
Setelah Acara berakhir, semua keluarga inti berkumpul tapi Ara tak di izinkan masuk ke dalam ruang kerja Higa. Entah apa lagi yang mereka sedang rencanakan,Ara hanya tak peduli. Ara kembali ke dalam kamar bersama Daniel. Ia segera merebahkan tubuhnya di atas sofa di dalam kamar itu. Ia menatap langit-langit kamarnya, Daniel duduk tak jauh dari tempatnya berbaring
“Daniel, apa ini sungguhan?apa kau juga dengar apa yang kakek katakan tadi? "
“Hemm"
“Apa aku harus bekerja di perusahaan kakek?"
“Hemm.. Aku rasa lebih baik daripada terus bekerja dengan mantanmu”Ara segera melirik Daniel, setiap kali membicarakan mantannya wajahnya begitu dingin dan kesal.
“Hemm sepertinya lebih menyenangkan bekerja bersamanya”Goda Ara.
mendengar ucapan Ara, wajah Daniel berubah lebih kesal. Ia bangkit,mengangkat tubuh Ara dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Daniel, aku sedang haid, kau tak amnesia kan?"
“Ucapkan sekali lagi kata-kata mu tadi jika kau berani"
Ara mengerlingkan matanya menghindari tatapan Daniel yang marah. Belum sempat Ara menjawab, tiba-tiba terdengar suara ponsel Daniel berbunyi. Daniel pun bangkit meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Setelah itu ia berjalan menuju balkon dan menutup rapat pintu balkon.
Beberapa menit berlalu, Daniel kembali dengan wajah sangat tidak enak. Menatap Ara yang masih duduk di atas tempat tidur.
“Ada apa?”Tanya Ara
“Tidak ada"
Melihat Daniel yang merapikan bajunya Ara tergelitik untuk bertanya.
“Kau mau pergi kemana?"
“Aku harus keluar dulu, nyonya Qin tunggulah di sini, aku akan segera kembali"
“Tidak, aku ikut bersamamu, bolehkah?"
Mendengar jawaban Ara, Daniel mengerutkan keningnya, tumben sekali gadis ini ingin ikut bersamanya.
“Kenapa?"
“Aku tak mau tinggal di rumah ini sendirian, lebih nyaman tinggal di apartemen kecilku daripada tinggal di kandang singa yang mewah ini"
Daniel tak kuasa menahan tawanya ketika melihat mimik istrinya yang begitu lucu itu.
“Baiklah, ayo"
***
Waktu menunjukan pukul 02:20Am. Ara membuka matanya, ingatan terakhirnya ia sedang berada di dalam mobil Daniel dan setelah itu kemungkinan ia tertidur.
Ara menatap sekeliling, kamar ini seperti tidak asing tapi bukan berada di dalam apartemennya. Pelan-pelan Ara menurunkan kaki langsingnya dari tempat tidur mewah itu.
“Sepertinya aku di kamar hotel,”Batin Ara.
Ara melirik jam dinding tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Sudah sepagi ini Daniel tak ada di sampingnya, pergi kemana pria itu?"
Akhirnya dengan rasa penasAran, Ara keluar dari kamar hotel. Ia masih menggunakan gaun yang sama dengan gaun yang ia kenakan saat ulang tahun kakek, bedanya ia saat ini menggunakan sendal slip on hotel bertuliskan TopHill.
“DING” Suara pintu Lift terbuka, ia berhenti di lantai club house. Kebetulan untuk sampai di dalam club malam itu, ia harus menyusuri lorong-lorong melewati beberapa ruangan VIP. Sesaat tidak ada yang aneh dengan lorong itu, sampai ia melihat wajah seorang pria yang ia kenal berjalan menyusuri lorong dan berhenti di sebuah ruangan VIP. Dia Tritan, pria yang Ara ingat di insiden Guci mahal ketika itu. Dengan rasa penasAran, Ara mengikuti langkah Tritan. Pintu ruangan VIP itu tidak tertutup rapat, saat mendekat Ara bahkan bisa mendengar suara beberapa orang berbicara, termasuk suara Tritan saat tertawa.
“Bos, berhentilah minum, sudah terlalu banyak”Seru Tritan berbicara pada seseorang, tapi Ara tak mendengar ada jawaban dari lawan bicaranya.
“Pria itu memanggil seseorang dengan sebutan bos, apa mungkin dia pemilik Guci waktu itu? apa aku harus mengintip? jadi penasAran"
akhirnya Ara sedikit mendekat ke Arah pintu masuk, saat matanya menangkap bayangan beberapa orang di dalam, jantungnya seakan ingin keluar dari tubuhnya.
“DANIEL!!”Batin Ara berteriak ketika melihat Daniel berada di dalam sana duduk di antara Tritan dan seorang Gadis yang sangat cantik. Ara melihat beberapa botol minuman kosong di atas meja. Melihat ekspresi Daniel kemungkinan ia sedang mabuk.
“Jadi Daniel adalah bos yang pria itu maksud saat itu?”Batin Ara berkecamuk. Ara merasa menjadi manusia bodoh kali ini. Ia bahkan teringat lagi semua yang terjadi di masa lalu. Kejadian saat Tritan mengenal marga Daniel, saat ia berkata pemilik TopHill adalah temannya dst. Jika benar yang di maksud Tritan bos adalah Daniel, maka pemilik TopHill juga adalah Daniel dan pemilik Guci itu juga adalah Daniel.
“Agghhh benar-benar bodoh sampai berpikir pria itu miskin! sial!! "
Disela lamukan batinnya, ia mendengar Tritan bersuara lagi.
“Bos, kau begitu tampan kenapa bisa begitu lemah hanya karena 1 wanita? lihat Stevie di sampingmu begitu cantik”Seru Tritan pada Daniel.
Daniel menoleh pada gadis di sampingnya yang dengan manja menyenderkan kepalanya di bahu kekar Daniel. Tangan Daniel menangkap dagu Gadis itu dengan kasar dan menatapnya dengan tatapan dingin, tanpa bicara apapun kemudian melepaskan cengkraman nya dengan kasar dari dagu wanita itu.
“Nyonya Qin, sedang apa nyonya di sini?"
Tiba-tiba suara Yogi membuat Ara sangat kaget hingga tak sengaja justru mendorong tubuhnya masuk ke dalam ruangan VIP itu. Sorot mata Ara langsung tertuju pada sosok Daniel yang tak bergerak dari tempat duduknya. Tatapannya bahkan sangat dingin melihat Ara.
“A.. Aku.. Tak sengaja lewat”Jawab Ara dengan canggung
“Jadi begini kebiasaanmu jika tak ada aku? Laki-laki itu semuanya sama ya, ********!!”Seru Ara emosi melihat Daniel.
“No.. Nona Ara, kau sepertinya salah paham, Daniel tak melakukan apapun di sini"
“Kau diam!!!”Bentak Ara pada Tritan, seketika Tritan membeku
“Bagaimana aku bisa percaya pada kalian? kalian dengan mudah membodohi aku berpura-pura tak saling mengenal di Insiden Guci itu. Daniel, bahkan karena akting mu aku Sampai merasa bersalah. Tak ku kira kalian sedang bersandiwAra! baiknya kau menjadi aktor internasional pasti akan menang Grammy atau oscar!! “Setelah selesai bicara, Ara keluar dengan marah dari ruangan itu. Ia buru-buru kembali ke kamarnya, mengambil tas dan ponselnya kemudian dengan cepat pergi menuju Apartemennya.
“Daniel, kau tak mengejarnya?”Tanya Tritan khawatir. Daniel mengacuhkan Tritan, ia sama sekali tak berekspresi, ia terus meneguk bir di dalam gelas yang ada di tangannya.
“Sungguh sulit di tebak, beberapa jam lalu ia begitu terlihat peduli pada Ara, tapi saat bertemu justru malah marah-marah, dia memang aneh”Batin Tritan
“Yogi, ikuti Ara, antar dia kemanapun dia mau, jika sampai aku tahu dia pergi sendiri, nafasmu aku sendiri yang akan ambil”Mendengar ucapan Daniel, serasa bongkahan air es jatuh di atas tubuhnya, tatapan mata Daniel begitu dingin, aura yang hanya akan terasa saat Daniel benar-benar marah.
“Ba.. Baik bos"
****
Beberapa hari Ara tak masuk kerja, Kevan berkali-kali menghubunginya tapi Ara tak menjawab panggilan itu. Ara sepeti kehilangan keinginan untuk pergi kemanapun. Kemarahan Daniel pun kali ini sangat serius. Ia bahkan tidak kembali selama berhari-hari.
“Kenapa dia yang marah? bukankah harusnya aku yang marah? batinnya sambil menyuap beberapa keripik kentang ke dalam mulutnya.
Beberapa jam berlaku, Ara masih sibuk duduk di depan layar TV, sampai terdengar suara password pintu di tekan seseorang dan sedetik kemudian terdengar suara pintu terbuka. Ara yakin itu adalah Daniel.
“Kenapa datang?! tak usah minta maaf, aku tak akan memaafkanmu! pergi sana!!”Seru Ara tanpa menoleh.
“Baguslah, tak usah memaafkannya!"
Mendengar bukan suara Daniel, Ara seketika menoleh ke asal suara. Mata Ara membulat terkejut, melihat bukan Daniel tapi Kevan yang berada di belakangnya.
“Ka.. Kau???! kenapa kau kesini? bagaimana bisa?”Tanya Ara sambil tiba-tiba bangkit berdiri.
“Kenapa? bukankah kau juga tak berharap suamimu datang, kenapa kaget sekali?”Seru Kevan sambil mendekati Ara.
“Apartemen ini sudah sangat berubah, pria miskin itu pasti menghabiskan banyak uang untuk merenovasi ruangan ini, iyakan? tapi bukankah villa ku lebih nyaman sayang?”Seru Kevan dengan meraih Pinggang Ara membuatnya tertarik masuk ke dalam pelukan Kevan.
“Apa sih yang kau maksud?Kevan lepas!!"
“Kau tak ingin bersamanya kenapa harus menolak ku? kembalilah ke sisiku, aku akan membahagiakanmu Ara!"
“Haha.. Dengan cara apa kau akan membahagiakanku? dengan cara menjadikanku simpanan mu? atau dengan paksaan seperti ini setiap kau mau?"
“Apa buruknya menjadi simpananku? lagipula kau belum melupakanku"
“Cih.. Narsis!"
“Jika aku salah, kenapa sampai hari ini kau tak pernah mau tidur bersamanya? bukankah kau sedang menjaga tubuhmu hanya untukku?”Seru Kevan tersenyum sinis pada Ara.
Ara memasang wajah tak percaya,
“Hal sangat pribadi seperti ini saja bagaimana Kevan bisa tahu? darimana dia tahu?”Batin Ara.
“Kau salah!! aku melakukan itu dengannya hampir setiap malam! dia lebih baik darimu!! “Seru Ara berbohong
“Ara, kau pembohong yang buruk!"
Kevan kemudian membanting tubuh ramping Ara di atas Sofa dan membungkuk menekan diatas tubuh Ara. Bibirnya dengan kasar ******* bibir lembut Ara. Ara terus berontak berusaha mendorong tubuh Kevan tapi percuma. Kevan lebih kuat di banding tenaganya.
Tiba-tiba mereka di kejutkan oleh suara pintu terbuka, Ara sempat melihat sosok pria yang berdiri di depan pintu itu.
“Da.. Daniel!!”Mendengar nama Daniel, Kevan pun segera menoleh ke Arah pintu masuk. Ia melihat Daniel dengan marah berjalan ke Arahnya dan dengan cepat menarik kerah kemejanya dengan kasar. Belum sempat benar-benar berdiri, pukulan keras jatuh tepat mengenai sudut bibirnya. Seketika tubuh Kevan tersungkur dan pelipisnya mengenai sudut meja. Tanpa di duga Kevan justru bangun dan tertawa sambil tangannya menyeka darah segar yang terus mengalir dari ujung bibirnya.
“Ha.. Ha.. Ha.. Pasti menyakitkan melihat istri ter cintamu lebih memilih tidur bersamaku kan, ini menunjukan aku lebih pantas"
“Kevan diam!!!"
Daniel berjalan mendekati Ara dan mencengkram lengan Ara dengan kuat. Wajahnya benar-benar dingin, tak ada kelembutan yang biasa terpancar dari sorot matanya. Ada rasa sedih dan marah terlihat disana.
“Nyonya Qin, apa kau masih belum bisa melupakannya?”Tanya Daniel dingin
“Daniel, kau salah paham, aku tak tahu kenapa dia bisa di sini!"
“JAWAB!! kau masih belum bisa melupakannya kah?”Bentak Daniel pada Ara
“ARA JAWAB!!! "
“Tentu saja dia tak akan menjawabnya!! kau seharusnya tahu diri!”Sela Kevan.
Mendengar ucapan Kevan, Daniel melepaskan tangan Ara seakan menemukan jawaban di keheningan Ara. Ia menyunggingkan senyuman sinis nya di ujung bibirnya, baru kali ini melihat ekspresi wajahnya Daniel seseram ini hingga satu ruang di sudut hatinya merasa ketakutan.
“Baik, anggap saja aku telah mengganggu kalian!"