untuk Brandon" ujar Daniel ringan sambil mengangkat tubuh Ara ke sofa melucuti pakaian istrinya segera.
"Hah?! kau becanda?! bukan rencana itu maksudku"Ara berontak, "Disaat seperti ini bisa-bisanya kau berpikir punya anak lagi? sedetikpun aku tak berpikir kesana, isi kepalamu ini apa hanya hal-hal begini??" tanya Ara dengan nafas yang mulai memburu seiring sentuhan dan tangan Daniel yang sudah menjelajah ditubuhnya. Mendengar ucapan Daniel, ia tiba-tiba berhenti dan menatap wajah istrinya yang sekarang berada di bawahnya.
"Di kepalamu ini tidak pernah ada waktu yang tepat untuk hamil" tangan Daniel menepuk kening Ara dengan lembut, sebenarnya ia sedikit jengkel dengan wanita di bawah tubuhnya ini, ia selalu mengatakan hal yang sama jika untuk permintaan yang satu ini.
"Kau tidak normal, Daniel"
"Hah? meminta istri sendiri hamil masih di bilang tidak normal? mau menolak permintaanku lagi kali ini? aku sudah berkerja keras membantumu dengan data itu masih tidak mau berterimakasih?"
"Terimakasih"
"Bagus, lakukan apa mauku maka kau akan mendapatkan keinginanmu. Lagipula istriku hanya kamu, pada siapa lagi aku meminta hal ini jika bukan padamu?" Bisik Daniel kemudian melanjutkan aktifitasnya di atas tubuh Ara. Kali ini Ara tak berontak dan hanya mengikuti dan membalas permainan Daniel. Daniel tersenyum karena jelas itu sebuah persetujuan.