
Di ruang makan, semua orang sudah mulai kelaparan tapi sarapan yang di tunggu-tunggu masih belum juga datang. Meilyn dan Shamus mulai kehabisan kesabaran. Meilyn memanggil. Seorang pelayan untuk memanggil Daniel dan Ara. Namun belum sempat pelayan itu datang mendekat, Windy memegang pergelangan tangan Meilyn dan tersenyum.
"Bibi, biar aku saja yang memanggil mereka" sela Windy tersenyum palsu.
"Apa kau yakin?"
"Iya bi" ujar Windy kemudian berdiri dan pergi ke arah dapur. Beberapa langkah berjalan dari kejauhan ia melihat sesuatu yang aneh. Semua pelayan dapur dan koki berada di depan pintu sambil sesekali berbisik sambil tertawa. Saking seriusnya mereka mengintip sepasang suami istri itu, mereka tidak menyadari Windy sudah berdiri di belakang.
"Ehemm" Windy berdehem, suara deheman Windy membuat semua orang langsung berdiri tegap dan berbalik badan, menunduk.
"Apa yang sedang kalian lakukan? kenapa justru di depan pintu tidak melakukan pekerjaan kalian?"
"Maaf Nona Windy, kami semua di minta keluar oleh Tuan Muda dan tidak diizinkan masuk sampai Nona muda selesai masak"
Mendengar ucapan salah satu koki, Windy mengepalkan tangannya, ia mulai berjalan mendekati pintu dan semua orang segera menyingkir. Dari jendela kecil pintu dapur, Windy bisa melihat Daniel dan Ara sedang memasak bersama sambil bercanda. Wajah Daniel begitu hangat pada Ara,
"Sebongkah es itu bisa mencair hanya karena di sampingnya ada Ara. Bagaimana Ara bisa melakukannya?" hatinya menjadi hitam dan kesal. Bertahun-tahun ada di sisi Daniel, ia sama sekali tak punya kesempatan bercanda seperti itu bersama pria idamannya itu. Hatinya seketika terbakar cemburu, dengan kesal ia mendorong pintu dapur dan menghampiri mereka. Suara pintu dapur terbuka membuat Daniel dan Ara menoleh ke arah pintu masuk.
"Kenapa kau kesini?"
"Daniel, bibi meminta kalian kembali dan meminta koki untuk membuatkan sarapan"
"Tidak perlu, kami sudah selesai" ujar Daniel ketus kemudian memanggil pelayan untuk membawakan berporsi-porsi pancake kemudian Daniel menggenggam tangan Ara keluar melewati Windy begitu saja. Mereka berjalan ke arah meja makan dan duduk di tempatnya di susul Windy di belakang.
Ara duduk di samping Daniel dan Brandon. Tak berapa lama makanan datang. Suasana disana tiba-tiba hening hanya terdengar bunyi dentingan garpu dan pisau yang saling bergesekan dengan piring. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut semua orang. Mata Ara mengedar beberapa saat, melihat reaksi mereka tidak ada yang aneh ia menghela nafas lega. Setidaknya ia tak buat malu di bagian memasak sarapan ini.
"Istriku ternyata pintar memasak" bisik Daniel mencondongkan kepalanya lebih mendekati telinga Ara, membuatnya tersanjung.
"Tentu saja, kau tahu tidak aku pernah menang juara pertama lomba memasak ibu-ibu di komplek keluargaku di kota G, jadi jangan pandang rendah masakanku Daniel" jawabnya sedikit tertawa pada Daniel. Daniel pun ikut tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, baiklah... harusnya sejak dulu aku biarkanmu memasak untukku" serunya tanpa menatap Ara yang tiba-tiba menoleh padanya.
"Maksudnya?aku tidak pernah memasak untukmu dulu?"
"Benar"
"Lalu siapa yang masak?" tanya Ara mengerutkan alisnya menatap Daniel menyelidik. Seakan mengabaikan Ara, Daniel tak menjawab dan terus tersenyum dengan tangan sibuk mengiris pancake nya.
"Daniel, malam ini akan ada acara makan bersama keluarga besar dan kolega penting keluarga kita. Ibu mengundang kolektor berlian terkenal yang juga pemilik toko perhiasan paling besar di asia, dia kebetulan ada di China jadi ibu sekalian mengundangnya dan juga ibu mengundang beberapa istri-istri pejabat teman ibu. Pastikan wanita di sampingmu tidak membuat malu keluarga kita" ujarnya dingin.
"Jangan khawatirkan Ara, dia juga Nona muda dari keluarga terpandang. Sebaiknya khawatirkan saja diri mu sendiri," ujar Daniel ketus. Mendengar ucapan Meilyn, Ara tidak merespon apapun. Kejadian hari ini sudah cukup membuatnya mengerti karakter ibu mertuanya, ia memang sepertinya pandai membuat orang kesal jadi ia tak ingin menghabiskan waktu menaikan emosi untuk wanita ini. Ara terus menyuap seakan tak peduli dengan ucapan Meilyn.
Beberapa jam berlalu hari mulai gelap. Daniel dan Brandon sudah berada di Ballroom di kediaman keluarga Qin karena seperti biasa, Ara adalah yang paling terakhir siap jadi ia putuskan untuk membawa Brandon duluan karena banyak tamu yang harus ia sambut. Daniel hanya ingin istrinya tampil menawan hingga memilihkan gaun dan memanggil MUA terbaik di kotanya. Ia tak ingin ada yang memandang rendah istrinya itu.
Klak... Pintu BallRoom terbuka, dua orang pelayan wanita membukakan pintu membuat semua orang terdiam dan menatap ke arah pintu. Sedikit demi sedikit pintu melebar dan terlihat wanita cantik berada di ambang pintu. Dengan gaun berwarna putih gading dan sebuah kalung berlian cantik di leher Ara membuat semua mata yang memandang terkesima. Daniel yang melihat Ara berdiri di ambang pintu juga tertegun beberapa saat, matanya mengarah pada kalung yang Ara kenakan yang sebelumnya ia berikan di kamar. Dari sisi manapun Ara memang mempesona. Tak heran seorang Kevan sulit melepaskannya dulu.
Daniel dengan gagah berjalan mendekati bidadarinya, mengulurkan tangannya dengan senyuman menawan. Mata Ara membulat, ia membalas senyuman suaminya dan menerima uluran tangan Daniel dengan lembut. Dengan bangga, Daniel membawa masuk istrinya yang tengah menjadi sorotan semua mata di ruangan itu. Windy yang sebelumnya menjadi ratu di pesta itu karena kecantikan dan kepopulerannya, setelah Ara datang semua orang seakan berhenti memperhatikannya dan hanya memandang Ara.
"Meilyn, anakmu sungguh pintar mencari istri, dia begitu cantik menawan. Kau pasti senang"
"Tentu saja senang, aku dengar dia anak dari keluarga Romanof yang juga kaya raya, aku harap putraku juga mendapatkan istri seperti menantumu"
Puji sahabat-sahabat Meilyn, Meilyn merasa sedikit memiliki muka tapi hanya tersenyum dingin. Windy mendengar pujian sahabat-sahabat Meilyn membuatnya geram dalam hati namun berusaha tetap elegan.
"Kau tak berniat mengenalkan menantu cantikmu pada kami? sekalian kita berkumpul untuk melihat-lihat berlian yang di bawa oleh Tuan Robert" ujar Merry pada Meilyn. Dengan berat hati Meilyn memanggil pelayan untuk memanggil Ara. Setelah Ara datang dan berkenalan dengan beberapa teman mertuanya, ia duduk di samping Meilyn.
Ara melihat satu persatu wanita-wanita paruh baya di depannya. Ini adalah perkumpulan wanita-wanita sosialita. Sepanjang obrolan mereka hanya membicarakan kekayaan keluarganya masing-masing. Dari penampilan mereka tak ada yang tidak memakai berlian, baik cincin, kalung, anting semuanya berlian. Apalagi ketika Robert membicarakan tentang kadar karat berlian, hampir semuanya berebut menyebutkan yang paling tinggi. Ara menghela nafas lembut dan menggeleng dalam hati.
"Hidup seperti itu pasti sangat melelahkan, hidup berpikir harus lebih kaya dari orang lain apa enaknya? jika sudah lebih kaya dari orang lain lalu mau apa?"batin Ara yang tak habis pikir.
"Nona, kalung berlian yang kau kenakan indah sekali. Boleh aku melihatnya?" tanya Robert pada Ara.
"Suamiku yang memberikannya, tentu saja silahkan" ujar Ara sambil membuka kalung berlian yang ia kenakan.
"Model kalung ini sederhana tapi tahukah kau Nona, kalung berlian ini berkualitas tinggi, Tuan muda pasti sangat mencintaimu" puji Robert sambil mengembalikan kalung Ara.
"Tentu saja, gadis secantik ini pasti sangat di manjakan oleh Daniel," seru salah satu dari mereka. Ara tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
"Terimakasih atas pujian anda sekalian," jawab Ara tak menghentikan senyumanya sambil mengambil kembali kalungnya dan memakainya kembali.
"Hei kalian terlalu memuji menantuku, ia bisa besar kepala. Lihat semua... aku juga menggunakan kalung berlian, bukankah kalung ini lebih berkilau dan cantik?" ujar Meilyn membuka kalungnya dan memperlihatkan pada wanita-wanita di sebelahnya ,seakan tak membiarkan Ara tersenyum bangga.
"Wah benar, ini lebih cantik" ujar para sosialita itu. Namun saat kalung itu berada di tangan Robert, Robert mengerutkan alisnya. Ia menatap secara seksama kalung itu. Semakin dilihat semakin mengerutkan alisnya.
"Nyonya Meilyn , darimana kau dapat kalung ini?" tanya Robert serius.
"Windy kesayanganku yang memberikannya" Meilyn tersenyum sambil menoleh pada Windy. Windy membalas senyuman hangat Meilyn. "Robert kenapa kau bertanya? kau pasti terpesona kan? maaf kalung itu tidak akan aku jual" sambungnya angkuh.
"Benar tuan Robert, itu adalah kalung berlian dari toko perhiasan keluargaku. Jadi pasti indah" timpal Windy sama angkuhnya dengan Meilyn.
"Berlian ini palsu," ujar Robert mematahkan keangkuhan Meilyn dan Windy.