
"Aku tidak percaya kau akan benar-benar datang ke sini dan yang lebih mengherankan kau datang tak lama setelah menelfon ku, apa kau benar-benar merindukanku, Elly?" tanya Tritan yang melirik Elly di sampingnya yang sedang menatap indahnya kota G.
"Tentu saja aku rindu padamu, kau tiba-tiba hilang, aku kesepian tak ada teman bertengkar tahu!"
"Benarkah hanya karena itu? kenapa aku jadi kecewa? haha" Tritan tertawa sambil mengacak rambut Elly gemas.
"Tritan hentikan, kau membuat rambutku berantakan!"
"Biar saja, biar terlihat jelek! agar tak ada pria yang menyukaimu"
Mendengar ucapan Tritan, Elly mendengus kesal. Ia memang menyukai pria ini, tapi jika bertemu dengan pria ini, ia tak pernah seharipun tak di buatnya kesal.
"Ngomong-ngomong, Tritan, apakah kau tahu dimana Ara tinggal sekarang?" Tanya Elly sambil lebih mencondongkan tubuhnya menghadap Tritan. Pria itu tidak menoleh, hanya melirik dan mengangguk.
"Bisa bawa aku ke tempatnya sekarang?" seru Elly antusisas.
"Aku tahu kau pasti merindukan Ara sahabatmu ya?"
"Merindukan Ara? kau bercanda? aku bahkan datang ke sini untuk menghabisinya!"Batin Elly
"Tentu saja merindukannya, seringkali aku memikirkannya, bagaimana keadaannya, seperti apa kondisinya sekarang. 2 tahun ia hilang tanpa kabar, bagaimana aku bisa tak merindukannya" Ujar Elly dengan wajah pura-pura sedih di hadapan Tritan, hingga pria itu sedikit iba melihat Elly.
"Aku akan membawamu, tapi tidak sekarang. Sekarang katakan padamu kau akan tinggal di mana? atau di rumah ku saja? kamarku masih sangat luas Elly" Satu kedipan Elly Terima dari dari salah satu mata Tritan. Tritan tersenyum lembar hampir terkekeh geli melihat reaksi wajah Elly yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kau saja yang tinggal bersamaku di hotel?" jawab Elly dengan wajah datar.
Ciiiitttt.. Tiba-tiba Tritan menginjak pedal rem, menoleh pada Elly dengan wajah bingung. "Kau serius dengan perkataan mu barusan Elly?"
"Tentu saja tidak! aku akan rugi besar jika mengizinkan playboy sepertimu tinggal bersamaku"
Rasa kecewa jelas terlihat dari wajah Tritan. Ia pikir Elly benar-benar mengizinkannya tinggal bersamanya, karena secara tak langsung itu adalah undangan untuk berkencan.
Beberapa menit berlalu, Elly dan Tritan sampai di hotel yang di sebutkan Elly dan ia pun mengantar Elly sampai ke dalam kamar.
Kamar itu adalah kamar Suite yang mewah. Tritan bahkan sedikit tertegun Elly bisa menyewa kamar seelit ini, karena seingatnya dulu Elly hanya gadis biasa yang jika di lihat dari luar pun orang akan tahu dia bukan dari kalangan Elit.
Tritan dengan cepat melemparkan tubuhnya di atas sofa kamar itu. Menuangkan segelas wine yang sudah tersedia di atas meja.
"Aku dengar kau menjadi direktur menggantikan Ara? benarkah itu Elly?"
"Benar"
Meskipun Tritan sering kali bertemu dengan Elly, namun tak pernah sekalipun ia membahas tentang promosinya di Firegate, namun kali ini berbeda. Tritan tiba-tiba tergelitik untuk membahasnya, karena Ara tiba-tiba di temukan. Lalu bagaimana nasib gadis ini kelak? bagaimanapun, promosinya di perusahaan Ara terlalu mendadak dan mengagetkan banyak orang. Daniel juga merasa ini terlalu ganjil. Tritan dan Daniel pernah menyelidiki keganjilan ini, siapa tahu Elly terlibat, namun beberapa kali di selidiki pun tak membuahkan hasil, Daniel juga akhirnya menghentikan penyelidikannya karena merasa Elly adalah sahabat istrinya yang paling dekat dengannya, rasanya juga tidak mungkin Elly melakukan hal jahat pada Ara.
"Kalau begitu kau berhutang merayakannya denganku, ayolah kita bersenang-senang Elly"
***
"Kakek, aku dan Daniel pulang dulu ya, aku akan berkunjung 3 hari lagi" senyum Ara sambil memegang tangan Peter. Peter pun membalas memegang punggung Ara sambil tersenyum, kemudian menoleh pada Daniel.
"Kau jaga cucuku dengan baik,"
"Kakek apa yang kakek bicarakan? aku dan dia tidak ada hubungan apapun, selamanya juga tak akan menyukainya!!"
"Benarkah? kita lihat nanti saja kau akan menyukainya atau tidak"
"Tidak, tidak akan!" Seru Ara dengan cepat.
Mereka akhirnya pamit dan berjalan menuju mobil Daniel. Daniel membukakan pintu untuk Ara, wajah Ara saat ini sulit di jelaskan. antara kesal dan malu menjadi satu. Daniel menghentikan gerakan tangannya menarik tuas perseneling ketika melihat wajah Ara masih tak berubah, ia masih terlihat sebal.
"Kau marah? marah karena Peter mengatakan hal itu?"
"Kalian para pria kenapa selalu bisa membuat kami wanita kesal sih? lagi pula tuan Qin, kita baru kenal juga tidak dekat. Jadi berhentilah bertingkah seakan kita sudah saling mengenal lama"
"kita bukan sekedar saling mengenal, kau saja yang tidak ingat!" bisik Daniel dengan suara rendah sambil memalingkan wajah dari Ara. Senyuman kecil yang sebelumnya merekah di wajah pria itu, Tiba-tiba hilang menjadi sangat getir.
Mendengar ucapan Daniel barusan, tangan Ara tiba-tiba menggenggam punggung tangan Daniel yang saat ini memegang tuas persneling. Daniel tiba-tiba menoleh dan mengernyitkan alisnya.
"Kau bilang apa Daniel barusan?" tanya Ara.
Jantung Daniel seakan hendak berhenti berdetak. Ia pikir Ara tak mendengar ucapannya barusan, ternyata justru membuatnya bertanya penasaran. Daniel diam sejenak, antara ingin jujur pada Ara atau terus menghindar dari kenyataan.
"Apa jika aku jujur, kau akan marah dan meninggalkanku?" tanya Daniel serius menatap wajah Ara.
"Meninggalkanmu? apa kita sedekat itu?"
Daniel "....."
Beberapa detik berlalu, Ara masih menantikan jawaban Daniel yang masih terdiam melihatnya.
"Kamu adalah istriku, Ara!" seru Daniel dengan ragu-ragu. Beberapa saat wajah Ara terlihat sangat terkejut, Daniel bahkan sangat panik melihat ekspresi Ara saat ini. Ia terus memikirkan Ara pasti akan menghilang, menjauh dan bahkan marah mendengar pengakuannya ini. Tapi di menit selanjutnya, Ara justru tertawa,
"Kau sepertinya menderita penyakit delusi Daniel, haha"
Daniel yang sudah berpikiran jauh ke depan justru di buatnya mati keheranan. "Bagaimana dia bisa justru tertawa bahkan mengatakan aku menderita delusi?! aku kan mengatakan yang sebenarnya!" batin Daniel menggerutu dan dengan segera Daniel meletakkan punggung tangannya di kening Ara. Memastikan wanita di depannya ini tidak sakit demam.
"Apa yang kau lakukan?" Ara segera menghentikan tawanya saat punggung tangan Daniel menyentuh keningnya.
"Aku khawatir kau sakit Ara"
Saat Daniel mengatakan ia khawatir Ara sakit, ia tidak main-main. Ia hanya sulit percaya Ara semakin tertawa lebar saat ini. Hal ini membuat Daniel benar-benar kesal. Butuh waktu beberapa detik untuk meyakinkan diri sendiri untuk berkata jujur pada wanita di sampingnya ini, tapi setelah jujur, Ara justru tertawa tak percaya.
"Bukan aku yang sakit, kau lah yang sakit Daniel, bisa-bisanya kau ..... "
Ara tak sempat melanjutkan ucapannya pun juga tak sempat berkedip saat ia merasakan bibir lembut Daniel tepat menempel di atas bibirnya.
Otak Ara tiba-tiba membeku, jantungnya berdetak sangat cepat. Ada perasaan aneh di hatinya. Ciuman pria ini seperti sangat familiar di bibirnya, tubuhnya bahkan tak menolak sama sekali perlakuan Daniel saat ini.
"Kenapa ciumannya, wangi parfum di tubuhnya, semua ini kenapa serasa tidak asing bagiku? apa dia benar-benar........ "