
Hanya butuh beberapa menit hingga mereka sampai ku UGD rumah sakit terdekat. Sesampainya di sana, beberapa suster dan dokter segera merebahkan tubuh Ara di atas ranjang pasien dan membawanya masuk ke dalam. Daniel ingin terus berada di dekat Ara namun dokter dan suster melarangnya masuk.
"Aku ini suaminya!!! siapa kalian yang berani melarangku masuk??!" pekik Daniel berapi-api, ia hanya sangat khawatir dengan keadaan Ara, para dokter dan suster melihat emosi Daniel membuatnya semakin di larang untuk masuk.
"Tuan, istrimu serahkan pada kami! kau silahkan pergi ke ruang administrasi untuk mengurus administrasinya!" ujar salah satu dokter. Seperti apapun Daniel berusaha untuk masuk, peraturan tetap peraturan. Ia tetap tidak di izinkan masuk, akhirnya ia mengalah dan mulai ke ruang administrasi untuk menyelesaikan administrasinya.
Langkah Daniel gontai berjalan menyusuri lorong rumah sakit tanpa peduli kemeja putihnya sudah penuh dengan bercak darah Ara. Ia baru saja melihat wajah pucat Ara yang penuh dengan darah karena luka di kepalanya membuatnya semakin takut kehilangan istrinya untuk kedua kalinya. Dengan sabar namun cemas, Daniel duduk di kursi panjang lorong ruangan UGD. Tak berapa lama, Aldric datang menemuinya. Seharusnya ia datang bersama Meilyn dan Shamus namun Meilyn memilih tidak pergi kemanapun, sedangkan Shamus datang ke kantor polisi bersama Shane.
Sepanjang perjalanan Daniel membawa Ara ke rumah sakit, ia telah menghubungi polisi untuk menangkap Windy dengan tuduhan penganiayaan pada Ara hingga Ara bisa terjatuh. Daniel benar-benar tidak peduli lagi apa yang akan di hadapinya jika ia benar-benar memenjarakan Windy. Ia hanya tidak rela orang yang mencelakakan istrinya bisa tetap hidup dengan baik setelah ini.
Keadaan di kediaman keluarga Qin saat ini tidak kalah kacau setelah beberapa polisi datang untuk menyeret Windy masuk ke dalam mobil polisi. Hal ini tentu di cegah oleh Shane, Shamus dan juga Aldric. Tapi laporan ini tetap akan berlaku selama pelapor tetap memperkarakannya dan tidak mencabut laporannya. Semua orang gempar dengan kekacauan yang terjadi, jadi mau tidak mau semua keluarga Qin menghentikan acara dan membubarkan para tamu yang hadir.
"Bagaimana keadaan istrimu, Daniel?"
"Aku belum tahu, dia masih di dalam dan dokter belum ke luar"
"Dia akan baik-baik saja.. kau jangan terlalu cemas, tapi bagaimana bisa kau melapor ke kepolisian untuk menangkap Windy?! jika ini tersebar keluar karir Windy akan habis"
"Harusnya dia pikir itu sebelum mencelakakan istriku" ucap Daniel dingin.
Tak berapa lama kemudian, pintu UGD terbuka, seorang Dokter dengan jubah putihnya datang menemuinya. Daniel seketika berdiri dan mencengkram kedua lengan dokter itu.
"Bagaimana keadaan istriku, Dok?"
"Kondisinya sudah stabil, ia mengalami benturan di kepala yang cukup keras dan juga retak di pergelangan tangan kanannya. Tapi anda tak perlu khawatir tuan, Nona Ara baik-baik saja"
"Apa kami boleh masuk, Dok?" tanya Aldric
"Silahkan, saya permisi dulu" ujar Dokter itu kemudian ia melangkah pergi.
Daniel sedikit lega, ia kemudian masuk menemui Ara yang masih belum sadarkan diri. Daniel segera duduk kemudian menggenggam tangan Ara.
Di samping itu, Windy akhirnya benar-benar di introgasi di kantor polisi di temani Shamus dan Shane. Mereka mencoba menghubungi Daniel namun ia bersikukuh untuk tidak mencabut laporannya. Dua kali ia mencelakakan Ara, untuknya sudah cukup bersabar.
"Paman, kakek aku tak ingin di penjara, tolong aku" isak Windy menyesali perbuatannya, jika seperti ini karirnya akan benar-benar hancur.
Kali ini Shamus tidak bisa melakukan apapun, terakhir kali masalah menyabotase ponsel Daniel, Windy masih bisa bebas karena semua barang bukti dan semua kesalahan semuanya di limpahkan pada Jenny karena barang bukti ponsel dan juga pelaku yang mengirimkan pesan-pesan itu adalah Jenny. Tapi berbeda dengan kali ini, Daniel melihat dengan mata kepala sendiri bersama beberapa pelayanan yang tidak sengaja lewat. Di tambah lagi CCTv yang ada tak jauh dari tangga, itu sudah bisa menjadi bukti dan saksi apa yang telah terjadi.
"Tuan Marques tolong bantu Windy kali ini, ia pasti tidak bersalah" ujar Shane pada Shamus, wajah Shamus terlihat seperti sedang berpikir. Wajahnya dingin beberapa saat baru kemudian mengeluarkan suaranya.
"Ini akan lebih sulit Shane, mungkin aku bisa menghapus CCTv dan memecat para perlayan, tapi Daniel adalah saksi kunci dan juga pelapor ia tak akan mungkin mencabut tuntutannya dan lagi ia pasti sudah meminta pengacara terbaiknya untuk menangani kasus ini" ujar Shamus.
Mendengar ucapan Shamus, Windy semakin terisak sedih.
Keesokan harinya, Ara telah di pindahkan ke bangsal VIP, ia akhirnya sadar dan membuka matanya setelah kejadian kemarin. Ia sedikit merintih karena merasa kepalanya sangat sakit dan pusing. Ada suara seperti gemuruh di dalam telinganya dan ia merasa segalanya berputar seperti Vertigo dan suara Weng..weng..weng.. terus terdengar. Daniel yang sedang duduk tertidur di sisi ranjangnya segera terbangun saat mendengar rintihan Ara.
"Sayang, kamu kenapa? mana yang sakit?!" tanyanya cemas kemudian menekan bell untuk memanggil suster dan dokter. Tak lama kemudian suster dan dokter pun berdatangan. Daniel menoleh pada jam dinding, saat ini masih pukul 3 pagi. Masih dini hari.
"Tuan Daniel, kami akan memberikan obat pereda nyeri untuk nona Ara"
"Lakukan yang terbaik, Dok" jawab Daniel.
Setelah memberikan obat untuk Ara, mereka segera pergi. Semakin lama nyeri di kepala Ara mulai membaik seiring dengan reaksi dari obat pereda nyeri yang di berikan dokter tadi. Daniel menatap Ara dengan penuh kekhawatiran, Ara masih terdiam saat ia melihat kemeja Daniel penuh berlumuran darah. Daniel belum sempat mengganti bajunya, ia sampai tak terpikirkan tentang penampilannya. Wajah Daniel terlihat kusut dan khawatir.
"Ara, kau tak apa-apa??"
"Kenapa kau di sini?" jawab Ara ketus.
"Kau terjatuh dari tangga, apa kau ingat?"
Dalam ingatan terakhir Ara, ia terjatuh dari tangga setelah Windy menarik tangannya dengan kasar. Ia ingat kepalanya membentur anak tangga sebelum ia pingsan. Di lihat dari kemeja yang di gunakan Daniel, ia langsung tahu Daniel lah yang membawanya ke rumah sakit.
"Hemm ingat" jawabnya singkat.
"Kembali tidurlah, aku akan menjagamu ini masih terlalu pagi untuk bangun" ujar Daniel sambil menarik selimut Ara kemudian.
"Tidak perlu, hubungi saja paman dan bibi ku, biar mereka saja yang menjagaku" seru Ara sambil memalingkan wajahnya dari Daniel, Daniel menghela nafas.
"Berhentilah salah paham dan keras kepala, Ara.."
"Aku ingin tidur"
"Baiklah"
"Kau pergi saja"
"Tidak mau"
"Kau tak perlu merasa bertanggung jawab padaku, aku sekarang ingat semuanya ,aku akan menyelesaikan semuanya sendiri jadi kau bisa pergi!" ujar Ara kemudian.
Sebenarnya ucapan Ara membuat hatinya sekali lagi runtuh. Dia bilang dia mengingat segalanya, itu artinya ia mengingat semua kejadian sebelumnya. Ini berita baik karena ia bisa membalas semua perbuatan mereka yang mencelakai Ara namun berita buruknya, Ara akan ingat masa lalunya. Belum apa-apa saja, Ara sudah sedingin bongkahan es, bagaimana jika ingatannya 100% pulih? apakah ia masih bisa selembut Ara yang kehilangan ingatannya?
"Ara, jangan lagi seperti ini, kau tak bisa melakukan semuanya sendiri" ujar Daniel bersikukuh.