Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 11: Akal Sehat



Rapat kerja sama mereka akhirnya selesai, semuanya berjalan dengan lancar. Selepas direktur Chang dan Lina pergi, Kevan tak berkutik dari tempatnya, Ara sekilas menatap jam di tangannya, saat ini seharusnya menjadi jam makan siangnya. Ara mendengus kesal, ia memeperhatikan Kevan yang masih sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Ara sibuk menahan lapar di perutnya. Bagaimana tidak, pagi tadi ia harus sibuk memasak sarapan orang dan tak bisa benar-benar menikmati makan paginya karena tatapan seseorang, sungguh menyebalkan.


Kevan sekilas menatap Ara seperti tahu apa yang Ara pikirkan. Ia pun tersenyum kecil.


“Kenapa?”Tanyanya singkat. Mata Ara tiba-tiba terbuka dan menuju ke Arah suara.


“Pak Kevan, bolehkah aku istirahat makan siang?"


Ia menatap Kevan penuh harap, Kevan tak menjawab apapun, hanya mengangguk kecil dan melambaikan tangannya sekilas. Dengan perasaan bahagia Ara meninggalkan ruangan Kevan.


“Ding” suara pintu Lift terbuka, Ara menekan tombol lantai dasar, tak berapa lama ia pintu Lift terbuka kembali, berjalan menyusuri lobby. Sekilas Ara masih melihat direktur Chang dan Lina di pintu keluar, mungkin sedang menunggu mobil untuk menjemput mereka. Saat Ara berpapasan dengan mereka, direktur Chang membuka suaranya.


“Nona Ara akan pergi makan siang?”Ara tak mengeluarkan sedikitpun suara, ia hanya mengangguk dan tersenyum.


“Kebetulan sekali, jika tidak keberatan mari ikut bersama kami untuk makan siang bersama, saya dengar nona teman lama sekretaris saya"


Awalnya Ara menolak ajakan pak tua itu mentah-mentah, melihat pandangan menjijikan selama rapat saja ia hampir muntah,tak terbayang harus menahannya saat makan siang, yang Ara butuhkan hanya makan siang dengan tenang, tapi Lina terus saja membujuknya untuk ikut, akhirnya dengan terpaksa Ara menyetujui mereka.


....


TopHill club adalah sebuah restoran sekaligus club dan hotel terbesar dan termewah di kota A. Tempat ini hanya bisa di masuki oleh kalangan atas. Hanya dengan memasuki pintu masuknya saja sudah terlihat sangat mewah. Di lihat dari tempatnya, sudah jelas direktur Chang bukanlah orang sembArangan.


Lina dan Direktur Chang membawa Ara ke sebuah ruangan VIP, awalnya Ara merasa ini sedikit berlebihan, ini hanya makan siang bersama seorang sekretaris kecil, namun sepertinya ada kesan yang ingin di tinggalkan oleh 2 orang itu.


Acara makan siang bersama mereka berjalan dengan sangat canggung, Ara berkali-kali harus menerima kata-kata menggoda dari direktur Chang. Wajah Ara terlihat sangat tak nyaman, seusai menghabiskan makan siangnya dan setelahnya ia berusaha untuk pamit, karena terlalu terburu-buru, lengannya tak sengaja mengenai sisi botol wine, botol itu dengan segera jatuh dan pecah di lantai.


Seluruh mata tercengang, termasuk Ara. Baru saja seorang pelayan meletakan botol itu sambil menceritakan bahwa wine itu adalah wine terbaik yang mereka punya, untuk satu botolnya seharga ribuan dollar. Tubuh Ara gemetar hebat. Uang-uang berterbangan di atas kepala Ara, membayangkan harus mengganti harga wine itu saja sudah harus sesak nafas, tapi Anehnya, wajah direktur Chang justru terlihat senang.


“Ma..maaf direktur Chang, saya tidak sengaja” seru Ara, direktur Chang beberapa detik tersenyum licik.


“Nona Ara sepertinya sangat terburu-buru, seperti yang kau dengar wine itu seharga ribuan dollar, aku bahkan belum mencobanya. Menurutmu apa aku harus membayar wine itu?"


“Maaf tuan Chang, saya akan bertanggung jawab"


“Benarkah? butuh berapa bulan gajimu untuk bisa membayar wine ini? aku beri kamu 1 kesempatan, temani aku minum 3 gelas Wine dan kau tak perlu membayar wine tadi bagaimana?"


Ara masih terlalu muda untuk mengetahui arti dari setiap perkataan tuan Chang. Hanya 3 gelas Wine, bukan hal yang sulit pikir Ara. Ia tak suka berhutang, mendapatkan kesempatan seperti ini, Ara tak pikir panjang.


“Baiklah tuan, saya akan menemani anda minum 3 gelas, toh hanya 3 gelas takan membuatku mabuk"


mendengar jawaban Ara, tuan Chang tertawa getir.


Ia meminta seorang pelayan mengambil wine baru, pelayan itu keluar ruangan untuk mengambil gelas dan botol wine baru. Sekembalinya, pelayan itu meletakan gelas wine di hadapan Ara dan menuangkannya.


Ara melakukannya dengan cepat, menghabiskan tiap gelas hanya dengan beberapa kali tegukan. Awalnya tak ada yang aneh, beberapa menit berlalu, terlihat bulir keringat membasahi kening Ara. Ara baru sadar, wine itu bukan wine biasa. Merasa tubuhnya tidak enak ia meminta izin untuk pergi ke toilet sesegera mungkin.


Sesampainya di toilet, ia membuka keran dan membasahi wajahnya dengan Air. Berusaha meringankan rasa panas yang terus bertambah masuk kedalam tubuhnya. Di tengah pandangannya berbayang ia sempat meraih ponsel dan mengirimkan pesan pada Gerry. Sesaat setelah itu suara dari Arah pintu masuk membuat Ara menoleh. Samar ia melihat tubuh Lina dan 2 orang pria bertubuh besar mendekatinya dengan tatapan sinis.


Pria-pria itu menarik lengan Ara dengan kasar, dengan kondisi Ara yang sekarang, jangankan melawan, untuk berdiri tegak saja lututnya seperti tidak berdaya. Di antara ketidak berdayaan itu tubuh Ara di bawa masuk ke dalam sebuah kamar. Tubuhnya di banting kasar di atas ranjang besar, samar Ara melihat tuan Chang duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur. Mulutnya sibuk menghisap sebatang rokok di tangannya, Ara masih berusaha tetap sadar, ia terus menggigit bibirnya dan berkali-kali mencubit pahanya sekeras mungkin. Darah segar mengalir di antara sela-sela bibirnya. Melihat darah keluar dari bibir Ara,Tuan Chang mendekati tubuh Ara dengan marah, jarinya mencubit dagu Ara


“Tak perlu berlagak suci di depanku, lina bercerita banyak tentangmu, aku yakin servis mu memuaskan hingga tuan muda Wingsley menjadikanmu sekretarisnya, tidak heran, wajah dan tubuhmu ini memang menganggumkan"


Kata-kata menjijikan itu keluar dari mulut tuan Chang, tatapan mata Ara membakar. Tidak tahu apa yang di katakan Lina padanya hingga dia berpikir serendah itu terhadap Ara. Antara marah dan rasa takut berputar di dalam pikiran Ara. Tangan tuan Chang terus berusaha membuka kancing-kancing kemeja Ara, Ara sekuat tenaga memberontak tapi percuma. Air matanya kini menetes begitu derasnya.


“Ibu, tolong Ara”Kata-kata itu yang terus berteriak-teriak di hatinya, Ara harus terus menahan sakit dan panas sekujur tubuhnya. Ada perasaan berontak tapi Ara tahu sentuhan tuan Chang sangat ia butuhkan. Kemeja Ara tersingkap, tangan Ara masih berusaha menjauhkan dirinya dari tubuh tua yang saat ini berada di atasnya. Tangisannya tak henti mengalir. Tiba-tiba “Brakkkk”Seseorang membuka paksa pintu kamar, Ara dan Tuan Chang seketika menoleh ke Arah pintu masuk.


Mata Ara langsung tertuju pada sosok tubuh tinggi besar yang berada di depan pintu. Awalnya ia pikir itu adalah Gerry tapi siapa sangka Kevanlah yang saat ini berada di ambang pintu.


Saat pintu terbuka emosi Kevan tak tertahan ketika melihat tubuh Ara terbaring di bawah tubuh tuan Chang dengan kemeja yang terbuka dan berantakan. Langkah Kevan terhenti dan dengan cepat mencegah Gerry dan yang lain masuk. Langkah Gerry dan yang lain terhenti, mereka juga tak sempat melihat situasi di dalam kamar, tubuh Kevan cukup untuk menghalangi pandangan. Ia segera menutup pintu kamar. Ia hanya tak ingin banyak pasang mata melihat tubuh Ara saat ini.


Kevan berjalan cepat mendekati tuan Chang dan mendorong tubuhnya untuk menjauh dari tubuh Ara. Mata Kevan saat ini seperti pedang yang siap menusuk targetnya. Sadar kemarahan Kevan, wajah tuan Chang memutih, dari wajahnya terlihat banyak ketakutan, ia tak henti memohon ampun pada Kevan, tapi Kevan sudah berang. Ia berjalan cepat dan mendaratkan sebuah pukulan mematikan tepat di pipi Tuan Chang, ia rubuh seketika.


Meninggalkan tubuh pingsan tuan Chang, mata Kevan beralih melihat Ara yang meringkuk seperti menahan rasa sakit. Bulir keringat terus membasahi kening Ara. Tubuhnya gemetar hebat, wajah ketakutan juga terlihat jelas. Kevan terus mendekat dan menyeka bulir air mata Ara yang berjatuhan.


Kevan segera membuka Jas di tubuhnya dan menutupi tubuh Ara, kemudian membopong tubuh itu masuk ke dalam kamar mandi dan menurunkan tubuh Ara di bawah guyuran shower. Tangannya yang besar menyangga tubuh mungil itu dan membiarkan air dingin membasahi tubuh Ara. Ara menutup matanya dan terus menggigil memberikan kesempatan Kevan melihat setiap detil wajah Ara, jantungnya berdegup kencang. Jika bukan karena akal sehat, ia mungkin akan tergoda melihat Ara saat ini.