Take Me Back Please!

Take Me Back Please!
Bab 61 :Apakah keputusanku salah kali ini?



“Daniel, kenapa kau tiba-tiba seperti ini? ada apa? “Ara bertanya dengan wajah heran, wajah Daniel begitu sulit di tebak.


Sebenarnya bukan keputusan tiba-tiba Daniel menginginkan Ara untuk ada di rumah saja, sudah lama sebenarnya sejak kejadian dengan Kevan beberapa waktu lalu apalagi saat ia tahu ada sesuatu yang janggal dalam intern FireGate dan juga mengenai Clara kakak Ara, ia merasa lingkungan tempat dimana Ara bekerja bisa mengancam Ara secara tak langsung. Ia khawatir terjadi apa-apa pada Ara. Daniel tahu pasti seperti apa dunia bisnis dan bagaimana kemampuan uang bisa mengubah kepribadian seseorang. Ia tak ingin Ara masuk ke dalam lingkAran setan itu. Lagi pula untuk apa Ara bekerja keras, lebih baik memikirkan bagaimana memiliki keluarga yang baik, termasuk memiliki anak. Daniel rasa ia menikah sudah cukup lama dan juga secara finansial mereka sudah mapan.


“Bukan tiba-tiba, aku sudah lama memikirkannya”Seru Daniel sambil tangannya membuka dashboard mobilnya. Tangannya dengan cepat mengambil sebuah kotak perhiasan kecil berwarna biru navy dengan sebuah pita cantik di atas kotak itu. Daniel membuka kota itu. Sebuah cincin berlian terlihat begitu mewah dan elegan, Ara hampir tak percaya, Daniel akhirnya memberikannya sebuah cincin.


Dengan lembut Daniel meraih tangan Ara dan menyematkan cincin itu di jari manisnya, saat ia menyematkan cincin itu, Ara melihat di jari Daniel juga sudah tersemat cincin yang hampir serupa dengan miliknya. Air mata Ara kini benar-benar terjatuh. Meskipun terlambat, namun ini adalah hal yang selalu membuatnya iri dengan gadis lain. Ara menatap Daniel dengan mata berkaca-kaca.


“Da.. Niel”Suara Ara bergetar, ia merasa sangat bahagia saat ini.


“Apa kau suka?”Tanya Daniel tersenyum lebar melihat ekspresi Ara yang terlihat sangat bahagia itu. Ara mengangguk cepat dan kemudian langsung memeluk tubuh Daniel. Rasanya seperti baru akan menikah dan sedang di lamar oleh seorang pria. Rasanya bahagia sekali.


“Daniel, terimakasih"


“Maaf, aku membuatmu menunggu begitu lama hanya untuk cincin ini, seharusnya sudah sejak dulu aku memberikannya padamu, aku yakin karena cincin ini kau banyak mendapatkan pertanyaan tak masuk akal"


Daniel benar, banyak pertanyaan tak masuk akal yang ia dapatkan, mulai dari Ara, elly sampai Denis juga mempertanyakan hal yang sama. Ara pikir Daniel tak akan memberikannya cincin dan juga tak berpikir banyak untuk mengharapkan sebuah cincin kawin, bahkan ia berencana membelinya sendiri, tak di sangka hari ini Daniel memberinya kejutan. Tapi mengenai permintaannya barusan, mungkin sulit untuk di kabulkan. Hari ini bahkan kakeknya datang untuk memintanya lebih waspada dan memerhatikan kakaknya di perusahaan. Bagaimana menolak kakek? tidak mungkin kan? tapi juga bagaimana menolak Daniel?


“Daniel dengar, hari ini kakek datang menemui ku, ia memintaku mengurus perusahaannya dan memperhatikan Clara di perusahaan. Aku tidak mungkin tiba-tiba berhenti, dengan kakek mendatangiku kau tahu kan maksudnya apa, seperti tebakan mu tempo hari saat melihat dokumen perusahaan, kakek mengetahui ada kejanggalan disana, kakek percaya padaku, lalu aku bagaimana bisa mengecewakannya? dan juga masalah anak, aku belum siap, aku masih terlalu muda Daniel, bisakah kau mengerti posisi ku saat ini? “Ucapku mati-matian berusaha membuat Daniel mengerti, tapi sepertinya melihat reaksi dari wajahnya ia memendam rasa kecewa yang teramat sangat.


Apakah keputusanku salah kali ini?


“Kenapa tidak siap? cepat atau lambat kau tetap harus melahirkan anakku Ara, atau kau sebenarnya tak berpikir untuk memiliki anak dariku? “Tanya Daniel kemudian menjauhkan tubuhnya dari Ara, gurat wajah kecewa Daniel terlihat jelas.


“Bukan.. Bukan itu maksudku, aku pasti akan melahirkan anak untukmu Daniel, tapi aku kira ini bukan waktu yang tepat"


“Sudahlah, jangan bahas ini sekarang, aku sudah cukup lelah dengan pekerjaanku di kantor, lebih baik kita pulang sekarang”Dengan wajah dinginnya Daniel menarik tuas persneling dan melajukan mobilnya dengan cepat. Ara bahkan tak berani menatap wajah Daniel saat ini.


Sesampainya di StarLake Daniel terdiam dan tak turun dari mobil, membuat Ara semakin bingung harus melakukan apa.


“Sayang ayo turun"


“Kau duluan, aku ada urusan mendadak"


“Urusan apa? kau bilang kau lelah dan ingin istirahat, kau juga belum makan kan? bagaimana jika kali ini aku yang masak untuk mu, kemarin aku sempat belajar memasak melalui TV, kau mau mencobanya? “Tanya Ara membujuk Daniel agar tak marah lagi.


“Nanti saja, aku harus pergi sekarang”Seru Daniel ketus tanpa menoleh pada Ara


“Baiklah, jangan lupa makan dan kembalilah segera”Setelah itu Ara membuka pintu mobil dan melangkah keluar.


Mobil Daniel melaju cepat meninggalkan Ara yang masih berdiri mematung. Paw yang melihat majikannya pulang, ia dengan cepat berlari menghampiri Ara, wajahnya begitu ceria ia tentu saja tak mengerti apa yang sedang terjadi dengan majikanya itu.


“Paw, ayahmu sepertinya akan membenciku, aku membuatnya sangat marah, bagaimana ini? “Seru Ara pada paw yang menatapnya dengan mata bulatnya itu.


“Hufh seandainya kau bisa bicara, aku ingin tahu apa yang akan kau katakan padaku",”Kau pasti belum makan kan? aku juga, ayo aku beri kau makan paw”Kemudian Ara masuk ke dalam rumah, rumah itu mendadak menjadi sangat dingin, lampu tak ada yang menyala, keadannya sangat gelap hanya di terangi sinar bulan dan cahaya lampu taman yang samar-samar masuk dari dalam jendela. Ara menyalakan lampu dan membawa Paw masuk ke dalam ruangan khusus anjing. Ruangan itu di sediakan khusus oleh Daniel untuk paw karena ia tak ingin sofa dan perabotan langkanya hancur oleh anak anjing ini.


Sudah hampir 1 setengah jam Ara bermain dengan Paw, hingga suara bel pintu terdengar. Ara menoleh dan bergegas pergi melihat siapa yang datang. Ia melihat ke layar monitor kamera keamanan, ternyata Yogi yang berdiri disana. Ia segera membuka pintu.


“Hai nyonya bos, lama tak bertemu”Serunya sambil menenteng beberapa kantung makanan. Ara tersenyum dan mengajak Yogi masuk.


“Kau bawa apa itu? “Ara mencoba membuka isi dari katung-kantung makanan itu.


“Hemm, ini dari bos Daniel, ia memintaku mengantarkan makanan untukmu, dia bilang kau harus menghabiskannya bahkan aku harus memastikan kau memakannya"


“Apa?? jauh-jauh kau kemarin untuk mengantarkan makanan ini? dia sungguh keterlaluan"


“Hemm, dia memang seperti itu, tapi dia sangat memikirkan mu, seharian ini dia sangat sibuk dan terlihat lelah, aku pikir ia akan pulang tapi justru kembali membawa sekantung bahan makanan mentah dan memasak makanan ini untukmu di dapur TopHill. Saat ku tanya kenapa tak masak di rumah, ia malah memarahiku, sungguh terlalu suamimu itu”Gerutunya dengan wajah sendu, sepertinya ia menderita sekali bekerja dengan Daniel. Ara melihat ekspresi Yogi seperti itu sebenarnya sangat kasihan tapi merasa ingin tertawa dalam satu waktu.


“Kau jahat sekali nyonya, apa kau tak kasihan padaku? kenapa justru tertawa? ".


“Haha, iya iya maafkan aku, jangan panggil aku nyonya, kita mungkin seumuran panggil namaku saja"


“Tidak, aku tidak berani, bisa hilang kepalaku jika bos Daniel sampai tahu"


“Dia tidak di sini, jadi kenapa peduli"


“Tetap tidak berani nyonya “Serunya mantap


“Baiklah terserah kau saja, jadi masakan ini yang memasak dia sendiri? "


“Hemm benar, aku bahkan melihatnya sendiri"


“Apa dia sudah makan? "


“Sepertinya belum, selesai memasak, ia membungkus semua makanan yang ia masak dan menyuruhku mengirimkannya kesini"


Mendengar yang di katakan Yogi, ada perasaan sedih di hatinya, Ara tahu Daniel sedang marah, tapi masih sempat memikirkan Ara dan masih sempat belanja dan masak makan malam untuknya. Entah harus terharu atau merasa bersalah. Wajah Ara tiba-tiba sangat sedih.


“Yogi duduklah dan temani aku makan, ini perintah"