Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 47: sayangnya, aku masih lapar nyonya Qin



Daniel membawa Ara keluar dari ruangan Kevan dengan langkah yang cepat, ia acuh tak acuh melewati kerumunan dan di saksikan oleh banyak pasang mata.


Daniel tak peduli, ia semakin tak tega melihat wajah Ara yang semakin merah dan menahan kesakitannya. Keringatnya terus membanjiri tubuhya.


“Daniel, aku sakit, sakit sekali, tolong aku”Rintih Ara pada Daniel. Ara terus menyandarkan masuk ke dalam pelukan Daniel


“Ara, bertahanlah aku akan menolongmu”Seru Daniel. Ia terus melangkahkan kakinya menuruni Lift dan masuk ke dalam mobil


Hotel yang di pesan Daniel, untung saja tak jauh dari kantor Kevan. Hanya butuh beberapa menit. Sesampainya di dalam kamar Daniel meletakan tubuh Ara di atas tempat tidur. Tak menunggu lama Ara segera menarik kerah baju Daniel dengan tenaganya yang tersisa dan mencium bibir Daniel dengan penuh hasrat. Tentu saja itu di sambut baik oleh Daniel, ia sudah menunggu lama untuk bisa menyentuh istrinya itu.


Dengan cepat Daniel membuka gaun dan semua kain yang membalut tubuh putih Ara. Ara pun tak tinggal diam, ia juga melucuti satu per satu pakaian yang di kenakan Daniel, otot dada dan perut Daniel pun terlihat sangat menggoda di mata Ara saat ini. Daniel terus bermain dengan bibirnya, tangannya bermain bebas menjelajahi tubuh Ara. Pria diatasnya itu kini menekan tubuhnya tanpa ampun. Ara dapat dengan mudah mencium bau maskulin di tubuh Daniel, begitu maskulin, nafasnya juga terasa sangat berat dan panas.


Pelan tapi pasti Daniel memasuki bagian bawah tubuh Ara hingga membuat tubuh gadis itu bergetar hebat hingga tak bisa menahan desahannya.


“Sshh..Daniel, pelan sedikit.. Sakit, ” seru Ara dengan nada berbisik di telinga Daniel tapi ocehannya tak di hiraukan Daniel, pria itu tetap dengan kuat melanjutkan gerakannya hingga berjam-jam, membuat Ara terkapar kelelahan dan tertidur.


Saat Ara terbangun, ia membuka matanya dengan malas. Ia tak melihat Daniel di sampingnya. Ara merasakan sekujur tubuhnya terasa sakit apalagi di bagian bawah perutnya. Gerakan Daniel tadi tidak bisa si bilang halus juga tidak bisa di bilang kasar. Ia tak pernah membayangkan Daniel ternyata sekuat itu, bahkan lebih kuat dari Kevan.


Dengan lemah Ara mencoba turun dari tempat tidurnya dengan tubuh polosnya ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam kamar mandi ia terkejut ketika melihat bayangan tubuhnya terpantul di cermin kamar mandi. Tubuhnya di penuhi oleh tanda merah seakan Daniel sedang menandai daerah kekuasannya. Tak sadar, wajah Ara memerah


“Pria itu seperti singa kelaparan saja, ” batin Ara, diam-diam ia menyunggingkan senyumnya, anehnya ada perasaan hangat hampir semacam rasa bahagia di hatinya, seperti sedang melepaskan sebuah beban, akhirnya ia melakukan tugasnya sebagai istri Daniel. Tak sesulit yang di bayangkan sebelumnya, hal ini justru membuatnya senang.


“Ada apa ini?apa aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya? “Pikirnya heran.


kalau bukan karena obat yang di berikan Sisil, mungkin ia juga belum bisa memutuskan untuk tidur dengan Daniel suaminya.


Setelah beberapa lama ia di kamar mandi, Ara akhirnya keluar dari kamar mandi dengan di balut handuk putih, di atas nakas ia melihat sebuah paper bag berwarna cokelat yang ia baru sadar berada di nakas samping tempat tidurnya tadi. Ia berjalan membuka paper bag itu, paper bag itu berisi baju ganti untuknya, pasti Daniel yang menyiapkannya.


“Dia benar-benar pria pengertian” batin Ara memuji Daniel.


Setelah selesai berpakaian Ara mencoba mencari sosok Daniel diluar kamar, ia mendongakkan kepalanya ke setiap sudut dan seperti biasa, ia melihat Daniel di tempat favoritnya yaitu dapur. Ara berjalan perlahan mendekati Daniel, Daniel yang menyadari langkah Ara, iapun menoleh ke pada Ara.


Daniel saat ini mengenakan sebuah kaus longgar berwarna putih dengan celana santai selutut berwarna cokelat. JArang sekali ia melihat Daniel memakai pakaian santai seperti ini.


“Eh tunggu, bukankah itu adalah baju yang aku pilihkan untuknya saat awal kami menikah dulu?dia benar-benar membelinya dan sekarang memakainya?”Batin Ara tak sadar melamun berdiri menatap Daniel.


“Kenapa hanya berdiri di situ? kemarilah!, "perintahnya


“Hemm, ”Jawab Ara singkat


kemudian langkahnya berhenti dan duduk di kursi tinggi di belakang counter meja dapur dan memandangi Daniel yang sedang sibuk dengan alat masaknya.


“Nyonya Qin, kau tidur lelap sekali, apa aku membuatmu terlalu lelah? “Seru Daniel dengan wajah mengejek. Kata-kata Daniel sukses membuat wajah Ara merona bak tomat.


“Iya huh, kau membuat tulang-tulangku hampir copot!"


“Jadi sekarang pasti laparkan?"


“Hemm, kau masak apa?"


“Makanan kesukaanmu"


“Memangnya kau tahu makanan kesukaanku?"


“Kaki ayam pedas dan paha ayam panggang kan"


“Salah, itu adalah makanan kesukaanmu”Seru Ara menekuk wajahnya, ia langsung teringat saat pertama kali ia mengajak Daniel pergi ke pasar malam kala itu. Mendengar ucapan dan melihat ekspresi Ara, Daniel tak bisa menyembunyikan tawanya.


Tak berapa lama, Daniel selesai memasak dan membawa beberapa piring ke hadapan Ara. Masakan Daniel memang tidak ada duanya, entah ia pernah belajar dimana memasak makanan-makanan lezat ini. Ia seperti terlahir menjadi koki alami. Kenapa dia tak jadi koki saja sih? batin Ara.


Disela mereka menikmati makan malamnya, Daniel menatap Ara dengan tatapan dalam tak seperti biasanya. Ara menatap Daniel dengan heran.


“Ada apa?kenapa tiba-tiba menatapku serius seperti itu?"


“Bukan, aku yakin istrinya"


“Aku tak ingin kau bekerja lagi dengannya"


mendengar ucapan Daniel, Ara menatap wajah pria di depannya itu.


“Ya wajar saja sih Daniel memintanya berhenti setelah kejadian ini, pasti di pikirannya tidak ada hubungan profesional antara mantan pacar, apalagi setelah kejadian ini ia pasti tak akan percaya lagi pada Kevan”Batin Ara.


“Masih tidak mau berhenti? kenapa diam?”Daniel tiba-tiba meletakkan sendoknya dan menatap Ara lebih tajam, hawa dingin seketika menyelimuti tubuhnya. Wajahnya terlihat marah.


Ara tak berani bilang tidak mau, lagi pula ia juga tak berpikir ingin kembali. Mungkin sebaiknya mulai sekarang ia fokus pada perusahaan milik keluarganya. Bukankah ini kesempatan bagus untuk pergi dari Kevan? tapi kalau ia pergi sekarang, bagaimana dengan tujuannya kesini? Kevan satu-satunya orang yang tahu dimana ibunya sekarang kan?


“Daniel, apa kau tahu kenapa aku kesini dengan Kevan?”Tanya Ara


“Tentu saja bekerja, apa lagi?"


“Daniel, kau bilang kau akan membantuku mencari ibuku, apa sudah ada hasil?"


Tiba-tiba mata Daniel mengerjap, ia memang sedang menyelidiki tentang ibunya, tapi hasil dari penyelidikan itu pasti akan menyakiti hati Ara. Ibunya sudah meninggal, bagaimana ia harus menyampaikannya?


“Belum”Kelit Daniel


“Aku datang kesini bukan karena bekerja dengan Kevan, ia menjanjikan ku untuk bertemu dengan Ibuku"


“Kenapa kau tak katakan padaku sebelumnya tentang hal ini?!”Tanya Daniel dingin, suaranya sedikit meninggi.


“Saat kau pergi meninggalkan ku di malam saat kau melihatku dengan Kevan, aku berusaha menyusulmu dan datang ke TopHill berusaha bicara dan ingin menjelaskan semuanya padamu, tapi sesampainya disana, aku justru melihatmu sedang asik bercumbu dengan gadis cantik, aku pikir aku akan mengganggu jika aku masuk, jadi aku urungkan niatku"


Mendengar ucapan Ara, tiba-tiba ada perasaan bahagia di hati Daniel, ia pikir Ara tak peduli padanya sampai berhari-hari karena Kevan tapi ternyata gadis itu salah paham tentang apa yang terjadi malam itu.


“Kenapa kau tak masuk saja dan lihat apa yang terjadi dengan gadis itu selanjutnya?”Tanya Daniel melengkungkan senyumnya di sudut bibirnya


“Selanjutnya apa lagi yang terjadi? kalian pasti melakukan sesuatu kan?”Dari cara bicara Ara, Daniel menangkap sebuah rasa cemburu. Membuatnya tiba-tiba berdiri dan mendekati Ara. Ia duduk di samping istrinya itu dan memegang lembut pipi Ara.


“Aku tak menyentuh gadis itu sama sekali, jika tak percaya disana ada Tritan, kau bisa menanyakannya padanya, aku memang marah padamu dan berusaha melampiaskannya pada gadis lain, tapi ternyata tak semudah itu, aku heran kenapa kau semudah itu melakukannya dengan mantanmu...,”Mendengar penjelasan Daniel sampai di sini, wajah Ara tiba-tiba kesal


“Apa maksudmu? aku juga sama sekali tak membiarkannya menyentuhku, malam itu aku berusaha menghindarinya! ah kau juga tak akan percaya padaku, sudahlah!! “Ara menyela ucapan Daniel dengan wajah kesal, ia pun berdiri hendak pergi, baru beberapa langkah, tubuhnya di angkat oleh Daniel. Ia membawanya ke dalam kamar dan menjatuhkannya di atas tempat tidur.


“Daniel, apa yang kau lakukan? aku sudah sangat lelah!"


“Benarkah kau menghindarinya? “Tanya Daniel yang sudah berada di atas tubuh Ara, mengacuhkan pertanyaan Ara.


“Apa kau masih tak bisa melihatnya? jika tidak, aku tak mungkin menolak Kevan dan mencarimu saat kejadian tadi di kantornya "


“Hemm, kalau begitu, apa artinya kau sudah mencintaiku?”Tanya Daniel dengan mata tegasnya, jarak wajah Daniel begitu dekat dengan Ara, Ara pun tersipu malu.


“A.. aku.. aku... ahh Daniel pergi sana!! lagi pula kau juga menyentuh gadis lain jadi kita impas!”Seru Ara sambil mendorong tubuh Daniel menjauh dan berusaha bangkit dari ranjang tapi gerakan Ara buru-buru di hentikan Daniel.


“Jadi kau sudah mencintaiku? jawab dulu pertanyaanku atau aku akan menyiksamu lagi malam ini, pilih lah salah satu"


“Iya iya,aku mencintaimu, itu juga alasan kenapa aku tak membiarkan ia menyentuhku, puas???!”Jawab Ara dengan nada sedikit meninggi. Mendengar jawaban Ara, Daniel tersenyum senang dan mencium kening dan bibir Ara dengan lembut, ia juga tak dengan mudah melepaskan Ara.


“Sudah ada di bawah tubuhnya, kenapa tak di ulangi sekali lagi”Pikir Daniel.


“Daniel, kau sedang ingkar janji?! jangan lagi ku mohon"


“Sayangnya, aku masih lapar Nyonya Qin"


Dengan kekuatan Daniel, Ara tak mungkin bisa menolaknya, tapi kali ini pria itu melakukannya dengan lebih lembut, membuat Ara dengan mudah terbuai dengan gerakannya. Daniel memang mempesona.