Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 38: tetaplah di sini, temani aku



Daniel dan Ara masuk ke dalam kamar, terdengar suara “Klik” dari Arah pintu, Ara segera menoleh ke belakang, ia melihat Daniel sedang mengunci pintu kamar dan berbalik mendekati tubuhnya. Ara merasa ada yang aneh dari tatapan mata Daniel yang mendekat. Akhirnya ia segera mundur perlahan, namun seakan Daniel tak membiarkan Ara menjauhinya, jari panjangnya segera meraih pinggang Ara dan membuat tubuh mungil itu menempel pada tubuh Daniel.


Daniel perlahan melangkahkan kakinya mendorong tubuh Ara hingga jatuh ke atas tempat tidur berukuran King Size itu. Tubuh Daniel berada di antara kaki Ara, tubuhnya yang besar menunduk menekan tubuh langsing Ara di bawahnya.


Jarak mereka terlalu dekat hampir menempel satu sama lain, Ara bahkan bisa mendengar degup jantung dan nafas Daniel yang semakin berat memburu. Hormon laki-lakinya begitu kuat, tangan Ara yang sedari tadi berusaha mendorong Daniel menjauh pun sia-sia.


“Daniel, ka...kau kenapa tiba-tiba begini? "


Pertanyaan ini adalah pertanyaan klasik, Ara tentu saja tahu apa yang Daniel mau. Hanya saja Ara terlalu gugup dan heran kenapa pria itu tiba-tiba seperti ini.


“Katakan sekali lagi kalau kau mencintaiku, aku ingin mendengarnya lebih jelas”Bisik Daniel di telinga Ara sambil sesekali menciumi leher Ara yang putih.


Mata Ara mengerjap, ternyata Daniel menggaris bawahi kata-katanya saat berbicara pada Higa tadi. Entah apa yang sebenarnya Ara rasakan pada Daniel. Yang jelas saat ini ia bahkan tak menolak aktifitas tangan Daniel di atas tubuh mungilnya itu.


Melihat tidak ada penolakan yang berarti, Daniel mulai berani bermain dengan tangannya. Tangan besarnya perlahan membuka kancing kemeja dan celana jeans Ara. Tangan satunya mencegah tangan Ara menolak gerakannya. Awalnya Ara menolaknya namun sentuhan Daniel begitu kuat dan lembut dalam satu waktu membuatnya ikut masuk dalam aliran hasrat Daniel. Dengan cepat satu per satu kain penutup di badan Ara dan Daniel terlepas dari tubuh masing-masing. Di tubuh Ara kini yang tersisa hanya celana dengan motif renda menggoda yang melekat di bawah perut Ara. Tekanan tubuh Daniel semakin menjadi, namun saat tangannya berusaha membuka satu-satunya kain penutup terakhir di tubuh Ara itu, Ara merasakan ada sebuah aliran hangat keluar dari bagian bawah tubuhnya. Rasa nyeri tak tertahankan pun tiba-tiba muncul.


“Ssah ahh.. Daniel hentikan dulu.. Sakiitt”Seru Ara tiba-tiba meringis kesakitan. Daniel melihat ekspresi di wajah Ara yang seperti itu akhirnya dengan terpaksa menghentikan aktifitasnya.


“Aku belum melakukan apapun, kenapa kau kesakitan? "


“Daniel, aku rasa aku tiba-tiba datang bulan"


Mendengar ucapan Ara, mata Daniel langsung menoleh pada bagian bawah tubuh Ara. Melihat apa yang terjadi, wajahnya berubah sangat kesal dan kemudian mengangkat tubuhnya dari tubuh Ara.


“Aghh... Brengsek!!!” batin Daniel kesal.


Bagaimana tidak kesal, untuk bisa sampai di tahap ini, ia bahkan dengan sabar menunggu berbulan-bulan untuk mengambil hati Ara. Setelah sampai di tahap ini dan perasaan yang kepalang tanggung seperti ini justru tamu tak di undang datang menghampiri. Daniel mendengus kesal.


“Kenapa harus datang sekarang saat aku sedang tinggi seperti ini, aghhh benar-benar brengsek!! “Batin Daniel


Tanpa sepatah katapun Daniel pergi meninggalkan Ara dan masuk ke dalam kamar mandi. Dari luar Ara mendengar suara gemericik shower.


Entah kenapa Ara tak bisa menahan tawanya kali ini


“Jika di pikir-pikir, pria itu sabar menunggunya berbulan-bulan, saat aku sudah rela, justru lampu merah datang menghampiriku. Dia pasti sangat marah sekarang. Betapa jahatnya aku hehe” batin Ara dengan tertawa geli, ia kemudian turun dari ranjang dan memakai pembalut yang tersedia di laci rias nya. Setelah itu ia kemudian meringkuk lagi di dalam selimut. Tawanya tak bertahan lama, tawa itu berganti rasa nyeri yang tak tertolong dari bagian bawah perutnya.


Setelah kurang lebih 20 menit, akhirnya Daniel keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk putih yang menutupi bagian bawah tubuhnya dan rambutnya terlihat masih meneteskan Air.


Saat membuka pintu Daniel menatap lurus pada gadis yang meringkuk di atas tempat tidurnya itu. Tadinya Daniel hendak mengacuhkan Ara dan ingin segera tidur tapi saat ia naik ke atas tempat tidur dan menoleh pada Ara, ia melihat wajah gadis itu memucat dan ia melihat titik-titik kecil di kening Ara seketika kekesalannya hilang berganti dengan rasa cemas.


“Apakah terasa sakit sekali? apa perlu ke rumah sakit, aku antar sekarang bagaimana?”Seru Daniel dengan wajah cemasnya menyeka keringat Ara. Ara mendengar pertanyaan Daniel yang lucu ia tak dapat menahan tawanya.


“Daniel kau becanda? tidak ada gadis yang ke rumah sakit karena datang bulan”Jawab Ara tertawa dan meringis kesakitan dalam satu waktu.


“Lalu aku harus bagaimana agar kau tak seperti ini?membuatku cemas"


“Tetaplah di sini, temani aku"


“Baiklah"


Kemudian Daniel membawa Ara masuk ke dalam pelukannya. Tapi karena Ara terus mengeluarkan keringat karena menahan sakit ia pun tak bisa tinggal diam. Daniel dengan cepat meraih ponselnya dan mencari tahu bagaimana meringankan rasa sakit Ara.


“Eh mau kemana?”Tanya Ara memegangi lengan Daniel saat pria itu bergerak beranjak dari kasur. Daniel menoleh, ia melihat Ara saat ini seperti seekor kelinci yang takut di tinggal oleh induknya. Daniel pun tersenyum.


“Tunggu sebentar, aku akan segera kembali"


Setelah itu Ara mengangguk dan Daniel segera turun menuju dapur. Selang kemudian Ara melihat sosok Daniel muncul dari balik pintu membawa 1 baskom air hangat dan handuk. Dengan sabar ia memeras handuk yang di masukan ke dalam baskom air hangat itu dan setelah itu menempelkan nya pada perut bagian bawah Ara.


“Kau tahu dari mana ini bisa meringankan sakitku? "


“Percuman punya ponsel pintar jika kau tak memanfaatkannya”Jawab Daniel sambil terus menempelkan handuk hangat di perut Ara.


Ara terus memperhatikan wajah lembut Daniel. Ia tak percaya ada seorang pria yang dengan sabar mau merawatnya, bahkan ini hanya sakit karena datang bulan biasa, tapi dia sampai mencari tahu bagaimana meringankan sakitnya.


“Hemm"


“Apa kau benar-benar menyukaiku? "


“Tidak"


“Lalu kenapa kau mau melakukan ini untukku? "


Daniel menoleh menatap Ara, ia menghela nafas panjangnya.


“Aku tak menyukaimu, tapi aku mencintaimu”Daniel menjawab pertanyaan Ara dengan wajah lembutnya, terlihat kasih sayang dari sorot matanya.


“Benarkah? aku pernah mendengar kata yang sama dari seseorang dulu, tapi pada akhirnya dia meninggalkanku, siapa yang tahu pasti cinta macam apa yang ada di hatimu itu?"


“Setelah apa yang aku lakukan padamu, apa aku masih pantas di samakan dengan mantanmu?"


“Bu.. Bukan itu maksudku"


“Hemm.. Ini kau kompres sendiri, aku harus menghubungi seseorang”Titah Daniel sambil menyodorkan handuk hangat pada telapak tangan Ara.


“Daniel, kau jangan marah, bukan itu maksudku"


“Tidak, tidak marah, hanya kesal! "


Setelah itu Daniel pergi membuka pintu balkon dan menghubungi Yogi. Ia meminta Yogi datang ke kastil keluarga Romanof dengan membawakan sebuah hadiah ulang tahun untuk kakek Ara dan juga membawakan baju pesta untuk Ara dan dirinya.


Ara menatap punggung Daniel yang lebar bertumpu pada kedua tangannya yang memegangi pagar balkon dengan kokohnya. Dari wajahnya, ia terlihat begitu serius. Dari dalam Ara tak bisa mendengar dengan jelas apa yang di bicarakan Daniel.


Hanya sekitar 2 jam, yogi sudah sampai di kediaman Romanof membawakan apa yang ia pesan. Daniel turun menemui Yogi di bawah dan setelah itu kembali lagi ke kamar.


“Apa itu?”Tanya Ara


“Kau tak berencana datang ke ulang tahun kakekmu dengan tangan kosong kan? itu bisa melukai harga diriku sebagai suami mu"


“Ya Tuhan, bahkan hal seperti ini saja terpikirkan olehnya, aku bahkan tak memikirkan hal ini, mungkin lebih tepatnya aku tak peduli"


“Hanya acara tak penting, lagi pula aku tak pernah melihat kakek"


“Besok kau akan melihatnya, jika keram di perutmu sudah lebih baik, sebaiknya kau tidur"


“Hemm baiklah"


Keesokan harinya, semua orang sibuk dengan persiapan pesta perayaan ulang tahun kakek Peter. Pagi itu masih pukul 7. Udara pagi perlahan masuk ke dalam sela-sela pintu balkon yang tak di tutup oleh Daniel semalam.


Ara terbangun, ia membuka matanya dan melihat tubuhnya di dalam pelukan Daniel. Karena mendengar beberapa pelayan sibuk lalu lalang di koridor depan pintu kamar Ara, Ara hendak bangun dan beranjak dari tempat tidur. Namun gerakannya dicegah oleh Daniel.


“Temani aku tidur sebentar lagi”Serunya tanpa membuka mata ia meraih pinggang Ara dan membuatnya masuk dalam pelukannya. Ara tak mengatakan apapun, ia hanya terus memandangi wajah tampan pria di depannya itu.


Baru beberapa menit hendak tidur lagi. Suara pintu di ketuk terdengar dari balik pintu.


“Tok tok tok"


Ara menatap Daniel untuk melepaskan tangannya dari pinggang mungilnya, dengan malas pada Akhirnya Daniel harus melepaskan Ara untuk membuka pintu kamar. Ara pun turun dan bergegas membuka pintu kamar. Setelah pintu terbuka, terlihat seorang pelayan berdiri di depan pintu.


“Nona, semuanya sudah menunggu nona di ruang makan untuk sarapan"


“Baiklah, sebentar lagi kami turun"


“Baik"