Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 56: suamimu marah?



“Kak terimakasih ya sudah mengantar ku” seru Ara pada Denis di dalam mobil setelah mereka sampai di lobby apartemen Ara. Mereka hanya berdua karena Elly di paska Tritan untuk berada satu mobil dengannya.


Denis dengan heran melihat sekeliling apartemen Ara. Ia sepeti tak percaya Ara tinggal di apartemen sederhana ini. “Ara, apa boleh ikut turun dan mengantarmu sampai depan pintu? “Tanya Denis. Ara sebenarnya tak keberatan hanya saja ia jadi ikut heran. “Hemm, baiklah”Jawabnya singkat kemudian ia membuka pintu dan turun di ikuti oleh Denis.


Mereka berjalan melewati lobby dan kemudian menaiki Lift menuju apartemen Ara. Sesampainya di depan pintu, seorang wanita muda tetangga sebelah apartemen Ara membuka pintunya membawa kantung sampah. Sepertinya ia akan membuang sampah. Wanita itu menatap Ara dan Denis dengan pandangan Aneh.


“Sudah punya suami tampan masih saja berselingkuh dengan pria lain, ternyata benar rumor di Tv itu”Bisiknya sambil mengunci pintu kamarnya. Meskipun ia berbisik, tapi jarak antara kamarnya dan kamar gadis itu tak jauh jadi pasti terdengar jelas.


“Nona, apa kau sedang membicarakanku? “, tanya Ara dengan nada kesal. Dengan Acuh wanita itu menoleh pada Ara dan kemudian melirik Denis. “Aku tak membicarakanmu, apakah terdengar seperti dirimu yang aku membicarakan? “Seru wanita itu dengan ketus.


“Hemm, jika bukan aku, aku akan melupakannya tapi jika yang kau maksud itu aku, aku hanya bertanya apa kau sedang iri padaku karena tak bisa berada di sekeliling pria tampan?”Tanya Ara tertawa kecil sambil melipat tangannya di dada.


“Apa? iri padamu? kenapa harus iri dengan wanita penggoda sepertimu?”Serunya sinis, wajahnya kemudian menoleh pada Denis “Tuan, jangan mau di goda dengannya, dia telah bersuami”Ujar wanita itu pada Denis. Denis tersenyum mendengar perkataanya kemudian berjalan mendekati wanita itu hingga tubuhnya membentur pintu di belakangnya.


Wajah sinis wanita itu sekarang berubah menjadi merah merona karena wajah Denis begitu dekat dengannya membuatnya malu seketika.


“Baiklah, kalau aku tak boleh menggodanya, bagaimana kalau sebagai gantinya aku menggodamu saja dan biarkan aku masuk ke kamarmu? bagaimana nona? “Seru Denis menggoda sambil memainkan rambut wanita itu. Ara tak percaya Denis yang ia kenal bisa begitu genit menggoda tetangganya, baru akan menarik lengannya, ia sudah mendengar jawaban dari wanita itu pada Denis.


“Benarkah? apa tuan serius? “Tanya wanita itu malu-malu. Denis kemudian memundurkan tubuhnya dan tersenyum sinis pada wanita itu.


“Tentu saja tidak serius, kau menunjuk seseorang penggoda justru kaulah penggoda sebenarnya, haha”Denis kemudian meninggalakan wanita itu dengan wajah sinis, dan gadis itu dengan kesal memandang punggung Denis yang berlalu dari hadapannya. Ia kemudian berjalan meninggalkan Ara dan Denis untuk membuang sampah. Ara menatap wanita itu sambil tertawa kecil.


“Aku tak menyangka kau jahat juga kak “Ara tertawa


“Pasti menyebalkan kan punya tetangga seperti itu? hehe"


“Benar, sangat menyebalkan"


“Jadi ini tempat tinggalmu? “Tanya Ara.


“Hemm iya dulu, sekarang aku tinggal di StarLake bersama suamiku”Serunya.


Mendengar StarLake, denis langsung tahu itu adalah salah satu komplek perumahan elit di kota A, lalu kenapa ia tak membelikan Ara cincin kawin. Benar-benar aneh. Batin Denis.


Tak lama berselang Elly datang bersama Tritan. Ara menatap Tritan dengan tak bersahabat.


“Mau apa kau kemari? memata-matai kami? “Tanya Ara yang tahu Tritan sahabat Daniel.


“Hehehe.. Tidak, aku hanya ingin mampir saja, sudah lama tak kemari"


“Tidak ada yang ingin kau di sini jadi segeralah pergi”Timpal Elly memandang sinis Tritan.


“Sudah sudah, ayo masuk “Seru Ara sambil membuka pintu.


“Hemm Ara aku harus kembali ke rumah sakit, lain kali aku akan mampir lagi, oke? “Sahut Denis


“Hemm baikla,Kak, hati-hati di jalan"


“Hemm” angguk Denis kemudian berlalu dari hadapan mereka.


Akhirnya mereka masuk ke dalam, elly dan Tritan duduk di atas sofa sedangkan Ara berjalan ke dapur untuk membuat minuman.


“Bagaimana kalian bisa bersama? “Tanya Ara dari dapur.


“Panjang ceritanya Ra, aku heran dengan pria ini, kepo sekali dengan hidupku"


“Kaun harusnya berterimakasih kalau bukan karena aku, kau tak akan berkesempatan mempermalukan pria gendut mu itu”Seru Tritan tertawa sinis pada Elly. Ara kemudian datang membawa minuman dingin dan meletakannya di atas meja.


“Pria gendut siapa yang kau maksud? Akan? “Tanya Ara pada Tritan.


“Hemm siapa lagi tunangannya, lagipula seleramu itu sungguh rendah, bagaimana bisa kau bertunangan dengan pria seperti itu haha"


“Haiishhhh,, diam kau! cinta itu tak pandang bulu tau! "


***


Jam sudah menujukan pukul 7 malam, Daniel kembali ke StarLake mansion membawa beberapa kantung belanjaan berisi sayuran, buah dan berbagai jenis daging-dangingan.


Sebelum pulang, ia menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah supermarket karena ia ingat dapurnya kehabisan bahan makanan. Tapi saat mobilnya berhenti di depan rumah, ia melihat lampu padam, tak ada tanda kehidupan disana. Ia pun turun dan masuk ke dalam rumah. Yang menyambutnya hanya Paw, ia di kejutkan dengan kondisi rumah yang sangat berantakan.


Sofa kulit mahal yang ia beli di Eropa terkoyak dan rusak. Siapa lagi kalau bukan kerjaan Paw. Ia kemudian mengangkat tubuh paw dan menggantungkan tubuhnya di depan wajah Daniel. Daniel melotot menatap Paw, paw seperti tahu Daniel marah ia memasang wajah memelas.


“Tak usah memandangku dengan memelas seperti itu, kau tahu berapa harga sofa itu? yang jelas bisa untuk memberi makan anak cucumu hingga tak bisa berkembang biak! dimana ibumu? “Tanyanya kemudian membawa Paw masuk ke dalam pelukannya.


Daniel berkeliling dan sesekali memanggil nama istrinya itu, namun tak ada jawaban.


“Kemana ibumu pergi Paw? “Daniel menurunkan Paw dan sambil memberinya makan dan minum di dalam kandang.


Daniel kemudian menghubungi Ara, panggilan tesambung beberapa detik kemudian.


“Halo, dimana kau sekarang? kenapa tak ada di rumah”Tanya Daniel kesal


“Hemm aku sedang di apartemen bersama Elly dan Tritan, mungkin aku tak akan pulang Daniel, kau tidur sendiri dulu ya, ”Seru Ara dengan cuek berbicara pada Daniel. Daniel mendengar ucapan Ara ia pun semakin kesal.


“Ara sayang, kau lebih memilih tidur dengan sahabatmu daripada suami mu ini? bukankah itu keterlaluan?! "


“Tapi aku dan Elly sudah lama tak bertemu “Serunya memelas.


“Aku yang kesana atau kau yang kesini? aku tak bisa tidur jika sendirian"


Mendengar kata-kata Daniel, Ara tak bisa menahan tawanya, suara Daniel seperti seorang anak kecil yang merengek minta di temani tidur. Ara kemudian menatap Elly yang juga sedang menatapnya bingung.


“Baiklah, tunggu aku"


“Katakan pada Tritan untuk mengantarmu, jika dia tak mau, katakan padanya nasib perusahaan ada di tanganku"


titah Daniel seolah raja yang sedang murka. Bahkan tanpa menunggu jawabannya ia mematikan panggilan itu.


“Suamimu marah?”Tanya Elly, Ara mengangguk


“Kau di mintanya pulang? "


“Elly, maafkan aku, mungkin aku tak bisa bermalam denganmu, tapi anggap saja apartemen ini milikmu, oke? “Tanya Ara


“Aku bisa menemanimu jika kau mau? “Celetuk Tritan melirik Elly, Elly sekali lagi melempar Tritan dengan bantal dan mendengus kesal. Bagaimana bisa ia kenal dengan manusia super menyebalkan dan genit sepertinya.


“Hei hei, kau berani kurang ajar dengan sahabatku, berani menyentuh nya sedikit kau akan tahu rasa nanti”Ancam Ara sambil merangkul Elly, “Lagipula Daniel memintamu mengantarkanku pulang,"


“Ah manusia itu selalu saja mengacaukan rencanaku"


“Rencana apa? sana sana pergi, aku bisa sawan jika terus melihatmu"


“Baiklah setelah aku mengantar nyonya negAra Api, aku akan kemari lagi, oke? "


“Mimpi!! "


Ara hanya bisa tertawa melihat pertengkAran mereka berdua, mereka terlihat Cocok satu sama lain, tapi sayangnya Tritan ini adalah seorang playboy, mungki tak terhitung berapa banyak wanita yang telah ia goda. Ara kemudian menarik lengan Tritan yang masih duduk di kursi.


"Ayo cepat, mau mau kehilangan kepala? “Seru Ara sambil mengambil mantelnya yang tergeletak di sofa.


“Haishh baiklah baiklah, Elly, jangan lupa nanti malam buka pintu, oke?”Seru Tritan masih menggoda Elly.


“Elly jauhi pria ini, dia sangat berbahaya dan DPO polisi di sini” Timpal Ara sambil tertawa. Dari wajah Tritan ia seperti ingin membalas Ara namun ia teringat Daniel, ia mengurungkan niatnya seketika.